Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tarbiyah Sebagai Solusi Kenakalan Remaja




(Part I)
 
Siapa yang tidak mengenal arti ‘Remaja’? atau siapa yang punya keluarga atau teman yang masih usia Remaja? Hampir kita semua menjawab kenal dengan remaja dan punya keluarga dan teman yang masih remaja. Namun tahukah kita bahwa remaja merupakan objek pembahasan yang sangat signifkan dan pembahasan yang selalu menjadikan kita menemukan sesuatu yang berbeda. Remaja merupakan objek penelitian yang tidak ada habisnya untuk kita kaji dan telaah, baik dari segi kehidupan pergaulannya di keluarga, bersama teman-teman sebayanya, masa puberitasnya dan kehidupan yang selalu mencari tahu segala sesuatunya serta masa transisinya dari masa yang labil menuju masa untuk penemuan jati diri. Lalu siapakah remaja itu? Dan bagaimana mereka menemukan jati dirinya? Apa problem remaja hari ini dan bagaimana problem Solving yang ditawarkan? Yuk, kita telaah bersama dulu siapakah remaja itu?
Remaja berasal dari kata latin ‘adolensence’ yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik. Pada masa ini sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi juga tidak juga golongan dewasa atau tua. Masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memproleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak.
Menurut Sri Rumini dan Siti Sundari ‘masa Remaja’ adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa. Sedangkan menurut Dzakiah Darajat adalah “Masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.”
Pendapat Dzakiah Darajat senada dengan yang diungkapkan oleh ‘Santrock’ bahwa adolensence diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara anak dan dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional. Jadi sudah sangat jelas bahwa remaja adalah masa transisi atau peralihan dalam melakukan sesuatu yang baru dan menemukan jati diri untuk mengembangkan potensial dan bakat yang ada dalam diri. Ia adalah masa dimana semua menjadi berubah dalam mindset dan pandangan untuk melihat masa depan dan menjalani kehidupan. Adapun batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu; 12-15 tahun adalah masa remaja awal, 15-18 tahun adalah masa remaja pertengan, 18-21 tahun adalah masa remaja akhir. Tetapi menurut Monks, Knoers, dan Haditono mereka membedakan masa remaja menjadi empat bagian, yaitu ‘Pra Remaja’ usia 10-12 tahun,  masa ‘Remaja Awal’ usia 12-15 tahun, masa ‘Remaja Pertengahan’ usia 15-18 tahun, dan masa ‘Remaja Akhir’ usia 18-21 tahun.
Dan tidak bisa dipungkiri bahwa pada masa transisi usia remaja, mereka memiliki beragam masalah. Baik dari masalah pencarian jati diri sebenarnya, masalah pertemanan di pergaulan, life style sampai pada masalah virus merah jambu. Sedikit kita akan membahas beberapa masalah remaja yang kerap kita dapatkan dan temui pada keluarga atau teman-teman kita atau bahkan itu adalah anak kita sendiri.

Yang pertama adalah Persoalan Cinta dan Hawa Nafsu. Persoalan ini dikalangan remaja kerap menjadi faktor pemicu kegagalan seorang remaja dalam melalui usia remajanya. Banyak para remaja yang hancur masa depannya hanya karena soal cinta dan hawa nafsu. Pengelolaan rasa cinta pada diri remaja perlu ditanamkan dengan pemahaman yang baik, hingga tidak memicu berbagai tindakan amoral yang meresahkan masyarakat. Misalnya yang banyak kita temui sekarang ini banyaknya remaja kita yang sudah pernah melakukan hubungan suami istri (free seks) meskipun mereka belum menjadi ikatan halal, kasus pacaran yang hari ini marak dan bukan lagi hal yang asing kita jumpai ketika dua pasang muda mudi yang keluar malam, nongkrong di jalan, di taman, di kafe atau di tempat yang tidak harus didatangi dan tidak layak semua itu mereka lakukan dengan dalih atau dasar sebagai bentuk cinta satu sama lain, dan yang paling miris lagi adalah ketika mereka telah putus hubungan atau putus cinta yang berakibat pada kematian karena bunuh diri. Sungguh hal yang sangat miris dan memprihatinkan yang kita temui saat ini pada remaja kita.
Yang kedua adalah Persoalan Gaya Hidup (life style). Ada banyak persepsi yang salah terhadap gaya hidup para remaja hari ini. Gaya hidup yang merusak dan tidak memberi faedah malah menjadi nge-Trend dan dianggap sebagai hidup modern dan gaul. Misalnya remaja yang gaul itu adalah remaja yang nongkrong di jalan setiap malam, dugem bareng teman di tempat karokean, minum khamar atau miras, mengkomsumsi narkoba atau zat semisalnya, merokok dan berbagai macam gaya hidup yang kita jumpai. Bahkan hari ini, kita menjumpai sedikit sekali remaja yang mampu menemukan jati dirinya sendiri. Dan sebagian yang lainnya menjadi diri orang lain dengan menjadi ‘latah’ atau ikut-ikutan untuk menjadi diri idola yang mereka gemari dan sukai. Bukankah kita pernah melihat ada seorang remaja yang berangkat kesekolah dengan memakai seragam yang celananya berbentuk botol? Bukankah itu suatu pelanggaran dalam hal seragam di sekolah? Ya benar sekali! Semua itu terjadi karena idola mereka juga memakai seperti itu.
Lalu apa kontribusi dan ‘Problem Solving’  yang kita tawarkan untuk remaja hari ini?
Maka jawabnya adalah ‘flash Back to Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam.’ Yah, solusinya singkat sekali namun dalam dan memenuhi setiap subtansi penyelesaian. Why? Sebagian kita mungkin bertanya ‘kenapa harus kembali ke Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam? Bukankah beliau telah meninggal beberapa abad yang lalu? Lalu bagaimana kita harus kembali kepada beliau? Benar juga apa yang anda pertanyakan, namun bukan seperti itu yang saya maksud.
‘flash Back to Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam.’ Adalah suatu langkah menuju perbaikan remaja kita melalui keteladanan dan panutan Rasulullah. Sebab tidak ada manusia terbaik yang ada di dunia ini melainkan beliau. Sebagaimana kita tahu Allah Azza wajalla berfirman “Sesungguhnya pada diri Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam terdapat contoh teladan yang baik.” Allah sendiri yang telah memberitahukan kepada kita tentang keteladanan Rasulullah dan kita harus meng-Idolakannya karena bukan hanya kita saja yang kagum akan akhlaknya tetapi orang-orang besar dari kalangan non-Islam saja mengagumi Rasulullah. Seperti perkataan salah satu tokoh berpengaruhi di Indai; Mahatma Gandhi “Pernah saya bertanya-tanya siapakah tokoh yang paling mempengaruhi manusia. Saya lebih yakin bahwa bukan pedanglah yang memberikan kebesaran pada Islam pada masanya. Tapi ia datang dari kesederhanaan, kebersahajaan, kehati-hatian Muhammad; serta pengabdian luar biasa kepada teman dan pengikutnya, tekadnya, keberaniaannya, serta keyakinannya pada Tuhan dan tugasnya. Semua ini (dan bukan pedang) menyingkirkan segala halangan. Ketika saya memutup halaman terakhir volume 2 (biografi Muhammad), saya sedih karena tiada lagi cerita yang tersisa dari hidupnya yang agung.”
Dan salah satu contoh keteladan yang pernah dilakukan serta diterapkan oleh Rasulullah dalam penyelasain yang dihadapi pada masa keburukan akhlak yakni dengan membentuk Halaqah Tarbiyah disalah satu rumah sahabat yakni Dar Al-Arqam bin Abi Al-Arqam. Dari sinilah Rasulullah memulai membangun peradaban berilmu dan diiringin dengan akhlak kepada sesama sehingga mampu membentuk karakter Sahabat sebagai generasi terbaik sepanjang sejarah. Terbaik dalam segala hal yang pernah dilakukan oleh manusia sebelumnya dan yang akan datang. Rasulullah mampu membangun sikap optimisme dan keberanian luar biasa untuk melakukan perubahan. Dari masa jahiliyah (masa kebodohan), kerusakan akhlak, keterbelakangan menjadi masa yang beradab mulia dan mampu menguasai dunia pada masanya. Menaklukkan satu kerajaan demi kerajaan dengan sikap kesederhanaan yang disandarkan kepada Allah azza wajalla.
Dan Tarbiyah ini jugalah yang harus menjadi awal untuk melakukan perbaikan terhadap kenakalan remaja yang terjadi hari ini. Melalui tarbiyah ini diharapkan mampu membuka cakrawala berfikir remaja bahwa masa remaja adalah masa dimana untuk melakukan kegiatan berprestasi dan berkarya. Lalu tahukah kita apa itu tarbiyah?

TARBIYAH adalah sebuah aktivitas yang sangat dekat dengan aktivis da’wah, dimana aktivitas ini dapat melahirkan banyak kader-kader muslim
tangguh yang selalu bersemangat untuk berkorban dan berjuang demi tegaknya
Agama Allah di muka bumi ini. Mereka menyadari bahwa bumi ini milik Allah sehingga yang berhak mengaturnya hanyalah hukum Allah yang dijalankan oleh para
hamba-Nya yang taat beribadah kepada-Nya. Sedangkan Tarbiyah dalam bahasa Arab bermakna; Tanmiyatun yang berarti penumbuhan, pengembangan, pembangunan. Sehingga sasarannya adalah menumbuhkan, mengembangkan, dan membangun manusia. Tansyiatun” yang berarti peningkatan, pendidikan, penumbuhan, pengembangan. “Ishlahun” yang berarti perbaikan. Jadi tarbiyah diharapkan mampu melakukan perbaikan dari pribadi yang kurang baik menjadi baik, pribadi yang baik dikembangkan, dan dibangun. Dengan demikian tarbiyah diibaratkan seperti sebuah “pabrik”.
Sedangkan menurut Ar Raghib Al Asfahany beliau mengatakan : “tarbiyah adalah Menumbuhkembangkan sesuatu setahap demi setahap hingga mencapai kesempurnaan.” Begitupun yang dikemukakan oleh Al Baydhowy mendefenisikan tarbiyah sebagai “sesuatu yang dapat mengantarkan sesuatu hingga mencapai kesempurnaan setahap demi setahap.” Maka sudah sangat jelaslah bahwa salah satu langkah awal yang mampu dan harus kita lakukan adalah dengan menerapkan konsep tarbiyah buat mengatasi kenakalan remaja sebab kita ketahui bersama bahwa remaja adalah regenrasi pelanjut untuk pengembang da’wah yang mampu menjadi solver ditengah masalah yang dihadapi oleh bangsa dan ummat pada umumnya, dan masyarakat sekitar pada khususnya.
Melalui tarbiyah tersebut mampu menjadikan remaja kita untuk mengenali diri sendiri dan menjadi dirinya sendiri (Be your self) tidak lagi memiliki konsep latah  atau ikut-ikutan. Di samping itu juga remaja kita akan mampu untuk menggali dan mengembangkan potensi yang dimilikinya sehingga memiliki visi atau tujuan yang jelas ke depannya (Visioner) yang mampu menciptkan langkah-langkah jelas yang beriringan antara teori dan aplikasi serta mampu memberi manfaat yang sebesar-besarnya untuk keluarga, sekolah ataupun masyarakat sekitar (Solver).
Adapun nilai lebih yang bisa kita dapatkan dalam Program Tarbiyah: Yang pertama adalah Rabbaniyyah artinya memiliki nilai-nilai Ilahiyah baik dari sumbernya, konsep, tujuan maupun sasaran tarbiyah, semuanya merujuk pada apa yang difirmankan Allah dalam al-Qur’an dan apa yang disabdakan oleh Rasulllah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam hadits-haditsnya. Yang Kedua Salafiyyah, yang berarti merujuk kepada pemahaman generasi terbaik sebelum kita (generasi salaf) yang menjadi acuan bagi kita sehingga kita mengharapkan ummat yang ditarbiyah bisa mengikuti sifat mereka dalam kehidupan dan perjuangan menegakkan kalimat Allah. Yang Ketiga Mutawasiniyyah yang berarti memberikan tarbiyah secara seimbang kepada tiga unsur dalam diri manusia yaitu aqliyah, ruhiyah dan jasadiyah tidak melebihkan salah satunya maupun mengurangi salah satunya. Tidak seperti pendidikan sekuler saat ini yang hanya menitik beratkan pada pembinaan aqliyah dan jasadiyah sedangkan ruhiyanya kering dari pembinaan. Dan masih banyak lagi yang dapat kita ambil sisi positifnya.
Problem remaja hari ini adalah tanggung jawab kita bersama, jadi sudah seharusnya menjadi bahan renungan dan refleksi untuk kita mencarikan solusi agar tidak semakin terpuruk dan jauh dari identitasnya sebagai generasi yang penuh dengan ide dan gagasan luar biasa serta penuh dengan prestasi dan karya yang nyata. So, “Tarbiyah is Problem Solving, Today!”
[ ]

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia