Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Benarkah Cinta Kita Pada Rasulullah?
Siskaee
Juni 03, 2017
“Muhammad
memiliki kemampuan fitrati yang sangat luhur, sangat rupawan, cerdas dan
berpandangan jauh ke depan, sangat disegani dan pecinta serta pelindung
orang-orang miskin. Dalam menghadapi musuh selalu berada di garis depan dengan
gagah berani. Yang sangat menonjol adalah beliau sangat menjunjung tinggi,
sangat menghormati dan mencintai Tuhannya. Membenci orang-orang pendusta,
pelaku maksiat, orang-orang pelaku ghibah dan pelaku sumpah dusta, pemboros,
serakah dan sangat keras menentang pelanggaran hukum dan pemberi kesaksian
dusta. Sangat tegas mengajar kejujuran, dermawan, kasih sayang, rasa syukur,
menghormati orangtua dan para leluhur, dan sangat sibuk dalam memuji keagungan
Tuhan.
[George Sale. To the Reader. In: The
Koran: Commonly called the Alkoran of Muhammad].
George
Sale, seorang penulis yang menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Inggris
telah menulis di bukunya ‘The Koran’
di bagian ‘The Reader’. Bagian itu
bukan dalam rangka membenarkan Islam. Tapi ia termasuk dalam bagian orang-orang
penentang Islam, namun takjub pada Muhammad bin Abdullah; Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam.
Begitulah
Rasulullah. Seorang utusan Allah yang telah meninggalkan kita berabad-abad yang
lalu. Kita sangat mengenalnya meski tak pernah sekalipun menatap wajahnya.
Mengetahui tutur katanya yang lembut meski tak sekalipun kita bisa mendengarnya
secara langsung. Namun kita menyakininya. Membenarkannya. Dia manusia terbaik
yang Allah utus sebagai penyempurna akhlak bagi seluruh umat manusia. Bukan
terkhusus bagi umat muslim saja. Tapi secara komprehensif. Sebagaimana dalam
sabdanya yang benar; “Sesungguhnya aku
diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” [HR. Al-Bayhaqi dalam
al-Sunan al-Kubra’ No. 20782, Al-Bazzar dalam Musnad-nya No. 8949].
Kesempurnaan
Akhlak manusia tergambar dari pribadi Rasulullah yang tidak satupun bisa
mengelak dan menolaknya. Bagaimanapun bencinya orang-orang yang anti Islam
pasti mereka tidak akan mampu mengingkari keluhuran akhlak Rasulullah. Bisa
kita lihat, bagaimana orang-orang kafir Quraisy yang sangat menentang da’wah
dan risalah Rasulullah sampai-sampai bersepakat untuk membunuh beliau, tapi
mereka tidak pernah mengingkari bahwa dia Rasulullah adalah Al-Amin (Orang yang dipercaya), orang
yang jujur, berbudi pekerti yang agung. Berbeda dengan orang-orang Quraisy pada
umumnya.
Dan
benar, bahwasanya Muhammad bin Abdullah adalah manusia yang memiliki budi
pekerti yang agung sebagaimana dalam penegasan Allah dalam firman-Nya; “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi
pekerti yang agung.” [QS. Al-Qalam (68): 4]. Penegasan Allah adalah
penegasan mutlak yang membenarkan. Dan harus menjadi bahan refrensi renungan
untuk kita untuk memahami penjelasan Allah tentang Rasulullah sehingga itu bisa
menjadikan kita terbiasa atau membuat kebiasaan yang membentuk karakter yang
sama seperti Rasulullah. Meskipun kita sadar bahwa tidak akan pernah bisa
seperti Rasulullah, tapi minimal kita selalu berusaha untuk meneladani
akhlaknya.
Kita
adalah umat akhir zaman; umat Rasulullah yang memiliki banyak keistimewaan,
maka sudah menjadi kebanggaan tersendiri untuk kita terlahir menjadi bagian
dari umat terbaik dengan nilai-nilai syariat yang beliau da’wahkan dan
perjuangkan untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya sebagai seorang hamba
dari Dzat Yang Maha Suci dan Sempurna. Di samping itu, Rasulullah adalah
manusia yang paling mencintai umatnya. Sangat merindukan untuk bertemu
sampai-sampai beliau menangis ingin bertemu dengan kita. Beliau tidak
menganggap kita sebagai teman akrab atau sahabatnya, tapi beliau menjadikan kita
sebagai saudara.
“Ketika itu suasana di majelis itu
hening sejenak. Semua yang hadir diam membatu. Mereka seperti sedang memikirkan
sesuatu. Lebih-lebih lagi Sayyidina Abu Bakar. Itulah pertama kali dia
mendengar orang yang sangat dikasihi melafadzkan pengakuan sedemikian itu;
“Rindu saudara-saudaraku umat akhir zaman.” Seulas senyuman yang semula terukir
di bibirnya pun luruh. Wajahnya yang tenang berubah rona. “Apakah maksudmu
berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?” sayyidina
Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang menyelimuti pikiran.
“Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan
saudara-saudaraku (ikhwan),” suara Rasulullah bernada rendah. “Kami juga
ikhwanmu, wahai Rasulullah,” kata seorang sahabat yang lain pula. Rasulullah
menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian
baginda bersuara, “Saudaraku ialah mereka yang belum pernah melihatku tetapi
mereka beriman denganku sebagai rasul Allah dan mereka sangat mencintaiku.
Malahan kecintaan mereka kepadaku melebihi cinta mereka kepada anak-anak dan
orangtua mereka.”
Kisah
ini, merupakan pembelajaran bagi kita semua, bahwa betapa Rasulullah sangat
mencintai dan mengharapkan perjumpaan dengan kita. Lantas bagaimana dengan diri
kita masing-masing. Apakah kita memiliki rasa yang sama? Apakah kita juga
mencintai dan merindui Rasulullah? Atau hal mendasar sekali yang harus kita
tanyakan adalah sudah benarkah cinta kita pada Rasulullah? Atau malah
sebaliknya? Kita mengaku mencintai Rasulullah tetapi tidak mengikutinya serta
menerapkan dan mengada-adakan suatu ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh
baginda Rasulullah. Maka mari kita rehat sejenak. Melihat ke dalam hati kita.
Mengintropeksi serta mengevaluasi kecintaan kita padanya. Lalu temukan dimana
letak pembuktian cinta yang benar itu pada Rasulullah. Lantas bagaimana mengetahui
benar tidaknya cinta kita pada beliau?
Pertama, Ikhlasunniyah.
Mengikhlaskan
niat mencintai Rasulullah. Tidak hanya sebatas pengucapan secara lisan semata
melainkan harus terinterpretasi melalui perbuatan. Amalan. Mencintainya melebih
dari siapapun, bahkan termasuk keluarga, kerabat dan diri sendiri. Sebagaimana
yang kita tahu dibalik kisah sahabat Umar radhiyallahu
‘anhu ketika datang kepada Rasulullah menyampaikan cintanya. Bahwasanya
Umar mencintai Rasulullah melebihi siapapun kecuali dirinya. Apa kata
Rasulullah; la ya Umar; tidak ya
Umar. Tidak benar cintamu jika engkau masih mencintai dirimu sendiri ketimbang
aku. Maka ketika itu sahabat Umar pun kembali menyeru dan berkata; ya Rasulullah aku mencintaimu melebihi
siapapun termasuk diriku sendiri. Maka Rasulullah pun menjawab; Al’an ya Umar; sekarang ya Umar.
Ini
menggambarkan bahwa keikhlasan kita mencintai Rasulullah harus terpatri pada
kecintaan dengan menjadikan Rasulullah yang pertama setelah Allah Ta’ala.
Sekalipun itu orangtua, anak istri dan kerabat kita. Semua harus melebihinya.
Jika niat kita ikhlas mencintainya maka keikhlasan niat kita, semakin menjadikan
kita taat serta membenarkan risalah kenabian. Ajaran yang telah diperjuangkan
oleh Rasulullah. Membenarkan melalui perbuatan dengan senantiasa berjuang,
berusaha maksimal dan bekerja keras untuk mengamalkan sunnahnya.
Bahkan
dalam Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa salah satu indikator mencintai Allah
adalah dengan mengikuti Rasulullah; “Katakanlah:
"Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” [QS. Ali ‘Imran (3): 31]. Mengikuti Rasulullah dengan
mengikhlaskan niat kita. Sebab konsekuwensi mengikuti Rasulullah tidak hanya
sebatas secara lisan (aku mencintaimu
Rasulullah. Aku mengikutimu ya Rasulullah) tanpa ada niat yang ikhlas. Maka
yang benar adalah dengan mengsinergikan antara ucapan kita dengan keikhlasan
niat yang terwujud dalam amalan nyata.
Kedua, Ittibah kepada Rasulullah
Sebaik-baik
contoh dan teladan bagi umat manusia adalah Rasulullah. Sampai hari ini, tidak
ada satupun manusia yang mampu sepertinya. Sehingga ungkapan orang-orang Barat
yang mayoritas beragama Nasrani dan Yahudi tidak bisa mengelak bahwa baginda
adalah manusia terbaik sepanjang sejarah dan peradaban. Mereka mengungkapkannya
dalam banyak tafsir namun memiliki subtansial yang sama, yakni Muhammad is people the best in the world.
Maka sebenar-benarnya cinta kita pada Rasulullah, adalah dengan cara menjadikan
beliau panutan. Teladan. Contoh dan figur yang mempengaruhi kehidupan serta
pemikiran kita semua. Pun di dalam Al-Qur’an Allah mengabadikan pengakuan-Nya
kepada baginda Rasulullah shallallahu’alahi
wasallam. “Sesungguhnya Telah ada
pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang
mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut
Allah.” [QS. Al-Ahzab (33): 21].
Pengakuan
Allah Sang Penguasa jagad raya adalah mutlak. Sehingga tidak ada yang mampu
menolak kebenaran tersebut. Sedangkan dalam ayat yang lain, kembali Allah
menegaskan tentang akhlak Rasulullah yang mengharuskan kita untuk senantiasa ittibah. Mengikutinya dalam segala hal
sebagai bentuk cinta nyata kita. “Wahai
orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad).....” [QS.
An-Nisa (4): 59]. Sudah sepantasnyalah salah satu indikasi kebenaran cinta kita
pada Rasulullah adalah dengan cara mengikutinya dalam semua linih kehidupan.
Sudah banyak bukti yang menunjukkan tentang keberhasilan yang diraih oleh
Rasulullah, baik dalam hal keduniawian maupun dalam hal akhirat. Dalam hal
membangun keluarga, sosial, politik, pemerintahan, pendidikan dan seluruh aspek
kehidupan telah tercatat bahwa Rasulullah mampu menjadi yang terbaik.
Ittibah
terhadap Rasulullah, berarti tunduk dan taat terhadap ketetapan yang telah
diaturkan olehnya, sebab apa yang telah ditetapkannya bukan menurut hawa
nafsunya melainkan wahyu yang bersumber dari Allah Ta’ala. Ittibah, berarti harus mengetahui konsekuwensinya. Harus siap
dengan segala ketentuan yang mengikat. Serta harus ‘mendengar’ dan ‘taat’ pada
Rasulullah. Inti dari semua pengakuan kita tentang ittibah kepada Rasulullah, dengan mengamalkan dan menegakkan apa
yang menjadi peninggalan terakhirnya untuk dijadikan sebagai rambu-rambu dalam
menjalani kehidupan yang fana ini. “Aku
tinggalkan untuk kalian dua perkara (pusaka). Kalian tidak akan tersesat
selama-lamanya selagi kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu kitab Allah
(Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul.” [HR. Malik, Muslim dan Ash-hab al-Sunan].
Ketiga, Prioritaskan gayatu dakwah
“Sampaikanlah dariku
walaupun satu ayat.” [HR. Bukhari].
Kecintaan
kita pada Rasulullah adalah dengan menjadi penerusnya. Mengambil peran dalam
da’wah sehingga kita senantiasa mengingat perjuangan yang telah Rasulullah
lakukan. Gayatu dakwah (Tujuan
Dakwah), harus menjadi prioritas kita. Harus menjadi tujuan utama kita.
Mengambil peran dakwah bukan hanya sebatas untuk mengugurkan risalah yang
Rasulullah embankan kepada kita. Atau dengan niatan untuk mencari ketenaran dan
material dunia semata. Tapi bagaimana kita senantiasa menjadikan prioritas
tujuan dakwah itu menuntut kita untuk benar-benar bekerja keras, menguras
tenaga dan fikiran kita serta menjadikan setiap kita insan-insan yang rela
berkorban harta dan jiwa. Dengan kata lain berjihad di jalan Allah.
“(yaitu) kamu beriman
kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu.
Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.” [QS.
As-Saff (61): 11].
Prioritaskan
gayatu dakwah merupakan indikasi kesungguhan kita mencintai
Rasulullah, sebab tidak ada tendensi yang tersembunyi di balik peran dan
pergerakan kita. Hanyalah keikhlasan dan kesungguhan diri untuk menjadi bagian
dari umat perindu surga. Bagian dari golongan yang disebutkan oleh Rasulullah
bahwa setiap umatnya akan masuk surga, kecuali yang tidak mau.
Tujuan
dakwah adalah hakikat dari perjuangan kita. Yakni bersama-sama dalam ketaatan.
Bersama-sama dalam perjuangan di kiprah jihad. Bersama-sama untuk memasuki
surga-Nya. Maka memprioritaskan tujuan dakwah adalah keharusan yang menuntut
kita untuk bersungguh-sungguh dan berusaha maksimal sebagai wujud cinta yang
benar pada manusia agung yang kita rindukan; Rasulullah shallallahu’alahi wasallam.
Menguraikan
kebenaran cinta kita pada Rasulullah, tidak hanya terlepas pada tiga poin
tersebut. Masih sangat banyak indikator yang menjadi poin penting dalam
mengurai dan mengetahui kebenaran cinta kita pada Rasulullah. Namun yang paling
terpenting adalah, bagaimana kita menjadi agen-agen muslim yang baik. Penerus
risalah Rasulullah hingga setiap kita memerankan dan mendakwahkan dengan benar
bahwa Islam itu adalah Rahmatan lil’alamin.
Rahmat untuk seluruh alam. Kita menjadi umat yang dibanggakan oleh Rasulullah
dengan kualitas dan kuantititas. Menjadi sebaik-baik umat yang senantiasa
memberi manfaat yang sebanyak mungkin kepada sesama-sama. Tanpa ada dikota dan
sekte yang kita buat hanya karena persoalan sosial atau individu semata
sehingga menciderai umat dan agama Islam.
[
]

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...