Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Belajar Arti ‘Kekinian’ Dari Surah Luqman
Siskaee
April 28, 2017
Istilah
‘Kekinian’ merupakan istilah yang belakang ini ngetrend dan menjadi sesuatu
yang memenuhi ruang gerak para remaja dan yang orang-orang yang aktif disosial
media; Facebook. Banyak dari mereka yang menjadikan istilah tersebut sebagai
suatu bentuk gaul dan kerennya seseorang karena bisa mengikuti perkembangan
zaman. Mengikuti arus tekhnolgi dan istilah-istilah yang menjadikan mereka
terlihat lebih stylis dan funky.
Sebenarnya
tidak mengapa mengikuti perkembangan zaman dan arus tekhnologi yang kian pesat,
ketika itu menjadikan kita melakukan kegiatan-kegiatan postif, bermanfaat untuk
diri sendiri dan orang lain. Pun dengan itu, kita juga mampu untuk
mengembangkan wawasan dan kreatifitas kita serta tidak menjadikan kita lupa
identitas kita yang sebenarnya. Tapi kalau malah sebaliknya maka itu menjadi
kekhawatiran kita dan menjadi tanggung jawab kita untuk meluruskan. Kekiniaan
itu bukanlah ketika kita meng-Upload foto perbandingan diri kita yang ‘Dulu’
dan ‘Sekarang’ kemudian tertulis ‘Dear Mantan’ dan tujuannya pun tidak
bermanfaat sebab menginginkan kepada sang mantan yang melihat foto tersebut
merasakan penyesalan. Sekali lagi ‘Kekinian’ itu bukan seperti itu. Bukan
sesuatu yang sia-sia yang tidak memiliki tujuan jelas. Lalu seperti apa
‘Kekinian’ itu? Mari kita telah dan belajar langsung dari Way of Life kita; Al-Qur’an. Kalamullah. Kita yang tidak ada
keraguan di dalamnya, sebagaimana penegasan dari-Nya. “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagin
mereka yang bertaqwa.” [QS. Al-Baqarah (2): 2].
Menjadi
anak ‘Kekinian’ adalah ketika kita mampu menerapkan wasiat Luqman pada anaknya
pada Qur’an Surah Luqman. Pertama, "Hai anakku, janganlah kamu
mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar
kezaliman yang besar".[QS. Luqman (31): 13] Anak kekinian itu, mereka
yang mengenal Tuhan-nya; Allah sehingga tidak menduakan-Nya. Tidak
menyekutukan-Nya. Tidak membuat-Nya cemburu. Menjadikannya sebagai tempat untuk
bergantung untuk semua kebutuhannya dan menyandarkan segala sesuatunya. Anak
kekinian, mereka yang mampu menjadikan dan menempatkan Allah sebagai Cinta
Pertamannya. Melaksanakan apa yang diperintahkannya. Sami’na wa’atho’na. Dengar dan taat terhadap apa yang menjadi
ketentuan dari-Nya.
Kedua,
“Dan kami perintahkan kepada manusia
(berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam
keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.
Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah
kembalimu.” [QS. Luqman (31): 14] Kekinian itu, ketika kita menjadi anak
yang berbakti. Anak yang menjadi penyejuk mata dan membawa ketenangan bagi
orangtua kita. Kita menempatkan orangtua sebagaimana perannya. Sebab kebanyakan
kita melihat, banyak anak zaman sekarang yang mengatakan dirinya mengikuti
perkembangan zaman sehingga membohongi orangtuanya. Menjadikannya sebagai mesin
pencetak uang; ketika mereka butuh tinggal minta, padahal mereka tidak
mengetahui bagaimana perjuangan orangtua mengais rezeki untuk menghidupi dan
melengkapi kebutuhannya. Padahalnya kita sudah sangat sering mendengar sabda
Rasulullah shallalahu’alaihi wasallam
tentang keridhaan Allah terdapat pada ridha orangtua. Lantas bagaimana caranya
kita mendapatkan ridha-Nya ketika kita terus menerus membohongi orangtua dengan
beragam permintaan yang sebenarnya bukan sesuatu yang penting, membentaknya
dengan meninggikan suara hingga menjadikan orangtua sebagai orang yang tidak
memberikan ketenangan dan kenyamanan, yang pada akhirnya kita memilih meninggal
orangtua dan memilih berkumpul dengan teman-teman yang buruk yang tidak
memiliki sopan santun serta kasih sayang kepada orangtua.
Ketiga, “Dan jika keduanya memaksamu untuk
mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu,
Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia
dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya
kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu
kerjakan.”[QS. Luqman (31): 15] Selanjutnya, anak ‘Kekinian’ itu
yang mampu berdiri tegar dan kokoh di atas Syari’at dan Sunnah Rasulullah.
Ketika di hadapakan tentang memilih Allah, Rasulullah dan lainnya maka dengan
lantang dan tegas akan memilih Allah dan Rasul-Nya. Pada poin ini, Allah
memaparkan bahwasanya ketika ada paksaan untuk menduakan Allah, mempersekutukan
Allah dan menyembah selain kepada Allah sekalipun itu adalah kedua orangtua
kita, maka kita diajurkan untuk tidak melaksanakan perintah-Nya. Tapi kita
tetap diperintahkan untuk mempergaulinya dan berbuat baik kepadanya. Allah
tidak menganjurkan kita untuk meninggalkannya serta berkata kasar kepadanya.
Tapi bersikap lemah lembut. Sekalipun mereka memerintahkan kita untuk melakukan
kemaksiatan yang nyata dan dosa besar. Pergaulilah keduanya di dunia dengan
baik, kata Allah.
Keempat, “(Luqman berkata): "Hai
anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada
dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan
mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha
Mengetahui.” [QS. Luqman (31): 16] Anak ‘Kekinian’ itu,
mereka yang selalu bersemangat untuk melakukan kebaikan. Melakukan pendekatan
diri serta berlari menuju Allah dengan muhasabah diri. Meningkatkan kualitas
keimanan dan amalan-amalan yang baik sebab mereka yakin, bahwa Allah telah
menjanjikan bahwa sekecil dan seberat apapun perbuatan yang kita lakukan pasti
mendapat balasan dari-Nya. Baik itu, amalan kebaikan maupun sebaliknya, amalan
keburukan pasti Allah mendatangkan balasan yang setimpal. So, anak ‘Kekinian’ itu
mereka yang selalu menggunakan waktunya untuk melakukan perbaikan diri serta
kegiatan yang bermanfaat.
Keenam, “Hai anakku, Dirikanlah shalat dan
suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan
yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang
demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”
[QS. Luqman (31): 17]. Hal yang paling menonjol pada anak ‘Kekinian’ adalah
mereka yang senangtiasa menjaga waktu sholatnya. Menjadikan penghambaan dirinya
kepada Allah sebagai kebutuhan, bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban atau
tidak mengerjakan sholat sama sekali. Anak ‘Kekinian’ sadar betul bahwa
perintah sholat adalah perintah yang sangat luar biasa yang tidak ada tawar
menawar di dalamnya untuk tidak mengerjakaanya, tidak menundanya atau
bermalas-malasan. Menjadikan sholat sebagai sesuatu yang selalu dirindu sebab
mengetahui bahwa dengan sholat bisa menjadi media untuk berkomunikasi dengan
Allah dan menjadikan hati tenang. Selanjutnya adalah, mereka yang memiliki
empati yang besar dan tidak egois untuk menjadi sholeh individual atau baik
sendiri. Tetapi menularkan benih-benih kebaikan dengan menjadi agen muslim yang
saling nasehat-menasehati untuk semakin taat dan melakukan perbuatan yang baik
dengan mengharap rahmat dari-Nya. Dan tidak hanya sebatas itu, mereka juga
risih melihat kemungkaran dan kemaksiatan di sekitarnya, sehingga
mengsinergikan antara mengerjakan dan menyeru perbuatan baik serta mencegah
timbulnya kemungkaran pada jurang kemaksiatan pada Allah Ta’ala. Ia sadar bahwa
dirinya diutus sebagai umat terbaik yang menyeruh pada kebaikan dan mencegah
pada kemungkaran. Sebagaimana dalam firman-Nya; “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.
sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara
mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”[QS.
Ali-‘Imran (3): 110].
Setelah
itu mereka akan bersabar terhadap apa yang terjadi padanya. Sebab semua
datangnya dari Allah Ta’ala dan Allah azza wajallah bersama dengannya; bersama
orang-orang yang sabar.
Ketujuh, “Dan janganlah kamu memalingkan
mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi
dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi
membanggakan diri.” [QS. Luqman (31): 18]. Sombong adalah
pakaian Allah yang tidak diperkenankan dan diharamkan bagi hamba-Nya. Siapapun
dia. Sebab Cuma Allah yang berhaq sombong atas ke-Mahaan-Nya dan
Kesempurnaan-Nya. Anak ‘Kekenian’ itu, yang tidak sombong di hadapan manusia
serta tidak angkuh dan serahkan. Mereka tetap rendah hati dan tawadhu meskipun
mereka punya kelebihan dan segudang prestasi di hadapan manusia. Mereka akan
terus bersikap yang santun dan terpuji di hadapan semua manusia. Mereka tidak
congkak berjalan di muka bumi-Nya Allah.
Jadi
arti ‘Kekinian’ yang benar itu, adalah ketika kita melakukan peningkatan
kualitas ibadah, keimanan dan amalan-amalan kebaikan yang dapat mendatangkan
cinta-Nya. Menjadikan Dia ridho terhadap apa yang kita lakukan. Bukanlah arti
‘Kekinian’ itu yang memposting foto dulu dan sekarang serta dialamatkan kepada
sang mantan. Atau mengikuti trend zaman yang menghilangkan identitas diri kita
sehingga pada akhirnya kita menjadi budak zaman. So, ‘Kekinian’ itu, yang
mengenali diri dan tujuannya apa. Serta mendapatkan cinta dari Dia Yang Maha
Cinta.
[
]

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...