Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Melukis Warna Senja (Part 2)




Awal Perjalanan
Lantunan panggilan Tuhan menggema memenuhi petala langit. Panggilan untuk menghadapkan wajah kepada Sang Maha Raja manusia yang telah memberikan hidup kepada seluruh makhluk yang ada di bumi dan di langit. Ia mendengarkan panggilan Tuhan dan mengulurkan tanganya terhadap uluran pesan Tuhan yang dihantarkan oleh angin dingin yang sebenarnya membelai manusia untuk lebih mementingkan tidurnya daripada sholat. Cuma hati orang-orang yang di hatinya ada iman yang mampu melangkahkan kakinya menuju rumah Allah untuk menjawab panggilan-Nya.
Ia mengambil air wudhu hingga ikatan ketiga dari Iblis La’natullah terlepas dari tubuhnya. Tak lupa ia juga membangunkan ibu di dalam kamar namun ibunya sedang asyik melantungkan ayat-ayat cinta dari-Nya. Ia tidak ingin menganggu ibunya dan segera Afnan melangkahkan kakinya karena seorang laki-laki wajib untuk sholat fardhu di masjid. Bukankah kita bisa bercermin dari kisah seorang sahabat yang buta pada zaman Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam? Beliau adalah Abdullah bin Ummi Maktum. Suatu hari Abdullah bin Ummi Maktum mengikuti pengajian Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam. Dalam kesempatan itu, Rasul menyampaikan akan kewajiban setiap muslim yang mendengarkan adzan untuk segera menunaikan shalat. Karena kondisi fisiknya, yakni matanya yang buta, ia memberanikan diri bertanya kepada Rasulullah SAW.
“Wahai Rasulullah, apakah aku juga diwajibkan kendati aku tidak bisa melihat?” tanya Ibnu Ummi Maktum. Rasul menjawab,
“Apakah kamu mendengar seruan adzan?” Ibnu Ummi Maktum menjawab,
“Ya, aku mendengarnya.” Rasul pun memerintahkannya agar ia tetap pergi ke masjid meskipun sambil merangkak. Itulah tindakan Rasulullah mengingat pentingnya sholat berjama’ah di masjid selagi kita tidak punya uzur yang diperbolehkan oleh syariat. Bagaimana dengan kita yang masih sehat dan mampu menuntut jalan kita sendiri menuju rumah Allah yang penuh berkah. Dalam hadits beliau yang dari Abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Malaikat membaca shalawat kepada salah seorang di antara kalian selama dia itu berada di tempat shalat (masjid) yang dia pakai untuk shalat dan selama dia itu tidak berhadas. Para malaikat berkata, ‘Ya Allah ampunilah dia, ya Allah sayangi dia.”[HR. Bukhari].
Afnan menyatu dengan jamaah yang lainnya untuk melakukan penghambaan diri. Menyerahkan dirinya dengan khusyuk pada Allah wa jalla.
Allahu’akbar.
Imam mengomandoi jamaah menuju perjalanan spiritual pada Sang Maha Pemilik Hari Pembalasan. Kemudian imam membaca surah Al-Fatihah dan dilanjutkan dengan surah sajadah. Jamaah takzim dan meleburkan menjadi satu benak fikirnya hanya kepada Allah tak ada lagi fikiran kepada dunia melainkan hanya bermuara pada fikiran tentang Allah.
***
Mentari kembali bersinar meskipun ia bersinar redup diiringi dengan gerimis yang masih terlihat sebagai pembuka awal pagi. Afnan masih asyik membaca kalam Tuhan-nya untuk menenangkan dirinya agar diberi keberanian mengutarakan keinginannya untuk merantau meninggalkan ibunya sendiri dan meninggalkan tanah kelahirannya. Ia sebenarnya tidak ingin ibunya bersedih atas keputusan sepihak yang ia berikan kepada dirinya sebab ia tahu bahwa ibunya tidak akan mudah mengizinkannya untuk hijrah ke tempat yang jauh darinya.
Ia menghentikan bacaannya ketika ibunya masuk membawa teh hangat dan pisang goreng panas di atas sebuang nampang. Seulas senyum dan terima kasih ia berikan kepada ibunya.
“Terima kasih bu.” Ibunya kembali ke dapur untuk membereskan sisa masakannya sementara Afnan menikmati suguhan sarapan buatan ibunya. Ia menikmatinya dengan lahap dan bersyukur atas karunia yang telah diberikan oleh Tuhan untuknya. Meskipun Afnan dan ibunya termasuk keluarga yang jauh dari berkecukupan namun ia tidak pernah menengadahkan tangannya kepada manusia. Ia diajarkan oleh ayahnya untuk tidak mengemis dan meminta kepada manusia karena kepada Dia-lah tempat kita meminta dan memohon pertolongan. Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in.
“Ibu, Afnan rasa sudah selayaknya memberikan kehidupan yang layak kepada ibu. Afnan sudah dewasa bu dan Afnan punya keinginan,” ucap Afnan memulai menyampaikan keinginannya
“Ibu tidak apa-apa Nan. Tidak ada yang lebih ibu ingin selain engkau nak. Harta bukan menjadi keinginan ibu. Ibu hanya ingin Afnan menjadi anak yang sholeh dan menjadi anak kebanggaan ibu,” lirih ibunya dengan suara yang parau. Seulas senyum ia berikan kepada Afnan
“Iya bu. Afnan ingin menjadi anak yang bisa ibu banggakan maka dari itu Afnan ingin minta restu ibu untuk mengizinkan Afnan untuk merantau. Afnan ingin mencari kehidupan yang lebih baik dan kelak Afnan akan kembali kepangkuan ibu dengan sebuah kesuksesan.” Ibunya terdiam. Ia menatap Afnan dalam-dalam dan tetesan air mata cintanya kepada anaknya mulai berjatuh dan pecah di lantai rumahnya yang berdinding papan. Ia tidak tahu harus berkata apa begitupun dengan Afnan ia hanya menatap ibunya menikmati keharuan atas perasaan cinta yang tulus dari ibunya.
“Ibu,” suara Afnan
“Ibu, insya Allah Afnan berjanji akan menjadi anak yang sukses. Afnan tidak akan meminta apapun kepada ibu. Afnan hanya ingin ibu percaya bahwa kelak Afnan sukses dan menjadi anak yang ibu dan ayah inginkan. Afnan janji bu. Afnan janji.” Ia memegang tangan ibunya dengan sangat erat mengalirkan rasa optimis kepada ibunya bahwa ia sungguh-sungguh dengan keputusannya. Ibunya diam penuh haru ia mengecup kening Afnan dan memeluknya hingga isak tangisnya tak bisa ia bendung lagi. Pagi itu menjadi pagi yang mengharukan bagi Afnan dan menjadi pagi yang sangat melekat di hatinya untuk mendapatkan restu dari ibunya.
“Afnan,” bisik ibunya dengan suara yang parau
“Ibu sudah sangat bangga padamu nak. Ibu bangga padamu,” ibunya tak dapat meneruskan kalimatnya. Ia kembali di selimuti rasa haru yang panjang. Hanya menatap wajah Afnan dan mengecup keningnya berkali-kali yang mampu ia lakukan. Mungkin itu adalah simbol bahwa ibunya merestuinya meskipun ia belum mampu melepas anak semata wayangnya. Namun ia selalu percaya dengan Afnan. Selama ini Afnan selalu menjadi anak kebanggaan ibu dan ayahnya dengan prestasinya. Baik itu prestasinya di sekolah maupun prestasinya di kampungnya sendiri.
“Afnan jaga diri di rantau. Insya Allah ibu ridho dan merestuimu nak meskipun berat rasanya untuk ibu hidup sendiri dan jauh darimu, namun ibu memberimu restu. Ibu akan selalu mendoakan kebaikan atasmu dan semoga keputusanmu diberkahi oleh Allah. Ibu akan selalu menyebutmu dalam sujud malam ibu dan ibu sangat yakin bahwa Afnan pasti bisa. Afnan pasti sukses. Afnan ingin pesan ayah bahwa bagaimanapun kondisi ekonomi yang Afnan hadapi jangan pernah menghinakan diri dengan mengemis kepada manusia. Serahkan semuanya pada-Nya karena tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Kelak Afnan menjadi orang yang sukses, Insya Allah.” Afnan terharu mengdengarkan untaian lembut dari ibunya meskipun sekilas keraguan terlintas dalam benak fikirnya mengdengarkan kalimat ibunya. meskipun berat rasanya untuk ibu hidup sendiri dan jauh darimu. Namun ia menepisnya dan berjanji akan menggantikan kebersamaan mereka yang sebentar lagi akan terpisah oleh waktu dan tempat yang berbeda dengan kebersamaan yang indah dengan kehangatan cinta.
Keinginan Afnan untuk merantau tersebar di tanah kelahirannya. Banyak dari masyarakat menyayangkan akan keputusan yang ia ambil, banyak pula yang mencibirnya dengan ucapan yang sangat sinis
“Palingan Cuma beberapa hari saja di perantauannya setelah itu kembali lag.i”
“Mau makan apa Afnan di sana, di rumahnya aja susah apalagi kelak di perantauannya.”
“Dasar anak kurang fikiran meninggalkan ibunya yang sudah dimamah usia bukankah sebaiknya ia menemani ibunya di usianya yang sudah bau tanah.”
Itulah dari sekian banyaknya ucapan sinis yang menghujami dirinya. Namun ia tidak memperdulikannya sebab mereka tidak tahu siapa dirinya. Mereka hanyalah kerikil-kerikil yang akan menjadi penghalang bagi Afnan untuk mencapai puncak keseuksesan. Ia menguatkan dirinya bahwa keputusannya adalah keputusan yang terbaik. Ia menangis berderai air mata dalam kesendiriannya mencoba kembali meyakinkan diri. Berdamai dengan dirinya bahwa ia benar-benar sukses kelak. Ia mengirimkan azzamnya melalui angin bertuliskan kata SUKSES menembus petala langit dan menempatkannya di bawa Arsy Kerajaan Tuhan dengan harapan Tuhan memeluk mimpinya dan memerintahkan malaikat untuk mengepakkan sayapnya untuk menaungin perjalanannya untuk pencarian kehidupan yang lebih baik.
 Dua hari setelah ia mengutarakan keinginannya kepada ibunya kini ia tiba di ambang perpisahan  dengan ibunya. Kembali ia di selimuti rasa haru dan sedih. Bus yang akan ia tumpangi menuju kehidupan kota telah ada di depannya. Ia mencium tangan ibu sambil diiringin isak tangis kesedihan oleh ibunya.
“Afnan pamit bu. Doakan kelak Afnan kembali dengan sebuah kesuksesan. Ibu jaga diri baik-baik dan jangan terlalu mengkhawatirkan Afnan. Insya Allah Afnan akan baik-baik saja sebab Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya. di luar sana banyak saudara se-iman yang akan mengulurkan bantuannya atas cinta kepada Allah,”
“Afnan jaga diri baik-baik di rantau. Ingat jangan pernah melupakan Allah jangan pernah meninggalkan kewajiban Afnan kepada Allah. Jadilah pribadi yang rendah diri dan selalu membantu orang lain. Ibu akan selalu mendoakan atas keselamatan dan kebaikanmu.” Keduanya berangkulan penuh haru. Seulas senyum dari ibunya mengiringi kepergian Afnan. Afnan menyekak air matanya dan kembali menoleh kebelakang melihat lambaian tangan wanita yang menjadikannya bisa melihat dunia. Wanita tua yang sudah dimamah usia yang sangat ia cinta.
Bus melaju dengan laju di atas kendaraan. Afnan masih merasakan kesedihan akan perpisahannya dengan ibunya namun ia menguatkan dirinya. Seorang penumpang mengelus bahu untuk menegarkannya. Ia seakan mendengarkan Imam pilihan Allah berbisik ke telinganya. Ia mendengarkan dengan takzim nasehat Iman Al- Syafi’i “Merantaulah..... orang berilmu tidak dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlehah-lehahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan, jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang. Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa. Anak panah jika tidak tinggalkan busur, tak akan kena sasaran. Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang. Biji emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang. Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.”
***
 BERSAMBUNG....

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia