Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Hidayah Itu Dijemput Bukan Ditunggu!
Siskaee
Mei 12, 2017
Kisah
manusia siapa yang bisa menebak? Tak ada satupun makhluk tanpa kehendak Allah
yang mampu menyingkapnya. Ia terselubung dan terhijab oleh rahasia dari-Nya.
Maka pantaskah kita untuk berleha-leha, sedangkan kisah kita tak menentu? Mau
kemana dan berakhir dalam bentuk bagaimana?
Cukuplah
Allah sebagai sandaran dan sebagai tempat untuk meminta kemudahan dalam
menjalani hidup yang penuh dengan misteri. Cukuplah Allah menjadi sebaik-baik
pembuat rencana manusia. Cukuplah Allah dan hanya Allah yang kita jadikan
sebagai sebaik-baik meminta untuk diistiqomahkan dalam jalan-Nya. Amin..
Menyelami
setiap kisah yang kita lalu akan menyingkap uraian hikmah yang sangat luar
biasa. Ada banyak pelajaran dari kisah perjalanan kita. Ada banyak orang-orang
luar biasa yang kita temui dan menjadi guru kehidupan kita. Tak ada yang
sia-sia dari segala labirin perjalanan yang Allah gariskan untuk kita. Tapi
yang menjadi pertanyaan, mampukah kita melihat hikmah itu? Mampukah kita untuk
menjadikan setiap kejadian yang kita alami menjadi guru kehidupan? Maka mari
tanyakah pada hati kita dan kita bertafakkur.
Perjalanan
untuk menemui titik hidayah selalu banyak cara dari-Nya. Penemuan itu
menjadikan kita lebih mengerti subtansial dan eksistensi keberadaan kita di
permukaan bumi ini. Maka seharusnya kita memporsikan diri kita sebagai seorang
Allah karuniakan dan berikan sebuah amanah.
وَإِذۡ
قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ
قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ
نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا
تَعۡلَمُونَ ٣٠
“Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".[QS.
Al-Baqarah: 30].
Pemberian
amanah menjadi seorang khalifah bukan
merupakan untuk menjadikan manusia lebih bisa berbangga diri dengan gelar
tersebut dari makhluk Allah yang lain. Melainkan menjadikan bahan ujian bagi
manusia untuk mengetahui mana yang beriman kepada Allah dan mana yang kufur
kepada-Nya.
Selain
untuk menjadi seorang khalifah di bumi Allah, manusia kembali ditegaskan fungsi
pokok penciptaannya, yakni termaktum pula dalam surat cinta yang berasal dari
Kalam-Nya yang mulia.
وَمَا
خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia
kecuali agar mereka beribdah kepada-Ku,” [QS. Adz-Dzariyat: 56]. Agar
manusia mampu mengemban tugas kekhilafaan ini yakni tugas kepemimpinan dalam
kapasitasnya sebagai wujud ‘ubudiyyah’
yang sempurna kepada Allah Rabb semesta alam, maka Allah membekali manusia
sejak awal penciptaannya dengan memberinya faktor-faktor yang memungkinkan
manusia bisa melakukan tugas tersebut, yaitu berupa komponen; fisik, otak dan
roh, atau materi, jiwa dan makna.
Dalam
firman-Nya, telah dijelaskan;
ٱلَّذِيٓ
أَحۡسَنَ كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقَهُۥۖ وَبَدَأَ خَلۡقَ ٱلۡإِنسَٰنِ مِن طِينٖ ٧
ثُمَّ
جَعَلَ نَسۡلَهُۥ مِن سُلَٰلَةٖ مِّن مَّآءٖ مَّهِينٖ ٨
ثُمَّ
سَوَّىٰهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِۦۖ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ
وَٱلۡأَفِۡٔدَةَۚ قَلِيلٗا مَّا تَشۡكُرُونَ ٩
“Dzat yang menjadikan sesuatu dengan
sebaik-baiknya, maka Dia memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian
menjadikan keturunannya, terbuat dari setetes air yang hina (mani), lalu Dia
menyempurnakan dan meniupkan ke dalam tubuhnya roh ciptaan-Nya, dan Dia juga membuat bagi kamu pendengaran,
penglihatan dan hati. Namun sedikit sekali di antara kamu sekalian yang
bersyukur.” [QS. As-Sajadah: 7-9].
Kemudian
jiwa atau hati itu dibekali oleh Allah dengan seperangkat
kecenderungan-kecenderungan (ghorizah) menyerupai garis-garis halus yang saling
berhadapan dan berpasangan, setiap dua kecenderungan yang berdekatan dalam
jiwa, pada suatu saat keduanya bisa saling berlawanan, sebagaimana halnya; rasa
takut dan berharap, suka dan benci, melihat dalam kenyataan dan menghayal,
kekuatan inderawi dan non inderawi, yang rill dan yang abstrak, kepercayaan
yang dapat dicerna oleh inderawi dan yang tak dapat dicerna oleh inderawi.
Cinta kepada rela berbuat, baik yang negatif maupun yang positif, tinggi hati
dan rendah hati, sikap keras dan lembut.
Semua
kecenderungan tersebut yang saling berpasangan ini, memegang peran penting
dalam hal pembentukan eksistensi manusia. Mereka itu bagaikan pasak-pasak yang
tersebar, namun saling berpasangan untuk membuat dan memperkuat suatu bentuk
dengan ikatan-ikatannya yang saling mengokohkan satu sama lain dari semua segi.
Walaupun demikian semuanya mempunyai kelonggaran untuk dijaga dan diperbaiki.
[ ]
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...