Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Benarkah Aku Seorang Teroris? Part 2 (Selesai)




Senja merekah dengan sinar yang terus menghujam kebelahan bumi. Kicau burung tak lagi terdengar setelah berlalu mengepakkan sayapnya mengais rezekinya yang telah tertulis di Lauh Mahfuz. Silih bergantinya siang dan malam telah mengukir catatan sejarahku. Tidak terasa sudah lebih dari satu bulan keberadaanku di kota Tarakan. Dan setiap yang kulewati telah kutuliskan dalam catatan sang musafir milikku dengan harapan aku menuai hikmah dari yang telah kulalui dengan cinta-Nya yang Dia alirkan dalam desak nafas dan aliran darah yang tidak pernah melesat dari aliran yang menjadi ketentuannya.
Sejak kejadian beberapa minggu yang lalu tentang anggapan masyarakat tentang kami yang berfikir sebagai Jaringan Teroris, maka sejak itu pulalah kami semakin memperat ukhuwah yang kami bangun atas Rahmat-Nya yang telah menyatukan kami dari karakter yang berbeda untuk saling mengisi satu sama lain. Melengkapi kekurangan dengan kelebihan kami masing-masing. Karena Allah SWT telah menciptakan semuanya dengan penuh keselarasan. Lambat laut dengan berlalunya hari demi hari, adaptasi terhadap masyarakat kembali kami bangun dengan penuh pengharapan semoga mereka melihat bahwa kami bukanlah sebuah sindrom baru diantara mereka yang bisa mengdatangkan mudharat bagi dirinya dan keluarganya.
Majelis ilmu yang kami buat semakin hari semakin mengundang tanda Tanya bagi setiap yang melihat kami. Tapi kami tidak terlalu menanggapinya dengan sangat serius. Bagi kami itu hanya warna baru yang membuat perjuangan kami lebih indah dan menarik.
Pertemuan di masjid Al-Muhajirin, ba’da isya,
Dalam pertemuan itu kami menyusun sebuah rencana untuk prioritas kami kedepan. Bukan untuk kami sendiri tapi untuk lebih meluas lagi disekeliling kami. Kami menghasilkan sebuah kesepakatan bahwa untuk lebih mempermudah perjuangan ini, kami membutuhkan personil baru sebagai regenerasi berikutnya jika kelak kami pulang ke daerah masing-masing. Pencarian baru dimulai. Qadarullah dan berkah CintaNya-lah semua urusan kami dimudahkan melalui perantara seorang ikhwah yang memang sudah lama mempunyai niat untuk membentuk sebuah perkumpulan yang didalamnya membahas tentang Agama-Nya dan mempunyai prioritas untuk membentuk karakter pemuda yang lebih ber-akhlaqul karimah.
Maka sejak itulah majelis ilmu yang kami bangun lambat laun dipenuhi oleh beberapa pemuda sekitar. Meskipun tanda Tanya besar mulai merambat dalam lubuk hati masyarakat sekitar tapi itu bukanlah suatu hal yang bisa menghentikan langkah kami. “Suatu saat nanti mereka akan mengerti sendiri. Cepat atau lambat. Hanya butuh waktu dan waktu pulalah yang akan menjawabnya” bisikku dalam hati. Dimulai dari itu semua, maka jalinan persahabatan yang kami bangun mulai menampakkan gradasi warnanya masing-masing. Warna yang akan menambah indahnya dan menjadi saksi atas perjuangan yang kami lakukan. Entah kapan semua ini akan berakhir dengan sebuah kesuksesan. Allahu’allam.
Hembusan angin selalu memberikan rasa lembut pada sentuhan dikulit kami seperti lembutnya persahabatan yang kami bina. Silih bergantinya siang dan malam kami mulai melakukan Halaqah Ilmu secara terang-terangan di dalam masjid Al-Muhajirin setiap ba’da sholat asar.
Kegiatan inilah yang menjadi tapak awal bagi kami dalam melakukan sebuah gerakan revolusi paradigm pada masyarakat. Ada banyak hal yang menjadikan kami terhambat dalam gerakan ini, dimulai dari ketidak sepahamannya kami dengan masyarakat setempat, karena dinilai tidak tahu sopan santun karena memakai masjid tanpa sepengetahuan pengurus dan imam masjid serta hal-hal lain yang termasuk dalam ranah internal. Pertemuan demi pertemuan kami lakukan untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi. Maka langkah awal yang kami sepakati dalam pertemuan tersebut adalah melayangkan surat pada pengurus masjid perihal apa yang ingin kami lakukan. Meskipun begitu banyak kendala yang kami hadapi dari mulai visi misi kami yang tidak tersistematik  tapi itu membuat kami sadar bahwa dibutuhkan sebuah kesabaran. “Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu”.
Waktu terus bergulir dan memberikan pentasan hidup yang berbeda dari yang sebelumnya. Kami sudah melayangkan surat kepada imam masjid Al-Muhajirin dengan mengantarnya sendiri ke rumah beliau dengan maksud silaturohim sekaligus memaparkan secara detail tentang rencana kami. Dalam isi surat tersebut kami sudah menuliskan secara transparansi tujuan kami tinggal kami menjelaskan kepada beliau interpretasi dari tujuan itu. Aku yang diamanahkan sebagai ketua dari halaqah inipun harus menjadi jembatan atau lebih pas jadi juru bicara setelah berhadapan dengan imam masjid. Sekitar dua sampai tiga kali kami bolak-balik ke rumah beliau tapi beliau tidak ada di rumah karena kesibukan yang begitu menuntut untuk terselesaikan. Barulah kunjungan ketiga kalinya beliau ada di rumah.
Setelah dipersilahkan masuk, kami tidak langsung untuk mengatakan tujuan kami melainkan sedikit berbasa-basi dengan beliau dengan maksud lebih akrab lagi dengan beliau.
“Assalamu’alaikum” salam kami serentak ketika dipersilahkan masuk
“Wa’alaikum salam. Silahkan masuk” jawab beliau dengan senyum ramah diwajahnya
“Bagaimana kabar ustad?”
Alhamdulillah baik”. Sekitar sepuluh menit kami berbincang-bincang dengan menanyakan keadaan dan kesibukan beliau serta tentang lingkungan sekitar. Maka tibalah aku sebagai ketua halaqah untuk menyampaikan tujuan kami. Semua diam hanya desak nafas yang terdengar. Aku sedikit gugup, terperangkap dalam keadaan dimana aku harus fasih memaparkan inti dan tujuan dari kegiatan kami, karena itu bisa memberikan efek positif bagi halaqah kami jika aku memaparkannya dengan fasih. Tujuan dari halaqah kami sebenarnya telah tertuang dalam surat izin pemakaian masjid untuk kegiatan kami yang kami layangkan ke imam masjid selaku penanggung jawab masjid Al-Muhajirin.
“Jadi tujuan dari kegiatan yang akan kami lakukan ini tidak ada tendensi lain kecuali mencari ke-Ridhoan Allah semata dan rasa cinta kami terhadap saudara se-iman kami disini. Selain itu halaqah yang kami ingin lakukan adalah tak lain sebagai wadah dalam mengembangkan wawasan agama islam yang luas serta berwawasan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengembangan potensi dan sumber daya manusia, keakraban sesame muslim dalam ukhuwah, dan pengamalan agama dalam kehidupan sehari-hari yang berakhlaqul kharim. Maka dari itu kami berangkat dari dasar kepedulian kepada sesame ingin membentuk halaqah dengan tujuan tersebut. Hal ini juga akan menjadikan benteng pertahanan untuk menghadapi kemajuan teknologi dan perkembangan zaman saat ini” jelasku panjang lebar kepada ustad Syahibuddin Amir selaku ketua Ta’mir masjid Al- Muhajirin
“Dan insya Allah kegiatan ini akan diadakan setiap pekan dan waktu yang akan kami musyawarahkan bersama dengan anggota Halaqah lainnya. Adapun agenda halaqah kami terdiri dari Tilawah Al-Qur’an, Taujih, Tatqif ( Sirah Nabawiyah), Talaqi Mawad (Materi), Qadayah Rawa’I dan Solusi, pembagian Tugas dan Musyawarah agenda, dan Penutup (Do’a)” kembali aku memaparkan sambil menyerahkan seluruh planning agenda halaqah kami yang sudah di print out oleh Akh Andri. Aku merasa was-was dengan keputusan yang beliau akan berikan kepada kami. Begitupun dengan teman-temanku yang lain meskipun mereka tidak menyatakan langsung padaku tapi guratan pada wajah mereka terpanpang jelas kekhawatiran itu. Aku berdzikir didalam hati dengan mengikut sertakan do’aku kepada Dzat Pengabul Do’a. aku yakin Dia akan mempermudah jalan kami jika itulah yang terbaik. Keyakinan itu harus tumbuh dalam hati kami bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik. Memberi dengan cara luar biasa. Dengan penuh cinta jadi sudah semestinya kita harus mencintaiNya melebihi dari apapun dan siapapun.
وَمِنَٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادٗا يُحِبُّونَهُمۡ كَحُبِّ ٱللَّهِۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَشَدُّ حُبّٗا لِّلَّهِۗ وَلَوۡ يَرَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓاْ إِذۡ يَرَوۡنَ ٱلۡعَذَابَ أَنَّ ٱلۡقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعٗا وَأَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُٱلۡعَذَابِ ١٦٥
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)”

Itulah yang Allah firmankan dalam surah Al-baqarah ayat 165. Do you know why we love Allah? Silahkan temukan jawaban dengan mentafakkuri ciptaan-Nya dan segala nikmatNya.
“Kegiatan ini sangat bagus. Saya sangat mendukung sekali, tapi perlu diketahui sekarang ini kita dihadapan pada realita tentang terorisme. Masyarakat akan cepat mencurigai sesuatu yang kita kerja yang bagi mereka itu adalah pemandangan yang baru. Jadi butuh semacam pemikiran yang matang dan sosialisasi yang relevan dengan apa yang mereka pahami. Jangan sampai apa yang kita harapkan terjadi, misalnya saja menganggap kalian adalah jaringan teroris yang melakukan perekrutan atau salah satu kelompok yang menyebarkan ajaran yang bertentagan dengan apa yang mereka pahami” penjelasan Ta’mir masjid mebuatku sedikit pesimis aku belum menangkap celah dari kata-katanya yang akan mengizinkan kegiatan kami ini bias dilakukan. Memang tidak mudah melakukan sebuah perubahan, tidak seperti membalikkan telapak tangan butuh perjuangan yang maksimal dan perjuangan itu bisa menguras emosi, tenaga, waktu dan pikiran tinggal bagaimana kita mengatur semuanya hingga bias mencapai puncak kesuksesan. Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam juga pernah mengalami hal serupa dimana ketika ajaran yang beliau ajarkan belum mampu diterima oleh bangsa Arab pada saat itu.
