Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Perempuan-Perempuan Senja




Lantuanan adzan subuh mendayu-dayu dari balik menara masjid, manghanyutkan dan menggetarkan jiwa-jiwa yang rindu akan perjumpaan dengan Allah azza wa jalla. Hawa dingin tersebut ikut mengiringi lantunan suara muadzin tersebut bak selimut yang siap menina bobokan jiwa-jiwa  yang terlena, yang lebih mementingkan melanjutkan tidur daripada sholat. Padahal sudah jelas sekali berita gembira yang telah dibawa oleh manusia agung Muhammad Bin Abdullah bahwa pada subuh hari terdapat banyak keberkahan dan keutaman didalamnya hingga terbit fajar.
Selang beberapa saat imam masjid berdiri memnyerukan untuk merapatkan dan meluruskan shaf untuk menghadap kepada Dzat yang Maha Suci; Allah Ta’ala. Gambaran wajah tawadduh dan penyerahan diri secara total tergambar dari wajah khusyuk semua jama’ah. Semua larut dalam penghambaanya kepada Rabbnya. Begitupun dengan diriku pemuda kampong yang selalu berusaha untuk dekat dengan masjid serta memancarkan akhlak yang terpuji, baik tutur sapa dan tingkah laku terhadap orangtua, teman sebaya dan masyarakat di tempatku. Selalu berusaha untuk menjadi pemuda yang hatinya terpaut dengan kecintaan nyata dan sejati kepada Rabb-ku dengan bersegera dalam kebaikan-kebaikan ibadah kepada-Nya.
Subuh.
Selalu memberikan semangat luar biasa dan menjadi awal untuk meraih keberkahan yang Allah limpahan untuk semua hamba-Nya. Subuh selalu mengajarkanku banyak hal. Pun terkadang aku merenungi nasib yang terus berlaku tapi tetap menjadi takdir dari-Nya. Subuh selalu membuka cakrawala berfikirku yang terkadang terpenjara oleh kebisingan dan kebingungan dunia namun selalu ada campur tangan-Nya yang membuka setiap kebingungan yang terjadi padaku.
Subuh, selalu saja kusaksikan lalu lalang orang-orang yang senantiasa menapaki jalan takdir dengan ikhtiar yang luar biasa dan menjadikanku banyak belajar darinya. Mereka adalah orang-orang yang kebanyakkan telah dimamah oleh usia namun semangatnya luar biasa. Terkadang aku menyebutnya dengan perempuan-perempuan senja. Perempuan yang telah mendapatkan jatah umur yang lebih oleh Allah.
Subuh itu,
Aku baru saja menyelesaikan munajatku kepada Allah. Setelah dzikir aku kembali ke rumah dan sebuah pemandangan baru sekaligus kekaguman menyelimutiku ketika kulihat ia yang merupakan salah satu dari bagian perempuan senja di kampungku telah bersiap-siap menjajakan dagangannya yang akan ia bawa ke pasar di seberang kampung. Sang suami membantu menaikkan barang dagangannya di atas gerobak kecil yang bisa ia gunakan dengan tenaga senjanya penuh semangat dan ikhtiar yang luar biasa besarnya.
“Assalamu’alaikum,” sapaku dengan senyum.
“Wa’alaikumussalam. Baru pulang dari masjid?” balasnya sembari sibuk mengecek barang dagangannya. Sementara sang suami telah kembali ke dalam rumah.
“Yah, beginilah hidup. Harus tetap berusaha dan bekerja keras. Hidup memang keras namun rasa syukur harus senantiasa menjadi penawar.” Sambungnya sambil tersenyum kepadaku. Aku menganggukkan kepala tanda setuju dengan ucapannya.
“Gimana sekolahnya? Mau kemana lagi?” tanyanya kembali.
“Alhamdulillah, baik. Mohon do’anya semoga selalu dimudahkan oleh yang di atas. Tidak kemana-mana Cuma mau ke kota saja hari ini,”
“Sekolah itu harus sungguh-sungguh. Harus bernilai di tengah masyarakat, kelak mampu menyejahterakan orang lain juga dengan bekal ilmunya. Mohon pada-Nya semoga selalu dituntun pada yang benar.” Dia meninggalkanku setalah berpamitan. Aku mengiringan dengan pandanganku dengan menelah untaian nasehatnya, subuh itu. Meski telah dimamah usia namun selalu saja mampu memberiku pelajaran berharga.
***
Setiap apa yang berlaku adalah ketentuan-Nya yang telah Dia tuliskan pada salah satu daun di Lauh Mahfuz. Aku hanya perlu menjalani dengan aturan yang telah Dia siapkan untukku dan kepada mereka yang yakin bahwa Dia-lah satu-satunya yang hak untuk diibadahi dan telah memberikan petunjuk yang lurus dengan jaminan keselamatan. Tidak akan tersesat selama-lamanya.
Bertemu dengan beberapa perempuan-perempuan senja yang telah dimamah usia juga adalah pengaturan-Nya padaku, sebagai bentuk tarbiyah langsung. Sebagai bentuk pendidikan yang Dia ajarkan untukku melalui kisah yang berlaku pada mereka bahwasahya setiap usaha tidak akan menghianati hasil. Setiap tetes keringat akan membuahkan hasil. Setiap perbuatan akan terbalas dengan balasan yang adil, sebab Dia-lah yang paling adil.
Di kampungku yang jauh dari kebisingan kota menjadikanku tumbuh sebagai pemuda seperti biasanya namun aku memiliki mimpi yang besar yang jarang sekali pemuda di kampungku memilikinya. Aku punya banyak mimpi yang kata mereka mustahil untuk aku dapatkan. Tidak masuk akal untuk aku raih. Namun bagiku, itu tidak memberikan efek atau pengaruh sebab berhasil tidaknya bukan karena mereka tapi Dzat yang telah mengatur kehidupan dunia dan akhirat. Dzat yang mengurusi urusan manusia. Dia-lah penentu dari segala. Pun janji-Nya Maha Benar, bahwasahya setiap usaha kita akan dilihat-Nya dan akan berikan hasil terbaik menurut-Nya.
Perempuan-perempuan senja.
Aku menyebut mereka seperti itu. Sebab mereka telah lanjut usia namun kerja keras mereka seakan tidak mengenal umur yang telah menua. Uban-uban putih dan kulit yang keriput tidak menjadi penghalang atas kerja kerasnya. Selalu menamparku dengan halus bahwa mereka saja usaha dan kerja kerasnya luar biasa apalagi aku yang masih muda ini. Masih menang dalam hal kekuatan misalnya. Namun, mereka mengajarkanku kekuatan fisik bukan satu-satunya faktor untuk bekerja keras tapi hal yang paling penting adalah semangat untuk berbuat yang lebih baik.
Seperti biasanya, di kampungku kesibukan bekerja tidak dilakukan pada siang hari saja namun ada pula yang memilih sampai malam larut. Kadang di malam yang larut aku memilih untuk duduk sendiri di bibir pantai, merenungi penciptaan malam yang beraneka ragam hiasa mata yang bermil-mil jaraknya dari tempatku berpijak. Nampak indah mempesona. Memanjakan mata bagi siapa saja yang mentadabburinya.
Dan ini untuk kesekian kalinya. Aku berpapasan dengan salah satu perempuan senja yang meskipun telah larut malam, ia masih bekerja. Kisaranku umurnya di atas 70-an ke atas sebab keriput serta uban telah lama menjamahnya. Pekerjaannya membeli ikan dari nelayan dan menjajakannya ke pasar-pasar tradisional di seberang kampung. Setiap malam, ketika telah larut dimana sebagian penduduk telah berlabuh dalam mimpinya yang indah dia harus memaksakan dirinya untuk menunggui para nelayan yang pulang dari laut. Setelah itu mereka harus cekatan dan cepat sebab yang menunggui para nelayan bukan hanya dirinya namun ada beberapa ibu-ibu paruh baya dan bapak-bapak yang sama dengan profesinya.
Setiap kali bertemu. Aku terkadang menangis. Bukan menangisinya namun menangisi diriku yang terkadang lalai untuk mensyukuri setiap jejak ni’mat yang Dia telah guyurkan padaku bak hujan deras di gurun sahara. Menangisi diriku yang terkadang lalai untuk berusaha maksimal pada usahaku. Lalai untuk menitipkan semangat kerja keras pada diriku.
Perempuan-perempuan senja. Begitulah aku menyebutnya. Banyak memberiku pelajaran kehidupan bukan dari perkataan mereka namun dari kinerja nyata. Etos kerjanya yang luar biasa tanpa mengeluhkan nasib atas takdir yang Allah gariskan padanya. Mengajariku bahwa setiap diri harus menggunakan potensi yang Allah amanahkan karena jalan hidup adalah misteri yang butuh kerja cerdas untuk lebih banyak memberi manfaat untuk diri dan orang lain.
Karenamu,
Aku mengerti bahwa hidup bukan untuk berleha-leha,
Sebab ada tujuan yang Allah titipkan untuk setiap diri.
Karenamu,
Aku menatap masa dengan cara berbeda,
Bahwa setiap diri harus berlakon dengan baik
Atas apa yang Sang Sutradara berikan
Karenamu,
Aku tahu, bahwa asa harus senantiasa dipupuk
Untuk memberi semangat
Melakukan yang lebih untuk diri dan mereka yang di sekitar kita.
Jamahan usia tak menghalangmu untuk berbuat,
Meski kini diri menjadi perempuan-perempuan senja.

***

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia