Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Benarkah Aku Seorang Teroris? (Part 1)



Safar yang kita lewati selalu mengajarkan kita sesuatu yang tidak pernah kita sangka. Selalu memberikan warna baru didalamnya yang membuat kita seakan berdecak kagum atas rencana yang Maha indah dari-Nya. Selalu ada hikmah.
Diawali dari tahun 2011, akhir bulan Juni.
Mentari merekah. Bias-bias sinarnya menghiasi seantero jagad raya dengan pesona yang mampu memanjakan pandangan untuk berlama-lama. Sebuah catatan kecil bertuliskan sebuah impian tempat yang menjadi planning untuk aku datangi. Entah kapan akan diijabah dan dimanifestasikan dalam bentuk rill oleh-Nya. “Menuju Kota Tarakan” impian besar yang membuatku selalu meluangkan waktu untuk mengadu kepada-Nya dalam setiap sujudku.
Allah Maha Mendengar.
Ia mengabulkan do’aku melalui perantara saudara perempuan ibu. Setelah mengurus KRS untuk semester selanjutnya aku meng-Iyakan untuk ikut bersama tante untuk mengisi liburanku dengan tekad untuk bekerja, ya minimal kerja sebagai buruh atau penjaga toko dan hasilnya untuk keperluan kuliahku. Senja selalu datang sesuai waktu yang telah ditetapkan. Kelam malam membentangkan sayapnya disusul dengan kerlipan bintang dan sinar rembulan yang siap bermadu kasih dalam cahaya Ilahi. Waktu keberangkatan telah tiba, aku menyiapkan segala sesuatu yang mungkin dibutuhkan saat aku disana; photo copy ijazah pendidikan terakhir, beberapa sertifikat penghargaan dan KTP.
Setelah berpamitan dengan keluarga dan beberapa tetangga yang ikut mengantar kepergian kami, kami langsung meninggalkan rumah dengan laju kendaraan yang diatas kecepatan rata-rata. Perjalanan panjangpun siap dimulai. Meninggalkan rumah menuju pelabuhan Makassar memerlukan waktu lima sampai enam jam dalam mobil dengan jarak kurang lebih 200 KM. perjalanan melelahkan membuatku tak berdaya untuk memejamkan mata yang diserang oleh ngantuk berat. Sebelum tertidur tak lupa kukirimkan pesan pendek kepada teman kuliahku untuk berpamitan dan bertanya tentang tata cara sholat dalam kendaraan; mobil.
Bismillah…
Afwan akh, ana sudah berangkat menuju Makassar tanpa sempat pamit di ponpes. Do’anya yah semoga dimudahkan dan sampai dengan selamat.
Ana mau Tanya akh, ketika dalam mobil tata cara sholatnya gimana yah? Soalnya ana lupa menjamak sholat asar ana waktu sholat dzuhur.
Syukran sebelumnya, uhibbuka fillah
Via pesan terkirim. Setelah berlalu beberapa menit, pesan singkat kembali masuk dalam ponsel Asiafone milikku
Bismillah…
La ba’ats akhi. Insya Allah semoga Allah meridhoi perjalanan antum.
Tata cara sholat dalam kendaraan sama halnya dengan sholat di masjid, hanya saja kita tidak sujud dalam artian kita hanya membungkukkan badan kita  tidak sampai kelantai sebagaimana didalam masjid.
Akhi kalau ada waktu, kami dari pihak Ponpes meminta antum untuk mengisi kegiatan Training Motivasi untuk santri dan satriwati tahun ajaran baru. Kami sangat mengharapkan kedatangan antum.
Syukran

***
Rabu pagi, di pelabuhan Makassar.
Hiruk pikuk dan lalu lalang manusia menjadi pemandangan utama. Ada yang menjajahkan dagangannya. Membaca Koran, dan ada yang siap mengangkut barang-barang bawaannya. Lima belas menit berlalu dalam suasana pelabuhan, kini kapal Bukit Sigunta siap berlayar. Kami tidak memakai jasa buruh pengangkut yang siap menawarkan jasanya untuk mengankut barang-barang kami dengan imbalan beberapa lembaran rupiah. Aku memanjatkan puji syukur yang mendalam karena selangkah lagi impianku tercapai. Waktu berlalu. Beberapa kali kapal yang kami tumpangi transit, dari pelabuhan Pare-Pare, Balikpapan dan berlabuh di Pelabuhan Tarakan. Ada banyak hal yang kudapatkan dalam perjalanan selama 3 hari 3 malam didalam kapal ini. Begitu banyak ragam kehidupan yang dipentaskan dalam peran yang berbeda dari diri masing-masing orang. Hanya jiwa-jiwa kerdilah yang tidak bisa mengambil ibrah sebanyak-banyaknya.
Lautan membiru bak permadani besar terbentang dengan kolaborasi warna hijau muda. Rumah-rumah berjajar rapi diatas air laut. Perahu nelayan beraneka bentuk dan ukuran menambah semerbak indahnya kota Tarakan dari belakang kota. Sungguh harmonisasi yang indah. Rasa penat yang kurasakan akibat mabuk laut sedikit terobati dengan panorama pagi yang begitu indah. Rekahan mentari mulai muncul dibibir lautan sejauh mata memandang bahkan kupu-kupu pun melahirkan simponi menyapa pagi. “Kota Tarakan memang indah” bisikku dalam hati.
Kubiarkan diriku larut dalam imajinasi dan fikiranku. Menjelajahi kota Tarakan dengan interpretasiku sendiri yang belum tentu sesuai dengan apa yang aku fikirkankan. Karena terkadang apa yang kita fikirkan tentang suatu tempat yang asing tidak sesuai dengan kenyataannya. Baik itu dari situasi dan kondisi sosial, budaya maupun keberagamaan dan toleransinya terhadap sesama. Tapi yang paling penting bagiku adalah bagaimana aku bisa beradaptasi dengan masyarakat sekitar. Bagaimana aku bisa menghargai dan mengjunjung tinggi nilai saling memahami dalam sebuah perbedaan. Ada beberapa hal yang sudah menjadi rencana yang telah kuramu sedemikian detailnya yang menuntutku untuk butuh aplikasi secepatnya, yaitu bekerja. Entah itu kerjaan apa? Siapa yang tahu pasti nasib orang esok dan yang akan datang. Hanya tawakkal yang perlu kita sandarkan padaNya setelah kita ikhtiar dengan maksimal.
Memasuki hari kelima dari keberadaanku di kota Tarakan membuatku sudah berani menapaki lorong demi lorong yang menghubungkan satu rumah kerumah yang lain tanpa ditemani oleh keluargaku. Tidak begitu sulit bagiku untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Hanya saja ada beberapa hal yang selalu membuatku tidak mengerti dengan kehidupan masyarakat sekitar yang bagiku itu adalah hal yang baru kudapatkan. Melihat hal seperti itu hatiku miris dan tak percaya menyaksikan pemuda-pemudanya lebih larut dalam kegiatan sia-sia; minum-minum keras, pemakaian obat-obatan terlarang dan perjudian. Meskipun tidak semua pemudanya seperti itu, tapi itu membuatku merasa bertanggung jawab untuk melakukan perubahan. Semakin aku membiarkan hal seperti itu maka lambat laun semakin aku menyetujui dan mengdukung tindakan mereka dengan tidak melakukan apa-apa.
Silih bergantinya siang dan malam selalu menjadi sejarah dan saksi catatan musafir yang kulalui. Tak pernah alfa dan telat dalam garis ketentuan yang telah ditentukan olehNya. Hari ke hari aku mulai berbaur dengan jama’ah masjid Al-Muhajirin. Salah satu masjid terdekat dari tempat tanteku hanya berjarak sekitar 300 meter. Dari masjid itulah hubungan dalam jalinan persahabatan mulai tercipta dan tumbuh bermekaran bak bunga di musim semi. Aku mulai mengenal remaja masjid tersebut meskipun tidak terlalu akrab. Palingan hanya bertegur sapa dan tersenyum. Tidak pernah ada perbincangan lama antara kami. Ba’da sholat tak lupa aku isi dengan dzikir dan do’a.
Hingga suatu hari, Qadarullah mempertemukan ku dengan seorang mahasiswa Universitas Hasanuddin Makassar (UNHAS) yang sedang mengisi liburannya di kota Tarakan. Ia memang asli Tarakan campuran kota Bima. Ia mengambil fakultas pertambangan dan satu tingkat diatasku. Singkatnya kami semakin akrab dalam dekapan ukhuwah. Satu hal yang membuatku kagum dan untuk pertama kalinya aku melihat pemuda seperti dirinya. Disamping rajin berjama’ah di masjid ia juga tidak pernah ketinggalan dari puasa senin dan kamis serta dzikir pagi dan petangnya pun selalu menjadi teman setia baginya dalam kesehariannya. Aku betul-betul kagum. Ia adalah akhi Andri selain itu aku mulai akrab dengan salah satu remaja masjid; akhi Ismail dan salah seorang mahasiswa Borneo; akhi Ardi.
Persahabatan yang kami bina atas dasar cinta karena Allah lebih dari hanya sebatas teman saja melainkan sudah menjadi sebuah keluarga baru bagiku. Kami mulai saling mengisi satu sama lain, dari hal pribadi sampai yang mengenai tentang umat sekarang. Garis takdir yang digariskan selalu menyimpan hikmah didalamnya. Hidup tanpa tantangan dan rintangan bukanlah hidup namanya tapi sebuah kematian secara perlahan. Hidup ini penuh dengan rintangan yang menuntut kita untuk melawannya dengan cara yang baik sesuai dengan koridor yang telah ditentukan OlehNya “Tidaklah Aku membebani seseorang diluar batas kemampuannya” itu adalah janjiNya.
Ba’da sholat isya. Hal yang tidak pernah terlintas dalam fikirankupun terjadi. Membuat dada ini sesak dan tidak habis fikir kenapa anggapan seperti ini terarah kepada kami. Salah satu jama’ah masjid Al-Muhajirin mengganggap kami sebagai “jaringan teroris”. Karena kami sering berkumpul bersama dalam majelis ilmu yang kami buat sendiri. Majelis yang didalam tidak ada unsure kepentingan pribadi yang kami perbincangkan melainkan mengenai hiruk pikuk pemudanya dengan niat kami mencarikan problem solving. Apalagi diriku yang pengdatang baru sangat rawan dan sangat mudah untuk dicurigai dengan tindakan yang asing dimata masyarakat setempat.
Disamping itu juga bersamaan dengan gencar-gencarnya aksi teroris dinegeri ini. Mulai dari bom bunuh diri. Peledakan secara serentak. Banyaknya temuan sindikat jaringan teroris yang sebagian besar diarahkan pada pondok pesantren dengan asumsi bahwa “Pondok Pesantren adalah wadah untuk menghimpun dan mnecetak kader terorisme” disisi lain masyarakat beranggapan bahwa pondok pesantren adalah “Sarang Teroris”. Semua kutanggapi dengan penuh keyakinan bahwa Allah hendak menguatkanku melalui tindakan mereka.
Entah dari perspektif mana dia memandang dan melihat kami sehingga menyimpulkan hal tersebut. Kami tidak mengerti dengan keadaan ini, padahal baru saja kami ingin melangkah melakukan perubahan atas apa yang terjadi dilingkungan sekitar kami, rintangan yang nyata itu menyapa kami dalam bentuk yang menyita pikiran dan waktu kami untuk mencari problem solving secepatnya. Anggapan jama’ah masjid yang mengira kami sebagai jaringan teroris semakin hari semakin membuat kami merasa was-was dan mengalami sedikit intimidasi. Kuceritakan hal tersebut kepada keluargaku. Spontan mereka kaget dengan hal tersebut.
Masya Allah. Yah sudah, untuk sementara kamu tidak usah sholat di masjid Al-Muhajirin ditempat lain saja. Di masjid Al-Ma’arif atau di masjid seberang” saran tanteku. Sejenak aku berfikir dan meng-iyakan. Bagiku itu adalah alternative yang bagus karena mengingat aku hanyalah pendatang yang baru kemarin dan sangat mudah dicurigai. Maka kumantapkan azzamku. Insya Allah semua ada hikmahnya. Dan tak lupa ku musyawarahkan dengan teman-teman yang lain tentang keputusanku ini. Mereka sepakat dan meng-iyakan.
Senja selalu datang begitu cepat. Begitu banyak agenda yang terhalang dan tidak terealisasi. Kebersamaan yang dulu terbina dalam siraman cinta karenaNya semakin hari buram dan samar-samar. Kurasakan ini adalah kenyataan yang tidak boleh aku biarkan karena bukanka kita harus selalu bersama demi tegaknya Panji-Panji Allah. Dan untuk menegakkannya tidak cukup hanya satu orang saja melainkan harus secara bersama-sama
وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٠٤
“Dan hendaklah ada sekelompok orang yang menyeru kepada yang ma’ruf dan mengcegah kemungkaran. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. [QS. Ali- Imran: 104]
Masalah datang  bukan untuk kita abaikan melainkan untuk kita hadapi dan cari penyelesaiannya. Sejak peristiwa tersebut, sejak itulah kami jarang dalam kebersamaan. Satu hal yang selalu mengganjal dan terlintas dalam fikiranku “Masalah datang  bukan untuk kita abaikan melainkan untuk kita hadapi dan cari penyelesaiannya”. Maka kami sepakat untuk untuk melakukan pertemuan dengan ketiga sahabatku, disamping untuk melepas kerinduan juga untuk bermusyawarah tentang masalah tersebut
“Akhi, ana kira masalah ini tidak harus kita tinggalkan dan abaikan begitu saja. Karena ini menyangkut dengan nama baik kita dan lebih-lebih menyangkut umat. Bayangkan saja jika kita terus menerus lari dari masalah tersebut dengan menghindar dan tidak berjama’ah di masjid Al-Muhajirin itu akan menambah kuat argumentasi mereka. Karena mereka melihat kenyataan tersebut bahwa setelah kejadian satu minggu yang lalu kita tidak pernah muncul dan berjama’ah di masjid Al-Muhajirin lagi” penjelasanku secara runut atas interperetasiku melihat kenyataan tersebut
“Kita bisa saja terus menerus seperti ini tapi apakah itu akan menyelesaikan masalah? Tidak. Karena sama halnya kita tidak melakukan apa-apa untuk berbuat padahal kita telah sepakat untuk bersama-sama melakukan sebuah perubahan minimal kepada pemuda disini. Tapi jika sikap kita seperti ini maka tidak ada satupun perubahan yang dapat kita lakukan” tambahku
“Ana juga berfikir seperti itu akh. Peristiwa kemarin seharusnya kita jadikan sebagai langkah awal untuk melakukan perubahan dan harusnya kita sadar bahwa perjuangan itu bukan semudah membalikkan telapak tangan melainkan butuh perjuangan yang harus dikawinkan dengan kesabaran serta do’a kepada-Nya disertai dengan tawakkal Ilallah” tanggap akhi Andri membuka suara.
“Thoyyib akhi. Ana kira juga seperti itu. Bukanka Allah tidak pernah menelentarkan dan mengabaikan apa yang kita lakukan selagi itu sebuah kebenaran disisiNya? Sekarang sudah sangat jelas akh bahwa kita harus melangkah dan berjalan demi tegaknya agama Allah” tambah akhi Ismail
“Ana sangat setuju akhi. Hidup ini adalah da’wah. Da’wah untuk diri kita sendiri. Untuk keluarga. Orang lain dan untuk umat lebih umumnya” seru akhi Ardi.
“Na’am akhi. Mulai sekarang kita sholat di Masjid Al-Muhajirin apapun itu konsekuwensinya. La Takwaf Wa La Tahzan Innallaha Ma’Ana”
“Insya Allah. Semoga Allah memudahkan” jawab kami serentak. Pertemuan itu kami akhiri dengan sejuta harapan semoga kelak kami bisa membuat sebuah perubahan dan semoga kami bermanfaat bagi umat khususnya masyarakat Tarakan. Amin.
Senja berlalu. Waktu sholat yang telah ditentukan telah datang. Aku menyambut adzan tersebut dengan penuh cinta kepadaNya karena cinta kepada-Nya tidak akan mengdatangkan kekecewaan. cintaNya melebih cinta yang ada di jagad raya ini. Melebihi indahnya syair cinta seorang Khalili Gibran. Dan bahkan jika semua cinta manusia dan seluruh mahluk yang ada dikumpulkan  maka tidak sebanding dengan cintaNya. Kami mulai datang berjama’ah di masjid Al-Muhajirin meskipun sedikit rasa gelisah menghampiriku tapi seketika itu FirmaNya tergiang di telingaku “Innalaha Ma’Ana”. Sepasang mata mulai mengawasi tingkah laku kami mulai dari masuk masjid sampai keluar lagi.
Kami bagaikan seekor binatang buruan yang siap disantap oleh sang pemburu dengan semangat yang berkobar. Samar-samar kami mendengar sebagian masyarakat memperbincangkan tentang kami tapi kami anggap itu hanyalah warna yang  sedang tergores dalam kanfas hidup kami. Dan saksikanlah bahwa kami bukanlah teroris. Kami hanyalah pemuda yang mencintai saudara kami dan aplikasi cinta itu kami tuangkan dalam bentuk tindakan melakukan perubahan.
***
_Bersambung........_

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia