Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Perempuan-Perempuan Senja
Siskaee
April 29, 2017
Lantuanan
adzan subuh mendayu-dayu dari balik menara masjid, manghanyutkan dan
menggetarkan jiwa-jiwa yang rindu akan perjumpaan dengan Allah azza wa jalla.
Hawa dingin tersebut ikut mengiringi lantunan suara muadzin tersebut bak
selimut yang siap menina bobokan jiwa-jiwa
yang terlena, yang lebih mementingkan melanjutkan tidur daripada sholat.
Padahal sudah jelas sekali berita gembira yang telah dibawa oleh manusia agung
Muhammad Bin Abdullah bahwa pada subuh hari terdapat banyak keberkahan dan
keutaman didalamnya hingga terbit fajar.
Selang
beberapa saat imam masjid berdiri memnyerukan untuk merapatkan dan meluruskan
shaf untuk menghadap kepada Dzat yang Maha Suci; Allah Ta’ala. Gambaran
wajah tawadduh dan penyerahan diri secara total tergambar dari wajah khusyuk
semua jama’ah. Semua larut dalam penghambaanya kepada Rabbnya. Begitupun dengan diriku pemuda kampong yang selalu berusaha untuk dekat dengan masjid
serta memancarkan akhlak yang terpuji, baik tutur sapa dan tingkah laku terhadap orangtua, teman sebaya dan masyarakat di tempatku. Selalu berusaha untuk menjadi pemuda yang hatinya terpaut dengan
kecintaan nyata dan sejati kepada Rabb-ku dengan bersegera dalam
kebaikan-kebaikan ibadah kepada-Nya.
Subuh.
Selalu memberikan semangat luar biasa dan menjadi awal untuk meraih
keberkahan yang Allah limpahan untuk semua hamba-Nya. Subuh selalu
mengajarkanku banyak hal. Pun terkadang aku merenungi nasib yang terus berlaku
tapi tetap menjadi takdir dari-Nya. Subuh selalu membuka cakrawala berfikirku
yang terkadang terpenjara oleh kebisingan dan kebingungan dunia namun selalu
ada campur tangan-Nya yang membuka setiap kebingungan yang terjadi padaku.
Subuh, selalu saja kusaksikan lalu lalang orang-orang yang
senantiasa menapaki jalan takdir dengan ikhtiar yang luar biasa dan
menjadikanku banyak belajar darinya. Mereka adalah orang-orang yang kebanyakkan
telah dimamah oleh usia namun semangatnya luar biasa. Terkadang aku menyebutnya
dengan perempuan-perempuan senja. Perempuan yang telah mendapatkan jatah umur
yang lebih oleh Allah.
Subuh itu,
Aku baru saja menyelesaikan munajatku kepada Allah. Setelah dzikir
aku kembali ke rumah dan sebuah pemandangan baru sekaligus kekaguman
menyelimutiku ketika kulihat ia yang merupakan salah satu dari bagian perempuan
senja di kampungku telah bersiap-siap menjajakan dagangannya yang akan ia bawa
ke pasar di seberang kampung. Sang suami membantu menaikkan barang dagangannya
di atas gerobak kecil yang bisa ia gunakan dengan tenaga senjanya penuh
semangat dan ikhtiar yang luar biasa besarnya.
“Assalamu’alaikum,” sapaku dengan senyum.
“Wa’alaikumussalam. Baru pulang dari masjid?” balasnya sembari
sibuk mengecek barang dagangannya. Sementara sang suami telah kembali ke dalam
rumah.
“Yah, beginilah hidup. Harus tetap berusaha dan bekerja keras.
Hidup memang keras namun rasa syukur harus senantiasa menjadi penawar.”
Sambungnya sambil tersenyum kepadaku. Aku menganggukkan kepala tanda setuju
dengan ucapannya.
“Gimana sekolahnya? Mau kemana lagi?” tanyanya kembali.
“Alhamdulillah, baik. Mohon do’anya semoga selalu dimudahkan oleh
yang di atas. Tidak kemana-mana Cuma mau ke kota saja hari ini,”
“Sekolah itu harus sungguh-sungguh. Harus bernilai di tengah
masyarakat, kelak mampu menyejahterakan orang lain juga dengan bekal ilmunya.
Mohon pada-Nya semoga selalu dituntun pada yang benar.” Dia meninggalkanku
setalah berpamitan. Aku mengiringan dengan pandanganku dengan menelah untaian
nasehatnya, subuh itu. Meski telah dimamah usia namun selalu saja mampu
memberiku pelajaran berharga.
***
Setiap apa yang berlaku adalah ketentuan-Nya yang telah Dia
tuliskan pada salah satu daun di Lauh
Mahfuz. Aku hanya perlu menjalani dengan aturan yang telah Dia siapkan
untukku dan kepada mereka yang yakin bahwa Dia-lah satu-satunya yang hak untuk
diibadahi dan telah memberikan petunjuk yang lurus dengan jaminan keselamatan.
