Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Be a Great Muslim
Siskaee
April 29, 2017
Islam
adalah agama sempurna yang mengatur segala aspek kehidupan. Dari sebelum
terlahir, saat terlahir serta pada fase setelah kematian. Mengatur secara
komprehensif kepada para manusia dan yang meyakininya sepenuh hati bahwa Islam
adalah agama yang benar dan mulia di sisi Allah. Sebagaimana yang telah
terlegalisir melalui firman-Nya.
“........ pada hari Ini
Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu .....”
[QS. Al-Maidah: 3].
Islam
adalah rahmatanlil ‘alamin. Rahmat
bagi seluruh alam. Ia menjadikan penganutnya mampu membedakan jalan yang benar
dan yang salah. Mengembalikan manusia pada fitrah yang telah digariskan oleh
Allah. Islam sempurna dan tidak ada cacat di dalamnya. Menjadi pemersatu dalam
hati bahwa semua manusia sama di hadapan Sang Maha Pencipta. Bahwa setiap insan
adalah hamba dan abdi Allah.
Islam
adalah agama yang komprehensif yang tidak mendikotomi penganut sesuai kesukuan,
kebangsaan, warna kulit, bahasa dan status sosial. Tapi menyatu dalam bahasa
cinta; syahadat Lailaha Illallah.
Bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak (benar) diibadah selain Allah.
Mengajarkan bahwa setiap kita harus berkomitmen untuk menumbuhkan akar
keTauhidan di dalam hati-hati kita. Mengetahui konsikuwensi Tauhid dan
pengaplikasinnya dalam keseharian.
Islam
mengajarkan setiap penganutnya untuk menjadi manusia yang lebih beradab.
Menjadi muslim yang luar biasa. Muslim yang senantiasa Up-Date pada semua linih sehingga menjadikan setiap penganutnya
tidak mengamalkan syariat dengan taklid
buta, sesuai hawa nafsu serta distorsi pemahaman yang berujung pada
tanggapan negatif terhadap Islam. Maka untuk menghindari semua itu, Islam telah
melegalisir bahwasanya “Setiap Muslim
diwajibkan menuntut ‘ilmu.” Entah itu ia muslim laki-laki atau muslim
perempuan. Semua berkewajiban. Dan ilmu yang dimaksudkan adalah ilmu syar’i.
Ilmu Agama. Syariat yang telah Allah atur dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah.
Sehingga dengan begitu, setiap umat Islam menjadi muslim yang damai, muslim
yang saling mencintai. Muslim yang disegani bukan dengan pedang tapi dengan
akhlak dan adabnya. Muslim yang empati kepada sesama sehingga melahirkan rasa
bahwa setiap kita wajib untuk saling tolong menolong, saling meringakan dan
saling melengkapi satu sama lain. Muslim yang luar biasa yang bisa memimpin
peradaban dunia yang dulunya pernah berlaku.
Maka
haruskan setiap kita memerankan ‘Be a
Great Muslim?’ Harus! Menjadi muslim yang luar biasa dengan segala potensi
yang Allah berikan kepada kita semua. Dengan segala nikmat gratis yang Allah
tebarkan untuk kita semua. Maka sudah cukup menjadi alasan bagi kita semua
untuk bisa mengambil peran ‘Be a Great
Muslim.’
Untuk
menuju ‘Be a Great Muslim’ setiap kita harus memiliki nilai dan
subtansial dasar dari Islam, yakni;
Pertama;
Salimul Aqidah (Aqidah Bersih)
Aqidah
adalah keyakinan setiap hamba kepada pencipta-Nya. Ketauhidan yang harus
mengakar kuat pada setiap hati insan yang mengetahui siapa dirinya, darimana
dirinya dan akan kepada dirinya. Dan setiap muslim harus memiliki aqidah yang
kuat dan murni. Aqidah yang tidak ada noda-noda kemunafikan, kemusyrikan serta
aqidah yang tidak menduakan Allah sebagai Rabb yang Maha Esa. Sebagai Rabb seru
sekalian alam. Aqidah yang bersih adalah aqidah yang tidak mengikuti kemauan
hawa nafsu pemiliknya melainkan ia tertata dan terakomodir oleh keimanan dan
ketaqwaan yang sebenarnya untuk benar-benar meng-Esa-kan Allah sebagai
satu-satunya Rabb semesta; langit dan bumi.
Aqidah
yang bersih adalah aqidah yang di dalamnya terdapat pengagungan serta pengakuan
yang hakiki bahwa Allah adalah sesembahan yang berhak disembah, tidak yang
lain. Sebagaimana ikrar yang telah kita ucapkan atas pertanyaan Allah pada kita
tentang pengakuan kita pada-Nya.
“Dan (ingatlah) ketika
Tuhan-mu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman),
“Bukankah Aku ini Tuhan-mu?” mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami
bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” [QS.
Al- A’raf (7): 172].
Dialog
perjanjian yang kita lakukan pada-Nya adalah tentang aqidah kita. Kebenaran
aqidah kita bahwasanya Allah adalah Tuhan yang benar. Perjanjian kita adalah; Lailaha Illallah. Bahwasanya tidak ada
sesembah yang benar diibadahi selain Allah Ta’ala. Maka segala bentuk sesembah
ibadah yang bukan untuk Allah semuanya tertolak. Yah, semuanya tertolak karena
ketegasan persaksian kita di hadapan Allah yang meng-Esa-kan-Nya dan tidak
menyekutukannya dengan yang lain. Memurnikan ketauhidan kita dengan benar dan
menjadikan Rabb yang Maha Tunggal. Tempat untuk menyembah dan memohon
pertolongan.
“Hanya kepada Engkaulah
kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” [QS.
Al-Fatihah (1): 5].
Kedua;
Shahihul Ibadah (Ibadah Benar)
“Dan Aku tidak
menciptkan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” [QS.
Az-Zariyat (51): 56].
Imam
Al Qurthuby berkata; “Asal ibadah ialah tunduk dan menghinakan diri.” Sedangkan
Ibnu Katsir berkata; “Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan
hal-hal yang diperintahkan dan menjauhi hal-hal yang dilarang.” Kemudian Ibnu
Taimiyah berkata; “Ibadah ialah sesuatu yang mencakup semua perkara yang
dicintai dan diridhoi Allah berupa perkataan atau perbuatan yang nampak atau
pun tidak nampak.”
Ibadah
yang benar adalah ibadah yang selalu disandarkan dan diperuntuhkan untuk Allah.
Tidak pada yang lain. Ia murni dan terlepas dari persekutuan dengan
makhluk-Nya. Ibadah yang tidak mengikuti hawa nafsu melainkan sesuai dengan
tuntunan dan pentunjuk syariat. Telah diatur secara kompleks dan komprehensif.
Terurai dengan rinci dan detail dari semua sudut. Ibadah yang benar adalah
ibadah yang datangnya dari Rasulullah. Petunjuk Rasulullah. Sebab apa yang
datangnya dari Rasulullah bukan karena hawa nafsunya. Melainkan wahyu dari
Allah Ta’ala.
“(3) Dan tiadalah yang
diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. (4) Ucapannya itu
tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
[QS. An-Najm (53): 3-4].
Ketiga;
Matinul Khuluq (Akhlak Mulia)
Akhlak
adalah cerminan diri kita. Cerminan hati. Manifestasi dari keimanan. Ia
terbentuk bukan dengan sendirinya melainkan karena ilmu, usaha dan kerja keras
untuk berubah dari yang tidak berakhlak menjadi berakhlak. Ia adalah
pembelajaran hidup yang menuntut untuk senantiasa teraplikasi secara
berkesinambungan. Bukan untuk satu hari, satu pekan, satu bulan, satu tahun
atau satu periode.
Akhlak
merupakan perbuatan kita yang akan menghasilkan mindset orang lain tentang siapa dan bagaimana kita. Meskipun ia
tidak mengenal dan mengerti kita. Maka akhlak ini, haruslah menjadi perhatian
besar untuk kita. Sama halnya dengan keislaman dan kemusliman kita, akhlak
adalah karakternya. Akhlak yang mulia. Yang baik. Akhlak yang mengerti tentang
adab dan etika kepada Rabb dan pada hamba-Nya. Maka berbicara tentang akhlak,
maka tidak ada satupun alasan yang membantah bahwasanya kita akan kembali
bercermin pada diri Rasulullah. Teladan terbaik manusia. Manusia yang luhur
budi pekertinya.
“Dan Sesungguhnya kamu
benar-benar berbudi pekerti yang agung.” [QS. Al-Qalam
(68): 4].
“Sesungguhnya Telah ada
pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu .....”
[QS. Al-Ahzab (33): 21]. Keluhuran budi pekerti Rasulullah atas pengakuan Rabb
semeste Allah. Tuhan-Nya para makhluk di dunia dan di bumi sehingga tidak ada
satupun makhluk yang menafikan atas baik dan mulianya akhlak beliau shallallahu’alahi wasallam.
Dan
setiap kita harus mengikuti dan berjuang keras untuk menjadi seperti
Rasulullah. Meskipun kita tidak akan mampu, namun setidaknya ada usaha
maksimal, ikhtiar yang luar biasa dan perjuang yang gigih untuk menjadi hamba
serta muslim yang berakhlak mulia. Akhlak yang menjadikan kita serta umat Islam
semakin dikenal oleh umat yang lain, penganut agama yang lain bahwasanya Islam
tidak pernah mengajarkan pengikut, penganut dan muslim untuk bertindak anarkis,
sekuler, liberal serta tindak kejahatan dan perbuatan yang bertentang dengan Islam yang sebagai agama
keselamatan.
Maka
mari kita senantiasa memperbaiki akhlak dan pekerti kita. Pada Allah dan sesama
makhluk-Nya. “Tidak ada sesuatu yang
lebih berat dalam timbangan (pada hari kiamat) dari akhlak yang baik.” [HR.
Abu Dawud].
Keempat;
Harishun ‘ala Waqhiti (Memanfaatkan
Waktu)
Setiap manusia diberikan waktu yang sama. Dua puluh
empat jam. Tidak ada satupun manusia yang diberikan lebih atau kurang. Sebab
itu adalah garis dan ketentuan takdir yang digariskan untuk semua makhluk
langit dan bumi. Namun kenyataannya banyak di antara manusia yang hanya
diberikan waktu tersebut bisa melakukan banyak aktivitas. Banyak mengakomodir
kegiatan, mengkomandoi manusia untuk menjadi lebih baik dan produktif.
Sebaliknya pun banyak kita temui mereka tidak mampu melakukan banyak hal, tidak
produktif, tidak mampu mengontrol dan memimpin dirinya sendiri. Bahkan banyak
di antara kita yang mengeluh tidak bisa melakukan banyaknya karena alasan
waktu.
Maka sebagai seorang muslim, waktu itu adalah
sesuatu yang sangat penting dan berharga. Bahkan dalam sedetiknya pun sangatlah
berharga dan sangat disayangkan untuk dilakukan dalam hal yang sia-sia. Maka
dari itulah kita perlu untuk memanfaatkannya dalam segala aktivitas
berkualitas. Quality time. Menjadi
seorang muslim yang luar biasa, harusnya menjadikan waktu ini sebagai sesuatu
yang mendatangkan pengaruh positif bagi diri, umat, dan Islam.
Kelima; Naafi’un
Lighoirihi (Bermanfaat)
“Jabir
radhiyallahu’anhuma bercerita bahwa
Rasulullah shallallahu’alahi wasallam bersabda:
“Sebaik-baik manusia, adalah yang paling
bermanfaat bagi manusia.”[HR. At-Thabarani. Hadits dihasankan oleh
al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no. 3289].
Sebagai
seorang muslim, bermanfaat untuk sesama adalah sebuah keharusan dan menjadi
prioritas dalam hidup. Bukankah kabar gembira yang datangnya dari manusia
agung, Muhammad shallallahu’alahi
wasallam sudah cukup menjadikan kita untuk melecutkan diri serta
menginspirasi untuk mengambil bagian dari orang-orang yang memberi manfaat?
Memberi
manfaat dalam semua linih dengan potensi yang kita miliki. Jangan memberi
alasan disebabkan kekurangan atau diri
sendiri butuh sehingga kita lupa untuk memberi manfaat pada sesama. Lakukan
yang bisa dilakukan dengan meniatkan untuk Allah serta dapat memberi manfaat
yang sebanyak mungkin. Maka seperti itulah muslim. Seorang Islam yang ingin
menjadi muslim yang luar biasa ia harus melihat diri dan manfaat yang telah ia
berikan untuk diri, orang lain, agama, umat, bangsa dan negaranya.
Be a Great Muslim.
Sebuah keharusan dan perjuangan yang perlu kita lakukan sehingga kelak kita
tidak hanya menjadi penikmat ataupun penonton pada fase menyambut kebangkitan
Islam di akhir zaman. Melainkan kita menjadi bagian pelakon yang memberi
kontribusi terbaik kita hingga kelak nama kita pun terukir bahwa kita telah
mengambil bagian dalam kebangkitan Islam di akhir zaman.
***
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...