Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Melukis Warna Senja (Part 2)
Siskaee
November 08, 2017
Awal
Perjalanan
Lantunan
panggilan Tuhan menggema memenuhi petala langit. Panggilan untuk menghadapkan
wajah kepada Sang Maha Raja manusia yang telah memberikan hidup kepada seluruh
makhluk yang ada di bumi dan di langit. Ia mendengarkan panggilan Tuhan dan
mengulurkan tanganya terhadap uluran pesan Tuhan yang dihantarkan oleh angin
dingin yang sebenarnya membelai manusia untuk lebih mementingkan tidurnya
daripada sholat. Cuma hati orang-orang yang di hatinya ada iman yang mampu
melangkahkan kakinya menuju rumah Allah untuk menjawab panggilan-Nya.
Ia mengambil
air wudhu hingga ikatan ketiga dari Iblis La’natullah terlepas dari tubuhnya.
Tak lupa ia juga membangunkan ibu di dalam kamar namun ibunya sedang asyik
melantungkan ayat-ayat cinta dari-Nya. Ia tidak ingin menganggu ibunya dan
segera Afnan melangkahkan kakinya karena seorang laki-laki wajib untuk sholat
fardhu di masjid. Bukankah kita bisa bercermin dari kisah seorang sahabat yang
buta pada zaman Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam? Beliau adalah Abdullah
bin Ummi Maktum. Suatu hari Abdullah bin Ummi Maktum mengikuti pengajian
Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam. Dalam kesempatan itu, Rasul
menyampaikan akan kewajiban setiap muslim yang mendengarkan adzan untuk segera
menunaikan shalat. Karena kondisi fisiknya, yakni matanya yang buta, ia
memberanikan diri bertanya kepada Rasulullah SAW.
“Wahai
Rasulullah, apakah aku juga diwajibkan kendati aku tidak bisa melihat?” tanya
Ibnu Ummi Maktum. Rasul menjawab,
“Apakah kamu
mendengar seruan adzan?” Ibnu Ummi Maktum menjawab,
“Ya, aku
mendengarnya.” Rasul pun memerintahkannya agar ia tetap pergi ke masjid
meskipun sambil merangkak. Itulah tindakan Rasulullah mengingat pentingnya
sholat berjama’ah di masjid selagi kita tidak punya uzur yang diperbolehkan oleh
syariat. Bagaimana dengan kita yang masih sehat dan mampu menuntut jalan kita
sendiri menuju rumah Allah yang penuh berkah. Dalam hadits beliau yang dari Abu
Hurairah ra. Bahwa Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Malaikat
membaca shalawat kepada salah seorang di antara kalian selama dia itu berada di
tempat shalat (masjid) yang dia pakai untuk shalat dan selama dia itu tidak
berhadas. Para malaikat berkata, ‘Ya Allah ampunilah dia, ya Allah sayangi
dia.”[HR. Bukhari].
Afnan menyatu
dengan jamaah yang lainnya untuk melakukan penghambaan diri. Menyerahkan
dirinya dengan khusyuk pada Allah wa jalla.
Allahu’akbar.
Imam
mengomandoi jamaah menuju perjalanan spiritual pada Sang Maha Pemilik Hari
Pembalasan. Kemudian imam membaca surah Al-Fatihah dan dilanjutkan dengan surah
sajadah. Jamaah takzim dan meleburkan menjadi satu benak fikirnya hanya kepada
Allah tak ada lagi fikiran kepada dunia melainkan hanya bermuara pada fikiran
tentang Allah.
***
Mentari kembali
bersinar meskipun ia bersinar redup diiringi dengan gerimis yang masih terlihat
sebagai pembuka awal pagi. Afnan masih asyik membaca kalam Tuhan-nya untuk
menenangkan dirinya agar diberi keberanian mengutarakan keinginannya untuk
merantau meninggalkan ibunya sendiri dan meninggalkan tanah kelahirannya. Ia
sebenarnya tidak ingin ibunya bersedih atas keputusan sepihak yang ia berikan
kepada dirinya sebab ia tahu bahwa ibunya tidak akan mudah mengizinkannya untuk
hijrah ke tempat yang jauh darinya.
Ia menghentikan
bacaannya ketika ibunya masuk membawa teh hangat dan pisang goreng panas di
atas sebuang nampang. Seulas senyum dan terima kasih ia berikan kepada ibunya.
“Terima kasih
bu.” Ibunya kembali ke dapur untuk membereskan sisa masakannya sementara Afnan
menikmati suguhan sarapan buatan ibunya. Ia menikmatinya dengan lahap dan
bersyukur atas karunia yang telah diberikan oleh Tuhan untuknya. Meskipun Afnan
dan ibunya termasuk keluarga yang jauh dari berkecukupan namun ia tidak pernah
menengadahkan tangannya kepada manusia. Ia diajarkan oleh ayahnya untuk tidak
mengemis dan meminta kepada manusia karena kepada Dia-lah tempat kita meminta
dan memohon pertolongan. Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in.
“Ibu, Afnan rasa sudah selayaknya
memberikan kehidupan yang layak kepada ibu. Afnan sudah dewasa bu dan Afnan
punya keinginan,” ucap Afnan memulai menyampaikan keinginannya
“Ibu tidak apa-apa Nan. Tidak ada
yang lebih ibu ingin selain engkau nak. Harta bukan menjadi keinginan ibu. Ibu
hanya ingin Afnan menjadi anak yang sholeh dan menjadi anak kebanggaan ibu,”
lirih ibunya dengan suara yang parau. Seulas senyum ia berikan kepada Afnan
“Iya bu. Afnan ingin menjadi anak
yang bisa ibu banggakan maka dari itu Afnan ingin minta restu ibu untuk
mengizinkan Afnan untuk merantau. Afnan ingin mencari kehidupan yang lebih baik
dan kelak Afnan akan kembali kepangkuan ibu dengan sebuah kesuksesan.” Ibunya
terdiam. Ia menatap Afnan dalam-dalam dan tetesan air mata cintanya kepada
anaknya mulai berjatuh dan pecah di lantai rumahnya yang berdinding papan. Ia
tidak tahu harus berkata apa begitupun dengan Afnan ia hanya menatap ibunya
menikmati keharuan atas perasaan cinta yang tulus dari ibunya.
“Ibu,” suara Afnan
“Ibu, insya Allah Afnan berjanji
akan menjadi anak yang sukses. Afnan tidak akan meminta apapun kepada ibu.
Afnan hanya ingin ibu percaya bahwa kelak Afnan sukses dan menjadi anak yang
ibu dan ayah inginkan. Afnan janji bu. Afnan janji.” Ia memegang tangan ibunya
dengan sangat erat mengalirkan rasa optimis kepada ibunya bahwa ia
sungguh-sungguh dengan keputusannya. Ibunya diam penuh haru ia mengecup kening
Afnan dan memeluknya hingga isak tangisnya tak bisa ia bendung lagi. Pagi itu
menjadi pagi yang mengharukan bagi Afnan dan menjadi pagi yang sangat melekat
di hatinya untuk mendapatkan restu dari ibunya.
“Afnan,” bisik ibunya dengan suara
yang parau
“Ibu sudah sangat bangga padamu nak.
Ibu bangga padamu,” ibunya tak dapat meneruskan kalimatnya. Ia kembali di
selimuti rasa haru yang panjang. Hanya menatap wajah Afnan dan mengecup
keningnya berkali-kali yang mampu ia lakukan. Mungkin itu adalah simbol bahwa
ibunya merestuinya meskipun ia belum mampu melepas anak semata wayangnya. Namun
ia selalu percaya dengan Afnan. Selama ini Afnan selalu menjadi anak kebanggaan
ibu dan ayahnya dengan prestasinya. Baik itu prestasinya di sekolah maupun
prestasinya di kampungnya sendiri.
“Afnan jaga diri di rantau. Insya
Allah ibu ridho dan merestuimu nak meskipun berat rasanya untuk ibu hidup
sendiri dan jauh darimu, namun ibu memberimu restu. Ibu akan selalu mendoakan
kebaikan atasmu dan semoga keputusanmu diberkahi oleh Allah. Ibu akan selalu
menyebutmu dalam sujud malam ibu dan ibu sangat yakin bahwa Afnan pasti bisa.
Afnan pasti sukses. Afnan ingin pesan ayah bahwa bagaimanapun kondisi ekonomi
yang Afnan hadapi jangan pernah menghinakan diri dengan mengemis kepada
manusia. Serahkan semuanya pada-Nya karena tangan di atas lebih baik dari
tangan di bawah. Kelak Afnan menjadi orang yang sukses, Insya Allah.” Afnan
terharu mengdengarkan untaian lembut dari ibunya meskipun sekilas keraguan
terlintas dalam benak fikirnya mengdengarkan kalimat ibunya. meskipun berat
rasanya untuk ibu hidup sendiri dan jauh darimu. Namun ia menepisnya dan
berjanji akan menggantikan kebersamaan mereka yang sebentar lagi akan terpisah
oleh waktu dan tempat yang berbeda dengan kebersamaan yang indah dengan
kehangatan cinta.
Keinginan Afnan untuk merantau
tersebar di tanah kelahirannya. Banyak dari masyarakat menyayangkan akan
keputusan yang ia ambil, banyak pula yang mencibirnya dengan ucapan yang sangat
sinis
“Palingan Cuma beberapa hari saja di
perantauannya setelah itu kembali lag.i”
“Mau makan apa Afnan di sana, di
rumahnya aja susah apalagi kelak di perantauannya.”
“Dasar anak kurang fikiran
meninggalkan ibunya yang sudah dimamah usia bukankah sebaiknya ia menemani
ibunya di usianya yang sudah bau tanah.”
Itulah dari sekian banyaknya ucapan
sinis yang menghujami dirinya. Namun ia tidak memperdulikannya sebab mereka
tidak tahu siapa dirinya. Mereka hanyalah kerikil-kerikil yang akan menjadi
penghalang bagi Afnan untuk mencapai puncak keseuksesan. Ia menguatkan dirinya
bahwa keputusannya adalah keputusan yang terbaik. Ia menangis berderai air mata
dalam kesendiriannya mencoba kembali meyakinkan diri. Berdamai dengan dirinya
bahwa ia benar-benar sukses kelak. Ia mengirimkan azzamnya melalui angin
bertuliskan kata SUKSES menembus petala langit dan menempatkannya di bawa Arsy
Kerajaan Tuhan dengan harapan Tuhan memeluk mimpinya dan memerintahkan malaikat
untuk mengepakkan sayapnya untuk menaungin perjalanannya untuk pencarian
kehidupan yang lebih baik.
Dua hari setelah ia mengutarakan keinginannya
kepada ibunya kini ia tiba di ambang perpisahan
dengan ibunya. Kembali ia di selimuti rasa haru dan sedih. Bus yang akan
ia tumpangi menuju kehidupan kota telah ada di depannya. Ia mencium tangan ibu
sambil diiringin isak tangis kesedihan oleh ibunya.
“Afnan pamit bu. Doakan kelak Afnan
kembali dengan sebuah kesuksesan. Ibu jaga diri baik-baik dan jangan terlalu
mengkhawatirkan Afnan. Insya Allah Afnan akan baik-baik saja sebab Allah tidak
akan meninggalkan hamba-Nya. di luar sana banyak saudara se-iman yang akan
mengulurkan bantuannya atas cinta kepada Allah,”
“Afnan jaga diri baik-baik di
rantau. Ingat jangan pernah melupakan Allah jangan pernah meninggalkan
kewajiban Afnan kepada Allah. Jadilah pribadi yang rendah diri dan selalu
membantu orang lain. Ibu akan selalu mendoakan atas keselamatan dan
kebaikanmu.” Keduanya berangkulan penuh haru. Seulas senyum dari ibunya
mengiringi kepergian Afnan. Afnan menyekak air matanya dan kembali menoleh
kebelakang melihat lambaian tangan wanita yang menjadikannya bisa melihat
dunia. Wanita tua yang sudah dimamah usia yang sangat ia cinta.
Bus melaju dengan laju di atas
kendaraan. Afnan masih merasakan kesedihan akan perpisahannya dengan ibunya
namun ia menguatkan dirinya. Seorang penumpang mengelus bahu untuk
menegarkannya. Ia seakan mendengarkan Imam pilihan Allah berbisik ke
telinganya. Ia mendengarkan dengan takzim nasehat Iman Al- Syafi’i “Merantaulah.....
orang berilmu tidak dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan
negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan
pengganti dari kerabat dan kawan. Berlehah-lehahlah, manisnya hidup terasa
setelah lelah berjuang. Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan,
jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang. Singa jika tak
tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa. Anak panah jika tidak tinggalkan
busur, tak akan kena sasaran. Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus
diam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang. Biji emas bagaikan
tanah biasa sebelum digali dari tambang. Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu
biasa jika di dalam hutan.”
***
BERSAMBUNG....
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...