Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Belajar Arti ‘Kekinian’ Dari Surah Luqman




Istilah ‘Kekinian’ merupakan istilah yang belakang ini ngetrend dan menjadi sesuatu yang memenuhi ruang gerak para remaja dan yang orang-orang yang aktif disosial media; Facebook. Banyak dari mereka yang menjadikan istilah tersebut sebagai suatu bentuk gaul dan kerennya seseorang karena bisa mengikuti perkembangan zaman. Mengikuti arus tekhnolgi dan istilah-istilah yang menjadikan mereka terlihat lebih stylis dan funky.
Sebenarnya tidak mengapa mengikuti perkembangan zaman dan arus tekhnologi yang kian pesat, ketika itu menjadikan kita melakukan kegiatan-kegiatan postif, bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Pun dengan itu, kita juga mampu untuk mengembangkan wawasan dan kreatifitas kita serta tidak menjadikan kita lupa identitas kita yang sebenarnya. Tapi kalau malah sebaliknya maka itu menjadi kekhawatiran kita dan menjadi tanggung jawab kita untuk meluruskan. Kekiniaan itu bukanlah ketika kita meng-Upload foto perbandingan diri kita yang ‘Dulu’ dan ‘Sekarang’ kemudian tertulis ‘Dear Mantan’ dan tujuannya pun tidak bermanfaat sebab menginginkan kepada sang mantan yang melihat foto tersebut merasakan penyesalan. Sekali lagi ‘Kekinian’ itu bukan seperti itu. Bukan sesuatu yang sia-sia yang tidak memiliki tujuan jelas. Lalu seperti apa ‘Kekinian’ itu? Mari kita telah dan belajar langsung dari Way of Life kita; Al-Qur’an. Kalamullah. Kita yang tidak ada keraguan di dalamnya, sebagaimana penegasan dari-Nya. “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagin mereka yang bertaqwa.” [QS. Al-Baqarah (2): 2].
Menjadi anak ‘Kekinian’ adalah ketika kita mampu menerapkan wasiat Luqman pada anaknya pada Qur’an Surah Luqman. Pertama, "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".[QS. Luqman (31): 13] Anak kekinian itu, mereka yang mengenal Tuhan-nya; Allah sehingga tidak menduakan-Nya. Tidak menyekutukan-Nya. Tidak membuat-Nya cemburu. Menjadikannya sebagai tempat untuk bergantung untuk semua kebutuhannya dan menyandarkan segala sesuatunya. Anak kekinian, mereka yang mampu menjadikan dan menempatkan Allah sebagai Cinta Pertamannya. Melaksanakan apa yang diperintahkannya. Sami’na wa’atho’na. Dengar dan taat terhadap apa yang menjadi ketentuan dari-Nya.
Kedua, “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.” [QS. Luqman (31): 14] Kekinian itu, ketika kita menjadi anak yang berbakti. Anak yang menjadi penyejuk mata dan membawa ketenangan bagi orangtua kita. Kita menempatkan orangtua sebagaimana perannya. Sebab kebanyakan kita melihat, banyak anak zaman sekarang yang mengatakan dirinya mengikuti perkembangan zaman sehingga membohongi orangtuanya. Menjadikannya sebagai mesin pencetak uang; ketika mereka butuh tinggal minta, padahal mereka tidak mengetahui bagaimana perjuangan orangtua mengais rezeki untuk menghidupi dan melengkapi kebutuhannya. Padahalnya kita sudah sangat sering mendengar sabda Rasulullah shallalahu’alaihi wasallam tentang keridhaan Allah terdapat pada ridha orangtua. Lantas bagaimana caranya kita mendapatkan ridha-Nya ketika kita terus menerus membohongi orangtua dengan beragam permintaan yang sebenarnya bukan sesuatu yang penting, membentaknya dengan meninggikan suara hingga menjadikan orangtua sebagai orang yang tidak memberikan ketenangan dan kenyamanan, yang pada akhirnya kita memilih meninggal orangtua dan memilih berkumpul dengan teman-teman yang buruk yang tidak memiliki sopan santun serta kasih sayang kepada orangtua.
Ketiga, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.”[QS. Luqman (31): 15] Selanjutnya, anak ‘Kekinian’ itu yang mampu berdiri tegar dan kokoh di atas Syari’at dan Sunnah Rasulullah. Ketika di hadapakan tentang memilih Allah, Rasulullah dan lainnya maka dengan lantang dan tegas akan memilih Allah dan Rasul-Nya. Pada poin ini, Allah memaparkan bahwasanya ketika ada paksaan untuk menduakan Allah, mempersekutukan Allah dan menyembah selain kepada Allah sekalipun itu adalah kedua orangtua kita, maka kita diajurkan untuk tidak melaksanakan perintah-Nya. Tapi kita tetap diperintahkan untuk mempergaulinya dan berbuat baik kepadanya. Allah tidak menganjurkan kita untuk meninggalkannya serta berkata kasar kepadanya. Tapi bersikap lemah lembut. Sekalipun mereka memerintahkan kita untuk melakukan kemaksiatan yang nyata dan dosa besar. Pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, kata Allah.
Keempat,  “(Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” [QS. Luqman (31): 16] Anak ‘Kekinian’ itu, mereka yang selalu bersemangat untuk melakukan kebaikan. Melakukan pendekatan diri serta berlari menuju Allah dengan muhasabah diri. Meningkatkan kualitas keimanan dan amalan-amalan yang baik sebab mereka yakin, bahwa Allah telah menjanjikan bahwa sekecil dan seberat apapun perbuatan yang kita lakukan pasti mendapat balasan dari-Nya. Baik itu, amalan kebaikan maupun sebaliknya, amalan keburukan pasti Allah mendatangkan balasan yang setimpal. So, anak ‘Kekinian’ itu mereka yang selalu menggunakan waktunya untuk melakukan perbaikan diri serta kegiatan yang bermanfaat.
Keenam, “Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” [QS. Luqman (31): 17]. Hal yang paling menonjol pada anak ‘Kekinian’ adalah mereka yang senangtiasa menjaga waktu sholatnya. Menjadikan penghambaan dirinya kepada Allah sebagai kebutuhan, bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban atau tidak mengerjakan sholat sama sekali. Anak ‘Kekinian’ sadar betul bahwa perintah sholat adalah perintah yang sangat luar biasa yang tidak ada tawar menawar di dalamnya untuk tidak mengerjakaanya, tidak menundanya atau bermalas-malasan. Menjadikan sholat sebagai sesuatu yang selalu dirindu sebab mengetahui bahwa dengan sholat bisa menjadi media untuk berkomunikasi dengan Allah dan menjadikan hati tenang. Selanjutnya adalah, mereka yang memiliki empati yang besar dan tidak egois untuk menjadi sholeh individual atau baik sendiri. Tetapi menularkan benih-benih kebaikan dengan menjadi agen muslim yang saling nasehat-menasehati untuk semakin taat dan melakukan perbuatan yang baik dengan mengharap rahmat dari-Nya. Dan tidak hanya sebatas itu, mereka juga risih melihat kemungkaran dan kemaksiatan di sekitarnya, sehingga mengsinergikan antara mengerjakan dan menyeru perbuatan baik serta mencegah timbulnya kemungkaran pada jurang kemaksiatan pada Allah Ta’ala. Ia sadar bahwa dirinya diutus sebagai umat terbaik yang menyeruh pada kebaikan dan mencegah pada kemungkaran. Sebagaimana dalam firman-Nya; “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”[QS. Ali-‘Imran (3): 110].
Setelah itu mereka akan bersabar terhadap apa yang terjadi padanya. Sebab semua datangnya dari Allah Ta’ala dan Allah azza wajallah bersama dengannya; bersama orang-orang yang sabar.
Ketujuh, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [QS. Luqman (31): 18]. Sombong adalah pakaian Allah yang tidak diperkenankan dan diharamkan bagi hamba-Nya. Siapapun dia. Sebab Cuma Allah yang berhaq sombong atas ke-Mahaan-Nya dan Kesempurnaan-Nya. Anak ‘Kekenian’ itu, yang tidak sombong di hadapan manusia serta tidak angkuh dan serahkan. Mereka tetap rendah hati dan tawadhu meskipun mereka punya kelebihan dan segudang prestasi di hadapan manusia. Mereka akan terus bersikap yang santun dan terpuji di hadapan semua manusia. Mereka tidak congkak berjalan di muka bumi-Nya Allah.
Jadi arti ‘Kekinian’ yang benar itu, adalah ketika kita melakukan peningkatan kualitas ibadah, keimanan dan amalan-amalan kebaikan yang dapat mendatangkan cinta-Nya. Menjadikan Dia ridho terhadap apa yang kita lakukan. Bukanlah arti ‘Kekinian’ itu yang memposting foto dulu dan sekarang serta dialamatkan kepada sang mantan. Atau mengikuti trend zaman yang menghilangkan identitas diri kita sehingga pada akhirnya kita menjadi budak zaman. So, ‘Kekinian’ itu, yang mengenali diri dan tujuannya apa. Serta mendapatkan cinta dari Dia Yang Maha Cinta.
[ ]








Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia