Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Welcome to Panguntaka (Part 1)
Siskaee
April 30, 2017
(Menyingkap Sejarah, Meramu Asa Untuk Lebih Dekat
Pada-Nya)
Allah selalu punya cara untuk menjadikan hamba
bersyukur pada setiap keadaan dan tempat. Dengan menapaki jejak dalam setiap
perjalanan yang merupakan anugerah dari-Nya. Berjalan menelusuri jejak sejarah
yang terdapat pada setiap tempat. Belajar dan mengambil hikmah pada fase yang
telah menjadi masa silam yang telah berlalu. Sehingga menyadarkan kita akan
ke-Maha Kuasaan-Nya yang begitu luas serta dihamparkan bagi setiap umat
manusia.
***
Kota
Tarakan atau dikenal juga dengan sebutan Bumi
Panguntaka merupakan kota kecil yang
terletak di pulau Kalimantan. Tepatnya di bagian Utara. Kota Terkaya ke-17 di
Indonesia. Luasnya mencapai 250,80 km² dan berpenduduk sebanyak 239.787 jiwa.
Kota yang memiliki semboyang “BAIS” (Bersih, Aman, Indah, Sehat dan Sejahtera)
juga diketahui memiliki sejarah tentang perjuangan para pahlawan yang melawan
para penjajah Jepang, Australia dan
Hindia Belanda pada era Kerajaan Tidung dan era Dinasti Tenggara.
Kota
Tarakan berasal dari bahasa “Tidung” bahasa pribumi kota tersebut, yakni “Tarak” yang berarti “Bertemu” sedangkan “Ngakan” berarti “Makan”
yang secara harfiah dapat diartikan “Tempat
para Nelayan untuk Istirahat makan, bertemu serta melakukan pertukaran hasil
tangkapan dengan nelayan lain.” Selain itu Kota Tarakan juga merupakan
tempat pertemuan arus muara Sungai
Kayan, Sesayap dan Malinau.
Kerajaan
Tidung atau dikenal juga dengan Kerajaan Tarakan adalah kerajaan yang
memerintah suku Tidung. Berkedudukan di Pulau Tarakan dan berakhir di
Salimbatu. Selain kerajaan Tidung ada pula Kesultanan Bulungan yang
berkedudukan di Tanjung Palas. Berdasarkan silsilah (genealogy) yang ada bahwa
di pesisir timur Pulau Tarakan yaitu di kawasan Dusun Binalatung sudah ada
kerajaan Tidung Kuno (The Ancient Kingdom of Tidung), sekitar
tahun 1076-1156 M, kemudian berpindah ke pesisir selatan Pulau Tarakan di
kawasan Tanjung Batu pada tahun 1156-1216 M, lalu bergeser lagi ke wilayah
barat yaitu ke kawasan Sungai Bidang sekitar tahun 1216-1394 M, setelah itu
berpindah lagi, yang relatif jauh dari Pulau Tarakan ke daerah Pimping bagian barat dan kawasan Tanah Kuning
sekitar 1394-1557 di bawah pengaruh Kesultanan Sulu.
Bumi
Panguntaka yang memiliki pemimpin pertama dengan Raja yang bernama Benayuk dari
Sungai Sesayap, Menjelutung pun mengukirkan sejarah perjuangan ketika pada
tahun 1896 sebuah perusahaan perminyakan Belanda, BPM (Bataavishe Petroleum Maatchapij) yang menemukan potensi besar
adanya sumber minyak di pulau Panguntaka. Dan pada tahun 1923 Pemerintah Hindia
Belanda menempatkan seorang Asisten Residen di Kota Tarakan karena membawahi
lima wilayah, yakni; Tanjung Selor, Tarakan, Malinau, Apau Kayan dan Berau.
Namun pada masa pasca kemerdekaan, Pemerintah RI merasa perlu mengubah status
kedewanan Tarakan menjadi Kecamatan Tarakan sesuai dengan Keppress RI No. 22
Tahun 1963.
Bukan
hanya Penjajah Belanda yang melihat potensi besar di Kota Panguntaka Tarakan,
tapi para Penjajah Jepang pun demikian. Sehingga terjadilah era Pendudukan
Jepang yang didatangkan dari Angkatan Darat Kekaisaran Jepang dan Angkatan Laut
Kekaisaran Jepang. Angkatan Jepang dipusatkan di sekitar Lingkas, Pelabuhan
utama kota Tarakan karena merupakan satu-satunya pantai yang cocok untuk
pendaratan pasukan.
Tujuan
awal kedatangan Jepang adalah mendapatkan ladang minyak. Sehingga pada tanggal
11 Januari 1942 Jepang memulai penyerangan dan berhasil mengalahkan garnisun
Belanda yang kecil dalam pertempuran yang berlangsung selama dua hari yang
mengakibatkan separuh pasukan Belanda gugur. Dampak dari kedatangan para
penjajah Belanda dan Jepang mengakibatkan rakyat pribumi mengalami penderitaan
dari semua linih. Ditambah lagi dengan kebijakan para penjajah yang
mengakibatkan penduduk Tarakan sulit mendapatkan bahan makanan yang
mengakibatkan banyak yang kekurangan gizi. Tidak hanya itu, sempitnya lapangan
pekerjaan untuk penduduk pribumi dikarenakan penjajah Jepang membawa sekitar
600 buruh ke Tarakan yang didatangkan dari pulau Jawa. Serta memaksa sekitar
300 wanita Jawa untuk bekerja sebagai “Jugun
Ianfu” (Wanita Penghibur) di Tarakan setelah mereka dibujuk dengan jani
palsu mendapatkan pekerjaan sebagai juru tulis maupun membuat pakaian. Hingga
awal tahun 1945 Garnisun Jepang di Tarakan berkurang saat salah satu dari
batalion infantri yang ditempatkan di pulau Tarakan, yaitu Batalion Infantri
Independen ke-454 ditarik ke Balikpapan. Kemudian Batalion ini dihancurkan oleh
Divisi ke-7 Australia pada bulan Juli selama Pertempuran Balikpapan.
Pemerintah
Indonesia melihat letak dan posisi yang strategis Kecamatan Tarakan mampu
menjadikannya sebagai salah satu sentra industri di wilayah Provinsi Kalimantan
Timur Bagian Utara sehingga meningkatkan statusnya menjadi Kota Administrasi
sesuai dengan peraturan Pemerintah no. 47 Tahun 1981. Dan pada tanggal 15
Desember 1997 status Kota Administrasi kembali ditingkatkan menjadi Kota Madya
berdasarkan Undang-Undang RI No. 29 Tahun 1997 yang presmiannya dilakukan
langsung oleh Menteri Dalam Negeri serta disepakati pada tanggal tersebut
sebagai Hari Jadi Kota Tarakan.
Kota
yang kini telah resmi menjadi Provinsi Kalimantan Utara pada tahun 2012 yang
sebelumnya berada pada Provinsi Kalimantan Timur juga banyak dikunjungi oleh
pendatang asing yang sengaja untuk menikmati beragamam budaya, tempat wisata
serta hewan langka yang hanya berada di kota ini. Yakni Bekatan (Warik Walanda).
Ia adalah hewan khas serupa dengan monyet, namun berbebda dengan monyet pada
umumnya. Memiliki hidung yang panjang sehingga orang Kalimantan memberikan
julukan Monyet Belanda. Keberadaannya masih dilestarikan di salah satu tempat
wisata kota Bais ini, tepatnya di Hutan Magrove. Terletak tidak jauh dari
keramaian kota karena bersebelahan dengan salah satu tempat pembelanjaan
terbesar di Kota Tarakan setelah Pasar Malam THM. Hutan Magrove yang memiliki
luas area sekitar 21 hektar juga berbatasan langsung dengan kawasan industri cold storage dan Pelabuhan Tengkayu II.
Selain menjadi tempat tujuan wisata dan kehidupan hewan Bekantan, ia juga
menjadi paru-paru Kota Tarakan serta menjadi benteng yang melindungi kota dari
abrasi air laut. Karena di hutan Magrove ini juga menjadi habitat alami
pohon-pohon bakau dan fauna-fauna khas Tarakan yang umurnya sudah mencapai
puluhan bahkan ratusan tahun.
Bumi
Panguntaka selain menawarkan beragama destination
wisata, ia juga menyimpan sejarah masuk dan kejayaan Islam pada Kerajaan
Tidung Kuno. Penyebaran Islam saat itu melalui perkawinan karena berawal dari
kehidupan yang berpencar dan berpindah-pindah. Kebanyakan orang suku Tidung
berpindah-pindah dan tidak lagi menggunakan bahasa nenek moyang. Tinggal dan
hidup di Berau, Kutai; Kutai Lama, Sangkulirang dan Sangata.
Menurut
sejarah, Syarif Marzin Al Marzaq adalah orang pertama yang berjuang mensyiarkan
Islam di Kota Tarakan. Di awali pada abad 14 Masehi Islam berkembang di pulau
Kalimantan. Dalam masa perjalanan mengembangkan ajaran Islam ia menikah dengan
seorang gadis asli Kalimantan yang kemudian memeluk Islam. Hasil dari
pernikahan tersebut, lahirlah tiga putra; Syarif Pangeran, Syarif Muda dan
Hamzah Al Marjaq. Dan daerah yang pertama kali dikembangkan ajaran Islam adalah
daerah Sesayap kabupaten Bulungan. Tidak lama setelah itu menyebarlah ke
wilayah sekitarnya dan sampai di Kota Tarakan.
[]
Kota
Tarakan hanyalah bagian kecil bumi Allah. Kota yang kita ber-Ibu Kota di
Tanjung Selor mengajarkan kepada kita tentang semangat berjuang dan membela
tanah air serta agama. Menyingkap bagian sejarahnya dengan beragamam kejadian
dan peristiwa masa silam menyadarkan untuk tetap meramu asa. Memperbaiki
keadaan dan melakukan yang terbaik lagi ke depannya. Melanjutkan apa yang belum
sempat tercapai sehingga dengan begitu kita mampu memberi andil, kontribusi
untuk kemajuan yang lebih produktif.
Ini
hanyalah bagian traveling di Kota Tarakan. In syaa Allah dilain kesempatan kita
akan lebih banyak mengeksplor lagi secarik kisah dan cerita dari Bumi
Panguntaka. Salam Traveling. Dan semoga bisa membuat jejak di kota ini. Kota
Bais Bumi Panguntaka.
[]

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...