Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Melukis Warna Senja (Part 4)
Siskaee
November 15, 2017
Serpihan
Do’a
Ibu Afnan terbangun disepertiga malam. Ia bermimpi bertemu dengan
Afnan. Ia melihat anaknya dalam keadaan pucat pasi dan berjalan sempoyongan
pada hiruk pikuk manusia. Namun tak ada satupun dari manusia tersebut yang
mengulurkan tangan untuk memberikan pertolongan. Ia menangis terisak melihat
anaknya mengalami hal seperti itu.
“Allah bersamamu nak. Mohon pada-Nya untuk kemudahan jalanmu dalam
perantauanmu.” Nasehat ibunya pada Afnan. Ia ingin memeluk Afnan namun kembali
ia tersadar dalam mimpinya.
“Ya Allah, mudahkan anakku di perantauanmu mencari jalan yang lebih
baik. Tuntun-lah ia sehingga tidak pernah jauh dari-Mu,” doanya takkala ia
terbangun. Ia melangkahkan kakinya mengambil air wudhu dan melakukan shalat
sepertiga malam. Mengadu kepada Rabb-nya untuk keselamatan anaknya. Ia hanyut
dalam penghambaannya yang tenang tanpa ada suara bisik dari manusia. Binatang
malampun tak ada yang terdengar mungkin ia telah berlabuh dalam mimpinya
indahnya bersama kekasihnya. Ibu Afnan meleburkan semua keluhannya kepada Allah
ta’ala.
Ya Allah Yang Maha Berkehendak
Pada-Mu-lah kuserahkan semua hidup dan matiku karena Engkaulah yang
berkuasa atasnya.
Jadikanlah aku sebagai golongan dari hamba-hamba-Mu yang senantiasa
bersyukur dan bersabar atas ketentuan-Mu,
Ya Allah Yang Maha Mendengar,
Janganlah Engkau menjadikan hamba kufur atas segala pemberian-Mu
Biarkan aku selalu meneguk air hidayah dan inayah-Mu
Sebab tak ada petunjuk dan pertolongan selain dari-Mu
Ya Allah Yang Maha Menjaga
Jagalah anakku yang telah berjalan meniti kehidupan yang lebih
baik,
Janganlah Engkau menyesatkan dan membuatnya fakir dalam musafirnya,
Jadikanlah ia selalu beserta dengan-Mu dalam keadaan apapun,
Teguhkan imanya dan jadikanlah ia termasuk hamba-Mu yang bertaqwa.
\berikan ia cahaya kemulian-Mu di dunia dan di akhirat kelak,
Jadikanlah ia menjadi bagian dari orang-orang yang sukses
Dan dengan kesuksesannya ia mampu menjadi pembela agamu
Menjadi mujahid-Mu karena kecintaannya pada-Mu dan Rasul-Mu.
Selamatkan ia ya Allah,
Selamatkan ya Allah,
Selamatkan ya Allah.
Rabbana ‘atina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah wakinah
azabannar
Amin ya Allah........
Sementara di tempat lain, di pelataran masjid yang sunyi senyap
dengan terpaan sinar rembulan malam Afnan tidak dapat tidur nyeyak. Ia
memegangi perutnya sambil mengerutkan keningnya. Ia seorang diri dalam kota
besar yang menjadi pijakannya meniti kesuksesan. Meskipun ia tidak tahu sama
sekali bahwa mungkinkah ia termasuk dalam bagian orang-orang yang sukses atau
dalam bagian orang-orang yang gagal. Hanya Allah Azza wa jalla yang tahu.
“Ya Allah kuatkan aku,” ibanya penuh haru. Ia kelaparan.
Semenjaknya kehilangan tasnya ia kadang tidak makan sebab benak fikirnya ia
mengharuskan dirinya irit dengan sisa uang yang tidak cukup ratusan rupiah.
Afnan berdiri menguatkan dirinya dan menuju tempat wudhu.
“Ya Allah jadikan ini adalah saksi untukku menuju kesuksesan yang
Engkau janjikan padaku.” Ia berdoa dalam hatinya sambil meneguk air kran di
tempat wudhu sebagai pengganjal perutnya di malam yang sunyi. Ia tahu bahwa ini
hanya bagian dari kerikil-kerikil tajam yang harus ia lalui sebab ia tahu bahwa
Allah menjanjikan bahwa setelah kesulitan maka datanglah kemudahan.
***
“Hasna,” panggil kiyai Hasan pada anak pertamanya. Kiyai Hasan
adalah pemilik pesantren Amirul Mukmini. Sebuah pesantren modern di kota besar.
Ribuan santrinya telah bersebar ke seluruh penjuru dunia dalam pengaplikasian
ilmu yang ia dapatkan semenjak mondok.
“Perjuangan baru akan anak-anakku mulai ketika terjung ke
masyarakat.” Ibuhnya pada santrinya ketika acara pelepasan satri atau wisuda
santri.
“Hasna, sholat subuh nak,” panggilnya penuh lembut. Tak ada yang
menjawab. Cuma lantunan ayat suci Al- Qur’an yang kiyai Hasan dengar
samar-samar. Ia kemudian membuka kamar anaknya dan masuk. Ia kembali memanggil
Hasna, namun tak ada jawaban.
“Masya Allah,” lirihnya penuh bahagia melihat anaknya Hasna khusyuk
membaca Kalam cinta dari Allah Ta’ala. Kiyai Hasan memperhatikan anaknya dan
ikut mendengarkan Hasna melantunkan ayat demi ayat dengan fasih.
“Hasna sudah sholat nak?” tanyanya pada Hasna yang meletakkan Kalam
Allah di sebuah meja. Hasna membalik ke arah abahnya.
“Iya bah,” jawabnya pendek dengan dengan senyum manis di wajahnya.
Hasna mendekat di tempat abahnya duduk. Ia melihat wajah abahnya yang sudah
keriput namun tidak mengurangi raut wibawa dan cahaya ketaqwaannya.
“Hasna, abah kira sudah saatnya kamu memiliki pendamping hidup
nak,” Hasna kaget mendengar kata yang keluar dari mulut abahnya. Ia memandangi
abahnya penuh makna.
“Abah ingin Hasna memiliki suami sebelum abah menghadap dengan-Nya.
Abah ingin mengendong cucu dari hasil buah cinta Hasna dengan suamimu kelak,”
kiyai Hasan kembali melihat anaknya. Memikirkan bahwa ia tidak salah sebab
Hasna anak pertamanya memang sudah cukup umur dan matang untuk mengarungi
bahtera rumah tangga.
“Abah jangan berkata seperti itu. Abah masih sehat dan insya Allah
akan melihat Hasna mengucapkan ikrar suci kelak bersama laki-laki pilihan
Allah,” jawabnya sambil menunduk. Ia sadar bahwa sudah sepantasnya ia membina
rumah tangga sebab umurnya sebentar lagi menginjak kepala tiga. Ia sudah sangat
matang.
“Hasna punya calon?” tanya Abahnya dengan mimik serius.
“Hasna saat ini tidak punya calon abah. Hasna yakin kelak jika tiba
saatnya Allah akan mengdatangkan jodoh Hasna ke pesantren ini, Hasna yakin
abah. Insya Allah,”
“Tapi abah menjodohkanmu dengan keponakan kiyai Rais nak. Apakah
Hasna setuju?”
“Insya Allah Hasna percaya pada abah namun bisakah Hasna memohon
sesuatu kepada abah?” pintah Hasna sambil memperbaiki letak jilbabnya meskipun
tidak ada yang salah pada tata letak jilbabnya. Ia menghela nafas sambil
menyebut asma Allah.
“Hasna ingin bertemu dengannya abah sebelum menyetujui pilihan
abah. Hasna tidak ingin kelak tidak bisa ikhlas menerima ketentuan-Nya dan
tidak bisa melahirkan rasa cinta dalam hati Hasna abah. Bukankah membina rumah
tangga harus ada cinta di dalamnya? Dengan cinta tersebut kita akan saling
menyadari bahwa pasangan suami istri adalah satu kesatuan yang harus bersama.
Bersama dalam mengarungi hidup baik itu suka maupun duka. Bersama dalam
pengambil sebuah keputusan untuk masa depan dan bersama dalam membangun visi
dan misi agar menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Hasna yakin
semua itu tidak akan terwujud dalam mahligai rumah tangga jika tidak ada cinta
di antara keduanya,” lanjut Hasna pada abahnya. Hasna tersipu malu dengan
penjelasan yang ia utarakan kepada abahnya. Kembali ia menyebut asma-Nya untuk
menenangkan hatinya.
“Allah.....” lirih abahnya.
“Abah sangat sekali nak bahwa kamu benar-benar telah matang untuk
membangun rumah tangga. Abah yakin kelak Hasna bisa melahirkan anak-anak yang
akan menjadi mujahid untuk agama-Nya. Insya Allah nak, abah akan memenuhi
permintaan Hasna. Abah tidak ingin berbuat zholim pada anak abah dengan tidak
meminta pertimbangan darimu nak. Bukankah Hasna sendiri yang akan
menjalaninya?” tanyanya dengan bangga melihat kedewasaan Hasna dalam berfikir
dan menanggapi sesuatu.
“Iya abah,”
“Insya Allah abah serahkan sepenuhnya kepada Hasna kapan pertemuan
tersebut dilakukan,”
“Iya abah, Hasna akan kabar secepatnya kapan Hasna ingin melakukan
pertemuan tersebut namun tidak sekarang abah sebab untuk minggu ini Hasna
sangat sibuk. Insya Allah Hasna bisanya minggu depan namun belum tahu kapan
pastinya,” terang Hasna.
“Abah tidak akan memaksa Hasna. Jika Hasna setuju kita akan
melanjutkannya namun jika Hasna tidak menyetujui abah tidak mengapa kita
serahkan sepenuhnya kepada Pemilik Takdir.” Kiai Hasan berlalu meninggalkan
Hasna. Dalam hati Hasna bersyukur kepada Allah atas kepercayaan yang abahnya
berikan. Ia bersyukur sebab abahnya tidak mementingkan egonya dalam prihal
tersebut. Ia menyerahkan sepenuhnya kepada Hasna. Kiai Hasan sadar bahwa
Hasnalah yang menjalaninya dan semua keputusan dan pilihan harus pada Hasna
untuk merajut kisah baru yang penuh berkah. Kisah untuk menyempurnakan separuh
agama yang telah dianjurkan oleh Rasul-Nya Muhammad bin Abdullah manusia agung
yang telah dipilih oleh Allah untuk membawa risalah-Nya dalam penyempurnaan
akhlak manusia.
Serpihan doa Hasna kumpulkan untuk ia leburkan menjadi satu
kesatuan dalam pemenuhan tekad yang kuat untuk mengarungi dan mengukir sejarah
baru. Sejarah yang akan melahirkan cinta atas keduanya yang akan membuat iri
penduduk langit. Serpihan doa Hasna akan mengetuk petala langit dan menembus
kerajaan Allah hingga menjadi serpihan doa yang akan diijabah oleh-Nya.
***
BERSAMBUNG .....

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...