Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Welcome to Panguntaka (Part 1)


(Menyingkap Sejarah, Meramu Asa Untuk Lebih Dekat Pada-Nya)
Allah selalu punya cara untuk menjadikan hamba bersyukur pada setiap keadaan dan tempat. Dengan menapaki jejak dalam setiap perjalanan yang merupakan anugerah dari-Nya. Berjalan menelusuri jejak sejarah yang terdapat pada setiap tempat. Belajar dan mengambil hikmah pada fase yang telah menjadi masa silam yang telah berlalu. Sehingga menyadarkan kita akan ke-Maha Kuasaan-Nya yang begitu luas serta dihamparkan bagi setiap umat manusia.
***
Kota Tarakan atau dikenal juga dengan sebutan Bumi Panguntaka merupakan kota kecil yang terletak di pulau Kalimantan. Tepatnya di bagian Utara. Kota Terkaya ke-17 di Indonesia. Luasnya mencapai 250,80 km² dan berpenduduk sebanyak 239.787 jiwa. Kota yang memiliki semboyang “BAIS” (Bersih, Aman, Indah, Sehat dan Sejahtera) juga diketahui memiliki sejarah tentang perjuangan para pahlawan yang melawan para penjajah  Jepang, Australia dan Hindia Belanda pada era Kerajaan Tidung dan era Dinasti Tenggara.
Kota Tarakan berasal dari bahasa “Tidung” bahasa pribumi kota tersebut, yakni “Tarak” yang berarti “Bertemu” sedangkan “Ngakan” berarti “Makan” yang secara harfiah dapat diartikan “Tempat para Nelayan untuk Istirahat makan, bertemu serta melakukan pertukaran hasil tangkapan dengan nelayan lain.” Selain itu Kota Tarakan juga merupakan tempat pertemuan arus muara  Sungai Kayan, Sesayap dan Malinau.
Kerajaan Tidung atau dikenal juga dengan Kerajaan Tarakan adalah kerajaan yang memerintah suku Tidung. Berkedudukan di Pulau Tarakan dan berakhir di Salimbatu. Selain kerajaan Tidung ada pula Kesultanan Bulungan yang berkedudukan di Tanjung Palas. Berdasarkan silsilah (genealogy) yang ada bahwa di pesisir timur Pulau Tarakan yaitu di kawasan Dusun Binalatung sudah ada kerajaan  Tidung Kuno (The Ancient Kingdom of Tidung), sekitar tahun 1076-1156 M, kemudian berpindah ke pesisir selatan Pulau Tarakan di kawasan Tanjung Batu pada tahun 1156-1216 M, lalu bergeser lagi ke wilayah barat yaitu ke kawasan Sungai Bidang sekitar tahun 1216-1394 M, setelah itu berpindah lagi, yang relatif jauh dari Pulau Tarakan ke daerah  Pimping bagian barat dan kawasan Tanah Kuning sekitar 1394-1557 di bawah pengaruh Kesultanan Sulu.
Bumi Panguntaka yang memiliki pemimpin pertama dengan Raja yang bernama Benayuk dari Sungai Sesayap, Menjelutung pun mengukirkan sejarah perjuangan ketika pada tahun 1896 sebuah perusahaan perminyakan Belanda, BPM (Bataavishe Petroleum Maatchapij) yang menemukan potensi besar adanya sumber minyak di pulau Panguntaka. Dan pada tahun 1923 Pemerintah Hindia Belanda menempatkan seorang Asisten Residen di Kota Tarakan karena membawahi lima wilayah, yakni; Tanjung Selor, Tarakan, Malinau, Apau Kayan dan Berau. Namun pada masa pasca kemerdekaan, Pemerintah RI merasa perlu mengubah status kedewanan Tarakan menjadi Kecamatan Tarakan sesuai dengan Keppress RI No. 22 Tahun 1963.
Bukan hanya Penjajah Belanda yang melihat potensi besar di Kota Panguntaka Tarakan, tapi para Penjajah Jepang pun demikian. Sehingga terjadilah era Pendudukan Jepang yang didatangkan dari Angkatan Darat Kekaisaran Jepang dan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang. Angkatan Jepang dipusatkan di sekitar Lingkas, Pelabuhan utama kota Tarakan karena merupakan satu-satunya pantai yang cocok untuk pendaratan pasukan.
Tujuan awal kedatangan Jepang adalah mendapatkan ladang minyak. Sehingga pada tanggal 11 Januari 1942 Jepang memulai penyerangan dan berhasil mengalahkan garnisun Belanda yang kecil dalam pertempuran yang berlangsung selama dua hari yang mengakibatkan separuh pasukan Belanda gugur. Dampak dari kedatangan para penjajah Belanda dan Jepang mengakibatkan rakyat pribumi mengalami penderitaan dari semua linih. Ditambah lagi dengan kebijakan para penjajah yang mengakibatkan penduduk Tarakan sulit mendapatkan bahan makanan yang mengakibatkan banyak yang kekurangan gizi. Tidak hanya itu, sempitnya lapangan pekerjaan untuk penduduk pribumi dikarenakan penjajah Jepang membawa sekitar 600 buruh ke Tarakan yang didatangkan dari pulau Jawa. Serta memaksa sekitar 300 wanita Jawa untuk bekerja sebagai “Jugun Ianfu” (Wanita Penghibur) di Tarakan setelah mereka dibujuk dengan jani palsu mendapatkan pekerjaan sebagai juru tulis maupun membuat pakaian. Hingga awal tahun 1945 Garnisun Jepang di Tarakan berkurang saat salah satu dari batalion infantri yang ditempatkan di pulau Tarakan, yaitu Batalion Infantri Independen ke-454 ditarik ke Balikpapan. Kemudian Batalion ini dihancurkan oleh Divisi ke-7 Australia pada bulan Juli selama Pertempuran Balikpapan.
Pemerintah Indonesia melihat letak dan posisi yang strategis Kecamatan Tarakan mampu menjadikannya sebagai salah satu sentra industri di wilayah Provinsi Kalimantan Timur Bagian Utara sehingga meningkatkan statusnya menjadi Kota Administrasi sesuai dengan peraturan Pemerintah no. 47 Tahun 1981. Dan pada tanggal 15 Desember 1997 status Kota Administrasi kembali ditingkatkan menjadi Kota Madya berdasarkan Undang-Undang RI No. 29 Tahun 1997 yang presmiannya dilakukan langsung oleh Menteri Dalam Negeri serta disepakati pada tanggal tersebut sebagai Hari Jadi Kota Tarakan.
Kota yang kini telah resmi menjadi Provinsi Kalimantan Utara pada tahun 2012 yang sebelumnya berada pada Provinsi Kalimantan Timur juga banyak dikunjungi oleh pendatang asing yang sengaja untuk menikmati beragamam budaya, tempat wisata serta hewan langka yang hanya berada di kota ini. Yakni Bekatan (Warik Walanda). Ia adalah hewan khas serupa dengan monyet, namun berbebda dengan monyet pada umumnya. Memiliki hidung yang panjang sehingga orang Kalimantan memberikan julukan Monyet Belanda. Keberadaannya masih dilestarikan di salah satu tempat wisata kota Bais ini, tepatnya di Hutan Magrove. Terletak tidak jauh dari keramaian kota karena bersebelahan dengan salah satu tempat pembelanjaan terbesar di Kota Tarakan setelah Pasar Malam THM. Hutan Magrove yang memiliki luas area sekitar 21 hektar juga berbatasan langsung dengan kawasan industri cold storage dan Pelabuhan Tengkayu II. Selain menjadi tempat tujuan wisata dan kehidupan hewan Bekantan, ia juga menjadi paru-paru Kota Tarakan serta menjadi benteng yang melindungi kota dari abrasi air laut. Karena di hutan Magrove ini juga menjadi habitat alami pohon-pohon bakau dan fauna-fauna khas Tarakan yang umurnya sudah mencapai puluhan bahkan ratusan tahun.
Bumi Panguntaka selain menawarkan beragama destination wisata, ia juga menyimpan sejarah masuk dan kejayaan Islam pada Kerajaan Tidung Kuno. Penyebaran Islam saat itu melalui perkawinan karena berawal dari kehidupan yang berpencar dan berpindah-pindah. Kebanyakan orang suku Tidung berpindah-pindah dan tidak lagi menggunakan bahasa nenek moyang. Tinggal dan hidup di Berau, Kutai; Kutai Lama, Sangkulirang dan Sangata.
Menurut sejarah, Syarif Marzin Al Marzaq adalah orang pertama yang berjuang mensyiarkan Islam di Kota Tarakan. Di awali pada abad 14 Masehi Islam berkembang di pulau Kalimantan. Dalam masa perjalanan mengembangkan ajaran Islam ia menikah dengan seorang gadis asli Kalimantan yang kemudian memeluk Islam. Hasil dari pernikahan tersebut, lahirlah tiga putra; Syarif Pangeran, Syarif Muda dan Hamzah Al Marjaq. Dan daerah yang pertama kali dikembangkan ajaran Islam adalah daerah Sesayap kabupaten Bulungan. Tidak lama setelah itu menyebarlah ke wilayah sekitarnya dan sampai di Kota Tarakan.
[]
Kota Tarakan hanyalah bagian kecil bumi Allah. Kota yang kita ber-Ibu Kota di Tanjung Selor mengajarkan kepada kita tentang semangat berjuang dan membela tanah air serta agama. Menyingkap bagian sejarahnya dengan beragamam kejadian dan peristiwa masa silam menyadarkan untuk tetap meramu asa. Memperbaiki keadaan dan melakukan yang terbaik lagi ke depannya. Melanjutkan apa yang belum sempat tercapai sehingga dengan begitu kita mampu memberi andil, kontribusi untuk kemajuan yang lebih produktif.
Ini hanyalah bagian traveling di Kota Tarakan. In syaa Allah dilain kesempatan kita akan lebih banyak mengeksplor lagi secarik kisah dan cerita dari Bumi Panguntaka. Salam Traveling. Dan semoga bisa membuat jejak di kota ini. Kota Bais Bumi Panguntaka.
[]

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia