Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Berbanggalah Jadi Orang Asing
Siskaee
Juni 09, 2017
Hasan al-Bashri mengatakan “Orang mukmin di dunia itu
seperti orang asing yang tidak risau terhadap kehinaannya dan tidak mau
bersaing untuk mendapatkan kemuliaannya, karena ia memiliki suatu urusan
sedangkan orang lain memiliki urusan yang lain.”
Tak
ada yang sia-sia dalam setiap yang terjadi pada hidup kita. Susah-senang.
Suka-duka. Awal-akhir. Depan-belakang. Semua berkonvergensi menjadi satu pada
dalam aturan Ilahi. Tak ada yang sia-sia. Selalu ada ibrah dan refrensi menuju
perjalanan selanjutnya. Lantas, apakah kita mengambil peran yang tepat dalam
hidup? Apakah kita memposisikan diri sebagaimana fitrahnya? Lalu bagaimana
desain hidup kita? Apakah sesuai dengan syariat-Nya atau hanya sekedar nalar
akal kita?
Sebab tak ada sesuatu hal
yang tak memiliki kebenaran dan manfaat dalam setiap syari’at yang telah atur
untuk kita selaku hamba-Nya. Syari’at Allah dalam Al-Qur’an adalah kebenaran
mutlak dan memiliki wujud hikmah di dalamnya. Anggaplah misalnya, aturan Allah
tentang pelarangan untuk berkhalwat antara laki-laki dan perempuan yang bukan
mahramnya. Sudah sangat jelas dasarnya yang telah Allah sampaikan kepada kita
melalui lisan Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam. Perintah untuk
tidak berkhalwat (berdua-duaan) antara seorang pria dan wanita yang bukan
mahram selama ini dipatuhi seorang mukmin sebagai ketaatan kepada Allah dan
Rasul-Nya. Tapi, jarang dari kita yang mengetahui alasan ilmiah dibalik
perintah itu.
Pasti kita bertanya, kenapa
hal tersebut dilarang dan dianggap berbahaya oleh syari’at Islam? Bagian tubuh
kita yang mana yang ternyata berpengaruh terhadap kondisi khalwat itu?
Para peneliti di Universitas
Valencia menengaskan bahwa seorang yang berkhalwat dengan wanita menjadi daya
tarik yang akan menyebabkan kenaikan ‘Sekresi Hormon Kortisol’. Kortisol adalh
hormon yang bertanggung jawab terjadinya stres dalam tubuh. Meskipun subjek
penelitian mencoba untuk melakukan penelitian atau hanya berfikir tentang
wanita yang sendirian dengannya hanya dalam sebuah simulasi penelitian. Namun,
hal tersebut tidak mampu mencegah tubuh dari sekresi hormon tersebut.
“Cukuplah anda duduk selama
lima menit dengan seorang wanita. Anda akan memiliki proporsi tinggi dalam
peningkatan hormon tersebut.”
Inilah temuan studi yang dimuat pada Daily Telegraph!
Para ilmuan mengatakan bahwa
hormon kortisol sangat penting bagi tubuh dan berguna untuk kinerja tubuh
tetapi dengan syarat mampu meningkatkan proporsi rendah, namun jika meningkat
hormon dalam tubuh dan berulang terus proses tersebut, maka yang demikian dapat
menyebabkan penyakit serius seperti jantung dan tekanan darah tinggi serta
berakibat pada diabetes dan penyakit lainnya yang mungkin meningkatkan nafsu
seksual.
Bentuk yang menyerupai alat
proses hormon penelitian tersebut berkata bahwa stres tinggi hanya terjadi
ketika seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita asing (bukan mahram), dan
stres tersebut akan terus meningkat pada saat wanitanya memiliki daya tarik
lebih besar. Tentu saja, ketika seorang pria bersama dengan wanita yang
merupakan saudaranya sendiri atau saudara dekat atau ibunya sendiri tidak akan
terjadi efek dari hormon kortisol. Seperti halnya ketika pria duduk dengan
seorang pria aneh, hormon kortisol ini tidak akan naik. Hanya ketika sendirian
dengan seorang pria dan seorang wanita yang aneh.
