Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Melukis Warna Senja (Part 3)



Terpaan Ujian
Sehabis sholat subuh ibu Afnan melanjutkan dengan membaca pesan Tuhan. Ia hanyut dalam penghayatannya akan lembaran mulia yang menjadi pedoman bagi umat manusia. Di dalam telah diatus sedemikian rupa dan sangat detail segala aspek yang melingkupi ruang gerak manusia. Ia semakin hanyut dalam penghayatannya sehingga tetesan bening berjatuh dalam lembaran suci itu. Terisak tangis karena ia merasakan keajaiban dari lembaran yang bernama Al-Qur’an. Di sisi lain ia terisak karena merindukan anak semata wayangnya yang sudah setengah bulan meninggalkannya dalam kesendirian memilih jalannya untuk merantau. Meniti jalan yang lebih baik.
“Afnan, bagaimana kabarmu nak? Apakah kau baik-baik saja di rantaumu? Ibu sangat khawatir pada dirimu ?” gumamnya pada dirinya sendiri.
Sang surya semakin meninggi. Suara gelak tawa penuh canda anak sekolah terdengar oleh ibu Afnan yang sedang menyapu dihadapan rumahnya. Ia melihat lalu lalang para penuntut ilmu berjalan penuh semangat. Seorang pemuda yang sebaya dengan anaknya; Afnan, menghampirinya sambil mengucapkan salam dan mencium tangannya
“Assalamu’alaikum bu,” sapanya penuh santun
“Walaikum salam nak Indra. Bagaimana kabarnya?”
“Alhamdulillah baik bu. Afnan ada bu?” tanyanya sambil mengarahkan pandangannya ke dalam rumah Afnan
“Afnan tidak anak nak. Ia pergi ke kota merantau seminggu yang lalu,” jawab ibu Afnan. Indra terdiam sesaat sementara ibu tua di hadapannya memperhatikannya saksama
“Nak Indra kenapa? Ada perlu yah dengan Afnan?” suaranya membangunkan Indra dari lamunannya
“Tidak bu, aku kesini hanya untuk silaturahim dengan Afnan. Sudah lama tidak pernah bersua, rindu rasa bu.” Jawab Indra. Ia kemudian mohon pamit. Sementara di dalam benak Indra terusik tentang pemaparan ibu Afnan kalau Afnan merantu ke kota. Tapi di kota mana? Kepada siapa ia sampai? Bukankah Afnan tidak pernah ke kota? Bagaimana ia bisa hidup di sebuah tempat yang asing dan tidak ia kenal? Itulah sekelumit pertanya yang terus mengusik dalam benak fikir Indra. Indra berharap kelak jika ia pulang dari kampung halamannya dan kembali ke pesantrennya di jantung kota ia bisa bertemu dengan Afnan. Meskipun ia sadar bahwa hasilnya nihil karena ia tidak tahu pasti ke mana Afnan akan mengukir jejak-jejak rantaunya. Apaka di kota di mana ia menimbah ilmu? Atau di kota lain? Ia hanya memasrakannya pada Sebaik-baik Tempat Sandaran.
Burung-burung bertengger di atas pohon sementara nyiur kelapa terdengar sebagai nada menyambut kehidupan baru dan awal untuk membuka misteri baru bagi manusia.
***
Afnan semakin bingung. Ia mondar-mandir masuk masjid kemudia keluar lagi ke pelataran masjid. Entah berapa kali ia melakukan itu. Sesekali ia menyebut asma Tuhan-nya
“Ya Allah.” Ia menjadi pusat perhatian bagi jamaah yang sedang asyik mengobrol dan duduk bersantai di pelataran masjid. Afnan tahu bahwa apa yang ia lakukan sedikit menganggu jamaah yang ada di pelataran masjid.
“Ada apa nak?” tanya seorang bapak tua yang rambutnya sudah mulai memutih. Bapak tua itu berkisar umur 45 tahun  namun postur tubuh dan nada bicaranya sangat berbeda dengan umurnya yang semakin dimamah oleh waktu. Ia kekar dan kuat.
“Anu pak, tas...tas....” jawabnya sambil nafas tak beraturan. Bapak tua itu memegang pundaknya
“Kenapa?” tanyanya sekali lagi
“Tas aku pak. Tas aku hilang,” bapak tua spontan kaget dengan penuturan Afnan begitupun dengan beberapa jamaah yang mendengarkan perbincangan Afnan dan bapak tua tersebut. Semakin dari mereka berdiri dan menghampiri keduanya
“Hilang gimana nak?” tanya salah seorang bapak yang tadinya asyik mengobrol
“Tadi sebelum aku sholat, aku simpan di pelataran masjid sini pak karena muadzin sudah mengumandangkan qomat,” ucapnya dengan lesu. Mungkin Afnan sudah lelah dan ia harus merelakan bahwa barang satu-satunya yang ia miliki telah raib entah siapa yang tega melakukan itu padanya.
“Astagfirullah,” kata salah seorang laki-laki dengan pakain gamis putih. Semua jamaah di pelataran masjid  menghampiri Afnan. Hiruk pikuk terdengar memenuhi ruang pelataran. Semuanya berbicara dengan persepsinya masing-masing. Ada yang iba kepada nasib Afnan ada juga yang menyangkan tindakan ceroboh yang dilakukan oleh dirinya. Bahkan ada juga yang mengutuk pelaku pencurian tas Afnan yang  tega sekali melakukannya di rumah Allah
“Dasar manusia tidak punya hati, berani sekali mencuri di tempat yang penuh berkah ini. Semoga Allah mengazabmu dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” Kutuk salah seorang jamaah. Afnan hanya terus beristigfar dan berdzikir kepada Allah atas apa yang telah menimpa dirinya. Sudah seminggu ia terluntah berjalan tanpa arah di sebuah kota besar yang merasa asing baginya. Ia sendiri dan tidak punya sanak saudara. Ia meratapi nasibnya. Sudah seminggu ia hanya berjalan dan terus berjalan tanpa arah. Sesekali ia hanya beristrahat dengan berbaring di pelataran masjid atau di taman-taman kota. Ia tidak tahu harus berbuat apa namun hari ini ia diterpa ujian yang membuatnya tidak bisa berfikir bagaimana ia harus menjalani hidup di kota besar yang menjadi tempat asing baginya. Kalau pulang ia sangat malu sekali pada ibunya lebih-lebih kepada dirinya sendiri. Sebab ia sudah berikrar pada dirinya bahwa ia harus sukses sebelum kembali ke kampung halamannya.
Kamu yang sabar nak. Insya Allah pasti Tuhan akan menggantikan yang lebih baik,” nasehatnya pada Afnan. Ia hanya menganggukkan kepala karena ia masih berkatuk pada fikirannya untuk mencari cara bagaiman ia harus bertahan hidup esok hari dan beberapa hari ke depan.
“Jadikan ini sebagai tanda bahwa Allah ingin memberikan kamu yang lebih baik. Anggap saja ini adalah rasa cinta-Nya padamu dan Tuhan ingin engkau lebih dekat pada-Nya. Tuhan ingin lebih banyak mengingat-Nya diwaktu lapangmu maupun diwaktu sempitmu. Serahkan semuanya pada-Nya dan mohon doa supaya Tuhan memberimu jalan-Nya untuk menuju hidupmu yang lebih baik.” Afnan menatap mata laki-laki ia menasehatinya. Ia sangat tersentuk dengan untaian kalimat penuh hikmah dari bibirnya. Ia baru pertama kali mendengarkan nasehat yang begitu berbekas dalam hatinya, apalgi ia hanya seorang pemuda yang sebaya baginya.
Afnan ingin mengucapkan terima kasih namun laki-laki itu telah pergi meninggalkan Afnan dan jamaah di pelataran masjid. Semua jamaah meninggalkan Afnan setelah melihat Afnan sudah tenang. Beberapa dari mereka masih ada yang melanjutkan perbincangannya sebagian lainnnya juga kembali ke rumahnya. Afnan menuju tempat wudhu untuk sholat dua rakaat. Sholat untuk mengadu kepada Rabb-nya atas terpaan ujian yang ia berikan kepada Afnan. Tampak jamaah meninggalkan masjid hanya dua orang saja yang masih lalu lalang yang tak lain adalah ta’mir masjid tersebut.
Afnan terhenti dan detak jantung tidak berdetak normal namun detak jantungnnya berdetak dengan sangat cepatnya diiringi dengan tubuhnya yang gemetaran tak kala membuka sebuah dompet yang ia temukan di tempat wudhu berisi lembaran-lembaran rupiah dan sebuat ATM. Ia menghitungnya dan semua terbilang dua juta lima ratus rupiah. Afnan mengalami pergolakan batin antara mengembalikan dompet tersebut atau ia mengambilnya sebab ia sangat tahu betul bahwa dirinya sangat membutuhkan lembaran rupiah tersebut untuk menyambung hidupnya di gemerlapnya dunia kota. Pertempuran dalam tubuhnya pun sangat tarik menarik antara nafsunya untuk mengambilnya untuk dirinya sendiri dan rintihan hati kecilnya yang penuh iba untuk tetap istiqomah memegang pesan ayahnya untuk selalu memegang sebuah KEJUJURAN.
“Ambil saja, kamu tidak usah kembalikan. Anggap saj itu adalah ganti yang Tuhan-mu kirim untuk mu. Apa salahnya mengambil barang temuan. Lagian kamu tidak mencuri tapi kamu temukan. Ambil saja tidak usah banyak fikir,” bujuk nafsunya
“Jangan Afnan, itu bukan hakmu tapi hak orang lain. Kamu memang tidak mencuri tapi menemukan barang orang lain. Bukankah kewajibannya untuk mengembalikan kepada pemiliknya atas haknya dan bukan hakmu. Apalah artinya sebuah lembaran-lembaran itu jika kamu harus menggadaikan kejujuranmu?” bisik hatinya dengan lembut.
“Persetan dengan kejujuran. Di dunia kalau mau hidup dengan kejujuran tidak akan bisa bertahan lama. Lihat saja orang yang hidup dengan sebuah kejujuran terluntah-luntah dalam sebuah selimut kemiskinan sementara orang yang hidup dengan meninggalkan kejujuran hidupnya penuh dengan kesejahteraan dan kenikmataan. Lihat saja para tikus-tikus berdasi yang hidup di negara kita mereka hidup sejahtera tidak kurang satupun. Ambil saja dan tinggalkan kejujuranmu yang hanya menjadi penghalang bagimu untuk menuju kesuksesanmu. Kesuksesan di kota besar seperti itu tidak akan kamu raih jika terus memegang prinsipmu tentang kejujuran. Realistik Afnan, ini kota besar bukan kampung kecil seperti tanah kelahiranmu. Jangan pakai perasaanmu tapi pakai otakmu,” pergolakan dalam diri Afnan semakin meninggi. Mereka saling tarik menarik untuk mengusai Afnan. Ia membenarkan fikirannya bahwa ia harus mengambil dompet tersebut karena ia tidak dalam kategori mencuri melainkan mendapatkan sesuatu yang sangat ia butuhkan saat ini atas apa yang menimpa dirinya. Namun di sisi lain ia harus mempertahankan prinsip yang ia yakini atas apa yang ia dapatkan dari ajaran ayahnya yakni kejujuran.
“Berjalanlah dan hiduplah di atas kejujuran maka engkau akan beruntung.” Nasehat ayahnya. Nasehat itu terngiang-ngiang di telinganya dengan sangat jelas. Namun ia masih berkatuk antara mengikuti nafsunya atau mengikuti hatinya.
“Afnan, kedua orangtuamu tidak pernah mengajarkanmu untuk mengambil hak orang lain sebab itu sama halnya kamu mengzaliminya secara sadar. Biarkan kamu mencapai kesuksesanmu dengan jalan yang baik. Jalan yang tidak pernah lepas dari koridor-Nya. Jalan yang tidak mengcampur adukan antara yang hak dan batil. Berjalanlah di atas jalan-Nya dan jalan-Nya tidak pernah membenarkan mengambil hak orang lain. Tidak membenarkan merebut hak yang bukan kita punya hak. Kembalikan dan minta ampun kepada-Nya dan mohon petunjuk-Nya agar diberikan jalan kemudahan menuju puncak kesuksesan yang menjadi mimpimu.” Hatinya berucap lirih dengan lembutnya kepada Afnan seperti ucapan cinta dari ibunya. Afnan sadar bahwa tidak seharusnya ia bersikap yang mementingkan sifat egonya sehingga tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk menurut pandangan-Nya. Ia berulang kali beristigfar atas pergolakan terhadap dirinya. Ia seharusnya menjadikan terpaan ujian dari-Nya sebagai titian untuk mendapatkan kedudukan yang lebih mulia di sisi-Nya dan menjadikannya lebih ikhlas lagi atas ketentuan yang telah Tuhan gariskan pada telapak tanganya.
“Astagfirullah....” bisiknya penuh sesal. Ia membaca basmalah dan memulai membasahi kedua tangannya dengan memulai pada tangan kanan sebanyak tiga kali sampai ia mencuci kedua kakinya sampai ke tumitnya. Ia membasahinya dengan air wudhu dan berharap titisan air tersebut berjatuhan seiring dengan berjatuhannya dosa-dosanya yang telah ia lakukan. Ia meraih dompet yang ia dapatkan dan mencari ta’mir masjid untuk menyerahkan dompet tersebut.
“Ini pak aku temukan dompet di tempat wudhu. Insya Allah tidak ada satupun yang kurang. Allah menjadi saksiku pak.” Terang Afnan kepada ta’mir masjid tersebut. Afnan masuk dalam masjid dan mendirikan shalat sunnah, memohon ampun kepada Allah atas kekhilafan yang ia lakukan. Ia juga berdoa kepada-Nya semoga ia diberikan hati yang lapang yang penuh ketabahan dan kesebaran atas terpaan ujian yang ia temui dalam perantauannya.

***
BERSAMBUNG .....

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia