Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Bersyukurlah!
Siskaee
Juli 10, 2017
“Yang
paling pandai bersyukur kepada Allah adalah orang yang paling pandai bersyukur
pada manusia.” [HR. Ath-Thabarani]
Hari ini, ketika kita
terbangun dari tidur, sebenarnya itu adalah kasih sayang dari-Nya. Dia telah
menghidupkan kita dari kematian kecil. Membangunkan kita dengan semangat yang
baru dan kebugaran yang baru pula. Kita menikmati kicauan burung yang bersenandung
bersama alam. Kita mendengarkan dan menyaksikannya dengan rahmat penglihatan
dan pendengaran yang telah Dia berikan kepada kita. Merasakan hujaman sinar
mentari. Menghirup udara segar. Semua itu karunia dari-Nya. Guyuran ni’mat yang
telah Dia amanah kepada kita untuk senantiasa menjadi pengingat bahwa kita
adalah manusia yang bergantung. Memohon pertolongan. Manusia yang lemah dan
tiada daya apapun tanpa-Nya. Maka bersyukurlah. Menangislah kepada-Nya atas
anugerah besar yang telah Dia berikan kepada kita.
Wujud
syukur kita adalah pembuktian diri bahwa kita sadar akan kelemahan kita. Sadar
akan ke-Maha Sempurnaan-Nya dan sadar akan cinta-Nya yang besar melebihin cinta
makhluk-Nya.
Bersyukurlah
dengan syukur yang benar. Syukur yang nyata. Syukur yang tidak hanya kita
mengatakan “Alhamdulillah rabbil’alamin; Segala Puji Bagi Allah Ta’ala. Tapi
bagaimana rasa syukur itu terus menjadikan kita sebagai pribadi yang taat.
Pribadi yang senantiasa berjuang dan berusaha untuk mendekati-Nya. Pribadi yang
selalu bersemangat melakukan ketaatan dan kebaikan-kebaikan ibadah dengan penuh
keikhlasan.
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula)
kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari
(nikmat)-Ku.”[QS. Al-Baqarah (2): 152]
Surat
cinta Allah menjelaskan kepada kita untuk selalu mengingat Allah dan bersyukur
serta jangan mengingkari ni’mat-Nya. Menganjurkan setiap gerak gerik dan
langkah kita harus senantiasa menggambarkan wujud rasa syukur kita pada-Nya.
Maka tidak ada alasan untuk kita tidak bersyukur. Ada banyak ayat yang
menjelaskan dan memerintahkan kepada kita untuk bersyukur. Bersyukur dan terus
bersyukur.
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang
baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika
benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”[QS. Al-Baqarah (2): 172]
Namun kebanyakan manusia menjadi bagian dari
hamba Allah yang lalai dan melupakan rasa syukur kepada-Nya. Menjadi manusia
yang melupakan ni’mat-Nya. Padahal Allah selalu melimpahkan ni’mat-Nya dari
kita bangun tidur sampai tidur lagi. Tidak adapun bayaran atau imbalan yang
diminta oleh-Nya. Hanya perintah untuk bersyukur sehingga kita menjadi hamba
yang tahu untuk berterima kasih. Hamba yang pandai untuk menghargai. Tapi
realitasnya kebanyakan manusia jatuh pada lubang kekufuran.
“Dan Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai kurnia yang
besar (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak
mensyukuri(nya).” [QS. An-Naml (27): 73]
“Dan dialah yang Telah menciptakan bagi kamu
sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. amat sedikitlah kamu bersyukur.”
[QS. Al-Mu’minuun (23): 78]
Dua
ayat ini hanyalah sebagai dari banyaknya gambaran manusia yang amat sedikit
bersyukur pada ni’mat yang Allah limpahkan pada hidup kita. Atas segala
kehidupan yang Allah berikan kepada kita. Atas segala potensi yang telah Dia
titipkan secara tepat pada diri kita. Tapi sangat sedikit dari mereka yang
sadar dan mensyukurinya. Kita berharap pada-Nya, semoga golongan sedikit
(Bersyukur) itu menjadi golongan yang kita pilih. Menjadi hamba yang selalu
menunjukkan rasa cintanya dengan bersyukur.
Bersyukur
tidak menjadikan kita hina dihadapan Allah. Tidak pula menjadikan kekayaan dan
kemuliaan Allah bertambah. Melainkan syukur kita itu adalah sebuah investasi
dan keuntungan buat diri kita. Sebuah anugerah bagi kita. Maka mari kita
perhatikan janji-Nya yang dikabarkan untuk orang-orang yang bersyukur.
“Dan Sesungguhnya Telah kami berikan hikmat kepada Luqman,
yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada
Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa
yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”
[QS. Luqman (31): 12].
Dalam
sebuah penelitian juga ditemukan bahwa banyak bersyukur maka akan menjadi
manusia itu lebih terarah dan memiliki ketenangan serta kebahagiaan. Menurut
salah seorang Profesor Kedokteran dari University San Diego School of Medicine
yang bernama Paul Mills mengatakan bahwa sikap bersyukur dan mental positif
akan mengurangi tingkat depresi atau kecemasan seseorang sehingga bisa
menurunkan angka resiko terkena penyakit jantung. Penelitian ini sudah
dilakukan profesor selama bertahun-tahun.
Penelitian
ini telah melibatkan 186 pria dan wanita yang berusia 66 tahun. Penelitian ini
sengaja mengambil sampel orang-orang yang berusia lanjut karena dianggap lebih
banyak mengalami masalah hidup dan pahit manis kehiudupan. Para sampel diminta
untuk mengisi kuesioner yang telah dibagikan untuk mengukur rasa syukur
seseorang terhadap kehidupan yang telah mereka jalani. Hasilnya adalah setelah
dilakukan analisa terhadap darah, inflamasi, penumpukkan plak pada darah,
ternyata mereka yang selama hidupnya lebih banyak bersyukur memiliki tingkat
lebih rendah terhadap plak pada darah, inflamasi, tekanan darah dibandingkan
dengan mereka yang tidak atau kurang bersyukur terhadap kehidupannya. Menurut
Mills, tingkat inflamasi yang rendah menjadi tolak ukur kesehatan jantung seseorang.
Tidak
berhenti sampai disitu saja, Mills melakukan penelitian lanjutan kepada empat
puluh orang penderita penyakit jantung. Setelah itu, mereka diminta untuk
setiap hari menulis tentang apa yang dia syukuri setiap harinya dan ini
berlangsung selama sepekan. Banyak dari para penderita yang menulis mereka
senang mempunyai anak, cucu, pasangan hidup maupun harta benda yang mereka
miliki. Setelah itu, Mills melakukan pengkajian ulang terhadap empat puluh
pasien penderita jantung tadi. Hasilnya adalah mereka yang rajin menulis
tentang hal-hal yang mereka miliki dan mereka senang atau bersyukur membuat
tingkat peradangan jantung dan irama jantung menjadi lebih baik.
Mari
memulai membuat kebiasaan bersyukur atas apa yang Allah berikan. Kecil maupun
besar. Sebab syukur kita menjadikan kita mengikat ni’mat Allah dengan ikatan
yang kuat. Bersyukrlah.
“Siapa yang tidak
mensyukuri ni’mat Allah, maka berarti berusaha untuk hilangnya ni’mat itu. Dan
siapa yang bersyukur atas ni’mat berarti telah mengikat ni’mat itu dengan
ikatan yang kuat.” [Ibnu Athailah]
[
]

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...