Tidak akan tersesat selama-lamanya.
Bertemu dengan beberapa perempuan-perempuan senja yang telah
dimamah usia juga adalah pengaturan-Nya padaku, sebagai bentuk tarbiyah
langsung. Sebagai bentuk pendidikan yang Dia ajarkan untukku melalui kisah yang
berlaku pada mereka bahwasahya setiap usaha tidak akan menghianati hasil.
Setiap tetes keringat akan membuahkan hasil. Setiap perbuatan akan terbalas
dengan balasan yang adil, sebab Dia-lah yang paling adil.
Di kampungku yang jauh dari kebisingan kota menjadikanku tumbuh
sebagai pemuda seperti biasanya namun aku memiliki mimpi yang besar yang jarang
sekali pemuda di kampungku memilikinya. Aku punya banyak mimpi yang kata mereka
mustahil untuk aku dapatkan. Tidak masuk akal untuk aku raih. Namun bagiku, itu
tidak memberikan efek atau pengaruh sebab berhasil tidaknya bukan karena mereka
tapi Dzat yang telah mengatur kehidupan dunia dan akhirat. Dzat yang mengurusi
urusan manusia. Dia-lah penentu dari segala. Pun janji-Nya Maha Benar,
bahwasahya setiap usaha kita akan dilihat-Nya dan akan berikan hasil terbaik
menurut-Nya.
Perempuan-perempuan senja.
Aku menyebut mereka seperti itu. Sebab mereka telah lanjut usia
namun kerja keras mereka seakan tidak mengenal umur yang telah menua. Uban-uban
putih dan kulit yang keriput tidak menjadi penghalang atas kerja kerasnya.
Selalu menamparku dengan halus bahwa mereka saja usaha dan kerja kerasnya luar
biasa apalagi aku yang masih muda ini. Masih menang dalam hal kekuatan
misalnya. Namun, mereka mengajarkanku kekuatan fisik bukan satu-satunya faktor
untuk bekerja keras tapi hal yang paling penting adalah semangat untuk berbuat
yang lebih baik.
Seperti biasanya, di kampungku kesibukan bekerja tidak dilakukan
pada siang hari saja namun ada pula yang memilih sampai malam larut. Kadang di
malam yang larut aku memilih untuk duduk sendiri di bibir pantai, merenungi
penciptaan malam yang beraneka ragam hiasa mata yang bermil-mil jaraknya dari
tempatku berpijak. Nampak indah mempesona. Memanjakan mata bagi siapa saja yang
mentadabburinya.
Dan ini untuk kesekian kalinya. Aku berpapasan dengan salah satu
perempuan senja yang meskipun telah larut malam, ia masih bekerja. Kisaranku
umurnya di atas 70-an ke atas sebab keriput serta uban telah lama menjamahnya.
Pekerjaannya membeli ikan dari nelayan dan menjajakannya ke pasar-pasar
tradisional di seberang kampung. Setiap malam, ketika telah larut dimana
sebagian penduduk telah berlabuh dalam mimpinya yang indah dia harus memaksakan
dirinya untuk menunggui para nelayan yang pulang dari laut. Setelah itu mereka
harus cekatan dan cepat sebab yang menunggui para nelayan bukan hanya dirinya
namun ada beberapa ibu-ibu paruh baya dan bapak-bapak yang sama dengan profesinya.
Setiap kali bertemu. Aku terkadang menangis. Bukan menangisinya
namun menangisi diriku yang terkadang lalai untuk mensyukuri setiap jejak
ni’mat yang Dia telah guyurkan padaku bak hujan deras di gurun sahara.
Menangisi diriku yang terkadang lalai untuk berusaha maksimal pada usahaku.
Lalai untuk menitipkan semangat kerja keras pada diriku.
Perempuan-perempuan senja. Begitulah aku menyebutnya. Banyak
memberiku pelajaran kehidupan bukan dari perkataan mereka namun dari kinerja
nyata. Etos kerjanya yang luar biasa tanpa mengeluhkan nasib atas takdir yang
Allah gariskan padanya. Mengajariku bahwa setiap diri harus menggunakan potensi
yang Allah amanahkan karena jalan hidup adalah misteri yang butuh kerja cerdas
untuk lebih banyak memberi manfaat untuk diri dan orang lain.
Karenamu,
Aku mengerti bahwa hidup bukan untuk berleha-leha,
Sebab ada tujuan yang Allah titipkan untuk setiap diri.
Karenamu,
Aku menatap masa dengan cara berbeda,
Bahwa setiap diri harus berlakon dengan baik
Atas apa yang Sang Sutradara berikan
Karenamu,
Aku tahu, bahwa asa harus senantiasa dipupuk
Untuk memberi semangat
Melakukan yang lebih untuk diri dan mereka yang di sekitar kita.
Jamahan usia tak menghalangmu untuk berbuat,
Meski kini diri menjadi perempuan-perempuan senja.
***

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...