Para peneliti mengatakan
bahwa pria ketika ada perempuan asing disisinya, dirinya dapat membayangkan
bagaimana membangun hubungan dengannya (jika tidak emosional), dalam penelitian
lain, para ilmuan menekankan bahwa situasi ini (untuk melihat wanita dan
berpikir tentang mereka) jika diulang, mereka memimpin dari waktu ke waktu
untuk penyakit kronis dan masalah psikologis seperti depresi.
Nabi SAW Mengharamkan
khalwat. Kita semua tahu hadits yang terkenal yang mengatakan; “Tidaknya ada
yang seseorang laki-laki berkhalwat dengan wanita kecuali setan adalah yang
ketiga.” Hadits ini menegaskan diharamkan berkhalwat bagi seorang pria
dengan wanita asing atau bukan mahramnya.
Karena itu Nabi SAW melalui syari’at ini menginginkan kita menghindari
banyak penyakit sosial dan fisik.
Ketika seorang beriman mampu
menghindari diri dari melihat wanita (yang bukan mahram) dan menghindari diri
dari berkhalwat dengan mereka, maka ia mampu mencegah penyebaran amoralitas dan
dengan demikian melindungi masyarakat dari penyakit epidemi dan masalah sosial,
dan mencegah individu dari berbagai penyakit.
Itu dari sekian banyaknya
hikmah syari’at yang telah Allah Rasul-Nya aturkan untuk kita. Namun, ketika
kita mengaplikasikan semua itu. Maka kita akan dicap menjadi orang-orang yang
asing. Orang aneh. Kuper dan ketinggalan zaman. Tidak mengerti dengan style dan
mode terbaru. Maka dapatlah kita predikat ‘orang-orang asing.’
Di tengah zaman sekarang.
Menjadi seorang pemuda yang tidak mengikuti trendy dan pergaulan maka kita akan
menjadi sampah pergaulan dan pemuda primitif menurut persepsi mereka yang
mengaku mengikuti trendy zaman dan pergaulan. Realitasnya, generasi muda kita
sekarang ini—kecuali yang dilindungi Allah—menderita penyakit yang sangat
berbahaya dan perlu terapi yang segera serta perhatian yang serius. Di antara
penyakit yang paling serius adalah “Ketidakjelasan tujuan hidup.” Ia tak tahu,
apa tugasnya dalam hidup ini dan apa posisinya di muka bumi ini.
Kebanyakan pemuda telah
kehilangan tujuan hidup mereka. Sekalipun ada, tak lebih dari sebatas memiliki
mobil, apartemen, atau hal semisalnya yang sifatnya materi saja. Meskipun kita
sepakat bahwa tujuan seperti ini bukanlah sesuatu yang haram atau tidak
bernilai. Namun, permasalahannya adalah tujuan utama dan obsesi besar telah
sirna dalam hidup mereka. Sebaliknya, semua tujuan hidup yang kecil ini
harusnya menjadi sarana untuk merealisasikan tujuan utama yang lebih besar,
yang mesti dicapai sebagian besar generasi muda.
Masalah ini merupakan
malapetaka besar dalam hidup mereka. Seakan-akan mereka berkata:
“Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan
kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan
dibangkitkan lagi.” [QS. Al-Mu’minun: 37]
Kebanyakan
dari generasi muda kita hanya tersibukkan dengan makanan, minuman, tempat
tinggal, permainan, hura-hura, kenikmatan sesaat dan syahwat duniawi belaka.
Mereka hanya disibukkan dengan semua hal tersebut. Kebanyakan mereka mengalami
dekadensi moral yang sangat memprihatinkan.
Bahkan,
ketika umat Islam hampir tenggelam di kedalaman problematika yang sangat
kompleks, para pemuda hanya menyaksikan, menonton, dan mengawasinya dari
kejauhan. Seakan, seluruh permasalahan yang menimpa tak ada hubungannya dengan
mereka sedikit pun. Meskipun ia sadar betul, bahwa akhirnya ia masuk dalam
jurang kehancuran bersama umatnya.
Padahal masa
muda adalah masa yang sangat penting. Ia adalah masa yang sangat progresif dan
inovatif dalan penentuan sikap jika dimanfaatkan dalam jalur yang Allah telah syari’atkan.
Iman At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud rahimullah bahwa
Nabi Muhammad sallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Kelak pada
hari kiamat, kaki seorang anak manusia tidak akan bergerak (ke surga atau ke
neraka) dari sisi Rabbnya, hingga 4 perkara ditanyakan kepadanya; tentang
usianya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan,
tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, dan tentang
ilmunya apa yang ia perbuat dengannya.” [HR. At-Tirmidzi]
Dengan
hadits yang mulia ini, jelaslah bagi kita bahwa betapa besar nilai masa muda
dalam hidup seorang manusia. Meskipun masa muda merupakan masa yang sangat
terbatas, akan tetapi Allah Ta’ala telah memberikan sebuah pertanyaan khusus
pada hari kiamat kelak. Padahal kalau Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam menyebut
“usia” sudah cukup dan maknanya bisa dipahami secara sempurna. Sebab kalimat
“usia” saja sudah mencakup masa muda seseorang.
Namun,
beliau mengkhusus masa muda, supaya manusia memperhatikan bahwa masa ini
mempunyai kepentingan tersendiri dalam hidup seorang manusia. Seperti halnya
yang perlu diperhatikan bahwa seorang pemuda—meski masih relatif kecil (dari sisi
usia)—namun kelak pada hari kiamat ia akan ditanya dan ia akan dihisab. Dirinya
tidak akan diberi taufik untuk meniti jalan dan masuk ke dalam surga, kecuali
jika ia diberi taufik untuk menjawab pertanyaan detail yang ditujukan kepadanya
secara khusus, yakni semua lika-liku hidupnya, yang di antaranya adalah masa
mudanya.
Imam
Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Adi bin Hatim radiyallahu ‘anhu
berkata Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap dari
kalian pasti akan diajak bicara oleh Allah Ta’ala. Tidak ada perantara antara
ia dengan Allah. Ia melihat ke arah kanan, ia hanya melihat apa (kebaikan) yang
telah ia lakukan selama ini. Lalu ia melihat ke kiri, ia juga hanya melihat apa
(kejelekan) yang telah ia lakukan selama ini. Lalu ia melihat ke depan, dan
tidak ia dapati di hadapannya melainkan neraka. Maka jagalah dirimu dari api
neraka walaupun hanya dengan (bersedekah) sebiji kurma.” [HR. Al-Bukhari
dan Muslim].
Hadits di
atas menjelaskan bahwa tidak ada pertanyaan yang bersifat pengecualian. Setiap
umat manusia meskipun usia, jenis kelamin, warna kulit, dan rasnya
berbeda-beda, kelak pada hari kiamat akan ditanya dan dihisab. Maka jelaslah
bahwa tidak selayaknya dan tidaklah bijaksana seorang pemuda menghabiskan masa
mudanya yang sangat indah itu hanya untuk bermain, glamour, bersenda gurau
belaka, dan tidak mau bertanggung jawab. Dan sudah pasti, kelak dimintai
pertanggungjawaban tentang masa mudanya, untuk apa yang ia habiskan.
***
Potret pemuda masa kini
adalah sebuah potret yang sangat memprihatinkan untuk kita semua. Tugas kita
bersama untuk mencarikan problem solving. Tugas kita untuk menjadi penopang dan
nahkoda sementar untuk mereka sampai ia benar-benar tahu untuk apa dan ke mana
tujuan hidupnya. Maka jelaslah pada realitas kita, jika tampil untuk
menunjukkan pada kebenaran maka kita menjadi orang-orang terasing. Orang-orang
yang dianggap aneh. Lalu, haruskah kita mundur dan menyerah?
TIDAK……TIDAK…..TIDAK…..
Katakan “Tidak”. Mari terus
maju dan bertahan untuk melihat saudara kita kembali pada fitrahnya. Kembali
pada Allah.
Sama halnya dengan diriku,
saat memutuskan untuk meninggalkan isbal. Meninggalkan sesuatu yang pemuda masa
kini kerjakan sebagai dalih ikuti zaman. Saat memutuskan untuk mengatakan bahwa
pacaran itu haram. Saat memutuskan untuk kembali mencari hidayah Allah yang
telah aku lepaskan. Saat memutuskan untuk tidak menyentuh perempuan yang bukan
mahram. Saat memutuskan untuk meleburkan diri dalam jalan terjang. Dalan jalan
dakwah menuju ketaatan pada Rabb-ku. Memutuskan untuk menjadikan hidup sebagai
ladang untuk memperbaiki diri dan terus berusaha belajar menjadi hamba Allah
yang baik serta menjadi saudara Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam
yang membuatnya bangga. Menjadiسَمِعْنَا
وَأَطَعْنَا terhadap apa-apa yang Allah dan Rasul-Nya cintai dan yang
dibenci. Terhadap apa yang diperintahkan dan dilarangnya. Aku belajar. Belajar
untuk mengaplikasikannya. Aku belajar dan terus belajar.
Apakah jalan yang aku
putuskan mulus? Mudah, seperti membalikkan telapak tangan?
Tidak. Tidak ada yang mudah
pada awalnya. Bahkan di tengah perjalanan menuju-Nya aku hampirr futur dan
menyerah. Menyerah pada keadaan dan tidak mampu lagi berdiri. Tidak lagi bisa
dinamis melainkan stagnak pada jalanku sekarang. Namun, jauh dari semua itu,
kudapati diriku tak sebanding dengan kisah Rasulullah sallallahu’alaihi
wasallam yang menemui ujian paling berat dalam menjalan dakwah lailaha
illallah. Dakwah untuk menyeruh kepada manusia mengenal Tuhan-nya dan
meninggalkan kejahiliyahan. Tak sebanding dengan kisah para sahabat; Abu Bakar
as-Shiddiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Tholib. Diriku
tak sebanding dengan kisah perjuangan mereka. Betapa lemahnya diriku dan betapa
mudahnya diriku untuk menyerah pada apa yang terjadi.
Dan kembali kulihat diriku
tak sebanding dengan perjuangan kisah Arqam bin Abi Arqam Al-Makhzumi radiyallahu
‘anhu. Ia adalah sosok sahabat yang namanya sangat harum dalam kenangan
setiap muslim. Dialah orang yang
menyambut dengan hangat kedatangan dakwah Islam di dalam rumahnya—padahal hal
ini sangatlah berbahaya dan berisiko besar—selama tiga belas tahun penuh di
kota Mekkah. Perlu diketahui pula bahwa Arqam berasal dari Bani Makhzum, yakni
sebuah kabilah yang selalu bersaing untuk meraih pundi kemuliaan dengan Bani
Hasyim. Namun, ia berani menyambut Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam yang
berasal dari Bani Hasyim sebagai tamu di dalam rumahnya.
Bisa dipastikan, hala itu
akan mengundang kesulitan dan percekcokan dengan para pembesar kabilah dan kaum
kerabatnya. Jangan kita lupakan pula, pemimpin kabilah Bani Makhzum adalah Abu
Jahal sendiri. Ia adalah durjana dan lalim; paling keji dan paling bengis di
kota Mekkah. Karena kebengisan dan kekejamannya, ia diberi gelar “Fir’aun umat
ini.” Kalau saja ia mengetahui ada anggota kabilahnya yang menyambut kedatangan
Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam serta para sahabat beliau di dalam
rumahnya, niscaya malapetaka besar dan musibah dahsyat akan menimpanya.
Meskipun demikian, Arqam bin
Abi Arqam radiyallahu ‘anhu tetap menyambut kedatangan beliau di atas
semua resiko ini. Dengan taruhan yang besar ini, ia korbankan dirinya demi
membela Islam. Berapakah usia pahlawan yang agung ini di kala masuk Islam?Usianya
baru menginjak enam belas tahun! Masuk akalkah ini?
Ketika kita membaca
nama-nama yang tercantum indah dalam sejarah emas Islam, seperti Zubair bin
Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Arqam bin Abi Arqam—semoga Allah meridhoi mereka
semua—kita yakin bahwa kita sedang berinteraksi dengan para pahlawan sejati nan
agung. Realitasnya, kita memang sedang berinteraksi dengan para pahlawan sejati
nan agung tapi mereka bukan orang-orang yang berusia tua. Mereka adalah
orang-orang yang kedudukan, akal fikiran, perjuangan, keimanan, jerih payah,
dan akhlaknya luhur dan mulia. Mereka adalah generasi muda yang menjadi
pahlawan sejati yang agung di alam realitas kita. Padahal usia mereka baru
berkisar lima belas, enam belas atau tujuh belas tahun.
Aku benar-benar tersentak
dalam kekaguman. Betapa tegar dan agungnya genarasi pejuang Islam terdahulu.
Usia tak menentukan dan menjadi jaminan bahwa mereka akan menjadi lebih baik.
Namun, jauh dari semua itu adalah sikap kegigian dan keyakinan untuk terus
memberikan yang terbaik bagi dakwah ini. Dakwah agama Allah Ta’ala. Namun, apa yang terjadi dengan diriku? Aku benar-benar
malu.
Lambat laun namun pasti.
Keterasingan yang terus menderaku memaksaku untuk tampil. Untuk ke depan dan
menyeruakan kebenaran. Menyeruakan kebenaran Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Allah
menginginkan kita untuk senantiasa mengaplikasikan rasa cinta pada-Nya dalam
bentuk ketaatan.
Cacian dan rasa intimidasi
semakin membuatku terus bertanya tentang konsekuwensi yang harus aku terima
atas keputusan yang telah aku pilih. Terhadap apa yang menjadi kebiasaan
baruku. Terhadap peleburan diriku pada pengaplikasian dari sunnah Rasul.
Terhadap interpretasiku tentang Isbal, Jenggot dan beberapa sunnah Rasul.
Tak ada yang mudah. Tak pula
yang tak langsung menjadi sebuah pencapaian sempurna. Aku harus meyakinkan
diriku. Fikirku pada saat itu. Yah, aku harus meyakinkan diriku bahwa benar
sabda Rasul-Nya; “Akan datang suatu zaman dimana orang yang berpegang teguh
pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” [HR. Tirmidzi].
Benar! Aku meyakinkan diriku tentang hadits tersebut. Inilah zaman itu, zaman
dimana ketika kita berpegang teguh pada agama seperti memegang bara api. Dan
hadits ini menunjukkan ‘khobar’ dan ‘irsyad’ (petunjuk). Adapun khobar beliau
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa pada akhir zaman
kebaikan dan sebab-sebab kepada kebaikan akan menjadi sedikit. Dan keburukan
dan sebab-sebab kepada keburukan akan menjadi banyak. Dan ketika dalam keadaan
seperti itu, seorang yang berpegang teguh pada dengan agamanya menjadi sangat
sedikit. Dan keterasingan ini berada pada kondisi yang sangat sulit dan sangat
berat, seperti kondisi seseorang yang mengenggam bara api, dikarenakan kuatnya
orang-orang yang menyimpang dan banyaknya fitnah yang menyesatkan,
fitnah-fitnah syubhat, keragu-raguan dan penyimpangan, dan fitnah-fitnah
syahwat dan berpalingnya makhluk kepada urusan dunia dan tersibukkannya mereka
di dalamnya secara lahir dan batin, dan lemahnya iman, dan sulitnya orang yang
sendiri (istiqomah) dikarenakan sedikitnya orang yang menolong dan membantunya.
Akan tetapi orang yang
berpegang teguh dengan agamanya yang ia tegak menolak penyimpangan dan
rintangan, yang tidaklah berbuat demikian kecuali orang yang memiliki bashiroh
(ilmu) dan keyakinan, orang yang memiliki iman yang kuat, yang merupakan sebaik-baik
makhluk, dan yang paling tinggi derajat dan kedudukannya di sisi Allah.
Adapun petunjuk, maka hadits
ini merupakan petunjuk kepada umatnya agar membiasakan dirinya dengan kondisi
ini, dan supaya mereka mengetahui bahwa hal ini akan terjadi, dan barang siapa
yang menghinakan arus ini dan tetap sabar di atas agama dan imanya—dengan
penyimpangan-penyimpangan ini—maka baginya derajat yang tinggi di sisi Allah
dan Allah akan menolongnya terhadap apa-apa yang dicintai-Nya dan diridhoi-Nya
Aku meyakinkan diriku
tentang konsekuwensi menjadi orang-orang terasing. Sebab telah kutelaah tentang
hadits Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam tentang siapa itu orang-orang terasing. “Dari
Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Islam
bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terassing seperti semula, maka
beruntunglah orang-orang yang terasing.”
Hadits ini diriwayatkan oleh
Imam Muslim di dalam kitab shahihnya, dari Abu Hurairah, selain meriwayatkan
hadits dari Abu Hurairah, Imam Muslim juga meriwayatkan hadits dari Ibn Umar
dengan teks yang sedikit berbeda dan ada beberapa kalimat tambahan.
Selain Muslim, di dalam
kutub tis’ah (sembilan kitab hadits induk), hadits ini juga diriwayatkan oleh
Imam Ahmad di dalam kitab al-Musnad dari Sa’d bin Abi Waqqah, Abdullah bin Amru
bin Ash, Ibnu Mas’ud, Abu Hurairah dan Abdurrahman bin Sanah dengan teks yang
bermacam-macam tetapi pengertiannya sama. Ibnu Majah di dalam as-Sunan
karangannya meriwayatkan dari Anas bin Malik, Abdullah bin Mas’ud, dan Abu
Hurairah. Sedangkan ad-Darimi meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud saja. At-Tirmidzi
meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Amr bin ‘Auf. Selain menyebutkan dua riwayat
itu at-Tirmidzi juga menambahkan bahwa hadits seperti ini diriwayatkan juga
dari beberapa shahabat seperti Sa’d, Ibnu Umar, Anas dan Ibnu Amr bin Ash.
Kata Gharib yang terdapat di
dalam hadits tersebut berasal dari kata Gharaba. Di dalam kamus disebutkan
bahwa gharaba ini memiliki banyak makna. Muhammad Murtadla az-Zubaidi dalam
syarh al-Qamus menyebutkan 34 makna, di anataranya adalah jauh, tersembunyi,
berpergian, jarang, dan tidak terkenal.
Dari sekian banyak makna,
ghurbah (keterasingan) ini bisa dibagi menjadi dua macam; keterasingan secara
fisik dan keterasingan secara non-fisik. Asing dalam hadits ini tentu bukanlah
asing dalam makna fisik, tetapi asing dalam makna non-fisik. Keterasingan ini
dirasakan oleh orang yang ada di negeri sendiri, di tengah-tengah
masyarakatnya, bahkan di tengah-tengah keluarganya. Tetapi ketika umumnya
masyarakat mengantungkan hatinya dengan berbagai gantungan duniawi, ia
mengantungkan hatinya kepada Allah, sebab Dia-lah tempat dirinya berasal dan
berasalnya segala sesuatu. Maka saat itu orientasinya menjadi asing di mata
manusia, bahkan tindakannya pun dinilai asing oleh kebanyakan manusia. Meskipun
begitu, aneh tetapi justru itulah yang benar. Hasan al-Bashri mengatakan “Orang
mukmin di dunia itu seperti orang asing yang tidak risau terhadap kehinaannya
dan tidak mau bersaing untuk mendapatkan kemuliaannya, karena ia memiliki suatu
urusan sedangkan orang lain memiliki urusan yang lain.”
***
Lalu siapakah
orang-orang terasing itu?
Aku telah mengetahui makna
dari orang-orang asing itu. Telah ketelaah dengan baik hadits Rasulullah sallallahu’alaihi
wasallam. Maka dengan begitu aku telah mampu untuk menginterpretasikan
orang-orang yang terasing itu, dalam fikirku. Siapa ia? Meraka adalah yang
senantiasa memperbaiki agamanya sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan sunnah
serta dengan metode pemahaman pada pendahulu ummah yaitu para sahabat dan
tabi’in. mereka layak untuk menjadi rujukan dalam metode pemahaman Islam, sebab
pemahaman mereka adalah pemahaman yang lurus. Kerena lurusnya keberagamaan
mereka itulah para sahabat Rasul mendapat sebuatan radhiyallahu’anhu (Allah
telah meridhai mereka) di dalam beberapa ayat. Selain itu Allah dan Rasul-Nya
telah memuji mereka karena kebaikan mereka diberbagai ayat dan hadits. Allah
berfirman;
وَمَن
يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ
سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ
وَسَآءَتۡ مَصِيرًا ١١٥
“Dan barang siapa yang
menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan
jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesesatan yang
telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu
seburuk-buruk tempat kembali.” [QS. An-Nisa: 115].
Yang dimaksud dengan orang
mukmin pada ayat tersebut di atas adalah para sahabat, sebagaimana ayat berikutnya;
فَإِنۡ
ءَامَنُواْ بِمِثۡلِ مَآ ءَامَنتُم بِهِۦ فَقَدِ ٱهۡتَدَواْۖ وَّإِن تَوَلَّوۡاْ
فَإِنَّمَا هُمۡ فِي شِقَاقٖۖ فَسَيَكۡفِيكَهُمُ ٱللَّهُۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُٱلۡعَلِيمُ
١٣٧
“Maka jika mereka beriman
kepada apa yang kamu telah beriman
kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling,
sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan
memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.” [QS. Al-Baqarah: 137].
Dhamir (kata ganti) kalian
di dalam ayat ini bisa dipahami sebagai Rasulullah dan para sahabat. Sebab kaum
muslimin yang langsung berhadapan dengan turunnya ayat adalah Rasul dan para
sahabat. Maka ayat ini bermakna, bahwa orang yang beriman tidak seperti berimannya
para sahabat maka sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan.
Kemudian Rasulullah sallallahu’alahi
wasallam juga menyebutkan bahwa pemahaman agama para sahabat itulah
pemahaman yang benar sebagaimana dalam hadits Rasulullah; “Dan ummatku akan
terpecah menjadi 73 golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali hanya satu
golongan saja. Para sahabat bertanya, “Siapakah dia, wahai Rasulullah?” beliau
menjawab, “Seseuatu yang aku dan para sahabatku ada di atasnya.” [HR.
Tirmidzi].
Kita bisa merasakan saat ini
orang yang berusaha untuk mengikuti tuntunan Al-Qur’an dan sunnah dengan manhaj
para sahabat dan tabi’in apa adanya tidak banyak. Orang yang berpakaian sesuai
dengan tuntunan Al-Qur’an dan sunnah tidak banyak. Yang benar dalam bergaul
sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan sunnah tidak banyak. Yang berusaha untuk
menghidupkan sunnah-sunnah Rasul dalam hidupnya, juga sedikit.
Aku kembali tersadar. Bahwa orang-orang terasing itu tidak hanya
memperbaiki agama dirinya. Mereka pun senantiasa mendakwahkan kebenaran itu
kepada umat manusia pada umumnya. Mereka melakukan amar ma’ruf dan nahi
mungkar. Karena itulah syarat keunggulan agama ini di atas agama dan ajaran
lainnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala;
وَلۡتَكُن
مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ
وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٠٤
“Dan hendaklah ada di
antara kalian sekelompok ummat yang menyeruhkan kepada kebaikan (Islam) dan
memerintahkan kepada yang ma’ruf serta melarang yang murka. Mereka itulah
orang-orang yang beruntung.” [QS. Ali-Imran: 104].
Dan mereka yang senantiasa
bersabar. Sabar menghadapi ujian dan cobaan. Berbagai usaha yang mereka lakukan
untuk kebaikan diri mereka dan kebaikan masyarakat namun, sambutan yang mereka
terima justru sikap negatif, mereka dikucilkan, dimusuhi, dibenci, diejek dan
berbagai sikap yang tidak menyenangkan lainnya. Meskipun demikian, mereka tetap
bersabar, tidak mundur walau setapak pun. Sehingga kesabaran seperti itu
mendapatkan perhargaan dari Allah Ta’ala yang sangat tinggi, dan Rasulullah
menjanjikan mereka akan mendapatkan 50 kali lipat para sahabat, “Sesungguhnya
di belakang kalian ada hari-hari, kesabaran pada saat itu seperti menggenggam
bara api. Orang yang beramal (dengan amal) pada saat itu mendapatkan pahala
seperti pahala 50 orang yang beramal seperti amal kalian. Abdullah bin Mubarak
mengatakan, “Telah ditambahkan penjelasan kepadaku dengan jalan selain Utbah,
ada sahabat yang bertanya: Wahai Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam, pahala
50 dari kami atau dari mereka. Beliau menjawab, “Pahala 50 orang dari kalian.” [HR.
At-Tirmidzi].
Lalu kulihat diriku. Beserta
dengan teman-temanku. Hmmm, kami dapati diri kami menjadi orang-orang terasing.
Di tengah pergaulan kami dengan teman-teman, masyarakat dan keluarga kami
sendiri.Betapa kami benar-benar dalam keadaan terasing. Maka dari itu, kami
senantiasa saling menguatkan. Namun, di awal dari keadaanku untuk menjalankan
sunnah, tak ada tempatku untuk saling menopang kecuali Allah. Tak pihak yang
memberikan motivasi untuk bertahan. Untuk istiqomah di jalan-Nya. Hingga
membuatku kadang untuk menyerah dan kembali menanggalkan hidayah yang telah Dia
anugrahkan padaku.
Namun, lambat laun dan
pasti. Allah selalu ada. Allah membimbingku untuk tetap bertahan. Untuk tetap
berjalan menuju-Nya meskipun dalam keadaan tertatih. Meskipun harus merangkak
Allah membimbingku terus. Dia mengajariku untuk bertahan dan menguatkanku untuk
tetap istiqomah. Aku kuatkan azzamku untuk menuju-Nya. Memohon belas kasih-Nya
untuk mengirimkanku orang yang mampu membuatku bertahan. Atau bernasib sama
denganku. Hidup dalam keterasingan untuk tetap mendekat dan menghidupkan
syariat dan sunnah Rasul-Nya.
Maka Allah mengirimkanku
orang-orang yang bernasib sama denganku. Mengirimkan sosok pemuda yang
senantiasa jua untuk menghidupkan sunnah. Ia terasing pula dan telah melalui
fase yang telah menderaku. Maka saling menguatkanlah kami. Saling menasehatilah
kami. Saling menopanglah kami menuju cinta-Nya. Hingga kami menjalin ukhuwah
Islamiyah berdasarkan cinta pada-Nya. Uhibbuka fillah ya akhi.
Kini, aku sadar dan terus
menekankan pada diriku bahwa berbanggalah. Berbanggalah menjadi orang-orang
asing. Orang yang dicintai oleh Sang Maha Cinta dan dirindukan oleh penduduk
langit. Insya Allah. Sebab boleh jadi kita menjadi orang terasing di dunia ini,
namun kita dikenal oleh penduduk langit.
Semoga Allah selalu
menjadikan kita senantiasa istiqomah atas syari’at dan sunnah Rasul-Nya. Dan
semoga hati-hati kita senantiasa terpaut akan cinta pada dakwah dan cinta
kepada saudara kita atas dasar karena-Nya.
***
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...