Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Melukis Warna Senja (Part 3)
Siskaee
November 10, 2017
Terpaan
Ujian
Sehabis sholat subuh ibu Afnan melanjutkan dengan membaca pesan
Tuhan. Ia hanyut dalam penghayatannya akan lembaran mulia yang menjadi pedoman
bagi umat manusia. Di dalam telah diatus sedemikian rupa dan sangat detail
segala aspek yang melingkupi ruang gerak manusia. Ia semakin hanyut dalam
penghayatannya sehingga tetesan bening berjatuh dalam lembaran suci itu.
Terisak tangis karena ia merasakan keajaiban dari lembaran yang bernama
Al-Qur’an. Di sisi lain ia terisak karena merindukan anak semata wayangnya yang
sudah setengah bulan meninggalkannya dalam kesendirian memilih jalannya untuk
merantau. Meniti jalan yang lebih baik.
“Afnan, bagaimana kabarmu nak? Apakah kau baik-baik saja di
rantaumu? Ibu sangat khawatir pada dirimu ?” gumamnya pada dirinya sendiri.
Sang surya semakin meninggi. Suara gelak tawa penuh canda anak
sekolah terdengar oleh ibu Afnan yang sedang menyapu dihadapan rumahnya. Ia
melihat lalu lalang para penuntut ilmu berjalan penuh semangat. Seorang pemuda
yang sebaya dengan anaknya; Afnan, menghampirinya sambil mengucapkan salam dan
mencium tangannya
“Assalamu’alaikum bu,” sapanya penuh santun
“Walaikum salam nak Indra. Bagaimana kabarnya?”
“Alhamdulillah baik bu. Afnan ada bu?” tanyanya sambil mengarahkan
pandangannya ke dalam rumah Afnan
“Afnan tidak anak nak. Ia pergi ke kota merantau seminggu yang
lalu,” jawab ibu Afnan. Indra terdiam sesaat sementara ibu tua di hadapannya
memperhatikannya saksama
“Nak Indra kenapa? Ada perlu yah dengan Afnan?” suaranya
membangunkan Indra dari lamunannya
“Tidak bu, aku kesini hanya untuk silaturahim dengan Afnan. Sudah
lama tidak pernah bersua, rindu rasa bu.” Jawab Indra. Ia kemudian mohon pamit.
Sementara di dalam benak Indra terusik tentang pemaparan ibu Afnan kalau Afnan
merantu ke kota. Tapi di kota mana? Kepada siapa ia sampai? Bukankah Afnan
tidak pernah ke kota? Bagaimana ia bisa hidup di sebuah tempat yang asing dan
tidak ia kenal? Itulah sekelumit pertanya yang terus mengusik dalam benak fikir
Indra. Indra berharap kelak jika ia pulang dari kampung halamannya dan kembali
ke pesantrennya di jantung kota ia bisa bertemu dengan Afnan. Meskipun ia sadar
bahwa hasilnya nihil karena ia tidak tahu pasti ke mana Afnan akan mengukir
jejak-jejak rantaunya. Apaka di kota di mana ia menimbah ilmu? Atau di kota
lain? Ia hanya memasrakannya pada Sebaik-baik Tempat Sandaran.
Burung-burung bertengger di atas pohon sementara nyiur kelapa
terdengar sebagai nada menyambut kehidupan baru dan awal untuk membuka misteri
baru bagi manusia.
***
Afnan semakin bingung. Ia mondar-mandir masuk masjid kemudia keluar
lagi ke pelataran masjid. Entah berapa kali ia melakukan itu. Sesekali ia
menyebut asma Tuhan-nya
“Ya Allah.” Ia menjadi pusat perhatian bagi jamaah yang sedang
asyik mengobrol dan duduk bersantai di pelataran masjid. Afnan tahu bahwa apa
yang ia lakukan sedikit menganggu jamaah yang ada di pelataran masjid.
“Ada apa nak?” tanya seorang bapak tua yang rambutnya sudah mulai
memutih. Bapak tua itu berkisar umur 45 tahun
namun postur tubuh dan nada bicaranya sangat berbeda dengan umurnya yang
semakin dimamah oleh waktu. Ia kekar dan kuat.
“Anu pak, tas...tas....” jawabnya sambil nafas tak beraturan. Bapak
tua itu memegang pundaknya
“Kenapa?” tanyanya sekali lagi
“Tas aku pak. Tas aku hilang,” bapak tua spontan kaget dengan
penuturan Afnan begitupun dengan beberapa jamaah yang mendengarkan perbincangan
Afnan dan bapak tua tersebut. Semakin dari mereka berdiri dan menghampiri
keduanya
“Hilang gimana nak?” tanya salah seorang bapak yang tadinya asyik
mengobrol
“Tadi sebelum aku sholat, aku simpan di pelataran masjid sini pak
karena muadzin sudah mengumandangkan qomat,” ucapnya dengan lesu. Mungkin Afnan
sudah lelah dan ia harus merelakan bahwa barang satu-satunya yang ia miliki
telah raib entah siapa yang tega melakukan itu padanya.
“Astagfirullah,” kata salah seorang laki-laki dengan pakain gamis
putih. Semua jamaah di pelataran masjid menghampiri Afnan. Hiruk pikuk
terdengar memenuhi ruang pelataran. Semuanya berbicara dengan persepsinya
masing-masing. Ada yang iba kepada nasib Afnan ada juga yang menyangkan
tindakan ceroboh yang dilakukan oleh dirinya. Bahkan ada juga yang mengutuk
pelaku pencurian tas Afnan yang tega
sekali melakukannya di rumah Allah
“Dasar manusia tidak punya hati, berani sekali mencuri di tempat
yang penuh berkah ini. Semoga Allah mengazabmu dengan azab yang pedih di dunia
dan di akhirat.” Kutuk salah seorang jamaah. Afnan hanya terus beristigfar dan
berdzikir kepada Allah atas apa yang telah menimpa dirinya. Sudah seminggu ia
terluntah berjalan tanpa arah di sebuah kota besar yang merasa asing baginya.
Ia sendiri dan tidak punya sanak saudara. Ia meratapi nasibnya. Sudah seminggu
ia hanya berjalan dan terus berjalan tanpa arah. Sesekali ia hanya beristrahat
dengan berbaring di pelataran masjid atau di taman-taman kota. Ia tidak tahu
harus berbuat apa namun hari ini ia diterpa ujian yang membuatnya tidak bisa
berfikir bagaimana ia harus menjalani hidup di kota besar yang menjadi tempat
asing baginya. Kalau pulang ia sangat malu sekali pada ibunya lebih-lebih
kepada dirinya sendiri. Sebab ia sudah berikrar pada dirinya bahwa ia harus
sukses sebelum kembali ke kampung halamannya.
“ Kamu yang sabar nak. Insya
Allah pasti Tuhan akan menggantikan yang lebih baik,” nasehatnya pada Afnan. Ia
hanya menganggukkan kepala karena ia masih berkatuk pada fikirannya untuk
mencari cara bagaiman ia harus bertahan hidup esok hari dan beberapa hari ke
depan.
“Jadikan ini sebagai tanda bahwa Allah ingin memberikan kamu yang
lebih baik. Anggap saja ini adalah rasa cinta-Nya padamu dan Tuhan ingin engkau
lebih dekat pada-Nya. Tuhan ingin lebih banyak mengingat-Nya diwaktu lapangmu
maupun diwaktu sempitmu. Serahkan semuanya pada-Nya dan mohon doa supaya Tuhan
memberimu jalan-Nya untuk menuju hidupmu yang lebih baik.” Afnan menatap mata
laki-laki ia menasehatinya. Ia sangat tersentuk dengan untaian kalimat penuh
hikmah dari bibirnya. Ia baru pertama kali mendengarkan nasehat yang begitu
berbekas dalam hatinya, apalgi ia hanya seorang pemuda yang sebaya baginya.
Afnan ingin mengucapkan terima kasih namun laki-laki itu telah
pergi meninggalkan Afnan dan jamaah di pelataran masjid. Semua jamaah
meninggalkan Afnan setelah melihat Afnan sudah tenang. Beberapa dari mereka
masih ada yang melanjutkan perbincangannya sebagian lainnnya juga kembali ke
rumahnya. Afnan menuju tempat wudhu untuk sholat dua rakaat. Sholat untuk
mengadu kepada Rabb-nya atas terpaan ujian yang ia berikan kepada Afnan. Tampak
jamaah meninggalkan masjid hanya dua orang saja yang masih lalu lalang yang tak
lain adalah ta’mir masjid tersebut.
Afnan terhenti dan detak jantung tidak berdetak normal namun detak
jantungnnya berdetak dengan sangat cepatnya diiringi dengan tubuhnya yang
gemetaran tak kala membuka sebuah dompet yang ia temukan di tempat wudhu berisi
lembaran-lembaran rupiah dan sebuat ATM. Ia menghitungnya dan semua terbilang
dua juta lima ratus rupiah. Afnan mengalami pergolakan batin antara
mengembalikan dompet tersebut atau ia mengambilnya sebab ia sangat tahu betul
bahwa dirinya sangat membutuhkan lembaran rupiah tersebut untuk menyambung
hidupnya di gemerlapnya dunia kota. Pertempuran dalam tubuhnya pun sangat tarik
menarik antara nafsunya untuk mengambilnya untuk dirinya sendiri dan rintihan
hati kecilnya yang penuh iba untuk tetap istiqomah memegang pesan ayahnya untuk
selalu memegang sebuah KEJUJURAN.
“Ambil saja, kamu tidak usah kembalikan. Anggap saj itu adalah
ganti yang Tuhan-mu kirim untuk mu. Apa salahnya mengambil barang temuan.
Lagian kamu tidak mencuri tapi kamu temukan. Ambil saja tidak usah banyak
fikir,” bujuk nafsunya
“Jangan Afnan, itu bukan hakmu tapi hak orang lain. Kamu memang
tidak mencuri tapi menemukan barang orang lain. Bukankah kewajibannya untuk
mengembalikan kepada pemiliknya atas haknya dan bukan hakmu. Apalah artinya
sebuah lembaran-lembaran itu jika kamu harus menggadaikan kejujuranmu?” bisik
hatinya dengan lembut.
“Persetan dengan kejujuran. Di dunia kalau mau hidup dengan
kejujuran tidak akan bisa bertahan lama. Lihat saja orang yang hidup dengan
sebuah kejujuran terluntah-luntah dalam sebuah selimut kemiskinan sementara
orang yang hidup dengan meninggalkan kejujuran hidupnya penuh dengan
kesejahteraan dan kenikmataan. Lihat saja para tikus-tikus berdasi yang hidup
di negara kita mereka hidup sejahtera tidak kurang satupun. Ambil saja dan
tinggalkan kejujuranmu yang hanya menjadi penghalang bagimu untuk menuju
kesuksesanmu. Kesuksesan di kota besar seperti itu tidak akan kamu raih jika
terus memegang prinsipmu tentang kejujuran. Realistik Afnan, ini kota besar bukan
kampung kecil seperti tanah kelahiranmu. Jangan pakai perasaanmu tapi pakai
otakmu,” pergolakan dalam diri Afnan semakin meninggi. Mereka saling tarik
menarik untuk mengusai Afnan. Ia membenarkan fikirannya bahwa ia harus
mengambil dompet tersebut karena ia tidak dalam kategori mencuri melainkan
mendapatkan sesuatu yang sangat ia butuhkan saat ini atas apa yang menimpa
dirinya. Namun di sisi lain ia harus mempertahankan prinsip yang ia yakini atas
apa yang ia dapatkan dari ajaran ayahnya yakni kejujuran.
“Berjalanlah dan hiduplah di atas kejujuran maka engkau akan
beruntung.” Nasehat ayahnya. Nasehat itu terngiang-ngiang di telinganya dengan
sangat jelas. Namun ia masih berkatuk antara mengikuti nafsunya atau mengikuti
hatinya.
“Afnan, kedua orangtuamu tidak pernah mengajarkanmu untuk mengambil
hak orang lain sebab itu sama halnya kamu mengzaliminya secara sadar. Biarkan
kamu mencapai kesuksesanmu dengan jalan yang baik. Jalan yang tidak pernah
lepas dari koridor-Nya. Jalan yang tidak mengcampur adukan antara yang hak dan
batil. Berjalanlah di atas jalan-Nya dan jalan-Nya tidak pernah membenarkan
mengambil hak orang lain. Tidak membenarkan merebut hak yang bukan kita punya
hak. Kembalikan dan minta ampun kepada-Nya dan mohon petunjuk-Nya agar
diberikan jalan kemudahan menuju puncak kesuksesan yang menjadi mimpimu.”
Hatinya berucap lirih dengan lembutnya kepada Afnan seperti ucapan cinta dari
ibunya. Afnan sadar bahwa tidak seharusnya ia bersikap yang mementingkan sifat
egonya sehingga tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk
menurut pandangan-Nya. Ia berulang kali beristigfar atas pergolakan terhadap
dirinya. Ia seharusnya menjadikan terpaan ujian dari-Nya sebagai titian untuk
mendapatkan kedudukan yang lebih mulia di sisi-Nya dan menjadikannya lebih
ikhlas lagi atas ketentuan yang telah Tuhan gariskan pada telapak tanganya.
“Astagfirullah....” bisiknya penuh sesal. Ia membaca basmalah dan
memulai membasahi kedua tangannya dengan memulai pada tangan kanan sebanyak
tiga kali sampai ia mencuci kedua kakinya sampai ke tumitnya. Ia membasahinya
dengan air wudhu dan berharap titisan air tersebut berjatuhan seiring dengan
berjatuhannya dosa-dosanya yang telah ia lakukan. Ia meraih dompet yang ia
dapatkan dan mencari ta’mir masjid untuk menyerahkan dompet tersebut.
“Ini pak aku temukan dompet di tempat wudhu. Insya Allah tidak ada
satupun yang kurang. Allah menjadi saksiku pak.” Terang Afnan kepada ta’mir
masjid tersebut. Afnan masuk dalam masjid dan mendirikan shalat sunnah, memohon
ampun kepada Allah atas kekhilafan yang ia lakukan. Ia juga berdoa kepada-Nya
semoga ia diberikan hati yang lapang yang penuh ketabahan dan kesebaran atas
terpaan ujian yang ia temui dalam perantauannya.
***
BERSAMBUNG .....

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...