Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Melukis Warna Senja (Part 5)
Siskaee
November 21, 2017
Ini Jalanku
“Aku Afnan Manaf Rahman dari kampung pesisir. Aku sudah sebulan
dalam perantauan namun aku berjalan tanpa tujuan yang pasti. Gemerlapnya kota
menjadi hal yang asing bagiku dan aku tidak mampu beradaptasi. Aku bingung
harus berbuat apa. Sudah berkali-kali aku melamar pekerjaan namun tak ada
satupun yang menerimaku dengan alasan aku hanyalah lulusan SMA sebab mereka
hanya menerima lulusan S1 atau minimal D3. Sementara aku hidup aja susah
apalagi untuk biaya kuliah meskipun aku sangat bermimpi untuk menjadi seorang
mahasiswa dan mengarungi lautan ilmu yang telah hilang dariku karena kondisi
yang mengharuskanku seperti ini. Aku sadar menjalani hidup tidak semudah
membalikkan telapak tangan sebab hidup tidak diraih dengan berpangku tangan dan
berleha-leha pada titik statis namun harus berjuang. Berjuang dan terus
berjuang. Sebab dengan berjuang kita dapat mengambil sebuah peluang untuk
menjadi seperti yang kita inginkan. Innallaha ma’ana. Mungkin itulah
kalimat yang tepat bagi manusia yang terus berjuang bahwa Allah bersama dengan
kita. Ia tidak pernah tuli dan menutup mata melihat perjuangan kita yang menuju
ambang kesuksesan. Akupun yakin kelak jika waktunya tiba Allah akan menunjuki
aku jalan menuju jalan kesuksesanku yang telah Tuhan gariskan pada telapak tanganku.”
Papar Afnan dengan panjang lebar pada laki-laki yang ia temui beberapa hari
yang lalu di pelataran masjid. Afnan kagum pada sosok laki-laki tersebut. Di
wajahnya mengisyaratkan wajah yang tawadhu dan taat kepada Rabb-nya. Wajahnya
bercahaya karena ketaatannya pada Tuhan yang memberinya hidup.
“Panggil aku Yakub. Abdullah Yakub,” ucap laki-laki tersebut.
Senyumnya mengembang menambah pesona wajahnya yang gagah. Afnan membalas
senyumnya
“Aku juga seorang musafir sama sepertimu. Tiga tahun yang lalu aku tidak
jauh beda dengan dirimu yang asing dengan hiruk pikuk perkotaan dan tak tahu
harus ke mana. Aku tidak punya tujuan yang jelas,” lanjutnya sambil memperbaiki
posisi duduknya. Afnan mengangguk penuh makna. Melihat ke dalam dirinya dan
meyakinkan pada dirinya bahwa ia tidak sendiri.
“Tiga tahu yang lalu aku meninggalkan rumah, di mana aku merasakan
cinta dan kehangatan dari orang-orang yang sangat aku cinta di dunia ini, namun
takdir berkata lain. Aku diusir oleh orang-orang yang aku sebut sebagai keluarga
lebih tepatnya orangtua,” Afnan tercengang mendengarkan penuturan Yakub. Namun
Yakub menyadari raut muka Afnan.
“Bisa engkau menjelaskan asal muasal sehingga engkau terusir dari
keluargamu sendiri? Jika tidak keberatan aku sangat senang sekali. Aku memang
bukan siapa-siapa bagimu namun setindaknya dengan engkau memaparkan kisahmu aku
berharap engkau lebih bisa ikhlas atau lebih legah,” lirih Afnan meyakinkan
Yakub. Afnan sangat berharap sudi kiranya Yakub berbagi kisah dengan sebagai
bahan pelajaran untuknya atau sebuah suntikan motivasi dari Yakub yang
sama-sama seorang musafir.
“Aku sudah ikhlas dan insya Allah aku sudah tenang sekarang dengan
kehendak yang Tuhan peruntuhkan untukku. Aku yakin Tuhan tidak memberikan
sesuatu kepada hamba-Nya berupa ujian dibatas kemampuan hamba-Nya sebab Tuhan
Maha Tahu dengan kondisi hamba-Nya,”
“Kisahku dimulai semenjak aku menjadi mahasiswa semester pertama di
sebuah Universitas ternama di kotaku,” lanjut Yakub memulai kisahnya. Ia
menerawang jauh menyelami masa lalunya 3 tahun yang lain. Terkadang ia
mengerutkan kening tanda berfikir keras akan apa yang akan ia kisahkan kepada
Afnan.
“Aku baru saja lulus SMA pada saat itu dengan nilai tertinggi.
Kedua orangtuaku bangga dengan prestasi yang aku raih akupun begitu. Aku terbilang
anak orang kaya sehingga ayahku menginginkan aku melanjutkan pendidikanku di
sebuah universitas ternama di kotaku meskipun ibuku menganjurkan ayah untuk
melanjutkan pendidikanku ke luar negeri, katanya di sana lebih berkualitas dan
berkompetensi. Aku pada saat itu lebih condong mengikuti usulan ibu sebab
mimpiku memang bisa kuliah di luar negeri. Aku memberi usul pada orangtua ku
untuk kuliah di OHIO STATE UNIVERSITY. Aku sangat suka dengan universitas
tersebut. Ia berada di negara paman Sam. Orangtuaku menyetujui, aku sangat
bahagia saat itu.
“Aku tidak tidak mengurusi semua berkas yang harus aku siapkan
sebagai dokumen yang diperlukan nantinya. Ayahku hanya membayar kaki tanganya
untuk semuanya sebab materi berlimpah yang Allah peruntuhkan untuk keluarga
kami. Aku menikmatinya. Hingga suatu hari aku memohon izin kepada orangtuaku
untuk refreshing bersama dengan tema-temanku. Alasanku saat itu sebagai
kenangan akhir kebersamaan kami. Aku sangat bekerja keras meyakinkan orangtuaku
hingga akupun berbohong padanya.” Yakub
nampaknya sangat menyesali tindakannya saat itu. Yakub beristigfar memohon
ampunan-Nya atas kejahiliyaannya saat itu. Tetesan bening menitik perlahan dari
kelopak indahnya yang mengisyarakat penyesalan mendalam dalam dirinya.
“Maaf Afnan. Aku kalau ingin masa kelamku selalu menangis, apalagi
mengingat ibu yang sangat aku rindukan.” Yakub meminta maaf atas emosi yang
tidak bisa ia sembunyikan dari pandangan teman barunya. Entah mengapa Afnan
teringat dengan ibunya dan sangat merindukannya.
“Ibu,” bisiknya dalam hatinya yang tidak terdengar oleh Yakub.
“Akhirnya aku pergi bersama dengan teman-temanku dan kami memilih
tempat yang jauh dari nuansa gelamor perkotaan. Kami menempuh perjalanan dua
hari dua malam di sebuah desa tepencil dan sangat indah. Tidak ada nuansa
kesombongan.” Lanjut Yakub pada kisah perjalannya.
“Aku menikmati semuanya sampai kami semakin akrab dengan penduduk
sekitar. Ketenangan aku dapatkan dari desa terpencil tersebut. Aku semakin
mencintainya dan semakin betah. Meskipun orangtuaku sering kali menelpon
meminta kami pulang, namun seribu alasan aku paparkan. Aku ingin tinggal di
kampung tersebut.” Yakub berhenti dan menghela nafas panjang. Sementara Afnan
masih menunggu kelanjutan kisah Yakub.
“Apa yang membuat Yakub ingin tinggal di desa terpencil? Bukankah
hidup di kota dengan fasilitas lengkap dan materi yang menunjang lebih bagus?”
tanya Afnan dengan serius. Ia menerawang cara berfikir Yakub yang menurutnya
aneh. Sebab kebanyakan orang lebih memilih hidup di perkotaan apalgi dengan
memiliki materi yang melimpah. Bukankah itu mimpi kebanyakan orang? Lantas
mengapa Yakub ingin meninggalkannya?. Afnan tidak bisa meraba jalan fikiran
Yakub.
“Kamu akan tahu suatu saat Afnan.” Jawabnya pendek sambil
tersenyum.
“Semoga.”
“Afnan sudah sarapan?” ucap Yakub sambil mengarahkan pandangannya
pada penjual bubur ayam keliling di depan masjid. Afnan menggelengkan
kepalanya. Hanya isyarat seperti itu Yakub langsung menghampiri penjual bubur
ayam dan memesang dua mangkok.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.” Puji Afnan dalam hati atas
rezeki yang Tuhan berikan padanya pagi yang penuh berkah. Selang beberapa menit
Yakub datang dengan membawa 2 mangkok bubur ayam di tanganya. Seulas senyum
tulus membuat Afnan tidak segan kepadanya. Pertemuan mereka mengalir dan
membuahkan keakraban yang nanti akan membentuk jalinan ukhuwah islamiyah karena
Allah ta’ala.
Afnan memakannya dengan lahap sebab sejak kemarin tidak ada yang
mengganjal perutnya selain air kran untuk wudhu jamaah meskipun Afnan sadar hal
tersebut tidak baik untuk kesehatannya. Yakub kembali menceritakan kisahnya
sambil meneguk air aqua gelas.
“Afnan betul bahwa kelimpahan materi dengan hidup di kota menjadi
impian kebanyakan orang. Namun bagiku saat itu yang tengah cinta dengan kampung
terpencil tersebut tidak demikian. Harta dan hidup di kota bukanlah menjadi
keinginanku saat itu. Aku ingin menjauh darinya dan pergi meninggalkannya
hingga ia lelah mengejarku. Kembali orangtuaku menelponku dan membujukku untuk
pulang namun lagi-lagi aku memberi alasan dan meminta seminggu lagi aku di desa
tersebut. Teman-temanku telah kembali ke kota tinggal aku sendiri yang masih
asyik dalam ketenangan yang kurasakan. Teman-temanku heran dan bingung dengan
sikapku saat itu namun aku tak menghiraukannya.
“Aku sudah bisa beradabtasi dengan penduduk sekitar hingga suatu
hari qadarullah mempertemukan ku dengan Irwansyah. Ia lulusan STIBA di kota
Angin Mammiri di Sulawesi Selatan. Ia banyak mengajariku makna hidup dan
bagaimana seharusnya menjadi seorang muslim yang benar-benar cinta kepada
Allah, cinta Rasul-Nya dan cinta kepada Agama-Nya. Aku banyak belajar darinya
tentang kesederhanaan hidup, tentang perjuangan, pengorbanan dan bagaimana
menyikapi setiap masalah yang menghampiri kita. Aku mulai berbenah diri dan
semakin mendalami ilmu agama Islam yang dulunya hanya kujadikan sebagai
pelengkap nilai di bangku sekolah. Aku makin sadar bahwa kecerdasan yang kita
miliki tidak berguna jika kita semakin lalai dari perintah-Nya. Kecerdasaan
tidak bermanfaat jika kita semakin lupa pada-Nya yang telah menganugrahi kita
dengan potensi yang luar biasa. Aku taubat dan memutar 180 derajat kehidupanku
yang sebaliknya.” Yakub menghela nafas panjang mengenang kisahnya dengan
Irwansyah, sahabat yang telah mengantarnya mengetuk pintu hidayah.
“Aku banyak berubah. Seminggu setelah pertemuan dan kebersamaanku
dengan Irwansyah harus terpisah sebab aku harus kembali ke kota di rumah di
mana kedua orangtuaku menungguku. Namun ada satu hal yang mengusik benak
fikirku. Bagaimana reaksi kedua orangtuaku melihat perubahanku? Perubahan dari
cara berpakaianku dan perubahan dari sikapku. Aku bingung pada saat itu hingga
ada rasa yang mengalir dalam benakku untuk tidak pulang ke rumah atau
mengembalikkan diriku yang sebelumnya. Irwansyah mengerti kekhawatiranku. Ia
memberiku untaian hikmah dari bibirnya yang penuh makna. “Islam datang dalam
keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing pula. Maka beruntunglah
orang-orang terasing itu. Akhi jangan pernah lepaskan hidayah yang antum raih
sebab kita tidak bisa menjamin diri kita akan kembali meraih hidayah dari-Nya
jika kita melepaskannya. Bersabarlah dan berdirilah di atas keistiqomahan insya
Allah akan ada jalan keluar yang Allah berikan. Ambillah ibrah dari kisah Nabi
Teladan dan para sahabat dalam berjihad di atas keistiqomahan. Jangan
menenggelamkan diri pada hal yang sama hanya karena takut pada makhluk-Nya
sebab tidak ada kuasa selain dari Kuasa-Nya. Bersabarlah dan tetap istiqomah,
insya Allah ada balasan yang lebih mulia yang Allah peruntuhkan untuk antum.”
Itulah nasehatnya yang membuatku tak bisa membendung danau air jernih di
pelupuk mataku. Aku terus memohon kekuatan dari-Nya supaya bisa melaluinya.”
Yakub kembali meneguk air aqua gelas yang berada di sampingnya begitupun dengan
Afnan. Lalu lalang kendaraan sudah memadati ruas jalan di depan masjid dan
mentari beranjak kembali melakukan perjalanan menuju senja.
“Orangtuaku sangat marah dengan perubahan diriku. Tidak ada yang
mengdukungku. Aku sempat bersitegang dengan ayah namun aku sadar bahwa tidak
seharusnya aku bersifat seperti itu. Aku harus tetap menghormatinya. Aku sudah
bekerja keras untuk menjelaskan dan meyakinkan mereka namun mereka tetap pada
pendiriannya. Aku bingung harus berbuat apa pada saat itu. Hingga ayahku melontarkan
kata-kata bahwa ia tidak akan membiayai kuliahku di OHIO STATE UNIVERSITY jika
aku masih bersikeras dengan sikapku. Ibuku membenarkan kata-kata ayah. Aku
kembali meyakinkan ayah untuk mengerti prinsipku namun hasilnya nihil. Dengan
berdoa kepada-Nya dengan dalam dan mengibah aku menguatkan azzam dengan
mengucap Bismillahi rahmani rahim aku tetap berdiri di atas prinsip dan
sikapku. Aku yakin ini adalah dakwah dan dakwah tidak akan semudah yang kita
inginkan.
“Ayahku sangat marah sekali begitupun dengan ibuku. Mereka berdiri
sambil memandangiku dengan mimik serius. Aku hanya bersimpuh di kakinya sambil
mengibah. Aku berharap mereka luluh dan mengubah fikirannya. Tidak ada yang
bisa meluluh lantahkan keputusan ayah, ia tetap dengan sikapnya. Aku diberikan
pilihan oleh ayah untuk memilih. Tetap dengan prinsipku dengan catatan aku
harus meninggalkan rumah atau kembali kepada diriku sebelumnya dan mereka akan
mengirimku ke Amerika melanjutkan pendidikanku sebagaimana mimpiku dulu.” Yakub
berhenti. Atas tetesan bening menitik di ujung matanya. Afnan hanya diam
terpukau akan kisah Yakub. Tak ada suara semua diam hanya gemerisik angin
terdengar sambil mengelus lembut wajah mereka.
“Semoga berkah, mas,” gumam Afnan.
“Amin. Insya Allah. Setelah itu aku benar-benar diusir oleh ayah.
Aku tidak pernah menyangka bahwa ia benar dengan perkataannya sebab aku
berfikir mungkin itu hanya gertakan ayah, namun ternyata tidak. Aku diusir
meskipun kulihat wajah mereka menggambarkan kesedihan. Aku pergi meninggalkan
rumah di jalan yang aku pilih. Ini jalanku. Jalan yang aku pilih karena
kecintaanku pada Rabb-ku. Jalan yang aku lalui dengan sejuta harapan kelak aku
bisa benar-benar menjadi seorang muslim yang mengamalkan syariat-Nya. Jalan
yang akan menjadi saksi untukku kelak di hadapan pengadilan-Nya yang
seadil-adilnya pengadilan. Jalan yang menjadi titianku menuju pintu cinta-Nya
dan kelak dengan jalan ini aku meneguk air-Nya untuk melegahkan dahagaku sebab
kehausanku mencari jati diri yang sesungguhnya. Jalan yang penuh dengan
kerikil-kerikil tajam yang menuntutku untuk mengambil ibrah di setiap yang
kulalui sebab cinta-Nya ada di setiap jalan yang kulalui. Aku yakin dengan hal
itu.
***
Bersambung .....

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...