Beliau ajak bangsa Arab untuk menganut dakwah Islam, ternyata bagi mereka dirasakan lebih berat dari mengangkat gunung. Mereka diajak terang-terangan meninggalkan penyembahan berhala, meninggalkan kebiasaan liar, kembali tunduk kepada suara keadilan dan peradaban, menghiasi diri dengan keluhuran akhlak dan keutamaan budi pekerti. Dakwahnya itu berlanjut terus di Mekah selama 13 tahun. Pada mulanya dilakukan secara diam-diam dan tersembunyi, tetapi pada tahun ketiga dari Risalahnya, dakwah dilakukan dengan terang-terangan. Diserukan di tempat pertemuan kaumnya, di tempat peribadatannya, disampaikan dengan suara dan nasihat yang baik, dengan adil dan keterangan yang meyakinkan, dengan peringatan yang menakutkan dan berita gembira yang menimbulkan harapan. Kalamullah disampaikan dengat amanat, tidak pernah meremehkan seorang jalanan pun. Baik bangsawan maupun awam, kaum lelaki maupun wanita, orang merdeka maupun budak, semuanya dipersaudarakan dalam Islam dakwanya itu terasa berat bagi sebagian orang yang masih dikuasai oleh hawa nafsunya. Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin menghadapi ancaman dan penghinaan yang tiada tertanggungkan lagi. Namun Nabiyullah tidak patah semangat dan menghentikan dakwahnya melainkan melanjutkannya dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Ia tidak pernah membalas penghinaan dengan penghinaan, kezhaliman dengan kezhaliman melainkan dengan kelembutan hati dan akhlaknya. Allah sendiri memberitahukan kepada kita bagaimana Akhlak beliau yang ia kalamkan dalam Al-quran;
لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١
 Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (Kedatangan) hari kiamat dan banyak mengingat Allah.”[QS. Al-Ahzab: 21], dan di ayat yang lain juga diterangkan;
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ ٤
 Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur”. [QS. Al-Qalam: 4].
“Mungkin saya tidak bisa banyak membantu, tapi untuk membentuk halaqah seperti ini mohon maaf saya tidak bisa membentuknya itu bukan wewenang saya. Untuk masalah pemakain Masjid Al- Muhajirin insya Allah saya izinkan dan untuk sosialisasinya kepada masyarakat biar saya yang urus semua”
“Jadi maksudnya ini, ustadz kami harus membuat surat kembali perihal Pemakaian Masjid Al- Muhajirin?” tanyaku dengan badan sedikit membungkuk
“Iya, setelah itu aku akan tanda tangani sebagai bukti bahwa ada hak untuk pemakaian masjid tersebut”
“Syukran ustadz. Secepatnya kami akan membawa kembali surat kepada ustad, dan Insya Allah saya mewakili teman-teman banyak mengucapkan terima kasih dan kalau memungkinkan dan ustad punya waktu kami semua meminta dengan sangat sesekali ustad bisa mengisi halaqah kami” pintaku
“Insya Allah. Dan kalau kalian perlu kitab silahkan datang ke rumah mencari kitab yang mungkin diperlukan”
“Insya Allah ustadz. Syukran wa jazakumullahu khairan katsiran”
Hari berikut kami melakukan kembali musyawarah. Menyepakati dan membentuk structural dari halaqah kami. Ba’da sholat Asar kami melakukan musyawarah di dalam masjid Al- Muhajirin. Sehingga terbentuklah pengurus halaqah yang kami bentuk. Dinyatakan terbentuk pada tanggal 17 Agustus 2011 hasil dari kesepakatan teman-teman yang dilakukan dengan cara musyawarah. Aku diamanahkan sebagai ketua Halaqah dan akh Andri jadi sekertarisnya. Tak lupa kami memberikan nama dari halaqah kami ini. Teman-teman menyarankan beberapa nama yang menurutnya pas dan tepat untuk halaqah kami dan akhirnya kami memutuskan memberi nama IKATAN PEMUDA KAHFI. Menurut kami itu adalah nama yang terbaik dari sekian nama. Ashabul Kahfi adalah pemuda-pemuda pilihan Allah. Entah kenapa sesaat kami larut dalam lamunan kami masing-masing. Aku sendiri larut dalam fikiranku yang melambung jauh menelusuri labirin masa lalu pada kehidupan para Ashabul Kahfi.
Ashabul kahfi adalah para pemuda yang beriman kepada Allah yang berada di dalam negeri syirik, mereka keluar dari negeri itu guna menyelamatkan aqidah lalu Allah mudahkan untuk mereka hingga menjumpai sebuah gua, mereka pun masuk ke dalamnya dan tertidur di dalamnya sampai waktu yang sangat panjang sekira tiga ratus sembilan tahun. Menurut riwayat, tempat tersebut bernama Sahab di Amman. Allah Subhanallah Taala menyebut akan kisah Ashabul Kahfi pada ayat 9-26 di dalam Surah Al-Kahf (Surah ke-18). Mereka ditidurkan selama 309 tahun selepas pemuda pemuda yang digelar Penghuni Gua itu lari daripada Raja Romawi yang zalim dan menyombongkan diri. Pada ketika itu kerajaan Romawi membawahi Liga Decapolis yang berpusat di Philadelphia (kini dikenali sebagai Amman) di mana Raja Daqyanus atau Decius memerintah pada saat itu.
Daqyanus menyembah  berhala dan memusuhi agama Nasrani (Nabi Isa). Jumlah ashabul kahfi tersebut tidaklah jelas. Menurut sebagian riwayat, Ashabul Kahfi berjumlah 7 orang dengan seekor anjing. Mereka melarikan diri sampai ke sebuah gua yang mendapatkan cahaya matahari. Hal ini disebutkan pada ayat ke-17 Surah Al-Kahf. Gua ini juga dikenali sebagai Kahf Ar-Raqim. Istilah  Al-Raqim disebut  di dalam Al-Quran pada ayat  ke-9 Surah Al-Kahf dan ahli tafsir menyatakan bahawa Al-Raqim ialah nama anjing pemuda pemuda tersebut dan ada sebahagian yang lain mentafsirkan sebagai batu bersurat.  
Ajaibnya, mereka tertidur tanpa membutuhkan makan dan minum. Allah bolak-balikkan tubuh mereka sehingga tidaklah membeku darah pada salah satu bagian tubuhnya. Ini semua termasuk hikmah Allah. Allah berfirman,
وَتَحۡسَبُهُمۡ أَيۡقَاظٗا وَهُمۡ رُقُودٞۚ وَنُقَلِّبُهُمۡ ذَاتَ ٱلۡيَمِينِ وَذَاتَ ٱلشِّمَالِۖ وَكَلۡبُهُم بَٰسِطٞ ذِرَاعَيۡهِ بِٱلۡوَصِيدِۚ لَوِ ٱطَّلَعۡتَ عَلَيۡهِمۡ لَوَلَّيۡتَ مِنۡهُمۡ فِرَارٗا وَلَمُلِئۡتَ مِنۡهُمۡ رُعۡبٗا ١٨
“Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.” [QS. Al Kahfi: 18].
Lamunanku terhenti disaat samar-samar terdengar keributan diluar masjid. Keributan yang dipicut oleh bocah-bocah yang tengah bermain petak-umpek.
“Akh bagaimana menurut antum kalau kita bahas dulu siapa itu Ashabul Kahfi?” saran akh Irwan. Kami menganggukkan kepala tanda setuju. Bagi kami mengetahui seluk beluk dari sejarah perjalanan Ashabul Kahfi merupakan kewajiban karena bisa jadi berdampak pada diri kami dan halaqah kami jika kami tidak mengetahuinya padahal kami sudah mengatas namakan halaqah kami dengan Ikatan Ashabul Kahfi. Akhi Irwan yang pernah studi di STIBA (Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab) di kota Angin Mammiri lebih paham daripada kami yang kebanyakan dari sekolah umum. Akhi Irwan mulai membawa kami pada sejarah masa lalu. Menelusuri lorong labirin perjuagan pemuda-pemuda pilihan Allah yang kokoh memegang keyakinan dan aqidahnya.
“Ashabul Kahfi adalah nama sekelompok orang beriman yang hidup pada masa Raja Diqyanus di Romawi, beberapa ratus tahun sebelum diutusnya nabi Isa as. Mereka hidup ditengah masyarakat penyembah berhala dengan seorang raja yang dzalim. Ketika sang raja mengetahui ada sekelompok orang yang tidak menyembah berhala, maka sang raja marah lalu memanggil mereka dan memerintahkan mereka untuk mengikuti kepercayaan sang raja. Tapi Ashabul Kahfi menolak dan lari, dikejarlah mereka untuk dibunuh. Ketika mereka lari dari kejaran pasukan raja, sampailah mereka di mulut sebuah gua yang kemudian dipakai tempat persembunyian.
Dengan izin Allah mereka kemudian ditidurkan selama 309 tahun di dalam gua, dan dibangkitkan kembali ketika masyarakat dan raja mereka sudah berganti menjadi masyarakat dan raja yang beriman kepada Allah SWT
“Demikianlah hikayat tentang para penghuni gua (Ashhabul Kahfi), kutipan dari kitab Qishasul Anbiya yang tercantum dalam kitab Fadha 'ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah, tulisan As Sayyid Murtadha Al Huseiniy Al Faruz Aabaad, dalam menunjukkan banyaknya ilmu pengetahuan yang diperoleh Imam Ali bin Abi Thalib dari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam” akh Irwan mengakhiri ceritanya.
Musyawarah kami akhiri dengan azzam yang kuat untuk tetap istiqomah dijalanNya. Insya Allah sehari setelah pertemuan itu kami kembali berkumpul di masjid ba’da Asar untuk bersama-sama ke rumah ustad Shahibuddin ketua Ta’mir masjid. Setiba di rumahnya kami langsung menyerahkan surat yang sudah kami edit dan print out
“Jadi siapa yang dari kalian bernama Muh. Ramli?” Tanya beliau sambil memandang kami semua
“Aku ustadz” sambil membungkukkan badan dan tersenyum
“Jadi antum ketuanya? Dari mana?” Tanya ustad setelah mengetahui dirikulah yang menjadi ketua halaqah tersebut. Aku langsung memperkenalkan diri dan memperkenalkan teman-teman yang lain
“Aku mahasiswa dari STAIM (Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah) Sinjai ustadz. Kebutalan sekarang lagi silaturohim ke rumah tante karena sekarang libur kuliah. Saya fakultas Tarbiyah jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) semester tiga. Sedangkan yang disamping kanan saya yang memakai baju putih akhi Andri mahasiswa dari UNHAS Makassar jurusan pertambangan semester lima. Akhi andri punya keluarga disini dan di kota Bima. Juga lagi liburan semester. Yang disamping kiri saya akhi Irwan asli orang Tarakan pernah kuliah di STIBA Makassar. Disebelahnya ada akh Abdullah Yaqub mungkin ustad sudah tahu dan juga ada akhi Juanda. Sementara yang tidak hadir ada akhi Ismail remaja masjid Al- Muhajirin sekarang kelas 3 SMK. Akhi Ardi mahasiswa Borneo, akhi Andika siswa SMK kelas 3, akhi Norman, dan akhi Anto” paparku panjang lebar kepada beliau
“Kalian berduakan tidak tinggal disini jadi yang mengurus halaqah ini setelah kalian kembali ke kota masing-masing siapa?” Tanyanya penuh antisipasi
“Insya Allah untuk masalah itu kami sudah antisipasi ustadz. Setelah kepergian kami sudah ada regenerasi yang akan mengurus dan melanjutkan halaqah tersebut”
Senja kembali beradu bergantian tempat dengan jubah malam yang siap terbentang menyelimuti seantero langit kota Tarakan. Bagiku senja selalu mempunyai keindahan setiap ia menghampiri penduduk bumi, selalu ada yang baru dan selalu ada semangat yang jauh lebih baik dari hari kemarin. Sejak pertemuan kami dengan Ustad Ta’mir Masjid Al-Muhajirin, maka sejak itulah Ikatan Pemuda Kahfi mengepakkan sayap-sayapnya menuju perubahan. Meskipun kami tahu perjalanan masih panjang beribu batu tapi selama masih ada Iman dan Taqwa kepada Allah maka semuanya akan menjadi lebih mudah dan lebih indah. Selalu ada kehangatan ukhuwah islamiyah yang menyelimuti kami di saat dinginya cobaan yang menghampiri bak dinginya musim dingin dinegeri sakura.
***
_Selesai_

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia