Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Berbanggalah Jadi Orang Asing



Hasan al-Bashri mengatakan “Orang mukmin di dunia itu seperti orang asing yang tidak risau terhadap kehinaannya dan tidak mau bersaing untuk mendapatkan kemuliaannya, karena ia memiliki suatu urusan sedangkan orang lain memiliki urusan yang lain.”

Tak ada yang sia-sia dalam setiap yang terjadi pada hidup kita. Susah-senang. Suka-duka. Awal-akhir. Depan-belakang. Semua berkonvergensi menjadi satu pada dalam aturan Ilahi. Tak ada yang sia-sia. Selalu ada ibrah dan refrensi menuju perjalanan selanjutnya. Lantas, apakah kita mengambil peran yang tepat dalam hidup? Apakah kita memposisikan diri sebagaimana fitrahnya? Lalu bagaimana desain hidup kita? Apakah sesuai dengan syariat-Nya atau hanya sekedar nalar akal kita?
Sebab tak ada sesuatu hal yang tak memiliki kebenaran dan manfaat dalam setiap syari’at yang telah atur untuk kita selaku hamba-Nya. Syari’at Allah dalam Al-Qur’an adalah kebenaran mutlak dan memiliki wujud hikmah di dalamnya. Anggaplah misalnya, aturan Allah tentang pelarangan untuk berkhalwat antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya. Sudah sangat jelas dasarnya yang telah Allah sampaikan kepada kita melalui lisan Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam. Perintah untuk tidak berkhalwat (berdua-duaan) antara seorang pria dan wanita yang bukan mahram selama ini dipatuhi seorang mukmin sebagai ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Tapi, jarang dari kita yang mengetahui alasan ilmiah dibalik perintah itu.
Pasti kita bertanya, kenapa hal tersebut dilarang dan dianggap berbahaya oleh syari’at Islam? Bagian tubuh kita yang mana yang ternyata berpengaruh terhadap kondisi khalwat itu?
Para peneliti di Universitas Valencia menengaskan bahwa seorang yang berkhalwat dengan wanita menjadi daya tarik yang akan menyebabkan kenaikan ‘Sekresi Hormon Kortisol’. Kortisol adalh hormon yang bertanggung jawab terjadinya stres dalam tubuh. Meskipun subjek penelitian mencoba untuk melakukan penelitian atau hanya berfikir tentang wanita yang sendirian dengannya hanya dalam sebuah simulasi penelitian. Namun, hal tersebut tidak mampu mencegah tubuh dari sekresi hormon tersebut.
“Cukuplah anda duduk selama lima menit dengan seorang wanita. Anda akan memiliki proporsi tinggi dalam peningkatan hormon tersebut.” Inilah temuan studi yang dimuat pada Daily Telegraph!
Para ilmuan mengatakan bahwa hormon kortisol sangat penting bagi tubuh dan berguna untuk kinerja tubuh tetapi dengan syarat mampu meningkatkan proporsi rendah, namun jika meningkat hormon dalam tubuh dan berulang terus proses tersebut, maka yang demikian dapat menyebabkan penyakit serius seperti jantung dan tekanan darah tinggi serta berakibat pada diabetes dan penyakit lainnya yang mungkin meningkatkan nafsu seksual.
Bentuk yang menyerupai alat proses hormon penelitian tersebut berkata bahwa stres tinggi hanya terjadi ketika seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita asing (bukan mahram), dan stres tersebut akan terus meningkat pada saat wanitanya memiliki daya tarik lebih besar. Tentu saja, ketika seorang pria bersama dengan wanita yang merupakan saudaranya sendiri atau saudara dekat atau ibunya sendiri tidak akan terjadi efek dari hormon kortisol. Seperti halnya ketika pria duduk dengan seorang pria aneh, hormon kortisol ini tidak akan naik. Hanya ketika sendirian dengan seorang pria dan seorang wanita yang aneh.
Para peneliti mengatakan bahwa pria ketika ada perempuan asing disisinya, dirinya dapat membayangkan bagaimana membangun hubungan dengannya (jika tidak emosional), dalam penelitian lain, para ilmuan menekankan bahwa situasi ini (untuk melihat wanita dan berpikir tentang mereka) jika diulang, mereka memimpin dari waktu ke waktu untuk penyakit kronis dan masalah psikologis seperti depresi.
Nabi SAW Mengharamkan khalwat. Kita semua tahu hadits yang terkenal yang mengatakan; “Tidaknya ada yang seseorang laki-laki berkhalwat dengan wanita kecuali setan adalah yang ketiga.” Hadits ini menegaskan diharamkan berkhalwat bagi seorang pria dengan wanita asing atau bukan mahramnya.  Karena itu Nabi SAW melalui syari’at ini menginginkan kita menghindari banyak penyakit sosial dan fisik.
Ketika seorang beriman mampu menghindari diri dari melihat wanita (yang bukan mahram) dan menghindari diri dari berkhalwat dengan mereka, maka ia mampu mencegah penyebaran amoralitas dan dengan demikian melindungi masyarakat dari penyakit epidemi dan masalah sosial, dan mencegah individu dari berbagai penyakit.
Itu dari sekian banyaknya hikmah syari’at yang telah Allah Rasul-Nya aturkan untuk kita. Namun, ketika kita mengaplikasikan semua itu. Maka kita akan dicap menjadi orang-orang yang asing. Orang aneh. Kuper dan ketinggalan zaman. Tidak mengerti dengan style dan mode terbaru. Maka dapatlah kita predikat ‘orang-orang asing.’
Di tengah zaman sekarang. Menjadi seorang pemuda yang tidak mengikuti trendy dan pergaulan maka kita akan menjadi sampah pergaulan dan pemuda primitif menurut persepsi mereka yang mengaku mengikuti trendy zaman dan pergaulan. Realitasnya, generasi muda kita sekarang ini—kecuali yang dilindungi Allah—menderita penyakit yang sangat berbahaya dan perlu terapi yang segera serta perhatian yang serius. Di antara penyakit yang paling serius adalah “Ketidakjelasan tujuan hidup.” Ia tak tahu, apa tugasnya dalam hidup ini dan apa posisinya di muka bumi ini.
Kebanyakan pemuda telah kehilangan tujuan hidup mereka. Sekalipun ada, tak lebih dari sebatas memiliki mobil, apartemen, atau hal semisalnya yang sifatnya materi saja. Meskipun kita sepakat bahwa tujuan seperti ini bukanlah sesuatu yang haram atau tidak bernilai. Namun, permasalahannya adalah tujuan utama dan obsesi besar telah sirna dalam hidup mereka. Sebaliknya, semua tujuan hidup yang kecil ini harusnya menjadi sarana untuk merealisasikan tujuan utama yang lebih besar, yang mesti dicapai sebagian besar generasi muda.
Masalah ini merupakan malapetaka besar dalam hidup mereka. Seakan-akan mereka berkata:
إِنۡ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا نَحۡنُ بِمَبۡعُوثِينَ ٣٧
Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi.” [QS. Al-Mu’minun: 37]
Kebanyakan dari generasi muda kita hanya tersibukkan dengan makanan, minuman, tempat tinggal, permainan, hura-hura, kenikmatan sesaat dan syahwat duniawi belaka. Mereka hanya disibukkan dengan semua hal tersebut. Kebanyakan mereka mengalami dekadensi moral yang sangat memprihatinkan.
Bahkan, ketika umat Islam hampir tenggelam di kedalaman problematika yang sangat kompleks, para pemuda hanya menyaksikan, menonton, dan mengawasinya dari kejauhan. Seakan, seluruh permasalahan yang menimpa tak ada hubungannya dengan mereka sedikit pun. Meskipun ia sadar betul, bahwa akhirnya ia masuk dalam jurang kehancuran bersama umatnya.
Padahal masa muda adalah masa yang sangat penting. Ia adalah masa yang sangat progresif dan inovatif dalan penentuan sikap jika dimanfaatkan dalam jalur yang Allah telah syari’atkan. Iman At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud rahimullah bahwa Nabi Muhammad sallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Kelak pada hari kiamat, kaki seorang anak manusia tidak akan bergerak (ke surga atau ke neraka) dari sisi Rabbnya, hingga 4 perkara ditanyakan kepadanya; tentang usianya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, dan tentang ilmunya apa yang ia perbuat dengannya.” [HR. At-Tirmidzi]
Dengan hadits yang mulia ini, jelaslah bagi kita bahwa betapa besar nilai masa muda dalam hidup seorang manusia. Meskipun masa muda merupakan masa yang sangat terbatas, akan tetapi Allah Ta’ala telah memberikan sebuah pertanyaan khusus pada hari kiamat kelak. Padahal kalau Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam menyebut “usia” sudah cukup dan maknanya bisa dipahami secara sempurna. Sebab kalimat “usia” saja sudah mencakup masa muda seseorang.
Namun, beliau mengkhusus masa muda, supaya manusia memperhatikan bahwa masa ini mempunyai kepentingan tersendiri dalam hidup seorang manusia. Seperti halnya yang perlu diperhatikan bahwa seorang pemuda—meski masih relatif kecil (dari sisi usia)—namun kelak pada hari kiamat ia akan ditanya dan ia akan dihisab. Dirinya tidak akan diberi taufik untuk meniti jalan dan masuk ke dalam surga, kecuali jika ia diberi taufik untuk menjawab pertanyaan detail yang ditujukan kepadanya secara khusus, yakni semua lika-liku hidupnya, yang di antaranya adalah masa mudanya.
Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Adi bin Hatim radiyallahu ‘anhu berkata Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap dari kalian pasti akan diajak bicara oleh Allah Ta’ala. Tidak ada perantara antara ia dengan Allah. Ia melihat ke arah kanan, ia hanya melihat apa (kebaikan) yang telah ia lakukan selama ini. Lalu ia melihat ke kiri, ia juga hanya melihat apa (kejelekan) yang telah ia lakukan selama ini. Lalu ia melihat ke depan, dan tidak ia dapati di hadapannya melainkan neraka. Maka jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (bersedekah) sebiji kurma.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].
Hadits di atas menjelaskan bahwa tidak ada pertanyaan yang bersifat pengecualian. Setiap umat manusia meskipun usia, jenis kelamin, warna kulit, dan rasnya berbeda-beda, kelak pada hari kiamat akan ditanya dan dihisab. Maka jelaslah bahwa tidak selayaknya dan tidaklah bijaksana seorang pemuda menghabiskan masa mudanya yang sangat indah itu hanya untuk bermain, glamour, bersenda gurau belaka, dan tidak mau bertanggung jawab. Dan sudah pasti, kelak dimintai pertanggungjawaban tentang masa mudanya, untuk apa yang ia habiskan.
***
Potret pemuda masa kini adalah sebuah potret yang sangat memprihatinkan untuk kita semua. Tugas kita bersama untuk mencarikan problem solving. Tugas kita untuk menjadi penopang dan nahkoda sementar untuk mereka sampai ia benar-benar tahu untuk apa dan ke mana tujuan hidupnya. Maka jelaslah pada realitas kita, jika tampil untuk menunjukkan pada kebenaran maka kita menjadi orang-orang terasing. Orang-orang yang dianggap aneh. Lalu, haruskah kita mundur dan menyerah?
TIDAK……TIDAK…..TIDAK…..
Katakan “Tidak”. Mari terus maju dan bertahan untuk melihat saudara kita kembali pada fitrahnya. Kembali pada Allah.
Sama halnya dengan diriku, saat memutuskan untuk meninggalkan isbal. Meninggalkan sesuatu yang pemuda masa kini kerjakan sebagai dalih ikuti zaman. Saat memutuskan untuk mengatakan bahwa pacaran itu haram. Saat memutuskan untuk kembali mencari hidayah Allah yang telah aku lepaskan. Saat memutuskan untuk tidak menyentuh perempuan yang bukan mahram. Saat memutuskan untuk meleburkan diri dalam jalan terjang. Dalan jalan dakwah menuju ketaatan pada Rabb-ku. Memutuskan untuk menjadikan hidup sebagai ladang untuk memperbaiki diri dan terus berusaha belajar menjadi hamba Allah yang baik serta menjadi saudara Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam yang membuatnya bangga. Menjadiسَمِعْنَا وَأَطَعْنَا terhadap apa-apa yang Allah dan Rasul-Nya cintai dan yang dibenci. Terhadap apa yang diperintahkan dan dilarangnya. Aku belajar. Belajar untuk mengaplikasikannya. Aku belajar dan terus belajar.
Apakah jalan yang aku putuskan mulus? Mudah, seperti membalikkan telapak tangan?
Tidak. Tidak ada yang mudah pada awalnya. Bahkan di tengah perjalanan menuju-Nya aku hampirr futur dan menyerah. Menyerah pada keadaan dan tidak mampu lagi berdiri. Tidak lagi bisa dinamis melainkan stagnak pada jalanku sekarang. Namun, jauh dari semua itu, kudapati diriku tak sebanding dengan kisah Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam yang menemui ujian paling berat dalam menjalan dakwah lailaha illallah. Dakwah untuk menyeruh kepada manusia mengenal Tuhan-nya dan meninggalkan kejahiliyahan. Tak sebanding dengan kisah para sahabat; Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Tholib. Diriku tak sebanding dengan kisah perjuangan mereka. Betapa lemahnya diriku dan betapa mudahnya diriku untuk menyerah pada apa yang terjadi.
Dan kembali kulihat diriku tak sebanding dengan perjuangan kisah Arqam bin Abi Arqam Al-Makhzumi radiyallahu ‘anhu. Ia adalah sosok sahabat yang namanya sangat harum dalam kenangan setiap muslim.  Dialah orang yang menyambut dengan hangat kedatangan dakwah Islam di dalam rumahnya—padahal hal ini sangatlah berbahaya dan berisiko besar—selama tiga belas tahun penuh di kota Mekkah. Perlu diketahui pula bahwa Arqam berasal dari Bani Makhzum, yakni sebuah kabilah yang selalu bersaing untuk meraih pundi kemuliaan dengan Bani Hasyim. Namun, ia berani menyambut Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam yang berasal dari Bani Hasyim sebagai tamu di dalam rumahnya.
Bisa dipastikan, hala itu akan mengundang kesulitan dan percekcokan dengan para pembesar kabilah dan kaum kerabatnya. Jangan kita lupakan pula, pemimpin kabilah Bani Makhzum adalah Abu Jahal sendiri. Ia adalah durjana dan lalim; paling keji dan paling bengis di kota Mekkah. Karena kebengisan dan kekejamannya, ia diberi gelar “Fir’aun umat ini.” Kalau saja ia mengetahui ada anggota kabilahnya yang menyambut kedatangan Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam serta para sahabat beliau di dalam rumahnya, niscaya malapetaka besar dan musibah dahsyat akan menimpanya.
Meskipun demikian, Arqam bin Abi Arqam radiyallahu ‘anhu tetap menyambut kedatangan beliau di atas semua resiko ini. Dengan taruhan yang besar ini, ia korbankan dirinya demi membela Islam. Berapakah usia pahlawan yang agung ini di kala masuk Islam?Usianya baru menginjak enam belas tahun! Masuk akalkah ini?
Ketika kita membaca nama-nama yang tercantum indah dalam sejarah emas Islam, seperti Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Arqam bin Abi Arqam—semoga Allah meridhoi mereka semua—kita yakin bahwa kita sedang berinteraksi dengan para pahlawan sejati nan agung. Realitasnya, kita memang sedang berinteraksi dengan para pahlawan sejati nan agung tapi mereka bukan orang-orang yang berusia tua. Mereka adalah orang-orang yang kedudukan, akal fikiran, perjuangan, keimanan, jerih payah, dan akhlaknya luhur dan mulia. Mereka adalah generasi muda yang menjadi pahlawan sejati yang agung di alam realitas kita. Padahal usia mereka baru berkisar lima belas, enam belas atau tujuh belas tahun.
Aku benar-benar tersentak dalam kekaguman. Betapa tegar dan agungnya genarasi pejuang Islam terdahulu. Usia tak menentukan dan menjadi jaminan bahwa mereka akan menjadi lebih baik. Namun, jauh dari semua itu adalah sikap kegigian dan keyakinan untuk terus memberikan yang terbaik bagi dakwah ini. Dakwah agama Allah Ta’ala. Namun, apa  yang terjadi dengan diriku? Aku benar-benar malu.
Lambat laun namun pasti. Keterasingan yang terus menderaku memaksaku untuk tampil. Untuk ke depan dan menyeruakan kebenaran. Menyeruakan kebenaran Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Allah menginginkan kita untuk senantiasa mengaplikasikan rasa cinta pada-Nya dalam bentuk ketaatan.
Cacian dan rasa intimidasi semakin membuatku terus bertanya tentang konsekuwensi yang harus aku terima atas keputusan yang telah aku pilih. Terhadap apa yang menjadi kebiasaan baruku. Terhadap peleburan diriku pada pengaplikasian dari sunnah Rasul. Terhadap interpretasiku tentang Isbal, Jenggot dan beberapa sunnah Rasul.
Tak ada yang mudah. Tak pula yang tak langsung menjadi sebuah pencapaian sempurna. Aku harus meyakinkan diriku. Fikirku pada saat itu. Yah, aku harus meyakinkan diriku bahwa benar sabda Rasul-Nya; “Akan datang suatu zaman dimana orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” [HR. Tirmidzi]. Benar! Aku meyakinkan diriku tentang hadits tersebut. Inilah zaman itu, zaman dimana ketika kita berpegang teguh pada agama seperti memegang bara api. Dan hadits ini menunjukkan ‘khobar’ dan ‘irsyad’ (petunjuk). Adapun khobar beliau Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa pada akhir zaman kebaikan dan sebab-sebab kepada kebaikan akan menjadi sedikit. Dan keburukan dan sebab-sebab kepada keburukan akan menjadi banyak. Dan ketika dalam keadaan seperti itu, seorang yang berpegang teguh pada dengan agamanya menjadi sangat sedikit. Dan keterasingan ini berada pada kondisi yang sangat sulit dan sangat berat, seperti kondisi seseorang yang mengenggam bara api, dikarenakan kuatnya orang-orang yang menyimpang dan banyaknya fitnah yang menyesatkan, fitnah-fitnah syubhat, keragu-raguan dan penyimpangan, dan fitnah-fitnah syahwat dan berpalingnya makhluk kepada urusan dunia dan tersibukkannya mereka di dalamnya secara lahir dan batin, dan lemahnya iman, dan sulitnya orang yang sendiri (istiqomah) dikarenakan sedikitnya orang yang menolong dan membantunya.
Akan tetapi orang yang berpegang teguh dengan agamanya yang ia tegak menolak penyimpangan dan rintangan, yang tidaklah berbuat demikian kecuali orang yang memiliki bashiroh (ilmu) dan keyakinan, orang yang memiliki iman yang kuat, yang merupakan sebaik-baik makhluk, dan yang paling tinggi derajat dan kedudukannya di sisi Allah.
Adapun petunjuk, maka hadits ini merupakan petunjuk kepada umatnya agar membiasakan dirinya dengan kondisi ini, dan supaya mereka mengetahui bahwa hal ini akan terjadi, dan barang siapa yang menghinakan arus ini dan tetap sabar di atas agama dan imanya—dengan penyimpangan-penyimpangan ini—maka baginya derajat yang tinggi di sisi Allah dan Allah akan menolongnya terhadap apa-apa yang dicintai-Nya dan diridhoi-Nya
Aku meyakinkan diriku tentang konsekuwensi menjadi orang-orang terasing. Sebab telah kutelaah tentang hadits Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam  tentang siapa itu orang-orang terasing. “Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terassing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab shahihnya, dari Abu Hurairah, selain meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Imam Muslim juga meriwayatkan hadits dari Ibn Umar dengan teks yang sedikit berbeda dan ada beberapa kalimat tambahan.
Selain Muslim, di dalam kutub tis’ah (sembilan kitab hadits induk), hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab al-Musnad dari Sa’d bin Abi Waqqah, Abdullah bin Amru bin Ash, Ibnu Mas’ud, Abu Hurairah dan Abdurrahman bin Sanah dengan teks yang bermacam-macam tetapi pengertiannya sama. Ibnu Majah di dalam as-Sunan karangannya meriwayatkan dari Anas bin Malik, Abdullah bin Mas’ud, dan Abu Hurairah. Sedangkan ad-Darimi meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud saja. At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Amr bin ‘Auf. Selain menyebutkan dua riwayat itu at-Tirmidzi juga menambahkan bahwa hadits seperti ini diriwayatkan juga dari beberapa shahabat seperti Sa’d, Ibnu Umar, Anas dan Ibnu Amr bin Ash.
Kata Gharib yang terdapat di dalam hadits tersebut berasal dari kata Gharaba. Di dalam kamus disebutkan bahwa gharaba ini memiliki banyak makna. Muhammad Murtadla az-Zubaidi dalam syarh al-Qamus menyebutkan 34 makna, di anataranya adalah jauh, tersembunyi, berpergian, jarang, dan tidak terkenal.
Dari sekian banyak makna, ghurbah (keterasingan) ini bisa dibagi menjadi dua macam; keterasingan secara fisik dan keterasingan secara non-fisik. Asing dalam hadits ini tentu bukanlah asing dalam makna fisik, tetapi asing dalam makna non-fisik. Keterasingan ini dirasakan oleh orang yang ada di negeri sendiri, di tengah-tengah masyarakatnya, bahkan di tengah-tengah keluarganya. Tetapi ketika umumnya masyarakat mengantungkan hatinya dengan berbagai gantungan duniawi, ia mengantungkan hatinya kepada Allah, sebab Dia-lah tempat dirinya berasal dan berasalnya segala sesuatu. Maka saat itu orientasinya menjadi asing di mata manusia, bahkan tindakannya pun dinilai asing oleh kebanyakan manusia. Meskipun begitu, aneh tetapi justru itulah yang benar. Hasan al-Bashri mengatakan “Orang mukmin di dunia itu seperti orang asing yang tidak risau terhadap kehinaannya dan tidak mau bersaing untuk mendapatkan kemuliaannya, karena ia memiliki suatu urusan sedangkan orang lain memiliki urusan yang lain.”
***
Lalu siapakah orang-orang terasing itu?
Aku telah mengetahui makna dari orang-orang asing itu. Telah ketelaah dengan baik hadits Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam. Maka dengan begitu aku telah mampu untuk menginterpretasikan orang-orang yang terasing itu, dalam fikirku. Siapa ia? Meraka adalah yang senantiasa memperbaiki agamanya sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan sunnah serta dengan metode pemahaman pada pendahulu ummah yaitu para sahabat dan tabi’in. mereka layak untuk menjadi rujukan dalam metode pemahaman Islam, sebab pemahaman mereka adalah pemahaman yang lurus. Kerena lurusnya keberagamaan mereka itulah para sahabat Rasul mendapat sebuatan radhiyallahu’anhu (Allah telah meridhai mereka) di dalam beberapa ayat. Selain itu Allah dan Rasul-Nya telah memuji mereka karena kebaikan mereka diberbagai ayat dan hadits. Allah berfirman;
وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا ١١٥
Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [QS. An-Nisa: 115].
Yang dimaksud dengan orang mukmin pada ayat tersebut di atas adalah para sahabat, sebagaimana ayat berikutnya;
فَإِنۡ ءَامَنُواْ بِمِثۡلِ مَآ ءَامَنتُم بِهِۦ فَقَدِ ٱهۡتَدَواْۖ وَّإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا هُمۡ فِي شِقَاقٖۖ فَسَيَكۡفِيكَهُمُ ٱللَّهُۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُٱلۡعَلِيمُ ١٣٧
Maka jika mereka beriman kepada apa yang  kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. Al-Baqarah: 137].
Dhamir (kata ganti) kalian di dalam ayat ini bisa dipahami sebagai Rasulullah dan para sahabat. Sebab kaum muslimin yang langsung berhadapan dengan turunnya ayat adalah Rasul dan para sahabat. Maka ayat ini bermakna, bahwa orang yang beriman tidak seperti berimannya para sahabat maka sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan.
Kemudian Rasulullah sallallahu’alahi wasallam juga menyebutkan bahwa pemahaman agama para sahabat itulah pemahaman yang benar sebagaimana dalam hadits Rasulullah; “Dan ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali hanya satu golongan saja. Para sahabat bertanya, “Siapakah dia, wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “Seseuatu yang aku dan para sahabatku ada di atasnya.” [HR. Tirmidzi].
Kita bisa merasakan saat ini orang yang berusaha untuk mengikuti tuntunan Al-Qur’an dan sunnah dengan manhaj para sahabat dan tabi’in apa adanya tidak banyak. Orang yang berpakaian sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan sunnah tidak banyak. Yang benar dalam bergaul sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan sunnah tidak banyak. Yang berusaha untuk menghidupkan sunnah-sunnah Rasul dalam hidupnya, juga sedikit.
Aku kembali tersadar.  Bahwa orang-orang terasing itu tidak hanya memperbaiki agama dirinya. Mereka pun senantiasa mendakwahkan kebenaran itu kepada umat manusia pada umumnya. Mereka melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Karena itulah syarat keunggulan agama ini di atas agama dan ajaran lainnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala;
وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٠٤
Dan hendaklah ada di antara kalian sekelompok ummat yang menyeruhkan kepada kebaikan (Islam) dan memerintahkan kepada yang ma’ruf serta melarang yang murka. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [QS. Ali-Imran: 104].
Dan mereka yang senantiasa bersabar. Sabar menghadapi ujian dan cobaan. Berbagai usaha yang mereka lakukan untuk kebaikan diri mereka dan kebaikan masyarakat namun, sambutan yang mereka terima justru sikap negatif, mereka dikucilkan, dimusuhi, dibenci, diejek dan berbagai sikap yang tidak menyenangkan lainnya. Meskipun demikian, mereka tetap bersabar, tidak mundur walau setapak pun. Sehingga kesabaran seperti itu mendapatkan perhargaan dari Allah Ta’ala yang sangat tinggi, dan Rasulullah menjanjikan mereka akan mendapatkan 50 kali lipat para sahabat, “Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari, kesabaran pada saat itu seperti menggenggam bara api. Orang yang beramal (dengan amal) pada saat itu mendapatkan pahala seperti pahala 50 orang yang beramal seperti amal kalian. Abdullah bin Mubarak mengatakan, “Telah ditambahkan penjelasan kepadaku dengan jalan selain Utbah, ada sahabat yang bertanya: Wahai Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam, pahala 50 dari kami atau dari mereka. Beliau menjawab, “Pahala 50 orang dari kalian.” [HR. At-Tirmidzi].
Lalu kulihat diriku. Beserta dengan teman-temanku. Hmmm, kami dapati diri kami menjadi orang-orang terasing. Di tengah pergaulan kami dengan teman-teman, masyarakat dan keluarga kami sendiri.Betapa kami benar-benar dalam keadaan terasing. Maka dari itu, kami senantiasa saling menguatkan. Namun, di awal dari keadaanku untuk menjalankan sunnah, tak ada tempatku untuk saling menopang kecuali Allah. Tak pihak yang memberikan motivasi untuk bertahan. Untuk istiqomah di jalan-Nya. Hingga membuatku kadang untuk menyerah dan kembali menanggalkan hidayah yang telah Dia anugrahkan padaku.
Namun, lambat laun dan pasti. Allah selalu ada. Allah membimbingku untuk tetap bertahan. Untuk tetap berjalan menuju-Nya meskipun dalam keadaan tertatih. Meskipun harus merangkak Allah membimbingku terus. Dia mengajariku untuk bertahan dan menguatkanku untuk tetap istiqomah. Aku kuatkan azzamku untuk menuju-Nya. Memohon belas kasih-Nya untuk mengirimkanku orang yang mampu membuatku bertahan. Atau bernasib sama denganku. Hidup dalam keterasingan untuk tetap mendekat dan menghidupkan syariat dan sunnah Rasul-Nya.
Maka Allah mengirimkanku orang-orang yang bernasib sama denganku. Mengirimkan sosok pemuda yang senantiasa jua untuk menghidupkan sunnah. Ia terasing pula dan telah melalui fase yang telah menderaku. Maka saling menguatkanlah kami. Saling menasehatilah kami. Saling menopanglah kami menuju cinta-Nya. Hingga kami menjalin ukhuwah Islamiyah berdasarkan cinta pada-Nya. Uhibbuka fillah ya akhi.
Kini, aku sadar dan terus menekankan pada diriku bahwa berbanggalah. Berbanggalah menjadi orang-orang asing. Orang yang dicintai oleh Sang Maha Cinta dan dirindukan oleh penduduk langit. Insya Allah. Sebab boleh jadi kita menjadi orang terasing di dunia ini, namun kita dikenal oleh penduduk langit.
Semoga Allah selalu menjadikan kita senantiasa istiqomah atas syari’at dan sunnah Rasul-Nya. Dan semoga hati-hati kita senantiasa terpaut akan cinta pada dakwah dan cinta kepada saudara kita atas dasar karena-Nya.
***







Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia