Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Benarkah Aku Seorang Teroris? (Part 1)
Siskaee
Mei 01, 2017
Safar yang kita lewati selalu
mengajarkan kita sesuatu yang tidak pernah kita sangka. Selalu memberikan warna
baru didalamnya yang membuat kita seakan berdecak kagum atas rencana yang Maha
indah dari-Nya. Selalu ada hikmah.
Diawali dari tahun 2011, akhir bulan
Juni.
Mentari merekah. Bias-bias sinarnya
menghiasi seantero jagad raya dengan pesona yang mampu memanjakan pandangan
untuk berlama-lama. Sebuah catatan kecil bertuliskan sebuah impian tempat yang
menjadi planning untuk aku datangi. Entah kapan akan diijabah dan
dimanifestasikan dalam bentuk rill oleh-Nya. “Menuju Kota Tarakan” impian besar
yang membuatku selalu meluangkan waktu untuk mengadu kepada-Nya dalam setiap
sujudku.
Allah Maha Mendengar.
Ia mengabulkan do’aku melalui
perantara saudara perempuan ibu. Setelah mengurus KRS untuk semester
selanjutnya aku meng-Iyakan untuk ikut bersama tante untuk mengisi liburanku
dengan tekad untuk bekerja, ya minimal kerja sebagai buruh atau penjaga toko
dan hasilnya untuk keperluan kuliahku. Senja selalu datang sesuai waktu yang
telah ditetapkan. Kelam malam membentangkan sayapnya disusul dengan kerlipan
bintang dan sinar rembulan yang siap bermadu kasih dalam cahaya Ilahi. Waktu
keberangkatan telah tiba, aku menyiapkan segala sesuatu yang mungkin dibutuhkan
saat aku disana; photo copy ijazah pendidikan terakhir, beberapa sertifikat
penghargaan dan KTP.
Setelah berpamitan dengan keluarga
dan beberapa tetangga yang ikut mengantar kepergian kami, kami langsung
meninggalkan rumah dengan laju kendaraan yang diatas kecepatan rata-rata.
Perjalanan panjangpun siap dimulai. Meninggalkan rumah menuju pelabuhan
Makassar memerlukan waktu lima sampai enam jam dalam mobil dengan jarak kurang
lebih 200 KM. perjalanan melelahkan membuatku tak berdaya untuk memejamkan mata
yang diserang oleh ngantuk berat. Sebelum tertidur tak lupa kukirimkan pesan
pendek kepada teman kuliahku untuk berpamitan dan bertanya tentang tata cara
sholat dalam kendaraan; mobil.
Bismillah…
Afwan akh, ana sudah
berangkat menuju Makassar tanpa sempat pamit di ponpes. Do’anya yah semoga
dimudahkan dan sampai dengan selamat.
Ana mau Tanya akh,
ketika dalam mobil tata cara sholatnya gimana yah? Soalnya ana lupa menjamak
sholat asar ana waktu sholat dzuhur.
Syukran sebelumnya,
uhibbuka fillah
Via pesan terkirim. Setelah berlalu
beberapa menit, pesan singkat kembali masuk dalam ponsel Asiafone milikku
Bismillah…
La ba’ats akhi. Insya
Allah semoga Allah meridhoi perjalanan antum.
Tata cara sholat
dalam kendaraan sama halnya dengan sholat di masjid, hanya saja kita tidak
sujud dalam artian kita hanya membungkukkan badan kita tidak sampai kelantai sebagaimana didalam
masjid.
Akhi kalau ada waktu,
kami dari pihak Ponpes meminta antum untuk mengisi kegiatan Training Motivasi
untuk santri dan satriwati tahun ajaran baru. Kami sangat mengharapkan
kedatangan antum.
Syukran
***
Rabu pagi, di pelabuhan Makassar.
Hiruk pikuk dan lalu lalang manusia
menjadi pemandangan utama. Ada yang menjajahkan dagangannya. Membaca Koran, dan
ada yang siap mengangkut barang-barang bawaannya. Lima belas menit berlalu
dalam suasana pelabuhan, kini kapal Bukit
Sigunta siap berlayar. Kami tidak memakai jasa buruh pengangkut yang siap
menawarkan jasanya untuk mengankut barang-barang kami dengan imbalan beberapa
lembaran rupiah. Aku memanjatkan puji syukur yang mendalam karena selangkah
lagi impianku tercapai. Waktu berlalu. Beberapa kali kapal yang kami tumpangi
transit, dari pelabuhan Pare-Pare, Balikpapan dan berlabuh di Pelabuhan
Tarakan. Ada banyak hal yang kudapatkan dalam perjalanan selama 3 hari 3 malam
didalam kapal ini. Begitu banyak ragam kehidupan yang dipentaskan dalam peran
yang berbeda dari diri masing-masing orang. Hanya jiwa-jiwa kerdilah yang tidak
bisa mengambil ibrah sebanyak-banyaknya.
Lautan membiru bak permadani besar
terbentang dengan kolaborasi warna hijau muda. Rumah-rumah berjajar rapi diatas
air laut. Perahu nelayan beraneka bentuk dan ukuran menambah semerbak indahnya
kota Tarakan dari belakang kota. Sungguh harmonisasi yang indah. Rasa penat
yang kurasakan akibat mabuk laut sedikit terobati dengan panorama pagi yang
begitu indah. Rekahan mentari mulai muncul dibibir lautan sejauh mata memandang
bahkan kupu-kupu pun melahirkan simponi menyapa pagi. “Kota Tarakan memang
indah” bisikku dalam hati.
Kubiarkan diriku larut dalam
imajinasi dan fikiranku. Menjelajahi kota Tarakan dengan interpretasiku sendiri
yang belum tentu sesuai dengan apa yang aku fikirkankan. Karena terkadang apa
yang kita fikirkan tentang suatu tempat yang asing tidak sesuai dengan
kenyataannya. Baik itu dari situasi dan kondisi sosial, budaya maupun
keberagamaan dan toleransinya terhadap sesama. Tapi yang paling penting bagiku
adalah bagaimana aku bisa beradaptasi dengan masyarakat sekitar. Bagaimana aku
bisa menghargai dan mengjunjung tinggi nilai saling memahami dalam sebuah
perbedaan. Ada beberapa hal yang sudah menjadi rencana yang telah kuramu
sedemikian detailnya yang menuntutku untuk butuh aplikasi secepatnya, yaitu
bekerja. Entah itu kerjaan apa? Siapa yang tahu pasti nasib orang esok dan yang
akan datang. Hanya tawakkal yang perlu kita sandarkan padaNya setelah kita
ikhtiar dengan maksimal.
Memasuki hari kelima dari
keberadaanku di kota Tarakan membuatku sudah berani menapaki lorong demi lorong
yang menghubungkan satu rumah kerumah yang lain tanpa ditemani oleh keluargaku.
Tidak begitu sulit bagiku untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Hanya
saja ada beberapa hal yang selalu membuatku tidak mengerti dengan kehidupan
masyarakat sekitar yang bagiku itu adalah hal yang baru kudapatkan. Melihat hal
seperti itu hatiku miris dan tak percaya menyaksikan pemuda-pemudanya lebih
larut dalam kegiatan sia-sia; minum-minum keras, pemakaian obat-obatan
terlarang dan perjudian. Meskipun tidak semua pemudanya seperti itu, tapi itu
membuatku merasa bertanggung jawab untuk melakukan perubahan. Semakin aku
membiarkan hal seperti itu maka lambat laun semakin aku menyetujui dan
mengdukung tindakan mereka dengan tidak melakukan apa-apa.
Silih bergantinya siang dan malam
selalu menjadi sejarah dan saksi catatan musafir yang kulalui. Tak pernah alfa
dan telat dalam garis ketentuan yang telah ditentukan olehNya. Hari ke hari aku
mulai berbaur dengan jama’ah masjid Al-Muhajirin. Salah satu masjid terdekat
dari tempat tanteku hanya berjarak sekitar 300 meter. Dari masjid itulah
hubungan dalam jalinan persahabatan mulai tercipta dan tumbuh bermekaran bak
bunga di musim semi. Aku mulai mengenal remaja masjid tersebut meskipun tidak
terlalu akrab. Palingan hanya bertegur sapa dan tersenyum. Tidak pernah ada
perbincangan lama antara kami. Ba’da sholat tak lupa aku isi dengan dzikir dan
do’a.
Hingga suatu hari, Qadarullah mempertemukan ku dengan
seorang mahasiswa Universitas Hasanuddin Makassar (UNHAS) yang sedang mengisi
liburannya di kota Tarakan. Ia memang asli Tarakan campuran kota Bima. Ia
mengambil fakultas pertambangan dan satu tingkat diatasku. Singkatnya kami
semakin akrab dalam dekapan ukhuwah. Satu hal yang membuatku kagum dan untuk
pertama kalinya aku melihat pemuda seperti dirinya. Disamping rajin berjama’ah
di masjid ia juga tidak pernah ketinggalan dari puasa senin dan kamis serta
dzikir pagi dan petangnya pun selalu menjadi teman setia baginya dalam
kesehariannya. Aku betul-betul kagum. Ia adalah akhi Andri selain itu aku mulai
akrab dengan salah satu remaja masjid; akhi Ismail dan salah seorang mahasiswa
Borneo; akhi Ardi.
Persahabatan yang kami bina atas
dasar cinta karena Allah lebih dari hanya sebatas teman saja melainkan sudah
menjadi sebuah keluarga baru bagiku. Kami mulai saling mengisi satu sama lain,
dari hal pribadi sampai yang mengenai tentang umat sekarang. Garis takdir yang
digariskan selalu menyimpan hikmah didalamnya. Hidup tanpa tantangan dan
rintangan bukanlah hidup namanya tapi sebuah kematian secara perlahan. Hidup
ini penuh dengan rintangan yang menuntut kita untuk melawannya dengan cara yang
baik sesuai dengan koridor yang telah ditentukan OlehNya “Tidaklah Aku membebani seseorang diluar batas kemampuannya” itu
adalah janjiNya.
Ba’da sholat isya. Hal yang tidak
pernah terlintas dalam fikirankupun terjadi. Membuat dada ini sesak dan tidak
habis fikir kenapa anggapan seperti ini terarah kepada kami. Salah satu jama’ah
masjid Al-Muhajirin mengganggap kami sebagai “jaringan teroris”. Karena kami
sering berkumpul bersama dalam majelis ilmu yang kami buat sendiri. Majelis
yang didalam tidak ada unsure kepentingan pribadi yang kami perbincangkan
melainkan mengenai hiruk pikuk pemudanya dengan niat kami mencarikan problem solving. Apalagi diriku yang
pengdatang baru sangat rawan dan sangat mudah untuk dicurigai dengan tindakan
yang asing dimata masyarakat setempat.
Disamping itu juga bersamaan dengan
gencar-gencarnya aksi teroris dinegeri ini. Mulai dari bom bunuh diri.
Peledakan secara serentak. Banyaknya temuan sindikat jaringan teroris yang
sebagian besar diarahkan pada pondok pesantren dengan asumsi bahwa “Pondok
Pesantren adalah wadah untuk menghimpun dan mnecetak kader terorisme” disisi
lain masyarakat beranggapan bahwa pondok pesantren adalah “Sarang Teroris”. Semua
kutanggapi dengan penuh keyakinan bahwa Allah hendak menguatkanku melalui
tindakan mereka.
Entah dari perspektif mana dia
memandang dan melihat kami sehingga menyimpulkan hal tersebut. Kami tidak
mengerti dengan keadaan ini, padahal baru saja kami ingin melangkah melakukan
perubahan atas apa yang terjadi dilingkungan sekitar kami, rintangan yang nyata
itu menyapa kami dalam bentuk yang menyita pikiran dan waktu kami untuk mencari
problem solving secepatnya. Anggapan jama’ah masjid yang mengira kami sebagai
jaringan teroris semakin hari semakin membuat kami merasa was-was dan mengalami
sedikit intimidasi. Kuceritakan hal tersebut kepada keluargaku. Spontan mereka
kaget dengan hal tersebut.
“Masya
Allah. Yah sudah, untuk sementara kamu tidak usah sholat di masjid
Al-Muhajirin ditempat lain saja. Di masjid Al-Ma’arif atau di masjid seberang”
saran tanteku. Sejenak aku berfikir dan meng-iyakan. Bagiku itu adalah
alternative yang bagus karena mengingat aku hanyalah pendatang yang baru
kemarin dan sangat mudah dicurigai. Maka kumantapkan azzamku. Insya Allah semua
ada hikmahnya. Dan tak lupa ku musyawarahkan dengan teman-teman yang lain
tentang keputusanku ini. Mereka sepakat dan meng-iyakan.
Senja selalu datang begitu cepat.
Begitu banyak agenda yang terhalang dan tidak terealisasi. Kebersamaan yang
dulu terbina dalam siraman cinta karenaNya semakin hari buram dan samar-samar.
Kurasakan ini adalah kenyataan yang tidak boleh aku biarkan karena bukanka kita
harus selalu bersama demi tegaknya Panji-Panji Allah. Dan untuk menegakkannya
tidak cukup hanya satu orang saja melainkan harus secara bersama-sama
وَلۡتَكُن
مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ
وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٠٤
“Dan
hendaklah ada sekelompok orang yang menyeru kepada yang ma’ruf dan mengcegah
kemungkaran. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. [QS.
Ali- Imran: 104]
Masalah datang bukan untuk kita abaikan melainkan untuk kita
hadapi dan cari penyelesaiannya. Sejak peristiwa tersebut, sejak itulah kami
jarang dalam kebersamaan. Satu hal yang selalu mengganjal dan terlintas dalam
fikiranku “Masalah datang bukan untuk kita abaikan melainkan untuk kita
hadapi dan cari penyelesaiannya”. Maka kami sepakat untuk untuk melakukan
pertemuan dengan ketiga sahabatku, disamping untuk melepas kerinduan juga untuk
bermusyawarah tentang masalah tersebut
“Akhi, ana kira masalah ini tidak
harus kita tinggalkan dan abaikan begitu saja. Karena ini menyangkut dengan
nama baik kita dan lebih-lebih menyangkut umat. Bayangkan saja jika kita terus
menerus lari dari masalah tersebut dengan menghindar dan tidak berjama’ah di
masjid Al-Muhajirin itu akan menambah kuat argumentasi mereka. Karena mereka
melihat kenyataan tersebut bahwa setelah kejadian satu minggu yang lalu kita
tidak pernah muncul dan berjama’ah di masjid Al-Muhajirin lagi” penjelasanku
secara runut atas interperetasiku melihat kenyataan tersebut
“Kita bisa saja terus menerus
seperti ini tapi apakah itu akan menyelesaikan masalah? Tidak. Karena sama
halnya kita tidak melakukan apa-apa untuk berbuat padahal kita telah sepakat
untuk bersama-sama melakukan sebuah perubahan minimal kepada pemuda disini.
Tapi jika sikap kita seperti ini maka tidak ada satupun perubahan yang dapat
kita lakukan” tambahku
“Ana juga berfikir seperti itu akh.
Peristiwa kemarin seharusnya kita jadikan sebagai langkah awal untuk melakukan
perubahan dan harusnya kita sadar bahwa perjuangan itu bukan semudah
membalikkan telapak tangan melainkan butuh perjuangan yang harus dikawinkan
dengan kesabaran serta do’a kepada-Nya disertai dengan tawakkal Ilallah”
tanggap akhi Andri membuka suara.
“Thoyyib akhi. Ana kira juga seperti
itu. Bukanka Allah tidak pernah menelentarkan dan mengabaikan apa yang kita
lakukan selagi itu sebuah kebenaran disisiNya? Sekarang sudah sangat jelas akh
bahwa kita harus melangkah dan berjalan demi tegaknya agama Allah” tambah akhi
Ismail
“Ana sangat setuju akhi. Hidup ini
adalah da’wah. Da’wah untuk diri kita sendiri. Untuk keluarga. Orang lain dan
untuk umat lebih umumnya” seru akhi Ardi.
“Na’am akhi. Mulai sekarang kita
sholat di Masjid Al-Muhajirin apapun itu konsekuwensinya. La Takwaf Wa La Tahzan Innallaha Ma’Ana”
“Insya Allah. Semoga Allah
memudahkan” jawab kami serentak. Pertemuan itu kami akhiri dengan sejuta
harapan semoga kelak kami bisa membuat sebuah perubahan dan semoga kami
bermanfaat bagi umat khususnya masyarakat Tarakan. Amin.
Senja
berlalu. Waktu sholat yang telah ditentukan telah datang. Aku menyambut adzan
tersebut dengan penuh cinta kepadaNya karena cinta kepada-Nya tidak akan
mengdatangkan kekecewaan. cintaNya melebih cinta yang ada di jagad raya ini.
Melebihi indahnya syair cinta seorang Khalili Gibran. Dan bahkan jika semua
cinta manusia dan seluruh mahluk yang ada dikumpulkan maka tidak sebanding dengan cintaNya. Kami
mulai datang berjama’ah di masjid Al-Muhajirin meskipun sedikit rasa gelisah
menghampiriku tapi seketika itu FirmaNya tergiang di telingaku “Innalaha Ma’Ana”. Sepasang mata mulai
mengawasi tingkah laku kami mulai dari masuk masjid sampai keluar lagi.
Kami
bagaikan seekor binatang buruan yang siap disantap oleh sang pemburu dengan
semangat yang berkobar. Samar-samar kami mendengar sebagian masyarakat
memperbincangkan tentang kami tapi kami anggap itu hanyalah warna yang sedang tergores dalam kanfas hidup kami. Dan
saksikanlah bahwa kami bukanlah teroris. Kami hanyalah pemuda yang mencintai
saudara kami dan aplikasi cinta itu kami tuangkan dalam bentuk tindakan
melakukan perubahan.
***
_Bersambung........_
_Bersambung........_
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...