Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Tarbiyah Sebagai Solusi Kenakalan Remaja
Siskaee
April 28, 2017

Siapa
yang tidak mengenal arti ‘Remaja’? atau siapa yang punya keluarga atau teman
yang masih usia Remaja? Hampir kita semua menjawab kenal dengan remaja dan
punya keluarga dan teman yang masih remaja. Namun tahukah kita bahwa remaja
merupakan objek pembahasan yang sangat signifkan dan pembahasan yang selalu
menjadikan kita menemukan sesuatu yang berbeda. Remaja merupakan objek
penelitian yang tidak ada habisnya untuk kita kaji dan telaah, baik dari segi
kehidupan pergaulannya di keluarga, bersama teman-teman sebayanya, masa
puberitasnya dan kehidupan yang selalu mencari tahu segala sesuatunya serta
masa transisinya dari masa yang labil menuju masa untuk penemuan jati diri.
Lalu siapakah remaja itu? Dan bagaimana mereka menemukan jati dirinya? Apa
problem remaja hari ini dan bagaimana problem Solving yang ditawarkan? Yuk,
kita telaah bersama dulu siapakah remaja itu?
Remaja
berasal dari kata latin ‘adolensence’ yang
berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup
kematangan mental, emosional sosial dan fisik. Pada masa ini sebenarnya tidak
mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi juga
tidak juga golongan dewasa atau tua. Masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat
transisi atau peralihan karena remaja belum memproleh status dewasa dan tidak
lagi memiliki status anak.
Menurut
Sri Rumini dan Siti Sundari ‘masa Remaja’ adalah peralihan dari masa anak
dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk
memasuki masa dewasa. Sedangkan menurut Dzakiah Darajat adalah “Masa peralihan
diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa
pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya.
Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau
bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.”
Pendapat
Dzakiah Darajat senada dengan yang diungkapkan oleh ‘Santrock’ bahwa adolensence diartikan sebagai masa
perkembangan transisi antara anak dan dewasa yang mencakup perubahan biologis,
kognitif, dan sosial-emosional. Jadi sudah sangat jelas bahwa remaja adalah
masa transisi atau peralihan dalam melakukan sesuatu yang baru dan menemukan
jati diri untuk mengembangkan potensial dan bakat yang ada dalam diri. Ia
adalah masa dimana semua menjadi berubah dalam mindset dan pandangan untuk melihat masa depan dan menjalani
kehidupan. Adapun batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah
antara 12 hingga 21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan
atas tiga, yaitu; 12-15 tahun adalah masa remaja awal, 15-18 tahun adalah masa
remaja pertengan, 18-21 tahun adalah masa remaja akhir. Tetapi menurut Monks,
Knoers, dan Haditono mereka membedakan masa remaja menjadi empat bagian, yaitu
‘Pra Remaja’ usia 10-12 tahun, masa
‘Remaja Awal’ usia 12-15 tahun, masa ‘Remaja Pertengahan’ usia 15-18 tahun, dan
masa ‘Remaja Akhir’ usia 18-21 tahun.
Dan
tidak bisa dipungkiri bahwa pada masa transisi usia remaja, mereka memiliki
beragam masalah. Baik dari masalah pencarian jati diri sebenarnya, masalah
pertemanan di pergaulan, life style
sampai pada masalah virus merah jambu. Sedikit kita akan membahas beberapa
masalah remaja yang kerap kita dapatkan dan temui pada keluarga atau
teman-teman kita atau bahkan itu adalah anak kita sendiri.
Yang
pertama adalah Persoalan Cinta dan Hawa
Nafsu. Persoalan ini dikalangan remaja kerap menjadi faktor pemicu
kegagalan seorang remaja dalam melalui usia remajanya. Banyak para remaja yang
hancur masa depannya hanya karena soal cinta dan hawa nafsu. Pengelolaan rasa
cinta pada diri remaja perlu ditanamkan dengan pemahaman yang baik, hingga
tidak memicu berbagai tindakan amoral yang meresahkan masyarakat. Misalnya yang
banyak kita temui sekarang ini banyaknya remaja kita yang sudah pernah
melakukan hubungan suami istri (free seks)
meskipun mereka belum menjadi ikatan halal, kasus pacaran yang hari ini marak
dan bukan lagi hal yang asing kita jumpai ketika dua pasang muda mudi yang
keluar malam, nongkrong di jalan, di taman, di kafe atau di tempat yang tidak
harus didatangi dan tidak layak semua itu mereka lakukan dengan dalih atau
dasar sebagai bentuk cinta satu sama lain, dan yang paling miris lagi adalah
ketika mereka telah putus hubungan atau putus cinta yang berakibat pada
kematian karena bunuh diri. Sungguh hal yang sangat miris dan memprihatinkan
yang kita temui saat ini pada remaja kita.
Yang
kedua adalah Persoalan Gaya Hidup (life style). Ada banyak persepsi
yang salah terhadap gaya hidup para remaja hari ini. Gaya hidup yang merusak
dan tidak memberi faedah malah menjadi nge-Trend
dan dianggap sebagai hidup modern dan gaul. Misalnya remaja yang gaul itu
adalah remaja yang nongkrong di jalan setiap malam, dugem bareng teman di tempat karokean, minum khamar atau miras,
mengkomsumsi narkoba atau zat semisalnya, merokok dan berbagai macam gaya hidup
yang kita jumpai. Bahkan hari ini, kita menjumpai sedikit sekali remaja yang
mampu menemukan jati dirinya sendiri. Dan sebagian yang lainnya menjadi diri
orang lain dengan menjadi ‘latah’
atau ikut-ikutan untuk menjadi diri idola yang mereka gemari dan sukai.
Bukankah kita pernah melihat ada seorang remaja yang berangkat kesekolah dengan
memakai seragam yang celananya berbentuk botol? Bukankah itu suatu pelanggaran
dalam hal seragam di sekolah? Ya benar sekali! Semua itu terjadi karena idola
mereka juga memakai seperti itu.
Lalu
apa kontribusi dan ‘Problem Solving’ yang kita tawarkan untuk remaja hari ini?
Maka
jawabnya adalah ‘flash Back to Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam.’ Yah, solusinya singkat sekali namun dalam dan
memenuhi setiap subtansi penyelesaian. Why?
Sebagian kita mungkin bertanya ‘kenapa harus kembali ke Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam? Bukankah
beliau telah meninggal beberapa abad yang lalu? Lalu bagaimana kita harus
kembali kepada beliau? Benar juga apa yang anda pertanyakan, namun bukan
seperti itu yang saya maksud.
‘flash Back to
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam.’ Adalah suatu langkah
menuju perbaikan remaja kita melalui keteladanan dan panutan Rasulullah. Sebab
tidak ada manusia terbaik yang ada di dunia ini melainkan beliau. Sebagaimana
kita tahu Allah Azza wajalla berfirman “Sesungguhnya
pada diri Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam terdapat contoh teladan yang
baik.” Allah sendiri yang telah memberitahukan kepada kita tentang
keteladanan Rasulullah dan kita harus meng-Idolakannya karena bukan hanya kita
saja yang kagum akan akhlaknya tetapi orang-orang besar dari kalangan non-Islam
saja mengagumi Rasulullah. Seperti perkataan salah satu tokoh berpengaruhi di
Indai; Mahatma Gandhi “Pernah saya bertanya-tanya
siapakah tokoh yang paling mempengaruhi manusia. Saya lebih yakin bahwa bukan
pedanglah yang memberikan kebesaran pada Islam pada masanya. Tapi ia datang
dari kesederhanaan, kebersahajaan, kehati-hatian Muhammad; serta pengabdian
luar biasa kepada teman dan pengikutnya, tekadnya, keberaniaannya, serta
keyakinannya pada Tuhan dan tugasnya. Semua ini (dan bukan pedang)
menyingkirkan segala halangan. Ketika saya memutup halaman terakhir volume 2
(biografi Muhammad), saya sedih karena tiada lagi cerita yang tersisa dari
hidupnya yang agung.”
Dan
salah satu contoh keteladan yang pernah dilakukan serta diterapkan oleh
Rasulullah dalam penyelasain yang dihadapi pada masa keburukan akhlak yakni
dengan membentuk Halaqah Tarbiyah
disalah satu rumah sahabat yakni Dar Al-Arqam bin Abi Al-Arqam. Dari sinilah
Rasulullah memulai membangun peradaban berilmu dan diiringin dengan akhlak
kepada sesama sehingga mampu membentuk karakter Sahabat sebagai generasi
terbaik sepanjang sejarah. Terbaik dalam segala hal yang pernah dilakukan oleh
manusia sebelumnya dan yang akan datang. Rasulullah mampu membangun sikap
optimisme dan keberanian luar biasa untuk melakukan perubahan. Dari masa
jahiliyah (masa kebodohan), kerusakan akhlak, keterbelakangan menjadi masa yang
beradab mulia dan mampu menguasai dunia pada masanya. Menaklukkan satu kerajaan
demi kerajaan dengan sikap kesederhanaan yang disandarkan kepada Allah azza
wajalla.
Dan
Tarbiyah ini jugalah yang harus
menjadi awal untuk melakukan perbaikan terhadap kenakalan remaja yang terjadi
hari ini. Melalui tarbiyah ini diharapkan mampu membuka cakrawala berfikir
remaja bahwa masa remaja adalah masa dimana untuk melakukan kegiatan
berprestasi dan berkarya. Lalu tahukah kita apa itu tarbiyah?
TARBIYAH adalah sebuah aktivitas
yang sangat dekat dengan aktivis da’wah, dimana aktivitas ini dapat melahirkan
banyak kader-kader muslim
tangguh yang selalu bersemangat untuk berkorban dan berjuang demi tegaknya
Agama Allah di muka bumi ini. Mereka menyadari bahwa bumi ini milik Allah sehingga yang berhak mengaturnya hanyalah hukum Allah yang dijalankan oleh para
hamba-Nya yang taat beribadah kepada-Nya. Sedangkan Tarbiyah dalam bahasa Arab bermakna; “Tanmiyatun” yang berarti penumbuhan, pengembangan, pembangunan. Sehingga sasarannya adalah menumbuhkan, mengembangkan, dan membangun manusia. “Tansyiatun” yang berarti peningkatan, pendidikan, penumbuhan, pengembangan. “Ishlahun” yang berarti perbaikan. Jadi tarbiyah diharapkan mampu melakukan perbaikan dari pribadi yang kurang baik menjadi baik, pribadi yang baik dikembangkan, dan dibangun. Dengan demikian tarbiyah diibaratkan seperti sebuah “pabrik”.
tangguh yang selalu bersemangat untuk berkorban dan berjuang demi tegaknya
Agama Allah di muka bumi ini. Mereka menyadari bahwa bumi ini milik Allah sehingga yang berhak mengaturnya hanyalah hukum Allah yang dijalankan oleh para
hamba-Nya yang taat beribadah kepada-Nya. Sedangkan Tarbiyah dalam bahasa Arab bermakna; “Tanmiyatun” yang berarti penumbuhan, pengembangan, pembangunan. Sehingga sasarannya adalah menumbuhkan, mengembangkan, dan membangun manusia. “Tansyiatun” yang berarti peningkatan, pendidikan, penumbuhan, pengembangan. “Ishlahun” yang berarti perbaikan. Jadi tarbiyah diharapkan mampu melakukan perbaikan dari pribadi yang kurang baik menjadi baik, pribadi yang baik dikembangkan, dan dibangun. Dengan demikian tarbiyah diibaratkan seperti sebuah “pabrik”.
Sedangkan menurut Ar Raghib
Al Asfahany beliau mengatakan : “tarbiyah adalah Menumbuhkembangkan sesuatu
setahap demi setahap hingga mencapai kesempurnaan.” Begitupun yang dikemukakan
oleh Al Baydhowy mendefenisikan
tarbiyah sebagai “sesuatu yang dapat mengantarkan sesuatu hingga mencapai
kesempurnaan setahap demi setahap.” Maka sudah sangat jelaslah bahwa salah satu
langkah awal yang mampu dan harus kita lakukan adalah dengan menerapkan konsep
tarbiyah buat mengatasi kenakalan remaja sebab kita ketahui bersama bahwa
remaja adalah regenrasi pelanjut untuk pengembang da’wah yang mampu menjadi solver ditengah masalah yang dihadapi
oleh bangsa dan ummat pada umumnya, dan masyarakat sekitar pada khususnya.
Melalui tarbiyah tersebut mampu menjadikan remaja kita untuk
mengenali diri sendiri dan menjadi dirinya sendiri (Be your self) tidak lagi memiliki konsep latah atau ikut-ikutan. Di
samping itu juga remaja kita akan mampu untuk menggali dan mengembangkan
potensi yang dimilikinya sehingga memiliki visi atau tujuan yang jelas ke
depannya (Visioner) yang mampu
menciptkan langkah-langkah jelas yang beriringan antara teori dan aplikasi
serta mampu memberi manfaat yang sebesar-besarnya untuk keluarga, sekolah
ataupun masyarakat sekitar (Solver).
Adapun nilai lebih yang bisa kita dapatkan dalam Program Tarbiyah:
Yang pertama adalah Rabbaniyyah artinya memiliki nilai-nilai
Ilahiyah baik dari sumbernya, konsep, tujuan maupun sasaran tarbiyah, semuanya
merujuk pada apa yang difirmankan Allah dalam al-Qur’an dan apa yang disabdakan
oleh Rasulllah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam hadits-haditsnya. Yang
Kedua Salafiyyah, yang berarti merujuk kepada pemahaman generasi
terbaik sebelum kita (generasi salaf) yang menjadi acuan bagi kita sehingga
kita mengharapkan ummat yang ditarbiyah bisa mengikuti sifat mereka dalam
kehidupan dan perjuangan menegakkan kalimat Allah. Yang Ketiga Mutawasiniyyah
yang berarti memberikan tarbiyah secara seimbang kepada tiga unsur dalam
diri manusia yaitu aqliyah, ruhiyah dan jasadiyah tidak melebihkan salah
satunya maupun mengurangi salah satunya. Tidak seperti pendidikan sekuler saat
ini yang hanya menitik beratkan pada pembinaan aqliyah dan jasadiyah sedangkan
ruhiyanya kering dari pembinaan. Dan masih banyak lagi yang dapat kita ambil
sisi positifnya.
Problem remaja hari ini adalah tanggung jawab kita bersama, jadi
sudah seharusnya menjadi bahan renungan dan refleksi untuk kita mencarikan
solusi agar tidak semakin terpuruk dan jauh dari identitasnya sebagai generasi
yang penuh dengan ide dan gagasan luar biasa serta penuh dengan prestasi dan
karya yang nyata. So, “Tarbiyah is
Problem Solving, Today!”
[ ]


Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...