Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Senja di Ufuk Borneo
Siskaee
April 28, 2017
“Selamat
kepada Presiden Mahasiswa periode 2013-2014, menjadi alumni terbaik pertama
dengan IPK 3,73. Cumlaude.” Kudengar
wakil ketua III bagian Akademik memberikanku selamat yang disusul dengan riukan
tepuk tangan oleh teman-teman seangkatanku. Kata selamat membanjiriku dan
kubalas dengan sunggingan senyum yang tulus penuh kebahagian. Hari itu telah
kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri betapa Allah sangat sayang dan cinta
padaku. Mengapa tidak! Allah kembali mengijabah do’a-do’a dan harapan yang aku
tuliskan beberapa tahun yang lalu.
Aku
mempunyai kebiasaan menuliskan harapan-harapan atau tujuanku untuk beberapa
tahun ke depan di atas lembaran kertas. Aku terkadang menuliskan 50 harapan dan
dengan penuh keyakinan kusandarkan pada-Nya sebagai bentuk langkah awal bahwa
kelak itu akan aku raih. Cepat atau lambat. Atau akan ada ganti yang lebih baik
dari-Nya sesuai rencana-Nya yang lebih baik dan indah dari rencanaku. Setelah
aku menuliskan harapan tersebut aku akan menempelkannya di dinding kamarku dan
tak lupa kutuliskan beberapa motivasi seperti Ma’an Najah, Innallaha Ma’ana (Semoga Sukses, Sesungguhnya Allah
bersama dengan kita) ataukah motivasi
seperti Take Action, Let’s become Success
Student.
Motivasi-motivasi
seperti itulah yang selalu mengusikku untuk terus berusaha maksimal mencapai
apa yang menjadi harapanku. Aneh. Yah!
Aku dianggap aneh oleh sebagian teman-teman mahasiswaku sebab mereka
menganggapku seperti kekanak-kanakan atau mereka mengerutkan dahi sambil
berkata sinis; “Mustahil kamu meraihnya. Orang kamu kuliahnya di kota kecil.”
Atau “Nggak usah bermimpi seperti itu kale, nikmati aja prosesnya.
Kuliah-lulus-cari kerja dhe.” Namun bagiku itu hanyalah angin lalu saja sebab
keyakinanku pada Allah lebih kuat dibandingkan dengan kata-kata sinis mereka.
Mereka menertawaiku aku balas dengan senyum semangat sebab aku hanya butuh
waktu untuk melihat harapanku itu menjadi coretan-coretan kebahagiaan karena
berhasil menggapainya. Dan Alhamdulillah, setelah kutuliskan untuk menjadi mahasiswa
terbaik dan meraih beasiswa Allah azza wajalla mendengar dan mengabulkannya dan
sampai hari itu tiba dimana aku menuliskan untuk MENJADI ALUMNI TERBAIK PERTAMA
DENGAN PREDIKAT CUM LAUDE. Aku selalu memandangi dan melihatnya di dinding
kamarku, lalu apa yang terjadi? Allah dengan segala kesempurnaan-Nya
mengabulkan harapanku untuk menjadi seperti yang aku inginkan.
Menjadi
mahasiswa yang cerdas dan sukses di bidang akademik serta organisasi
menjadikanku lebih mudah untuk mendapatkan tawaran pekerjaan dan mengajar di
sekolah-sekolah. Bahkan sebelum aku diwisuda sudah ada beberapa tawaran dari
sekolah untuk menjadikanku staf pengajar dan itu semua menuntutku untuk semakin
menjadi hamba yang lebih pandai bersyukur. Syukurku harus lebih dibandingkan dengan
hamba yang lain sebab disaat yang sama teman-teman seangkatanku harus berjuang
untuk mencari pekerjaan. Berjuang untuk memasukkan lamaran pekerjaan di
sekolah-sekolah untuk menjadi staf pengajar. Namun lain halnya dengan diri yang
tawaran pekerjaan membanjiriku. Bahkan ada tawaran untuk menjadi Kepala Sekolah
SD Islam Terpadu di kotaku.
***
Peristiwa-demi
peristiwa selalu aku jalani dengan sandaran dan garis Takdir dari-Nya. Aku
semakin memantapkan haqqul yakin-ku
pada-Nya bahwa apapun yang terjadi pada diriku adalah yang terbaik menurut-Nya
dan aku harus memerankan peran dengan maksimal dan terbaik pula.
Hingga
takdir-Nya menggariskanku untuk meninggalkan kota Bersatu tempatku menuntut
pendidikanku. Merantau demi mencari dan mengerti akan makna kehidupan yang
lebih dari apa yang aku dapatkan pada zonaku. Kukuatkan azzamku sambil selalu
menelaah bait demi bait dari syair Imam Syafi’i;
Orang
pandai dan beradab
Tak’kan
diam di kampung halaman
Tinggalkan
negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah
‘kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman
Berlehah-lehahlah,
manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku
melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan
Jika
mengalir menjadi jernih
Jika
tidak, dia ‘kan keruh mengenang
Singa
tak’kan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang
Anak
panah jika tidak tinggalkan busur tak’kan kena sasaran
Jika
saja matahari diorbitnya tak bergerak dan terus diam,
Tentu
manusia bosan padanya dan enggang memandang
Rembulan
jika terus-menerus purnama sepanjang zaman,
Orang-orang
tak’kan menunggu saat munculnya datang
Biji
emas bagai tanah biasa sebelum digali dari tambang
Setelah
diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan
Kayu
gaharu tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan
Jika
dibawa ke kota berubah mahal seperti emas.
Menelaah dan semakin
mendalami syair tersebut semakin membuatku mantap untuk meninggalkan kampung
halamanku. Melihat yang lebih besar dari anganku dan persepsiku terhadap dunia
ini yang tak selebar daun kelor. Dunia yang akan aku taklutkan dengan sebuah
predikat prestasi tercapai pada tingkat dunia dan akhirat. Maka dengan
bersandar dengan kekuatan-Nya kubulatkan tekadku untuk merantau keluar dari
indahnya kota Sulawesi Selatan menuju sebuah kota yang pernah kujajaki
sebelumnya; Kalimantan Utara kota Borneo.
Yah! Aku sebelumnya
pernah mengunjungi kota ini. Kota Tarakan pada tahun 2011 silam. Saat itu ia
masih masuk dalam wilayah Kalimantan Timur namun kini telah berubah menjadi
Kalimantan Utara. Sebuah kota yang indah dengan tatanan dan di kelilingi oleh
lautan lepas nan indah mempesona. Kota yang membuatku jatuh cinta pada saat
pertemuanku di pertengahan 2011 silam dan menjadikanku semakin rindu dan
merangkau tempat tersendiri di hati. Kota yang sangat menyimpan banyak kenang
silam dan indahnya persaudaraan. Indahnya Ukhuwah Islamiyah yang dibangun atas
dasar cinta dari-Nya. Sebuah fragmen kehidupan yang sangat indah telah kulewati
di sini. Di kota Borneo.
Di kota ini pulalah
menjadi asal sebabku mendapat hidayah dari-Nya tentang penerapan Sunnah
Rasulullah yang harus kita interpretasikan serta implememtasikan ke dalam
kehidupan kita sebagai wujud kecintaan kita kepada manusia agung sepanjang
sejarah manusia; Rasulullah shalallahu’alahi
wasallam. Di kota Borneo ini kutemukan senja yang mengantarkanku semakin
cinta pada Agamaku. Semakin cinta dan mengenal pemahaman Salafuh Sholeh
(Orang-orang terdahulu). Sungguh momentum yang akan selalu menjadi selaksa
kerinduan untuk kita kenang.
Kota Borneo ini pulalah
yang mengajarkan ku tentang nilai dan konsekuwensi dari penerapan Sunnah
Rasulullah dan pentingnya esensi Da’wah untuk kita semua. Sebab ia menjadi
tugas dan tanggung jawab kita bersama. Esensi Da’wah inilah yang menjadikanku
di beri gelar sebagai seorang Teroris oleh sebagian masyarakat yang melihatku
melakukan sebuah hal yang baru sebagai wadah dan tindakan dalam pengaplikasian
Da’wah kepada orang-orang di sekelilingku.
***
Senja demi senja
kunikmati dari ufuk Borneo. Sama seperti senja yang lalu. Ia masih menyimpan
angan dan harapanku untuk aku buka Tabirnya. Sebuah senja yang mengajarkaku
untuk selalu berusaha maksimal dan lebih mengefektifkan waktu yang telah
diperuntukkan untukku dari Pemberi Waktu itu sendiri. Dia-lah dzat Penguasa
Alam Jagad Raya; Allah azza wajalla. Senja ufuk selalu kunikmati. Kupandangi
sebab ia mengukir dengan indah desain harapan masa depanku di kota Tarakan
Borneo.
Sejenak kutelaah
tujuanku untuk ke Borneo. Memaknai hidup yang lebih hakiki untuk menjadi orang
yang lebih pandai untuk bersyukur atas segala hal yang aku dapatkan. Maka
dengannya itu aku mulai menyusun sebuah rencana ke depan untuk aku menikmati
hidup. Selalu kutunggu mentari untuk menyapaku. Sebagai tanda bahwa aku akan
mengawali langkah awalku untuk meniti karir dalam ukiran prestasi. Maka hal
pertama yang aku lakukan adalah melayang beberapa surat lamaran kerja di
sekolah-sekolah yang ada di kota Bais ini.
Aku menyusuri dan
memasuki sekolah dari satu ke yang lainnya.
“Insya Allah, nanti
kami hubungi bapak kalau kami butuh staf pengajar.” Jawab salah satu Kepala
Sekolah yang aku datangi untuk memasukkan lamaran kerja.
“Iya, Pak. Terima
kasih.” Sembari mengucapkan salam dan tersenyum padanya. Aku meninggalkan
sekolah tersebut dan menuju sekolah lainnya, dengan tujuan yang sama;
memasukkan lamaran kerja.
Hari demi demi hari
kulalui hal seperti ini. Dari sekolah menuju sekolah yang lainnya. Berpakaian
rapi. Berangkat pagi-pagi dan yang tak kalah pentingnya aku selalu sandarkan
pada-Nya Sang Pemberi Rezeki untuk hamba-hamba yang masih ada desahan nafasnya.
“Sekiranya Tawakkal
manusia itu sama halnya dengan tawakkal burung maka ia akan mendapatkan rezeki
dari yang tidak disangka-sangka.” Yah! Itu adalah petuah yang aku dapatkan
dari seorang murobbi tempatku tarbiyah.
Tempat dimana aku melaksanakan kewajibanku untuk menuntut ilmu. Dan memang
benar ketika kita melihat burung-burung itu berterbangan di angkasa raya,
mereka dalam keadaan yang lapar namun ketika fajar menyingsing kita dapati
burung-burung itu pulang ke sarangnya dengan perut yang kenyang. Sebab ia
tawakkal kepada Allah bahwa ia akan senantiasa mendapatkan rezeki dari Allah
dan rezekinya tidak akan pernah tertukar dengan burung-burung yang lain.
Sebuah pelajaran
berharga yang aku dapatkan dari mahluk kecil bernama burung. Sehingga dengan
itu semakin membuatku semangat dalam mencari rezeki yang Allah berikan kepadaku
dalam dunia ini. Hari pun berlalu. Aku terus menerus menunggu konfirmasi dari
sekolah tempatku memasukkan lamaran kerja. Sekiranya ada yang menghubungiku
untuk melakukan tes wawancara sebagai tahap lanjutan untuk menjadi staf
pengajar. Namun semua nihil.
Hari berikutnya aku
kembali melakukan hal yang sama. Berjalan menuju sekolah untuk memasukkan
lamaran kerja. Kini kembali aku tersadar bahwa roda kehidupan manusia tidak
akan selamanya pada titik atas. Ia akan senantiasa bergilir dari roda atas dan
roda bawah. Sama halnya dengan silih pergantian siang dan malam. Ia tidak stagnak
pada satu titik saja. Kini aku merasakan apa yang pernah dirasakan oleh
teman-teman alumni seangkatanku dalam hal pencarian kerja. Apa yang meraka
rasakan sekarang kini pun aku rasakan. Tentang sebuah usaha dan perjuangan
dalam mencari pekerjaan untuk menghindari sebuah status dan predikat ‘Mahasiswa
Pengangguran’.
Seperti itulah hidup.
Selalu ada fragmen yang berbeda. Di kota tempatku menuntut pendidikan di Kota
Bersatu di Sulawesi Selatan aku tidak pernah memasukkan lamaran pekerjaan.
Melainkan beberapa tawaran menghampiriku. Namun, di Kota Borneo ini,
kenyataannya terbalik. Seratus delapan puluh derajat berbeda dengan kondisiku
yang dulu. Namun hal itu tidak harus menjadikanku untuk berputus asa dari
Rahmat dan ketentuan-Nya. Aku hanya belum maksimal dalam hal usahaku untuk
benar-benar mencari pekerjaan. Ataukah belum pantas bagiku untuk menerima
amanah dari dari-Nya. Kita hanya harus selalu berbaik sangka pada-Nya.
Hari ini, kembali aku
menunggu konfirmasi dari sekolah untuk tindak lanjut dari usahaku. Namun
kenyataannya sama seperti hal yang lalu. Nihil. Namun, dibalik semua itu aku
tersadar bahwa Allah Azza wajallah menyiapkan sebuah moment bagiku untuk kado
terindah dari-Nya. Aku mengambil ibrah dari setiap kejadian yang aku lalui.
Bahwa Allah mempersiapkanku untuk menjadi orang yang luar biasa namun harus
diterpa dalam pendidikan kesabaran. Aku harus berbaik sangka pada-Nya sebab
Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya.
Aku tidak pernah lupa
bermunajat pada-Nya. Memohon agar kelak do’a-do’aku diijabah. Dalam sujud aku
meminta diberikan hati yang selalu ikhlas atas ketetapan-Nya. Hingga aku
tersentak sadar bahwa saat ini Allah menginginkanku untuk fokus pada jalan
da’wah-Nya. Jalan yang dipilih oleh para Nabi dan Rasul-Nya. Jalan yang menuju pada
ketaatan dan ketundukan tentang arti pasrah pada-Nya. Allah memberiku jalan
yang terbaik untuk tidak terlalu fokus dan semata-mata mengejar dunia, namun
Allah mendidikku dalam terpaah da’wah. Memberiku amanah dalam jalan-Nya
sehingga kelak ketika Dia memberiku amanah dalam urusan dunia tidak
menjadikanku menyimpang atau berpaling dari-Nya.
Sebuah tarbiyah yang
indah dalam fragmen kehidupan yang dengannya menunjukkan betapa Dia sayang dan
cinta padaku. Sehingga tidak menyibukkanku pada urusan dunia. Melainkan
memberikanku waktu yang banyak untuk mengurusi agama-Nya. Mengurusi ummat
sehingga aku tidak menjadi ‘Sholeh Pribadi’ melainkan ‘Sholeh Sosial’. Menjadi orang-orang
yang saling mencintai karena Allah dengan mengaplikasikan firman-Nya; “Dan saling menasehati untuk kebenaran dan
saling menasehati untuk kesabaran.” [QS. Al- ‘Asr]
Senja kembali beradu
dalam peraduan malam di ufuk Borneo. Ia telah beristrahat dalam labirin
panjangnya menemani manusia. Dan kini, senja telah meninggalkanku untuk
berganti dengan malam berjubah kelam dihiasi dengan bintang gemintang dan
rembulan yang terus bersinar sebagai bukti ketaatan pada Sang Yang
Menciptakannya. Namun, satu hal yang akan menjadi ukiranku, bahwa senja tak
selamanya menggambarkan kekosongan seperti seorang penyair yang mengatakan
senja adalah kekosongan dari makna kehidupannya. Tapi, kini senja tak
menafsirkan kekosongan bagiku. Ia selalu indah dengan semburat sinar
keemasannya yang dengannya membuatku merangkai ujung-ujung sinar itu menjadi
sebuah harapan pasti yang kelak akan mengisi kekosongan itu. Sehingga senja
adalah ruang dalam tafsiran mimpiku. Ia menyimpannya untuk sebuah moment indah,
jika tiba waktunya bagiku.
Senja di ufuk Borneo
telah terbenam dalam perut bumi. Melakukan perjalanan panjang di belahan bumi
Allah yang lain.
***

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...