Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Be a Great Muslim




Islam adalah agama sempurna yang mengatur segala aspek kehidupan. Dari sebelum terlahir, saat terlahir serta pada fase setelah kematian. Mengatur secara komprehensif kepada para manusia dan yang meyakininya sepenuh hati bahwa Islam adalah agama yang benar dan mulia di sisi Allah. Sebagaimana yang telah terlegalisir melalui firman-Nya.
“........ pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu .....” [QS. Al-Maidah: 3].
Islam adalah rahmatanlil ‘alamin. Rahmat bagi seluruh alam. Ia menjadikan penganutnya mampu membedakan jalan yang benar dan yang salah. Mengembalikan manusia pada fitrah yang telah digariskan oleh Allah. Islam sempurna dan tidak ada cacat di dalamnya. Menjadi pemersatu dalam hati bahwa semua manusia sama di hadapan Sang Maha Pencipta. Bahwa setiap insan adalah hamba dan abdi Allah.
Islam adalah agama yang komprehensif yang tidak mendikotomi penganut sesuai kesukuan, kebangsaan, warna kulit, bahasa dan status sosial. Tapi menyatu dalam bahasa cinta; syahadat Lailaha Illallah. Bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak (benar) diibadah selain Allah. Mengajarkan bahwa setiap kita harus berkomitmen untuk menumbuhkan akar keTauhidan di dalam hati-hati kita. Mengetahui konsikuwensi Tauhid dan pengaplikasinnya dalam keseharian.
Islam mengajarkan setiap penganutnya untuk menjadi manusia yang lebih beradab. Menjadi muslim yang luar biasa. Muslim yang senantiasa Up-Date pada semua linih sehingga menjadikan setiap penganutnya tidak mengamalkan syariat dengan taklid buta, sesuai hawa nafsu serta distorsi pemahaman yang berujung pada tanggapan negatif terhadap Islam. Maka untuk menghindari semua itu, Islam telah melegalisir bahwasanya “Setiap Muslim diwajibkan menuntut ‘ilmu.” Entah itu ia muslim laki-laki atau muslim perempuan. Semua berkewajiban. Dan ilmu yang dimaksudkan adalah ilmu syar’i. Ilmu Agama. Syariat yang telah Allah atur dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah. Sehingga dengan begitu, setiap umat Islam menjadi muslim yang damai, muslim yang saling mencintai. Muslim yang disegani bukan dengan pedang tapi dengan akhlak dan adabnya. Muslim yang empati kepada sesama sehingga melahirkan rasa bahwa setiap kita wajib untuk saling tolong menolong, saling meringakan dan saling melengkapi satu sama lain. Muslim yang luar biasa yang bisa memimpin peradaban dunia yang dulunya pernah berlaku.
Maka haruskan setiap kita memerankan ‘Be a Great Muslim?’ Harus! Menjadi muslim yang luar biasa dengan segala potensi yang Allah berikan kepada kita semua. Dengan segala nikmat gratis yang Allah tebarkan untuk kita semua. Maka sudah cukup menjadi alasan bagi kita semua untuk bisa mengambil peran ‘Be a Great Muslim.’
Untuk menuju ‘Be a Great Muslim’  setiap kita harus memiliki nilai dan subtansial dasar dari Islam, yakni;
Pertama; Salimul Aqidah (Aqidah Bersih)
Aqidah adalah keyakinan setiap hamba kepada pencipta-Nya. Ketauhidan yang harus mengakar kuat pada setiap hati insan yang mengetahui siapa dirinya, darimana dirinya dan akan kepada dirinya. Dan setiap muslim harus memiliki aqidah yang kuat dan murni. Aqidah yang tidak ada noda-noda kemunafikan, kemusyrikan serta aqidah yang tidak menduakan Allah sebagai Rabb yang Maha Esa. Sebagai Rabb seru sekalian alam. Aqidah yang bersih adalah aqidah yang tidak mengikuti kemauan hawa nafsu pemiliknya melainkan ia tertata dan terakomodir oleh keimanan dan ketaqwaan yang sebenarnya untuk benar-benar meng-Esa-kan Allah sebagai satu-satunya Rabb semesta; langit dan bumi.
Aqidah yang bersih adalah aqidah yang di dalamnya terdapat pengagungan serta pengakuan yang hakiki bahwa Allah adalah sesembahan yang berhak disembah, tidak yang lain. Sebagaimana ikrar yang telah kita ucapkan atas pertanyaan Allah pada kita tentang pengakuan kita pada-Nya.
“Dan (ingatlah) ketika Tuhan-mu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhan-mu?” mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” [QS. Al- A’raf (7): 172].
Dialog perjanjian yang kita lakukan pada-Nya adalah tentang aqidah kita. Kebenaran aqidah kita bahwasanya Allah adalah Tuhan yang benar. Perjanjian kita adalah; Lailaha Illallah. Bahwasanya tidak ada sesembah yang benar diibadahi selain Allah Ta’ala. Maka segala bentuk sesembah ibadah yang bukan untuk Allah semuanya tertolak. Yah, semuanya tertolak karena ketegasan persaksian kita di hadapan Allah yang meng-Esa-kan-Nya dan tidak menyekutukannya dengan yang lain. Memurnikan ketauhidan kita dengan benar dan menjadikan Rabb yang Maha Tunggal. Tempat untuk menyembah dan memohon pertolongan.
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” [QS. Al-Fatihah (1): 5].
Kedua; Shahihul Ibadah (Ibadah Benar)
“Dan Aku tidak menciptkan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” [QS. Az-Zariyat (51): 56].
Imam Al Qurthuby berkata; “Asal ibadah ialah tunduk dan menghinakan diri.” Sedangkan Ibnu Katsir berkata; “Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan hal-hal yang diperintahkan dan menjauhi hal-hal yang dilarang.” Kemudian Ibnu Taimiyah berkata; “Ibadah ialah sesuatu yang mencakup semua perkara yang dicintai dan diridhoi Allah berupa perkataan atau perbuatan yang nampak atau pun tidak nampak.”
Ibadah yang benar adalah ibadah yang selalu disandarkan dan diperuntuhkan untuk Allah. Tidak pada yang lain. Ia murni dan terlepas dari persekutuan dengan makhluk-Nya. Ibadah yang tidak mengikuti hawa nafsu melainkan sesuai dengan tuntunan dan pentunjuk syariat. Telah diatur secara kompleks dan komprehensif. Terurai dengan rinci dan detail dari semua sudut. Ibadah yang benar adalah ibadah yang datangnya dari Rasulullah. Petunjuk Rasulullah. Sebab apa yang datangnya dari Rasulullah bukan karena hawa nafsunya. Melainkan wahyu dari Allah Ta’ala.
“(3) Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. (4) Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). [QS. An-Najm (53): 3-4].
Ketiga; Matinul Khuluq (Akhlak Mulia)
Akhlak adalah cerminan diri kita. Cerminan hati. Manifestasi dari keimanan. Ia terbentuk bukan dengan sendirinya melainkan karena ilmu, usaha dan kerja keras untuk berubah dari yang tidak berakhlak menjadi berakhlak. Ia adalah pembelajaran hidup yang menuntut untuk senantiasa teraplikasi secara berkesinambungan. Bukan untuk satu hari, satu pekan, satu bulan, satu tahun atau satu periode.
Akhlak merupakan perbuatan kita yang akan menghasilkan mindset orang lain tentang siapa dan bagaimana kita. Meskipun ia tidak mengenal dan mengerti kita. Maka akhlak ini, haruslah menjadi perhatian besar untuk kita. Sama halnya dengan keislaman dan kemusliman kita, akhlak adalah karakternya. Akhlak yang mulia. Yang baik. Akhlak yang mengerti tentang adab dan etika kepada Rabb dan pada hamba-Nya. Maka berbicara tentang akhlak, maka tidak ada satupun alasan yang membantah bahwasanya kita akan kembali bercermin pada diri Rasulullah. Teladan terbaik manusia. Manusia yang luhur budi pekertinya.
“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” [QS. Al-Qalam (68): 4].
“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu .....” [QS. Al-Ahzab (33): 21]. Keluhuran budi pekerti Rasulullah atas pengakuan Rabb semeste Allah. Tuhan-Nya para makhluk di dunia dan di bumi sehingga tidak ada satupun makhluk yang menafikan atas baik dan mulianya akhlak beliau shallallahu’alahi wasallam.
Dan setiap kita harus mengikuti dan berjuang keras untuk menjadi seperti Rasulullah. Meskipun kita tidak akan mampu, namun setidaknya ada usaha maksimal, ikhtiar yang luar biasa dan perjuang yang gigih untuk menjadi hamba serta muslim yang berakhlak mulia. Akhlak yang menjadikan kita serta umat Islam semakin dikenal oleh umat yang lain, penganut agama yang lain bahwasanya Islam tidak pernah mengajarkan pengikut, penganut dan muslim untuk bertindak anarkis, sekuler, liberal serta tindak kejahatan dan perbuatan yang  bertentang dengan Islam yang sebagai agama keselamatan.
Maka mari kita senantiasa memperbaiki akhlak dan pekerti kita. Pada Allah dan sesama makhluk-Nya. “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (pada hari kiamat) dari akhlak yang baik.” [HR. Abu Dawud].
Keempat; Harishun ‘ala Waqhiti (Memanfaatkan Waktu)
Setiap manusia diberikan waktu yang sama. Dua puluh empat jam. Tidak ada satupun manusia yang diberikan lebih atau kurang. Sebab itu adalah garis dan ketentuan takdir yang digariskan untuk semua makhluk langit dan bumi. Namun kenyataannya banyak di antara manusia yang hanya diberikan waktu tersebut bisa melakukan banyak aktivitas. Banyak mengakomodir kegiatan, mengkomandoi manusia untuk menjadi lebih baik dan produktif. Sebaliknya pun banyak kita temui mereka tidak mampu melakukan banyak hal, tidak produktif, tidak mampu mengontrol dan memimpin dirinya sendiri. Bahkan banyak di antara kita yang mengeluh tidak bisa melakukan banyaknya karena alasan waktu.
Maka sebagai seorang muslim, waktu itu adalah sesuatu yang sangat penting dan berharga. Bahkan dalam sedetiknya pun sangatlah berharga dan sangat disayangkan untuk dilakukan dalam hal yang sia-sia. Maka dari itulah kita perlu untuk memanfaatkannya dalam segala aktivitas berkualitas. Quality time. Menjadi seorang muslim yang luar biasa, harusnya menjadikan waktu ini sebagai sesuatu yang mendatangkan pengaruh positif bagi diri, umat, dan Islam.
Kelima; Naafi’un Lighoirihi (Bermanfaat)
“Jabir radhiyallahu’anhuma bercerita bahwa Rasulullah shallallahu’alahi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia, adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”[HR. At-Thabarani. Hadits dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no. 3289].
Sebagai seorang muslim, bermanfaat untuk sesama adalah sebuah keharusan dan menjadi prioritas dalam hidup. Bukankah kabar gembira yang datangnya dari manusia agung, Muhammad shallallahu’alahi wasallam sudah cukup menjadikan kita untuk melecutkan diri serta menginspirasi untuk mengambil bagian dari orang-orang yang memberi manfaat?
Memberi manfaat dalam semua linih dengan potensi yang kita miliki. Jangan memberi alasan disebabkan kekurangan atau diri sendiri butuh sehingga kita lupa untuk memberi manfaat pada sesama. Lakukan yang bisa dilakukan dengan meniatkan untuk Allah serta dapat memberi manfaat yang sebanyak mungkin. Maka seperti itulah muslim. Seorang Islam yang ingin menjadi muslim yang luar biasa ia harus melihat diri dan manfaat yang telah ia berikan untuk diri, orang lain, agama, umat, bangsa dan negaranya.
Be a Great Muslim. Sebuah keharusan dan perjuangan yang perlu kita lakukan sehingga kelak kita tidak hanya menjadi penikmat ataupun penonton pada fase menyambut kebangkitan Islam di akhir zaman. Melainkan kita menjadi bagian pelakon yang memberi kontribusi terbaik kita hingga kelak nama kita pun terukir bahwa kita telah mengambil bagian dalam kebangkitan Islam di akhir zaman.
***

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia