Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Melukis Warna Senja (Part 1)
Siskaee
November 06, 2017
Meyakinkan
Diri
Di matanya malam ini sangat indah. Namun ia merasa malam ini sangat
panjang tak seperti biasanya. Ia menatap ke langit di mana jubah kelam malam
terhampar bak permadani berhampur buih-buih nan indah yang berkerlap-kerlip
sebagai hiasan yang menyejukkan mata penduduk bumi. Ia memilih berbaring di
beranda rumahnya dari pada berbaring di dalam kamarnya. Ia menerawang jauh ke
depan akan misteri yang akan terjadi pada diri dan keluarganya kelak. Karena
segala sesuatunya selalu ia sandarkan pada yang berhak atas dirinya. Ia selalu
mengukir mimpi-mimpinya dalam coretan jemarinya di atas kertas putih sebab ia
pernah mendengarkan sebuah kata bijak tulislah mimpimu secara nyata, jangan
tulis dalam ingatanmu sebab ia bisa hilang dan terlupakan. Kata bijak
itulah yang menjadi dasarnya sehingga ia selalu bersemangat untuk menuliskan
mimpinya. Ia serahkan pada yang Mengabulkan mimpi. Ia ikhtiarkan dengan azzam
yang kuat dalam dadanya bahwa kelak mimpinya itu dapat ia genggam, entah itu
cepat atau butuh waktu yang sangat lama.
Ia semakin jauh menerawang, sambil sesekali berguman pada dirinya
“Insya Allah,” entah apa yang ada dalam benak fikirnya sehingga ia
mengucapkan kata itu berulang kali
“Afnan.... Afnan,” suara dari dalam rumahnya memanggil dirinya yang
masih asyik berkelana dalam fikirnya, tanpa ia sadari bahwa ibunya memanggil
namanya
“Afnan,” ibunya kembali memanggil untuk kedua kalinya. Ia
mendengarnya samar-samar dan bangun dalam baringnya. Suara langkah kaki ibunya
ia dengar menghampirinya yang masih tidak bergeming meninggalkan beranda
rumahnya. Ia ingin menikmati keajaiban malam yang telah Allah ciptakan sebagai
tempat beristrahat buat manusia. Bukankah dalam pesan Tuhan dikatakan bahwa
sesungguhnya sian dijadikan untukmu untuk mencari rezeki-Nya sementara malam dijadikan
bagimu selimut untuk beristrahat. Meskipun banyak diantara manusia yang telah
menjadikan malam untuk mencari rezeki sebanyak-banyaknya untuk mengumpulkannya
sebagai pemenuhan hasrat terhadap duniawi.
“Kenapa tidak baring di dalam nak? Nanti masuk angin. Bukankah
diluar sini hawanya dingin sekali?” nasehat ibunya yang melihat anak semata
wayangnya duduk menghadap timur
“Tidak apa-apa kok bu, Afnan Cuma ingin menikmati ayat-ayat
Kaunih-Nya yang telah diciptakan kepada kita supaya kita berfikir betapa Maha
Kuasa-Nya Allah akan ciptaan-Nya.” jawab Afnan. Ibunya hanya tersenyum dan ikut
duduk di samping Afnan. Ia menyandarkan kepalanya di bahu ibunya merasakan
kehangatan belaian kasih sayang ibunya yang selalu ia rindukan kapanpun.
Desiran angin menjadi nyanyian malam diiringi dengan bunyi jangkrik. Ilalang
bergoyang oleh terpaan angin malam sepoi-sepoi yang menghantarkan hawa dingin
yang menusuk sampai tulang.
Mereka memandangi malam dengan jalan fikir mereka masing-masing.
Bintang dan rembulan pun ikut bahagia melihat kebersamaan mereka dalam balutan
cinta dan kasih sayang antara ibu dan anaknya.
“Afnan,” suara ibunya. Afnan mengangkat kepalanya dari bahu wanita
sederhana yang ia cintai di dunia ini.
“Iya Bu,” Afnan memandangi wajah ibunya. Wajah yang sudah dimamah
oleh usia namun ia masih terlihat segar. Wajahnya memancarkan sifat ketegaran
dan ketabahannya menjalani hidup yang tergaris di tangannya yang telah Allah
desain untuknya. Ia mensyukurinya dengan setulus jiwa atas hidup yang diberikan
oleh Dzat Pemberi Kehidupan. Bahkan ia sangat bersyukur atas anugrah terbesar
yang telah diberikan kepadanya yakni anak sholeh yang juga memiliki ketabahan
dan kesabaran akan kehidupan mereka yang jauh dari kesempurnaan materi; Afnan.
Afnan anak semata wayangnya adalah motivasi terbesarnya menjalani kehidupannya
yang sudah berstatus janda.
“Afnan rindu ayah?” tanyanya sambil memandangnya dengan penuh
cinta. Afnan memeluk ibunya dengan sangat erat. Pelukannya kepada ibunya sudah
mewakili jawaban dirinya bahwa ia sangat merindukan ayahnya telah
meninggalkannya menuju perjalanan abadi yang sebenarnya. Afnan merasa tidak
mampu menampung tetesan bening di kelopak matanya namun ia menguatkan dirinya.
Ia tidak mau terlihat menjadi anak yang lemah dihadapan ibunya. Ia tidak mau
menjadi anak yang memberikan beban kepada orangtuanya. Ia ingin membahagiakan
ibunya apaun caranya namun tidak lepas dari koridor iman yang ia yakini. Ia
telah berjanji pada dirinya bahwa ia harus menjadi orang sukses yang bisa
menjadi kebanggaan orangtuanya dan memberikan kehidupan yang layak, tidak
seperti kehidupan yang sekarang yang serba sederhana bahwa dibawa kata
sederhana.
“Afnan rindu, bu, rindu sekali,” jawab Afnan dengan senyum
terkembang di wajahnya. Senyum yang ia paksakan untuk meyakinkan ibunya bahwa
ia tidak apa-apa menjadi seorang yatim. Meskipun dalam hatinya sangat mengiba
ingin merasakan pelukan dan nasehat ayahnya yang sering melarangnya ini itu
meskipun Afnan tahu bahwa ayahnya ingin yang terbaik untuk dirinya.
Air mata menitik membasahi pipi ibunya. Ia memeluk Afnan sambil
terisak yang membasahi baju Afnan. Ia membiarkan ibunya menangis meluapkan
perasaannya
“Ya Allah berikan aku dan ibuku hati yang tabah dan lapang untuk
menerima ketentuan-Mu. Jangan Engkau membiarkan aku dan ibuku tergelincir dalam
perangkap setan yang telah disiapkan untuk menyesatkan manusia. La hawula wa
la kuata illah billah,” doa Afnan mengemis kasih Tuhan.
“Afnan yakin bu, ayah mendapatkan tempat yang baik di sisi-Nya.
Bukankah Allah menjanjikan surga kepada hamba-hamba yang bertaqwa? Insya Allah,
ayah adalah hamba yang bertaqwa dan janji Allah pasti dan benar adanya. Jadi
Afnan minta ibu yang tabah yah dan kita doakan ayah disetiap sujud kita kelak
kita dikumpul dengan ayah bersama orang-orang beruntung yang diRidhoi oleh
Allah,” jelas Afnan memperlihatkan ketegarannya akan ketentuan oleh-Nya
“Iya nak, insya Allah. Ibu tidak minta apa-apa dari Afnan, ibu
hanya ingin Afnan menjadi anak yang sholeh karena doa anak yang sholeh diijabah
oleh Allah Ta’ala,” Afnan menganggukkan kepalanya tanpa berkata sepatahpun. Ia
mendengar dengan takzim ucap ibunya yang penuh cinta, memasukkannya ke dalam
relung hatinya untuk ia aplikasikan kelak di hadapan ibunya sebagai baktinya.
Malam semakin larut. Bintang tengah memadu kasih dengan rembulan
dalam takdirnya. Sementara dingin semakin menusuk dalam tubuh manusia. Suara
jangkrik dan binatang malam tak lagi terdengar mungkin mereka telah memadu
kasih dengan pujaannya dan tak ingin diganggu oleh siapapun.
“Jangan terlalu lama nak, malam semakin larut mungkin sebaiknya
Afnan masuk ke kamar untuk istrahat,” saran ibunya sambil melangkah masuk ke
dalam rumahnya untuk merebahkan tubuhnya dalam ambang mimpi
“Iya bu.” Afnan merebahkan kembali badannya di beranda rumahnya
sementara ibunya telah beristrahat. Ia mengjelajahi fikiranya tentang
rencananya ke depan. Ia belum berani untuk menyampaikan rencananya kepada
ibunya. Ia tidak tegah meninggalkan ibunya sendiri namun kondisinya yang
mengharuskan ia harus memilih untuk mejalani rencananya ke depan meskipun ia
tahu ibunya tidak mudah setuju untuk melepas anak semata wayangnya jauh darinya
apalagi dengan kondisinya sekarang ditinggal sang suami.
Kembali ia mengalami pergolakan batin antara tetap menemani ibunya
atau menjadi musafir untuk kehidupan yang lebih baik. Beranda rumahnya menjadi
saksi atau peyakinan diri yang Afnan lakukan terhadap dirinya sendiri.
Ilalangpun tak tinggal diam, ia berbisik pada Afnan bahwa ia mengdukung
keputusannya untuk hijrah menuju pencarian jati diri. Seketika wajah ayahnya
terlintas. Suara ayahnya yang khas terdengar oleh dirinya namun ia sadar bahwa
ayah tak ada lagi. Ia memutar kembali memori kebersamaan dirinya dengan sosok
laki-laki teguh yang ia banggakan.
“Seandainya ayah di sini, pasti ayah akan mengerti keinginan Afnan.
Afnan rindu ayah,” suaranya lirih. Ilalang hanya mampu menatapnya tampa harus
berkata apapun sementara dinding rumahnya seakan ingin berjalan mengelus dan
membelai rambutnya untuk menunjukkan bahwa Afnan tidak sendiri jadi jangan
bersedih, namun dinding rumahnya sadar bahwa ia hanya benda yang tidak
memberikan pengaruh kepadanya atas kesedihan dan kerinduannya pada ayahnya yang
sangat ia cinta. Rembulan berbisik pada bintang untuk turun ke bumi tepat di
hadapan Afnan untuk mengusap tetesan bening yang mengalir di pipinya namun
bintang itu menolak ia tidak dapat melakukan itu karena ia pun merasakan
pengadukan emosi yang tengah Afnan rasakan. Tidak ada yang mampu menghentikan
kesedihannya namun ilalang, dinding rumah, rembulan dan bintang memohon kepada
Dzat yang mempunyai kuasa untuk menghapuskan kesedihan Afnan.
“Kelak jika Afnan ingin mengambil keputusan maka pikirkan dengan
matang. Jangan mementingkan ego, ukurlah dengan akal dan tanyakan pada hati
kecilmu sebab hati manusia tidak pernah berbohong. Ia tidak pernah menari dalam
kedustaan. Ia selalu berjalan pada kebenaran dan kebaikan. Simpan tanganmu di
dada dan dengarkan kata hatimu.” Nasehat ayahnya ketika masih bersama Afnan
sebelum ia meninggalkannya untuk
selamanya. Afnan memutar semua ingatan tentang kebersamaan ayahnya untuk
mengobati kesedihan dan kekalutan diri yang berkecampuk pada dirinya.
Ia sadar bahwa ia harus meyakinkan dirinya sebelum meyakinkan
ibunya terhadap keputusannya untuk berhijrah demi perbaikan kehidupannya kelak.
Ia berfikir keras menimbang segala sesuatu yang akan terjadi dan akan ia hadapi
kelak dalam perjalanannya. Ia harus sadar bahwa hidup jauh dari kampung halaman
dan orangtua mengharuskan ia mandiri dari semua hal karena banyak
kerikil-kerikil tajam yang akan menjadi penghalang dan rintangan atas apa yang
akan kita capai.
Afnan berdiri memandang angkasa malam yang bertabur beribu bintang.
Ia diam seribu bahasa hanya hembusan dan desiran angin yang terdengar. Kembali
ia menerawang dan meyakinkan dirinya bahwa ia pasti bisa. Bukankah kita tidak
akan tahu apakah kita bisa atau tidak jika tidak pernah mencoba untuk menjalani
keputusan yang telah kita rencanakan. Dan kegagalan terbesar dalam hidup ini
adalah takut untuk mencoba sehingga kita tidak pernah tahu kemampuan kita. Ia
menunduk dan menanyakan kepada hati kecilnya akan keputusannya sangat lama ia
bernego dengan dirinya untuk meyakinkannya hinggan ia mengucapkan basmalah
tanda bahwa ia telah menyakinkan dirinya.
“Bismillah....., mudahkan urusan hamba ya Rabb dan berkahi
keputusan hamba serta kelak takdirkanlah hamba untuk mengenggam mimpi-mimpi
yang hamba rajut sebab Engkau-lah Sang Maha Penentu atas kehidupanku dan
kesuksesanku.”
***
BERSAMBUNG .....

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...