Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Melukis Warna Senja (Part 1)




Meyakinkan Diri
Di matanya malam ini sangat indah. Namun ia merasa malam ini sangat panjang tak seperti biasanya. Ia menatap ke langit di mana jubah kelam malam terhampar bak permadani berhampur buih-buih nan indah yang berkerlap-kerlip sebagai hiasan yang menyejukkan mata penduduk bumi. Ia memilih berbaring di beranda rumahnya dari pada berbaring di dalam kamarnya. Ia menerawang jauh ke depan akan misteri yang akan terjadi pada diri dan keluarganya kelak. Karena segala sesuatunya selalu ia sandarkan pada yang berhak atas dirinya. Ia selalu mengukir mimpi-mimpinya dalam coretan jemarinya di atas kertas putih sebab ia pernah mendengarkan sebuah kata bijak tulislah mimpimu secara nyata, jangan tulis dalam ingatanmu sebab ia bisa hilang dan terlupakan. Kata bijak itulah yang menjadi dasarnya sehingga ia selalu bersemangat untuk menuliskan mimpinya. Ia serahkan pada yang Mengabulkan mimpi. Ia ikhtiarkan dengan azzam yang kuat dalam dadanya bahwa kelak mimpinya itu dapat ia genggam, entah itu cepat atau butuh waktu yang sangat lama.
Ia semakin jauh menerawang, sambil sesekali berguman pada dirinya
“Insya Allah,” entah apa yang ada dalam benak fikirnya sehingga ia mengucapkan kata itu berulang kali
“Afnan.... Afnan,” suara dari dalam rumahnya memanggil dirinya yang masih asyik berkelana dalam fikirnya, tanpa ia sadari bahwa ibunya memanggil namanya
“Afnan,” ibunya kembali memanggil untuk kedua kalinya. Ia mendengarnya samar-samar dan bangun dalam baringnya. Suara langkah kaki ibunya ia dengar menghampirinya yang masih tidak bergeming meninggalkan beranda rumahnya. Ia ingin menikmati keajaiban malam yang telah Allah ciptakan sebagai tempat beristrahat buat manusia. Bukankah dalam pesan Tuhan dikatakan bahwa sesungguhnya sian dijadikan untukmu untuk mencari rezeki-Nya sementara malam dijadikan bagimu selimut untuk beristrahat. Meskipun banyak diantara manusia yang telah menjadikan malam untuk mencari rezeki sebanyak-banyaknya untuk mengumpulkannya sebagai pemenuhan hasrat terhadap duniawi.
“Kenapa tidak baring di dalam nak? Nanti masuk angin. Bukankah diluar sini hawanya dingin sekali?” nasehat ibunya yang melihat anak semata wayangnya duduk menghadap timur
“Tidak apa-apa kok bu, Afnan Cuma ingin menikmati ayat-ayat Kaunih-Nya yang telah diciptakan kepada kita supaya kita berfikir betapa Maha Kuasa-Nya Allah akan ciptaan-Nya.” jawab Afnan. Ibunya hanya tersenyum dan ikut duduk di samping Afnan. Ia menyandarkan kepalanya di bahu ibunya merasakan kehangatan belaian kasih sayang ibunya yang selalu ia rindukan kapanpun. Desiran angin menjadi nyanyian malam diiringi dengan bunyi jangkrik. Ilalang bergoyang oleh terpaan angin malam sepoi-sepoi yang menghantarkan hawa dingin yang menusuk sampai tulang.
Mereka memandangi malam dengan jalan fikir mereka masing-masing. Bintang dan rembulan pun ikut bahagia melihat kebersamaan mereka dalam balutan cinta dan kasih sayang antara ibu dan anaknya.
“Afnan,” suara ibunya. Afnan mengangkat kepalanya dari bahu wanita sederhana yang ia cintai di dunia ini.
“Iya Bu,” Afnan memandangi wajah ibunya. Wajah yang sudah dimamah oleh usia namun ia masih terlihat segar. Wajahnya memancarkan sifat ketegaran dan ketabahannya menjalani hidup yang tergaris di tangannya yang telah Allah desain untuknya. Ia mensyukurinya dengan setulus jiwa atas hidup yang diberikan oleh Dzat Pemberi Kehidupan. Bahkan ia sangat bersyukur atas anugrah terbesar yang telah diberikan kepadanya yakni anak sholeh yang juga memiliki ketabahan dan kesabaran akan kehidupan mereka yang jauh dari kesempurnaan materi; Afnan. Afnan anak semata wayangnya adalah motivasi terbesarnya menjalani kehidupannya yang sudah berstatus janda.
“Afnan rindu ayah?” tanyanya sambil memandangnya dengan penuh cinta. Afnan memeluk ibunya dengan sangat erat. Pelukannya kepada ibunya sudah mewakili jawaban dirinya bahwa ia sangat merindukan ayahnya telah meninggalkannya menuju perjalanan abadi yang sebenarnya. Afnan merasa tidak mampu menampung tetesan bening di kelopak matanya namun ia menguatkan dirinya. Ia tidak mau terlihat menjadi anak yang lemah dihadapan ibunya. Ia tidak mau menjadi anak yang memberikan beban kepada orangtuanya. Ia ingin membahagiakan ibunya apaun caranya namun tidak lepas dari koridor iman yang ia yakini. Ia telah berjanji pada dirinya bahwa ia harus menjadi orang sukses yang bisa menjadi kebanggaan orangtuanya dan memberikan kehidupan yang layak, tidak seperti kehidupan yang sekarang yang serba sederhana bahwa dibawa kata sederhana.
“Afnan rindu, bu, rindu sekali,” jawab Afnan dengan senyum terkembang di wajahnya. Senyum yang ia paksakan untuk meyakinkan ibunya bahwa ia tidak apa-apa menjadi seorang yatim. Meskipun dalam hatinya sangat mengiba ingin merasakan pelukan dan nasehat ayahnya yang sering melarangnya ini itu meskipun Afnan tahu bahwa ayahnya ingin yang terbaik untuk dirinya.
Air mata menitik membasahi pipi ibunya. Ia memeluk Afnan sambil terisak yang membasahi baju Afnan. Ia membiarkan ibunya menangis meluapkan perasaannya
“Ya Allah berikan aku dan ibuku hati yang tabah dan lapang untuk menerima ketentuan-Mu. Jangan Engkau membiarkan aku dan ibuku tergelincir dalam perangkap setan yang telah disiapkan untuk menyesatkan manusia. La hawula wa la kuata illah billah,” doa Afnan mengemis kasih Tuhan.
“Afnan yakin bu, ayah mendapatkan tempat yang baik di sisi-Nya. Bukankah Allah menjanjikan surga kepada hamba-hamba yang bertaqwa? Insya Allah, ayah adalah hamba yang bertaqwa dan janji Allah pasti dan benar adanya. Jadi Afnan minta ibu yang tabah yah dan kita doakan ayah disetiap sujud kita kelak kita dikumpul dengan ayah bersama orang-orang beruntung yang diRidhoi oleh Allah,” jelas Afnan memperlihatkan ketegarannya akan ketentuan oleh-Nya
“Iya nak, insya Allah. Ibu tidak minta apa-apa dari Afnan, ibu hanya ingin Afnan menjadi anak yang sholeh karena doa anak yang sholeh diijabah oleh Allah Ta’ala,” Afnan menganggukkan kepalanya tanpa berkata sepatahpun. Ia mendengar dengan takzim ucap ibunya yang penuh cinta, memasukkannya ke dalam relung hatinya untuk ia aplikasikan kelak di hadapan ibunya sebagai baktinya.
Malam semakin larut. Bintang tengah memadu kasih dengan rembulan dalam takdirnya. Sementara dingin semakin menusuk dalam tubuh manusia. Suara jangkrik dan binatang malam tak lagi terdengar mungkin mereka telah memadu kasih dengan pujaannya dan tak ingin diganggu oleh siapapun.
“Jangan terlalu lama nak, malam semakin larut mungkin sebaiknya Afnan masuk ke kamar untuk istrahat,” saran ibunya sambil melangkah masuk ke dalam rumahnya untuk merebahkan tubuhnya dalam ambang mimpi
“Iya bu.” Afnan merebahkan kembali badannya di beranda rumahnya sementara ibunya telah beristrahat. Ia mengjelajahi fikiranya tentang rencananya ke depan. Ia belum berani untuk menyampaikan rencananya kepada ibunya. Ia tidak tegah meninggalkan ibunya sendiri namun kondisinya yang mengharuskan ia harus memilih untuk mejalani rencananya ke depan meskipun ia tahu ibunya tidak mudah setuju untuk melepas anak semata wayangnya jauh darinya apalagi dengan kondisinya sekarang ditinggal sang suami.
Kembali ia mengalami pergolakan batin antara tetap menemani ibunya atau menjadi musafir untuk kehidupan yang lebih baik. Beranda rumahnya menjadi saksi atau peyakinan diri yang Afnan lakukan terhadap dirinya sendiri. Ilalangpun tak tinggal diam, ia berbisik pada Afnan bahwa ia mengdukung keputusannya untuk hijrah menuju pencarian jati diri. Seketika wajah ayahnya terlintas. Suara ayahnya yang khas terdengar oleh dirinya namun ia sadar bahwa ayah tak ada lagi. Ia memutar kembali memori kebersamaan dirinya dengan sosok laki-laki teguh yang ia banggakan.
“Seandainya ayah di sini, pasti ayah akan mengerti keinginan Afnan. Afnan rindu ayah,” suaranya lirih. Ilalang hanya mampu menatapnya tampa harus berkata apapun sementara dinding rumahnya seakan ingin berjalan mengelus dan membelai rambutnya untuk menunjukkan bahwa Afnan tidak sendiri jadi jangan bersedih, namun dinding rumahnya sadar bahwa ia hanya benda yang tidak memberikan pengaruh kepadanya atas kesedihan dan kerinduannya pada ayahnya yang sangat ia cinta. Rembulan berbisik pada bintang untuk turun ke bumi tepat di hadapan Afnan untuk mengusap tetesan bening yang mengalir di pipinya namun bintang itu menolak ia tidak dapat melakukan itu karena ia pun merasakan pengadukan emosi yang tengah Afnan rasakan. Tidak ada yang mampu menghentikan kesedihannya namun ilalang, dinding rumah, rembulan dan bintang memohon kepada Dzat yang mempunyai kuasa untuk menghapuskan kesedihan Afnan.
“Kelak jika Afnan ingin mengambil keputusan maka pikirkan dengan matang. Jangan mementingkan ego, ukurlah dengan akal dan tanyakan pada hati kecilmu sebab hati manusia tidak pernah berbohong. Ia tidak pernah menari dalam kedustaan. Ia selalu berjalan pada kebenaran dan kebaikan. Simpan tanganmu di dada dan dengarkan kata hatimu.” Nasehat ayahnya ketika masih bersama Afnan sebelum ia meninggalkannya  untuk selamanya. Afnan memutar semua ingatan tentang kebersamaan ayahnya untuk mengobati kesedihan dan kekalutan diri yang berkecampuk pada dirinya.
Ia sadar bahwa ia harus meyakinkan dirinya sebelum meyakinkan ibunya terhadap keputusannya untuk berhijrah demi perbaikan kehidupannya kelak. Ia berfikir keras menimbang segala sesuatu yang akan terjadi dan akan ia hadapi kelak dalam perjalanannya. Ia harus sadar bahwa hidup jauh dari kampung halaman dan orangtua mengharuskan ia mandiri dari semua hal karena banyak kerikil-kerikil tajam yang akan menjadi penghalang dan rintangan atas apa yang akan kita capai.
Afnan berdiri memandang angkasa malam yang bertabur beribu bintang. Ia diam seribu bahasa hanya hembusan dan desiran angin yang terdengar. Kembali ia menerawang dan meyakinkan dirinya bahwa ia pasti bisa. Bukankah kita tidak akan tahu apakah kita bisa atau tidak jika tidak pernah mencoba untuk menjalani keputusan yang telah kita rencanakan. Dan kegagalan terbesar dalam hidup ini adalah takut untuk mencoba sehingga kita tidak pernah tahu kemampuan kita. Ia menunduk dan menanyakan kepada hati kecilnya akan keputusannya sangat lama ia bernego dengan dirinya untuk meyakinkannya hinggan ia mengucapkan basmalah tanda bahwa ia telah menyakinkan dirinya.
“Bismillah....., mudahkan urusan hamba ya Rabb dan berkahi keputusan hamba serta kelak takdirkanlah hamba untuk mengenggam mimpi-mimpi yang hamba rajut sebab Engkau-lah Sang Maha Penentu atas kehidupanku dan kesuksesanku.”
***
 BERSAMBUNG .....

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia