Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Senja di Ufuk Borneo





“Selamat kepada Presiden Mahasiswa periode 2013-2014, menjadi alumni terbaik pertama dengan IPK 3,73. Cumlaude.” Kudengar wakil ketua III bagian Akademik memberikanku selamat yang disusul dengan riukan tepuk tangan oleh teman-teman seangkatanku. Kata selamat membanjiriku dan kubalas dengan sunggingan senyum yang tulus penuh kebahagian. Hari itu telah kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri betapa Allah sangat sayang dan cinta padaku. Mengapa tidak! Allah kembali mengijabah do’a-do’a dan harapan yang aku tuliskan beberapa tahun yang lalu.
Aku mempunyai kebiasaan menuliskan harapan-harapan atau tujuanku untuk beberapa tahun ke depan di atas lembaran kertas. Aku terkadang menuliskan 50 harapan dan dengan penuh keyakinan kusandarkan pada-Nya sebagai bentuk langkah awal bahwa kelak itu akan aku raih. Cepat atau lambat. Atau akan ada ganti yang lebih baik dari-Nya sesuai rencana-Nya yang lebih baik dan indah dari rencanaku. Setelah aku menuliskan harapan tersebut aku akan menempelkannya di dinding kamarku dan tak lupa kutuliskan beberapa motivasi seperti Ma’an Najah, Innallaha Ma’ana (Semoga Sukses, Sesungguhnya Allah bersama dengan kita) ataukah motivasi seperti Take Action, Let’s become Success Student.
Motivasi-motivasi seperti itulah yang selalu mengusikku untuk terus berusaha maksimal mencapai apa yang menjadi harapanku. Aneh. Yah! Aku dianggap aneh oleh sebagian teman-teman mahasiswaku sebab mereka menganggapku seperti kekanak-kanakan atau mereka mengerutkan dahi sambil berkata sinis; “Mustahil kamu meraihnya. Orang kamu kuliahnya di kota kecil.” Atau “Nggak usah bermimpi seperti itu kale, nikmati aja prosesnya. Kuliah-lulus-cari kerja dhe.” Namun bagiku itu hanyalah angin lalu saja sebab keyakinanku pada Allah lebih kuat dibandingkan dengan kata-kata sinis mereka. Mereka menertawaiku aku balas dengan senyum semangat sebab aku hanya butuh waktu untuk melihat harapanku itu menjadi coretan-coretan kebahagiaan karena berhasil menggapainya. Dan Alhamdulillah, setelah kutuliskan untuk menjadi mahasiswa terbaik dan meraih beasiswa Allah azza wajalla mendengar dan mengabulkannya dan sampai hari itu tiba dimana aku menuliskan untuk MENJADI ALUMNI TERBAIK PERTAMA DENGAN PREDIKAT CUM LAUDE. Aku selalu memandangi dan melihatnya di dinding kamarku, lalu apa yang terjadi? Allah dengan segala kesempurnaan-Nya mengabulkan harapanku untuk menjadi seperti yang aku inginkan.
Menjadi mahasiswa yang cerdas dan sukses di bidang akademik serta organisasi menjadikanku lebih mudah untuk mendapatkan tawaran pekerjaan dan mengajar di sekolah-sekolah. Bahkan sebelum aku diwisuda sudah ada beberapa tawaran dari sekolah untuk menjadikanku staf pengajar dan itu semua menuntutku untuk semakin menjadi hamba yang lebih pandai bersyukur. Syukurku harus lebih dibandingkan dengan hamba yang lain sebab disaat yang sama teman-teman seangkatanku harus berjuang untuk mencari pekerjaan. Berjuang untuk memasukkan lamaran pekerjaan di sekolah-sekolah untuk menjadi staf pengajar. Namun lain halnya dengan diri yang tawaran pekerjaan membanjiriku. Bahkan ada tawaran untuk menjadi Kepala Sekolah SD Islam Terpadu di kotaku.
***
Peristiwa-demi peristiwa selalu aku jalani dengan sandaran dan garis Takdir dari-Nya. Aku semakin memantapkan haqqul yakin-ku pada-Nya bahwa apapun yang terjadi pada diriku adalah yang terbaik menurut-Nya dan aku harus memerankan peran dengan maksimal dan terbaik pula.
Hingga takdir-Nya menggariskanku untuk meninggalkan kota Bersatu tempatku menuntut pendidikanku. Merantau demi mencari dan mengerti akan makna kehidupan yang lebih dari apa yang aku dapatkan pada zonaku. Kukuatkan azzamku sambil selalu menelaah bait demi bait dari syair Imam Syafi’i;
Orang pandai dan beradab
Tak’kan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah ‘kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman
Berlehah-lehahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih
Jika tidak, dia ‘kan keruh mengenang
Singa tak’kan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak’kan kena sasaran
Jika saja matahari diorbitnya tak bergerak dan terus diam,
Tentu manusia bosan padanya dan enggang memandang
Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman,
Orang-orang tak’kan menunggu saat munculnya datang
Biji emas bagai tanah biasa sebelum digali dari tambang
Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan
Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan
Jika dibawa ke kota berubah mahal seperti emas.

Menelaah dan semakin mendalami syair tersebut semakin membuatku mantap untuk meninggalkan kampung halamanku. Melihat yang lebih besar dari anganku dan persepsiku terhadap dunia ini yang tak selebar daun kelor. Dunia yang akan aku taklutkan dengan sebuah predikat prestasi tercapai pada tingkat dunia dan akhirat. Maka dengan bersandar dengan kekuatan-Nya kubulatkan tekadku untuk merantau keluar dari indahnya kota Sulawesi Selatan menuju sebuah kota yang pernah kujajaki sebelumnya; Kalimantan Utara kota Borneo.
Yah! Aku sebelumnya pernah mengunjungi kota ini. Kota Tarakan pada tahun 2011 silam. Saat itu ia masih masuk dalam wilayah Kalimantan Timur namun kini telah berubah menjadi Kalimantan Utara. Sebuah kota yang indah dengan tatanan dan di kelilingi oleh lautan lepas nan indah mempesona. Kota yang membuatku jatuh cinta pada saat pertemuanku di pertengahan 2011 silam dan menjadikanku semakin rindu dan merangkau tempat tersendiri di hati. Kota yang sangat menyimpan banyak kenang silam dan indahnya persaudaraan. Indahnya Ukhuwah Islamiyah yang dibangun atas dasar cinta dari-Nya. Sebuah fragmen kehidupan yang sangat indah telah kulewati di sini. Di kota Borneo.
Di kota ini pulalah menjadi asal sebabku mendapat hidayah dari-Nya tentang penerapan Sunnah Rasulullah yang harus kita interpretasikan serta implememtasikan ke dalam kehidupan kita sebagai wujud kecintaan kita kepada manusia agung sepanjang sejarah manusia; Rasulullah shalallahu’alahi wasallam. Di kota Borneo ini kutemukan senja yang mengantarkanku semakin cinta pada Agamaku. Semakin cinta dan mengenal pemahaman Salafuh Sholeh (Orang-orang terdahulu). Sungguh momentum yang akan selalu menjadi selaksa kerinduan untuk kita kenang.
Kota Borneo ini pulalah yang mengajarkan ku tentang nilai dan konsekuwensi dari penerapan Sunnah Rasulullah dan pentingnya esensi Da’wah untuk kita semua. Sebab ia menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama. Esensi Da’wah inilah yang menjadikanku di beri gelar sebagai seorang Teroris oleh sebagian masyarakat yang melihatku melakukan sebuah hal yang baru sebagai wadah dan tindakan dalam pengaplikasian Da’wah kepada orang-orang di sekelilingku.
***
Senja demi senja kunikmati dari ufuk Borneo. Sama seperti senja yang lalu. Ia masih menyimpan angan dan harapanku untuk aku buka Tabirnya. Sebuah senja yang mengajarkaku untuk selalu berusaha maksimal dan lebih mengefektifkan waktu yang telah diperuntukkan untukku dari Pemberi Waktu itu sendiri. Dia-lah dzat Penguasa Alam Jagad Raya; Allah azza wajalla. Senja ufuk selalu kunikmati. Kupandangi sebab ia mengukir dengan indah desain harapan masa depanku di kota Tarakan Borneo.
Sejenak kutelaah tujuanku untuk ke Borneo. Memaknai hidup yang lebih hakiki untuk menjadi orang yang lebih pandai untuk bersyukur atas segala hal yang aku dapatkan. Maka dengannya itu aku mulai menyusun sebuah rencana ke depan untuk aku menikmati hidup. Selalu kutunggu mentari untuk menyapaku. Sebagai tanda bahwa aku akan mengawali langkah awalku untuk meniti karir dalam ukiran prestasi. Maka hal pertama yang aku lakukan adalah melayang beberapa surat lamaran kerja di sekolah-sekolah yang ada di kota Bais ini.
Aku menyusuri dan memasuki sekolah dari satu ke yang lainnya.
“Insya Allah, nanti kami hubungi bapak kalau kami butuh staf pengajar.” Jawab salah satu Kepala Sekolah yang aku datangi untuk memasukkan lamaran kerja.
“Iya, Pak. Terima kasih.” Sembari mengucapkan salam dan tersenyum padanya. Aku meninggalkan sekolah tersebut dan menuju sekolah lainnya, dengan tujuan yang sama; memasukkan lamaran kerja.
Hari demi demi hari kulalui hal seperti ini. Dari sekolah menuju sekolah yang lainnya. Berpakaian rapi. Berangkat pagi-pagi dan yang tak kalah pentingnya aku selalu sandarkan pada-Nya Sang Pemberi Rezeki untuk hamba-hamba yang masih ada desahan nafasnya.
“Sekiranya Tawakkal manusia itu sama halnya dengan tawakkal burung maka ia akan mendapatkan rezeki dari yang tidak disangka-sangka.” Yah! Itu adalah petuah yang aku dapatkan dari  seorang murobbi tempatku tarbiyah. Tempat dimana aku melaksanakan kewajibanku untuk menuntut ilmu. Dan memang benar ketika kita melihat burung-burung itu berterbangan di angkasa raya, mereka dalam keadaan yang lapar namun ketika fajar menyingsing kita dapati burung-burung itu pulang ke sarangnya dengan perut yang kenyang. Sebab ia tawakkal kepada Allah bahwa ia akan senantiasa mendapatkan rezeki dari Allah dan rezekinya tidak akan pernah tertukar dengan burung-burung yang lain.
Sebuah pelajaran berharga yang aku dapatkan dari mahluk kecil bernama burung. Sehingga dengan itu semakin membuatku semangat dalam mencari rezeki yang Allah berikan kepadaku dalam dunia ini. Hari pun berlalu. Aku terus menerus menunggu konfirmasi dari sekolah tempatku memasukkan lamaran kerja. Sekiranya ada yang menghubungiku untuk melakukan tes wawancara sebagai tahap lanjutan untuk menjadi staf pengajar. Namun semua nihil.
Hari berikutnya aku kembali melakukan hal yang sama. Berjalan menuju sekolah untuk memasukkan lamaran kerja. Kini kembali aku tersadar bahwa roda kehidupan manusia tidak akan selamanya pada titik atas. Ia akan senantiasa bergilir dari roda atas dan roda bawah. Sama halnya dengan silih pergantian siang dan malam. Ia tidak stagnak pada satu titik saja. Kini aku merasakan apa yang pernah dirasakan oleh teman-teman alumni seangkatanku dalam hal pencarian kerja. Apa yang meraka rasakan sekarang kini pun aku rasakan. Tentang sebuah usaha dan perjuangan dalam mencari pekerjaan untuk menghindari sebuah status dan predikat ‘Mahasiswa Pengangguran’.
Seperti itulah hidup. Selalu ada fragmen yang berbeda. Di kota tempatku menuntut pendidikan di Kota Bersatu di Sulawesi Selatan aku tidak pernah memasukkan lamaran pekerjaan. Melainkan beberapa tawaran menghampiriku. Namun, di Kota Borneo ini, kenyataannya terbalik. Seratus delapan puluh derajat berbeda dengan kondisiku yang dulu. Namun hal itu tidak harus menjadikanku untuk berputus asa dari Rahmat dan ketentuan-Nya. Aku hanya belum maksimal dalam hal usahaku untuk benar-benar mencari pekerjaan. Ataukah belum pantas bagiku untuk menerima amanah dari dari-Nya. Kita hanya harus selalu berbaik sangka pada-Nya.
Hari ini, kembali aku menunggu konfirmasi dari sekolah untuk tindak lanjut dari usahaku. Namun kenyataannya sama seperti hal yang lalu. Nihil. Namun, dibalik semua itu aku tersadar bahwa Allah Azza wajallah menyiapkan sebuah moment bagiku untuk kado terindah dari-Nya. Aku mengambil ibrah dari setiap kejadian yang aku lalui. Bahwa Allah mempersiapkanku untuk menjadi orang yang luar biasa namun harus diterpa dalam pendidikan kesabaran. Aku harus berbaik sangka pada-Nya sebab Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya.
Aku tidak pernah lupa bermunajat pada-Nya. Memohon agar kelak do’a-do’aku diijabah. Dalam sujud aku meminta diberikan hati yang selalu ikhlas atas ketetapan-Nya. Hingga aku tersentak sadar bahwa saat ini Allah menginginkanku untuk fokus pada jalan da’wah-Nya. Jalan yang dipilih oleh para Nabi dan Rasul-Nya. Jalan yang menuju pada ketaatan dan ketundukan tentang arti pasrah pada-Nya. Allah memberiku jalan yang terbaik untuk tidak terlalu fokus dan semata-mata mengejar dunia, namun Allah mendidikku dalam terpaah da’wah. Memberiku amanah dalam jalan-Nya sehingga kelak ketika Dia memberiku amanah dalam urusan dunia tidak menjadikanku menyimpang atau berpaling dari-Nya.
Sebuah tarbiyah yang indah dalam fragmen kehidupan yang dengannya menunjukkan betapa Dia sayang dan cinta padaku. Sehingga tidak menyibukkanku pada urusan dunia. Melainkan memberikanku waktu yang banyak untuk mengurusi agama-Nya. Mengurusi ummat sehingga aku tidak menjadi ‘Sholeh Pribadi’ melainkan ‘Sholeh Sosial’. Menjadi orang-orang yang saling mencintai karena Allah dengan mengaplikasikan firman-Nya; “Dan saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.” [QS. Al- ‘Asr]
Senja kembali beradu dalam peraduan malam di ufuk Borneo. Ia telah beristrahat dalam labirin panjangnya menemani manusia. Dan kini, senja telah meninggalkanku untuk berganti dengan malam berjubah kelam dihiasi dengan bintang gemintang dan rembulan yang terus bersinar sebagai bukti ketaatan pada Sang Yang Menciptakannya. Namun, satu hal yang akan menjadi ukiranku, bahwa senja tak selamanya menggambarkan kekosongan seperti seorang penyair yang mengatakan senja adalah kekosongan dari makna kehidupannya. Tapi, kini senja tak menafsirkan kekosongan bagiku. Ia selalu indah dengan semburat sinar keemasannya yang dengannya membuatku merangkai ujung-ujung sinar itu menjadi sebuah harapan pasti yang kelak akan mengisi kekosongan itu. Sehingga senja adalah ruang dalam tafsiran mimpiku. Ia menyimpannya untuk sebuah moment indah, jika tiba waktunya bagiku.
Senja di ufuk Borneo telah terbenam dalam perut bumi. Melakukan perjalanan panjang di belahan bumi Allah yang lain.

***

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia