Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Benarkah Cinta Kita Pada Rasulullah?



Muhammad memiliki kemampuan fitrati yang sangat luhur, sangat rupawan, cerdas dan berpandangan jauh ke depan, sangat disegani dan pecinta serta pelindung orang-orang miskin. Dalam menghadapi musuh selalu berada di garis depan dengan gagah berani. Yang sangat menonjol adalah beliau sangat menjunjung tinggi, sangat menghormati dan mencintai Tuhannya. Membenci orang-orang pendusta, pelaku maksiat, orang-orang pelaku ghibah dan pelaku sumpah dusta, pemboros, serakah dan sangat keras menentang pelanggaran hukum dan pemberi kesaksian dusta. Sangat tegas mengajar kejujuran, dermawan, kasih sayang, rasa syukur, menghormati orangtua dan para leluhur, dan sangat sibuk dalam memuji keagungan Tuhan. [George Sale. To the Reader. In: The Koran: Commonly called the Alkoran of Muhammad].
George Sale, seorang penulis yang menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Inggris telah menulis di bukunya ‘The Koran’ di bagian ‘The Reader’. Bagian itu bukan dalam rangka membenarkan Islam. Tapi ia termasuk dalam bagian orang-orang penentang Islam, namun takjub pada Muhammad bin Abdullah; Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam.
Begitulah Rasulullah. Seorang utusan Allah yang telah meninggalkan kita berabad-abad yang lalu. Kita sangat mengenalnya meski tak pernah sekalipun menatap wajahnya. Mengetahui tutur katanya yang lembut meski tak sekalipun kita bisa mendengarnya secara langsung. Namun kita menyakininya. Membenarkannya. Dia manusia terbaik yang Allah utus sebagai penyempurna akhlak bagi seluruh umat manusia. Bukan terkhusus bagi umat muslim saja. Tapi secara komprehensif. Sebagaimana dalam sabdanya yang benar; “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” [HR. Al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubra’ No. 20782, Al-Bazzar dalam Musnad-nya No. 8949].
Kesempurnaan Akhlak manusia tergambar dari pribadi Rasulullah yang tidak satupun bisa mengelak dan menolaknya. Bagaimanapun bencinya orang-orang yang anti Islam pasti mereka tidak akan mampu mengingkari keluhuran akhlak Rasulullah. Bisa kita lihat, bagaimana orang-orang kafir Quraisy yang sangat menentang da’wah dan risalah Rasulullah sampai-sampai bersepakat untuk membunuh beliau, tapi mereka tidak pernah mengingkari bahwa dia Rasulullah adalah Al-Amin (Orang yang dipercaya), orang yang jujur, berbudi pekerti yang agung. Berbeda dengan orang-orang Quraisy pada umumnya.
Dan benar, bahwasanya Muhammad bin Abdullah adalah manusia yang memiliki budi pekerti yang agung sebagaimana dalam penegasan Allah dalam firman-Nya; “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” [QS. Al-Qalam (68): 4]. Penegasan Allah adalah penegasan mutlak yang membenarkan. Dan harus menjadi bahan refrensi renungan untuk kita untuk memahami penjelasan Allah tentang Rasulullah sehingga itu bisa menjadikan kita terbiasa atau membuat kebiasaan yang membentuk karakter yang sama seperti Rasulullah. Meskipun kita sadar bahwa tidak akan pernah bisa seperti Rasulullah, tapi minimal kita selalu berusaha untuk meneladani akhlaknya.
Kita adalah umat akhir zaman; umat Rasulullah yang memiliki banyak keistimewaan, maka sudah menjadi kebanggaan tersendiri untuk kita terlahir menjadi bagian dari umat terbaik dengan nilai-nilai syariat yang beliau da’wahkan dan perjuangkan untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya sebagai seorang hamba dari Dzat Yang Maha Suci dan Sempurna. Di samping itu, Rasulullah adalah manusia yang paling mencintai umatnya. Sangat merindukan untuk bertemu sampai-sampai beliau menangis ingin bertemu dengan kita. Beliau tidak menganggap kita sebagai teman akrab atau sahabatnya, tapi beliau menjadikan kita sebagai saudara.
“Ketika itu suasana di majelis itu hening sejenak. Semua yang hadir diam membatu. Mereka seperti sedang memikirkan sesuatu. Lebih-lebih lagi Sayyidina Abu Bakar. Itulah pertama kali dia mendengar orang yang sangat dikasihi melafadzkan pengakuan sedemikian itu; “Rindu saudara-saudaraku umat akhir zaman.” Seulas senyuman yang semula terukir di bibirnya pun luruh. Wajahnya yang tenang berubah rona. “Apakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?” sayyidina Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang menyelimuti pikiran. “Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku (ikhwan),” suara Rasulullah bernada rendah. “Kami juga ikhwanmu, wahai Rasulullah,” kata seorang sahabat yang lain pula. Rasulullah menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian baginda bersuara, “Saudaraku ialah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku sebagai rasul Allah dan mereka sangat mencintaiku. Malahan kecintaan mereka kepadaku melebihi cinta mereka kepada anak-anak dan orangtua mereka.”
Kisah ini, merupakan pembelajaran bagi kita semua, bahwa betapa Rasulullah sangat mencintai dan mengharapkan perjumpaan dengan kita. Lantas bagaimana dengan diri kita masing-masing. Apakah kita memiliki rasa yang sama? Apakah kita juga mencintai dan merindui Rasulullah? Atau hal mendasar sekali yang harus kita tanyakan adalah sudah benarkah cinta kita pada Rasulullah? Atau malah sebaliknya? Kita mengaku mencintai Rasulullah tetapi tidak mengikutinya serta menerapkan dan mengada-adakan suatu ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh baginda Rasulullah. Maka mari kita rehat sejenak. Melihat ke dalam hati kita. Mengintropeksi serta mengevaluasi kecintaan kita padanya. Lalu temukan dimana letak pembuktian cinta yang benar itu pada Rasulullah. Lantas bagaimana mengetahui benar tidaknya cinta kita pada beliau?
Pertama, Ikhlasunniyah.
Mengikhlaskan niat mencintai Rasulullah. Tidak hanya sebatas pengucapan secara lisan semata melainkan harus terinterpretasi melalui perbuatan. Amalan. Mencintainya melebih dari siapapun, bahkan termasuk keluarga, kerabat dan diri sendiri. Sebagaimana yang kita tahu dibalik kisah sahabat Umar radhiyallahu ‘anhu ketika datang kepada Rasulullah menyampaikan cintanya. Bahwasanya Umar mencintai Rasulullah melebihi siapapun kecuali dirinya. Apa kata Rasulullah; la ya Umar; tidak ya Umar. Tidak benar cintamu jika engkau masih mencintai dirimu sendiri ketimbang aku. Maka ketika itu sahabat Umar pun kembali menyeru dan berkata; ya Rasulullah aku mencintaimu melebihi siapapun termasuk diriku sendiri. Maka Rasulullah pun menjawab; Al’an ya Umar; sekarang ya Umar.
Ini menggambarkan bahwa keikhlasan kita mencintai Rasulullah harus terpatri pada kecintaan dengan menjadikan Rasulullah yang pertama setelah Allah Ta’ala. Sekalipun itu orangtua, anak istri dan kerabat kita. Semua harus melebihinya. Jika niat kita ikhlas mencintainya maka keikhlasan niat kita, semakin menjadikan kita taat serta membenarkan risalah kenabian. Ajaran yang telah diperjuangkan oleh Rasulullah. Membenarkan melalui perbuatan dengan senantiasa berjuang, berusaha maksimal dan bekerja keras untuk mengamalkan sunnahnya.
Bahkan dalam Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa salah satu indikator mencintai Allah adalah dengan mengikuti Rasulullah; “Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Ali ‘Imran (3): 31]. Mengikuti Rasulullah dengan mengikhlaskan niat kita. Sebab konsekuwensi mengikuti Rasulullah tidak hanya sebatas secara lisan (aku mencintaimu Rasulullah. Aku mengikutimu ya Rasulullah) tanpa ada niat yang ikhlas. Maka yang benar adalah dengan mengsinergikan antara ucapan kita dengan keikhlasan niat yang terwujud dalam amalan nyata.
Kedua, Ittibah kepada Rasulullah
Sebaik-baik contoh dan teladan bagi umat manusia adalah Rasulullah. Sampai hari ini, tidak ada satupun manusia yang mampu sepertinya. Sehingga ungkapan orang-orang Barat yang mayoritas beragama Nasrani dan Yahudi tidak bisa mengelak bahwa baginda adalah manusia terbaik sepanjang sejarah dan peradaban. Mereka mengungkapkannya dalam banyak tafsir namun memiliki subtansial yang sama, yakni Muhammad is people the best in the world. Maka sebenar-benarnya cinta kita pada Rasulullah, adalah dengan cara menjadikan beliau panutan. Teladan. Contoh dan figur yang mempengaruhi kehidupan serta pemikiran kita semua. Pun di dalam Al-Qur’an Allah mengabadikan pengakuan-Nya kepada baginda Rasulullah shallallahu’alahi wasallam. “Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [QS. Al-Ahzab (33): 21].
Pengakuan Allah Sang Penguasa jagad raya adalah mutlak. Sehingga tidak ada yang mampu menolak kebenaran tersebut. Sedangkan dalam ayat yang lain, kembali Allah menegaskan tentang akhlak Rasulullah yang mengharuskan kita untuk senantiasa ittibah. Mengikutinya dalam segala hal sebagai bentuk cinta nyata kita. “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad).....” [QS. An-Nisa (4): 59]. Sudah sepantasnyalah salah satu indikasi kebenaran cinta kita pada Rasulullah adalah dengan cara mengikutinya dalam semua linih kehidupan. Sudah banyak bukti yang menunjukkan tentang keberhasilan yang diraih oleh Rasulullah, baik dalam hal keduniawian maupun dalam hal akhirat. Dalam hal membangun keluarga, sosial, politik, pemerintahan, pendidikan dan seluruh aspek kehidupan telah tercatat bahwa Rasulullah mampu menjadi yang terbaik.
Ittibah terhadap Rasulullah, berarti tunduk dan taat terhadap ketetapan yang telah diaturkan olehnya, sebab apa yang telah ditetapkannya bukan menurut hawa nafsunya melainkan wahyu yang bersumber dari Allah Ta’ala. Ittibah, berarti harus mengetahui konsekuwensinya. Harus siap dengan segala ketentuan yang mengikat. Serta harus ‘mendengar’ dan ‘taat’ pada Rasulullah. Inti dari semua pengakuan kita tentang ittibah kepada Rasulullah, dengan mengamalkan dan menegakkan apa yang menjadi peninggalan terakhirnya untuk dijadikan sebagai rambu-rambu dalam menjalani kehidupan yang fana ini. “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara (pusaka). Kalian tidak akan tersesat selama-lamanya selagi kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul.” [HR. Malik, Muslim dan Ash-hab al-Sunan].
Ketiga, Prioritaskan gayatu dakwah
“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” [HR. Bukhari].
Kecintaan kita pada Rasulullah adalah dengan menjadi penerusnya. Mengambil peran dalam da’wah sehingga kita senantiasa mengingat perjuangan yang telah Rasulullah lakukan. Gayatu dakwah (Tujuan Dakwah), harus menjadi prioritas kita. Harus menjadi tujuan utama kita. Mengambil peran dakwah bukan hanya sebatas untuk mengugurkan risalah yang Rasulullah embankan kepada kita. Atau dengan niatan untuk mencari ketenaran dan material dunia semata. Tapi bagaimana kita senantiasa menjadikan prioritas tujuan dakwah itu menuntut kita untuk benar-benar bekerja keras, menguras tenaga dan fikiran kita serta menjadikan setiap kita insan-insan yang rela berkorban harta dan jiwa. Dengan kata lain berjihad di jalan Allah.
“(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.” [QS. As-Saff (61): 11].
Prioritaskan gayatu dakwah  merupakan indikasi kesungguhan kita mencintai Rasulullah, sebab tidak ada tendensi yang tersembunyi di balik peran dan pergerakan kita. Hanyalah keikhlasan dan kesungguhan diri untuk menjadi bagian dari umat perindu surga. Bagian dari golongan yang disebutkan oleh Rasulullah bahwa setiap umatnya akan masuk surga, kecuali yang tidak mau.
Tujuan dakwah adalah hakikat dari perjuangan kita. Yakni bersama-sama dalam ketaatan. Bersama-sama dalam perjuangan di kiprah jihad. Bersama-sama untuk memasuki surga-Nya. Maka memprioritaskan tujuan dakwah adalah keharusan yang menuntut kita untuk bersungguh-sungguh dan  berusaha maksimal sebagai wujud cinta yang benar pada manusia agung yang kita rindukan; Rasulullah shallallahu’alahi wasallam.
Menguraikan kebenaran cinta kita pada Rasulullah, tidak hanya terlepas pada tiga poin tersebut. Masih sangat banyak indikator yang menjadi poin penting dalam mengurai dan mengetahui kebenaran cinta kita pada Rasulullah. Namun yang paling terpenting adalah, bagaimana kita menjadi agen-agen muslim yang baik. Penerus risalah Rasulullah hingga setiap kita memerankan dan mendakwahkan dengan benar bahwa Islam itu adalah Rahmatan lil’alamin. Rahmat untuk seluruh alam. Kita menjadi umat yang dibanggakan oleh Rasulullah dengan kualitas dan kuantititas. Menjadi sebaik-baik umat yang senantiasa memberi manfaat yang sebanyak mungkin kepada sesama-sama. Tanpa ada dikota dan sekte yang kita buat hanya karena persoalan sosial atau individu semata sehingga menciderai umat dan agama Islam.
[ ]

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia