Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Melukis Warna Senja (Part 5)




Ini Jalanku
“Aku Afnan Manaf Rahman dari kampung pesisir. Aku sudah sebulan dalam perantauan namun aku berjalan tanpa tujuan yang pasti. Gemerlapnya kota menjadi hal yang asing bagiku dan aku tidak mampu beradaptasi. Aku bingung harus berbuat apa. Sudah berkali-kali aku melamar pekerjaan namun tak ada satupun yang menerimaku dengan alasan aku hanyalah lulusan SMA sebab mereka hanya menerima lulusan S1 atau minimal D3. Sementara aku hidup aja susah apalagi untuk biaya kuliah meskipun aku sangat bermimpi untuk menjadi seorang mahasiswa dan mengarungi lautan ilmu yang telah hilang dariku karena kondisi yang mengharuskanku seperti ini. Aku sadar menjalani hidup tidak semudah membalikkan telapak tangan sebab hidup tidak diraih dengan berpangku tangan dan berleha-leha pada titik statis namun harus berjuang. Berjuang dan terus berjuang. Sebab dengan berjuang kita dapat mengambil sebuah peluang untuk menjadi seperti yang kita inginkan. Innallaha ma’ana. Mungkin itulah kalimat yang tepat bagi manusia yang terus berjuang bahwa Allah bersama dengan kita. Ia tidak pernah tuli dan menutup mata melihat perjuangan kita yang menuju ambang kesuksesan. Akupun yakin kelak jika waktunya tiba Allah akan menunjuki aku jalan menuju jalan kesuksesanku yang telah Tuhan gariskan pada telapak tanganku.” Papar Afnan dengan panjang lebar pada laki-laki yang ia temui beberapa hari yang lalu di pelataran masjid. Afnan kagum pada sosok laki-laki tersebut. Di wajahnya mengisyaratkan wajah yang tawadhu dan taat kepada Rabb-nya. Wajahnya bercahaya karena ketaatannya pada Tuhan yang memberinya hidup.
“Panggil aku Yakub. Abdullah Yakub,” ucap laki-laki tersebut. Senyumnya mengembang menambah pesona wajahnya yang gagah. Afnan membalas senyumnya
“Aku juga seorang musafir sama sepertimu. Tiga tahun yang lalu aku tidak jauh beda dengan dirimu yang asing dengan hiruk pikuk perkotaan dan tak tahu harus ke mana. Aku tidak punya tujuan yang jelas,” lanjutnya sambil memperbaiki posisi duduknya. Afnan mengangguk penuh makna. Melihat ke dalam dirinya dan meyakinkan pada dirinya bahwa ia tidak sendiri.
“Tiga tahu yang lalu aku meninggalkan rumah, di mana aku merasakan cinta dan kehangatan dari orang-orang yang sangat aku cinta di dunia ini, namun takdir berkata lain. Aku diusir oleh orang-orang yang aku sebut sebagai keluarga lebih tepatnya orangtua,” Afnan tercengang mendengarkan penuturan Yakub. Namun Yakub menyadari raut muka Afnan.
“Bisa engkau menjelaskan asal muasal sehingga engkau terusir dari keluargamu sendiri? Jika tidak keberatan aku sangat senang sekali. Aku memang bukan siapa-siapa bagimu namun setindaknya dengan engkau memaparkan kisahmu aku berharap engkau lebih bisa ikhlas atau lebih legah,” lirih Afnan meyakinkan Yakub. Afnan sangat berharap sudi kiranya Yakub berbagi kisah dengan sebagai bahan pelajaran untuknya atau sebuah suntikan motivasi dari Yakub yang sama-sama seorang musafir.
“Aku sudah ikhlas dan insya Allah aku sudah tenang sekarang dengan kehendak yang Tuhan peruntuhkan untukku. Aku yakin Tuhan tidak memberikan sesuatu kepada hamba-Nya berupa ujian dibatas kemampuan hamba-Nya sebab Tuhan Maha Tahu dengan kondisi hamba-Nya,”
“Kisahku dimulai semenjak aku menjadi mahasiswa semester pertama di sebuah Universitas ternama di kotaku,” lanjut Yakub memulai kisahnya. Ia menerawang jauh menyelami masa lalunya 3 tahun yang lain. Terkadang ia mengerutkan kening tanda berfikir keras akan apa yang akan ia kisahkan kepada Afnan.
“Aku baru saja lulus SMA pada saat itu dengan nilai tertinggi. Kedua orangtuaku bangga dengan prestasi yang aku raih akupun begitu. Aku terbilang anak orang kaya sehingga ayahku menginginkan aku melanjutkan pendidikanku di sebuah universitas ternama di kotaku meskipun ibuku menganjurkan ayah untuk melanjutkan pendidikanku ke luar negeri, katanya di sana lebih berkualitas dan berkompetensi. Aku pada saat itu lebih condong mengikuti usulan ibu sebab mimpiku memang bisa kuliah di luar negeri. Aku memberi usul pada orangtua ku untuk kuliah di OHIO STATE UNIVERSITY. Aku sangat suka dengan universitas tersebut. Ia berada di negara paman Sam. Orangtuaku menyetujui, aku sangat bahagia saat itu.
“Aku tidak tidak mengurusi semua berkas yang harus aku siapkan sebagai dokumen yang diperlukan nantinya. Ayahku hanya membayar kaki tanganya untuk semuanya sebab materi berlimpah yang Allah peruntuhkan untuk keluarga kami. Aku menikmatinya. Hingga suatu hari aku memohon izin kepada orangtuaku untuk refreshing bersama dengan tema-temanku. Alasanku saat itu sebagai kenangan akhir kebersamaan kami. Aku sangat bekerja keras meyakinkan orangtuaku hingga akupun berbohong padanya.”             Yakub nampaknya sangat menyesali tindakannya saat itu. Yakub beristigfar memohon ampunan-Nya atas kejahiliyaannya saat itu. Tetesan bening menitik perlahan dari kelopak indahnya yang mengisyarakat penyesalan mendalam dalam dirinya.
“Maaf Afnan. Aku kalau ingin masa kelamku selalu menangis, apalagi mengingat ibu yang sangat aku rindukan.” Yakub meminta maaf atas emosi yang tidak bisa ia sembunyikan dari pandangan teman barunya. Entah mengapa Afnan teringat dengan ibunya dan sangat merindukannya.
“Ibu,” bisiknya dalam hatinya yang tidak terdengar oleh Yakub.
“Akhirnya aku pergi bersama dengan teman-temanku dan kami memilih tempat yang jauh dari nuansa gelamor perkotaan. Kami menempuh perjalanan dua hari dua malam di sebuah desa tepencil dan sangat indah. Tidak ada nuansa kesombongan.” Lanjut Yakub pada kisah perjalannya.
“Aku menikmati semuanya sampai kami semakin akrab dengan penduduk sekitar. Ketenangan aku dapatkan dari desa terpencil tersebut. Aku semakin mencintainya dan semakin betah. Meskipun orangtuaku sering kali menelpon meminta kami pulang, namun seribu alasan aku paparkan. Aku ingin tinggal di kampung tersebut.” Yakub berhenti dan menghela nafas panjang. Sementara Afnan masih menunggu kelanjutan kisah Yakub.
“Apa yang membuat Yakub ingin tinggal di desa terpencil? Bukankah hidup di kota dengan fasilitas lengkap dan materi yang menunjang lebih bagus?” tanya Afnan dengan serius. Ia menerawang cara berfikir Yakub yang menurutnya aneh. Sebab kebanyakan orang lebih memilih hidup di perkotaan apalgi dengan memiliki materi yang melimpah. Bukankah itu mimpi kebanyakan orang? Lantas mengapa Yakub ingin meninggalkannya?. Afnan tidak bisa meraba jalan fikiran Yakub.
“Kamu akan tahu suatu saat Afnan.” Jawabnya pendek sambil tersenyum.
“Semoga.”
“Afnan sudah sarapan?” ucap Yakub sambil mengarahkan pandangannya pada penjual bubur ayam keliling di depan masjid. Afnan menggelengkan kepalanya. Hanya isyarat seperti itu Yakub langsung menghampiri penjual bubur ayam dan memesang dua mangkok.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.” Puji Afnan dalam hati atas rezeki yang Tuhan berikan padanya pagi yang penuh berkah. Selang beberapa menit Yakub datang dengan membawa 2 mangkok bubur ayam di tanganya. Seulas senyum tulus membuat Afnan tidak segan kepadanya. Pertemuan mereka mengalir dan membuahkan keakraban yang nanti akan membentuk jalinan ukhuwah islamiyah karena Allah ta’ala.
Afnan memakannya dengan lahap sebab sejak kemarin tidak ada yang mengganjal perutnya selain air kran untuk wudhu jamaah meskipun Afnan sadar hal tersebut tidak baik untuk kesehatannya. Yakub kembali menceritakan kisahnya sambil meneguk air aqua gelas.
“Afnan betul bahwa kelimpahan materi dengan hidup di kota menjadi impian kebanyakan orang. Namun bagiku saat itu yang tengah cinta dengan kampung terpencil tersebut tidak demikian. Harta dan hidup di kota bukanlah menjadi keinginanku saat itu. Aku ingin menjauh darinya dan pergi meninggalkannya hingga ia lelah mengejarku. Kembali orangtuaku menelponku dan membujukku untuk pulang namun lagi-lagi aku memberi alasan dan meminta seminggu lagi aku di desa tersebut. Teman-temanku telah kembali ke kota tinggal aku sendiri yang masih asyik dalam ketenangan yang kurasakan. Teman-temanku heran dan bingung dengan sikapku saat itu namun aku tak menghiraukannya.
“Aku sudah bisa beradabtasi dengan penduduk sekitar hingga suatu hari qadarullah mempertemukan ku dengan Irwansyah. Ia lulusan STIBA di kota Angin Mammiri di Sulawesi Selatan. Ia banyak mengajariku makna hidup dan bagaimana seharusnya menjadi seorang muslim yang benar-benar cinta kepada Allah, cinta Rasul-Nya dan cinta kepada Agama-Nya. Aku banyak belajar darinya tentang kesederhanaan hidup, tentang perjuangan, pengorbanan dan bagaimana menyikapi setiap masalah yang menghampiri kita. Aku mulai berbenah diri dan semakin mendalami ilmu agama Islam yang dulunya hanya kujadikan sebagai pelengkap nilai di bangku sekolah. Aku makin sadar bahwa kecerdasan yang kita miliki tidak berguna jika kita semakin lalai dari perintah-Nya. Kecerdasaan tidak bermanfaat jika kita semakin lupa pada-Nya yang telah menganugrahi kita dengan potensi yang luar biasa. Aku taubat dan memutar 180 derajat kehidupanku yang sebaliknya.” Yakub menghela nafas panjang mengenang kisahnya dengan Irwansyah, sahabat yang telah mengantarnya mengetuk pintu hidayah.
“Aku banyak berubah. Seminggu setelah pertemuan dan kebersamaanku dengan Irwansyah harus terpisah sebab aku harus kembali ke kota di rumah di mana kedua orangtuaku menungguku. Namun ada satu hal yang mengusik benak fikirku. Bagaimana reaksi kedua orangtuaku melihat perubahanku? Perubahan dari cara berpakaianku dan perubahan dari sikapku. Aku bingung pada saat itu hingga ada rasa yang mengalir dalam benakku untuk tidak pulang ke rumah atau mengembalikkan diriku yang sebelumnya. Irwansyah mengerti kekhawatiranku. Ia memberiku untaian hikmah dari bibirnya yang penuh makna. “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing pula. Maka beruntunglah orang-orang terasing itu. Akhi jangan pernah lepaskan hidayah yang antum raih sebab kita tidak bisa menjamin diri kita akan kembali meraih hidayah dari-Nya jika kita melepaskannya. Bersabarlah dan berdirilah di atas keistiqomahan insya Allah akan ada jalan keluar yang Allah berikan. Ambillah ibrah dari kisah Nabi Teladan dan para sahabat dalam berjihad di atas keistiqomahan. Jangan menenggelamkan diri pada hal yang sama hanya karena takut pada makhluk-Nya sebab tidak ada kuasa selain dari Kuasa-Nya. Bersabarlah dan tetap istiqomah, insya Allah ada balasan yang lebih mulia yang Allah peruntuhkan untuk antum.” Itulah nasehatnya yang membuatku tak bisa membendung danau air jernih di pelupuk mataku. Aku terus memohon kekuatan dari-Nya supaya bisa melaluinya.” Yakub kembali meneguk air aqua gelas yang berada di sampingnya begitupun dengan Afnan. Lalu lalang kendaraan sudah memadati ruas jalan di depan masjid dan mentari beranjak kembali melakukan perjalanan menuju senja.
“Orangtuaku sangat marah dengan perubahan diriku. Tidak ada yang mengdukungku. Aku sempat bersitegang dengan ayah namun aku sadar bahwa tidak seharusnya aku bersifat seperti itu. Aku harus tetap menghormatinya. Aku sudah bekerja keras untuk menjelaskan dan meyakinkan mereka namun mereka tetap pada pendiriannya. Aku bingung harus berbuat apa pada saat itu. Hingga ayahku melontarkan kata-kata bahwa ia tidak akan membiayai kuliahku di OHIO STATE UNIVERSITY jika aku masih bersikeras dengan sikapku. Ibuku membenarkan kata-kata ayah. Aku kembali meyakinkan ayah untuk mengerti prinsipku namun hasilnya nihil. Dengan berdoa kepada-Nya dengan dalam dan mengibah aku menguatkan azzam dengan mengucap Bismillahi rahmani rahim aku tetap berdiri di atas prinsip dan sikapku. Aku yakin ini adalah dakwah dan dakwah tidak akan semudah yang kita inginkan.
“Ayahku sangat marah sekali begitupun dengan ibuku. Mereka berdiri sambil memandangiku dengan mimik serius. Aku hanya bersimpuh di kakinya sambil mengibah. Aku berharap mereka luluh dan mengubah fikirannya. Tidak ada yang bisa meluluh lantahkan keputusan ayah, ia tetap dengan sikapnya. Aku diberikan pilihan oleh ayah untuk memilih. Tetap dengan prinsipku dengan catatan aku harus meninggalkan rumah atau kembali kepada diriku sebelumnya dan mereka akan mengirimku ke Amerika melanjutkan pendidikanku sebagaimana mimpiku dulu.” Yakub berhenti. Atas tetesan bening menitik di ujung matanya. Afnan hanya diam terpukau akan kisah Yakub. Tak ada suara semua diam hanya gemerisik angin terdengar sambil mengelus lembut wajah mereka.
“Semoga berkah, mas,” gumam Afnan.
“Amin. Insya Allah. Setelah itu aku benar-benar diusir oleh ayah. Aku tidak pernah menyangka bahwa ia benar dengan perkataannya sebab aku berfikir mungkin itu hanya gertakan ayah, namun ternyata tidak. Aku diusir meskipun kulihat wajah mereka menggambarkan kesedihan. Aku pergi meninggalkan rumah di jalan yang aku pilih. Ini jalanku. Jalan yang aku pilih karena kecintaanku pada Rabb-ku. Jalan yang aku lalui dengan sejuta harapan kelak aku bisa benar-benar menjadi seorang muslim yang mengamalkan syariat-Nya. Jalan yang akan menjadi saksi untukku kelak di hadapan pengadilan-Nya yang seadil-adilnya pengadilan. Jalan yang menjadi titianku menuju pintu cinta-Nya dan kelak dengan jalan ini aku meneguk air-Nya untuk melegahkan dahagaku sebab kehausanku mencari jati diri yang sesungguhnya. Jalan yang penuh dengan kerikil-kerikil tajam yang menuntutku untuk mengambil ibrah di setiap yang kulalui sebab cinta-Nya ada di setiap jalan yang kulalui. Aku yakin dengan hal itu.
***
 Bersambung .....

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia