Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Kenapa Tidak ke Masjid?



Ujian dan cobaan sepertinya tidak akan lepas dari fitrah manusia. Karena dengan ujian itulah hidup kita selaku hamba-Nya akan semakin berkualitas dan juga akan bertambah baik. Dan sebaliknya jika hidup kita selalu dalam keadaan baik terus, tanpa ada halangan dan rintangan, tentu kita tidak akan mengetahui tingkat kebaikan dan kualitas yang ada pada diri kita.
أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” [QS. Al-Ankabut: 2-3]
Ujian demi ujian yang belaku atas diriku tak lagi menjadi sebuah beban hidup melainkan sebuah bentuk kasih sayang dari-Nya sebab memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri. Untuk memperbaiki kualitas keimananku. Sebab jauh sebelum aku terlahir ke dunia aku telah mengikrarkan diri. Bertauhid pada-Nya. Dan sebagai bukti dari ikrar itu adalah Allah memberikan ujian demi ujian. Untuk melihat tingkat kesabaran dan ketaatan kita pada-Nya. Dan sudah seharusnya kita bersabar dan mengembalikan semuanya pada-Nya. Sebagaimana anjuran dalam kalam-Nya.
ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ ١٥٦أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٞۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ ١٥٧
“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [QS. Al-Baqarah: 156-157]
Semakin aku menjalani hidup ini. Semakin Allah membimbingku. Semakin Allah menunjukkan jalan menuju-Nya. Sama halnya ketika hidup harus terpengaruh dengan pergaulan dan arus bersama teman-teman. Saat harus bersama dengan mereka yang tidak mampu melangkahkah kaki menuju rumah-Nya. Memenuhi seruan dan panggilan-Nya.  Azza wajalla tak ingin melihatku dalam keadaan yang stagnak. Dalam keadaan yang tidak beribadah kepada-Nya. Hingga suatu hari dalam sebuah perjalanan pulang ke rumah Allah menakdirkanku untuk bertemu dan menyaksikan sebuah pemandangan yang membuat hati bergetar. Membuat kedua mata menitikkan air mata atas kesungguhan dan kerdilnya diri dengannya.
Yah, dalam perjalanan pulang itu, Allah menakdirkanku bertemu dengan seorang buta yang berjalan menuju rumah-Nya. Memenuhi panggilan-Nya. Beda dengan diriku yang yang mengabaikannya. Mengabaikan undangan kemenangan yang dijanjikan. Astagfirullah. Ampuni aku ya Rabb. Aku tidak memperdulikannya saat bertemu pertama kali. Aku fikir itu hanyalah sebuah kebetulan. Hanyalah pertemuan yang tidak akan terjadi untuk kedua kali atau ketiga kalinya dan seterusnya. Namun, anggapanku salah. Entah mengapa setiap perjalanan pulang aku selalu bertemu dengannya. Berjalan dengan tongkatnya menuju rumah Allah. Sesering kali aku bertemu dan melihat wajahnya yang penuh dengan pancaran ketawadhuan. Memancarkan ketenangan. Padahal telah jelas perintah Allah.
وَأَقِيمُواْٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرۡكَعُواْ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ ٤٣
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku´lah beserta orang-orang yang ruku´.” [QS. Al-Baqarah: 43] diperjelas lagi dengan hadits Rasulullah yang membuatku tak mampu membantah dan bergeming.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata; “Telah datang kepada Nabi shalallahu’alaihi wasallam seorang lelaki buta, kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak punya orang yang bisa menuntunku ke masjid, lalu dia memohon kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam agar diberi keringanan dan cukup shalat di rumahnya. “Maka Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam memberikan kepadanya. Ketika dia berpaling untuk pulang, beliau memanggilnya, seraya berkata; ‘Apakah engkau mendengarkan suara adzan (panggilan) shalat?’ ia menjawab; ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Maka hendaklah kau penuhi (panggilan itu)”. [HR. Muslim].
Pada hadits ini, Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam tetap memerintahkan seorang laki-laki yang buta yang tidak memiliki penuntun untuk tetap shalat berjama’ah di masjid. Maka bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan diriku yang masih diberikan penglihatan yang jelas. Tanyaku pada detakan kagumku atas sikapnya.
Kenapa tidak ke masjid?  Itu pertanyaan atas diriku. Pertanyaan atas kemalasanku. Pertanyaan atas salah bergaulku dengan mereka yang tidak memenuhi panggilan-Nya. Maka satu kata untuk memulai semuanya. BERUBAH. Berubah menuju yang lebih baik. Dan pautkan hati untuk ke masjid. Pelihara shalat berjama’ah. Peliharan kemudahan yang telah Allah berikan. Peliharan yang telah Allah anugerahi.
Dan seperti itulah jalanku. Jalan menuju-Nya. Atas bimbingan dan kehendak-Nya yang tidak menginginkanku menjadi orang yang kufur atas nikmat-Nya.
***
“Kak kenapa selalu menjaga sholat berjama’ahnya di masjid?” tanya seorang mahasiswa yang bersama dengan saat pulang dari masjid. Aku tersenyum dan mengarahkan pandangannya kepadanya.
“Tau Abdullah bin Ummi Maktum?” tanyaku kembali.
“Tidak.” Ia menggeleng kepala.
“Pernah dengar ceritanya?” kembali ia menggelengkan kepala.
Aku mulai bercerita tentang siapa Abdullah bin Ummi Maktum dan kenapa aku menjaga sholat berjmaa’ah di masjid.
“Abdullah bin Ummi Maktum adalah salah seorang sahabat senior Rasulullah, beliau termasuk di antara as-sabiquna-I awwalun (orang-orang yang pertama memeluk Islam). Ada yang mengatakan nama beliau Umar. Ada juga yang menyebut Amr. Kemudia Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam menggantinya dengan Abdullah. Orang-orang Madinah mengenalnya dengan nama Abdullah, sedangkan orang-orang Irak menyebutnya Amr. Namun keduanya sepakat bahwa nasabnya adalah Ibnu Qays bin Za-idah bin al-Usham. Abdullah memiliki kedekatan dengan nasab dengan Ummul Mukminin Khadijah radhiyallahu ‘anha. Ibnu dari Khadijah adalah saudaranya Qasy bin Za-idah, ayah dari Abdullah.
Abdullah bin Ummi Maktum memiliki kekurangan fisik berupa kebutaan (tuna netra). Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bertanya kepadanya, “Sejak kapan, engkau kehilangan penglihatan?” ia menjawab, “Sejak kecil.” Maka Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda; “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Jika Aku mengambil penglihatan hamba-Ku, maka tidak ada balasan yang lebih pantas kecuali surga.”
Saat Allah memerintahkan Rasul-Nya dan kaum muslim untuk hijrah ke Madinah, maka Abdullah bin Ummi Maktum menjadi orang yang pertama-tama menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya. Walaupun ia memiliki kekurangan fisik, jarak antara Mekah dan Madinah yang jauh, sekitar 490 km, ancaman dari orang-orang Quraisy, belum lagi bahaya dalam perjalanan, semua itu tidak menghalanginya untuk memenuhi perintah Allah dan Rasul-Nya.
Itulah sedikit tentangnya. Abdullah bin Ummi Maktum adalah orang senantiasa menjaga waktu sholat berjama’ahnya di masjid, meskipun ia dalam keadaan buta dan tidak memiliki penuntun untuk menuju masjid. Lalu masih pantaskah kita untuk tidak berjama’ah di masjid? Atau khususnya dengan diriku yang jauh lebih bisa melihat dari Abdullah bin Ummi Maktum untuk tidak berjama’ah di masjid dan berusaha untuk menjaganya?” kulihat mahasiswa tersebut mengangah dan tak berkata sepatah pun. Mungkin hatinya bergetar akan kisah Abdullah bin Ummi Maktum.
“Jadi ketika aku mulai malas, aku kembali membandingkan diriku dengan Abdullah bin Ummi Maktum. Maka seketika itu, hatiku bergetar. Dan itu menjadi salah satu inspirasiku untuk tetap istiqomah menjaga sholat berjama’ah di masjid. Apapun keadaannya selagi tidak ada udzur yang benar sesuai dengan syari’at.” Imbuhku kembali.
Dan cukup itu semua menjadi pelajaran bagiku dan bagi kita semua untuk tetap istiqomah di jalan-Nya.
***

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia