Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Melukis Warna Senja (Part 6)



Menyulam Mimpi
Setahun sudah Afnan dalam perantauannya. Ia sudah memiliki pekerjaan dan bisa mengirimkan uang kepada ibunya di kampung. Ada rasa syukur yang selalu ia hanturkan kepada Pemberi Nikmat atas semua yang Afnan terima. Ia sangat bekerja keras dan bersungguh-sungguh. Begitupun dengan kebersamaannya dengan Yakub semakin hari mereka semakin dekat seperti kakak beradik. Mereka saling menyayangi dan mencintai satu sama lain sebab dasar dari Allah.
Sedekit demi sedikit ia meraih mimpi yang ia sulam sendiri dengan azzam yang kuat. Ia menata dan belajar cara menyulam mimpi dari sosok laki-laki yang sangat ia kagumi; Abdullah Yakub. Afnan hidup bersama dengan Yakub di sebuah kompleks sederhana di samping masjid Taqwa. Ia bahkan sering ikut pengajian di pesantren modern Amirul Mukmini yang di asuh oleh kiai yang penuh tawadhu. Kiai Lutfi Hasan.
Selepas sholat Duha Afnan memandangi coretan mimpi yang tertempel di dinding kamarnya yang ukuran 3X3. Ia memperhatikan secara saksama mulai dari awal ia menggerakkan jemarinya menyulam mimpi di atas kertas putih. Menyulam mimpi dengan penuh kesungguhan yang diiringi dengan doa yang paling tulus dari relung hatinya yang paling dalam. Sesekali seulas senyum bahagia tergambar pada raut wajahnya. Ia tak percaya akan coretan keberhasilan yang ia terlihat pada kertas mimpinya.
“Terima kasih ya Allah.... Terima kasih ya Allah.” Gumamnya dengan tulus.
Afnan terus memandangi sulaman mimpinya sambil mengingat wajah teduh dan tabah dari ibunya yang kian hari kian dimamah usia. Ia meraih mushaf kecil berwarna hitam dan membacanya penuh tartil sambil terisak tangis penuh haru.
Fabiayyi aalaai robbikuma tukazziban.
Khalaqal insana min shalshalin kalfakkhar.
Wa khalaqal jinna min mmarijin min nar.
Fabiayyi aalaai robbikuma tukazziban.
“Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?
Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar.
Dan Dia menciptakan jin dari nyala api tanpa asab.
Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?”[QS. Ar- Rahman: 13-16].
Afnan menghentikan bacaannya, ia menafakkuri ayat tersebut dengan mata yang sembah. Ia sadar bahwa ia hanya mahkluk Allah yang sangat kecil yang tidak ada kekuatan tanpa kemurahan-Nya dan Tuhan telah memberikannya nikmat yang senantiasa mengalir dalam kehidupannya. Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan? Terjemahan ayat tersebut terus-menerus terngiang di telinganya. Ia menelesuri perjalanannya dan mencoba menghitung nikmat yang Tuhan berikan namun Afnan sama sekali tidak sanggup menghitung nikmat tersebut.
Fabiayyi aalaai robbikuma tukazziban.” Gumamnya. Ia bertasbih memuji kepada Yang Maha Terpuji dan Maha Mulia. Afnan meraih lembaran mimpinya dan kembali memainkan jemarinya dengan lihai penuh semangat. Semangat menyulam mimpi sebab ia yakin dan sangat sadar semua kesuksesan berawal dari mimpi. Orang yang tak punya mimpi sama dengan tak punya harapan. Tak ada sesuatu pun yang membatasi seseorang untuk bermimpi. Bermimpi sesuai dengan kehendak hatinya, maka bermimpilah sebab bermimpi itu mudah tanpa ada bayaran. Bermimpilah dan iringi dengan ikhtiar sebab mimpi tanpa usah hanya hiasan tak bermakna. Ia seperti halnya fatamorgana yang hanya menjanjikan sesuatu yang tak pasti. Yang tak kunjung datang.
Dengan mimik yang serius Afnan menyulam mimpinya sebanyak dua lembar kertas.
“Insya Allah, kelak semua akan tinggal coretan keberhasilan. Kabulkan ya Rabb.”
***
Setahun sudah kiai Hasan menunggu pernikahan anaknya; Hasna namun belum lagi terwujud sebagaimana keinginannya. Pertemuannya dengan keluarga besar kiai Rais ternyata tidak menjadikan mereka keluarga yang bersatu. Hasna tidak menerima pinangan dari keponakan kiai Rais. Abahnya tidak memaksakan kehendaknya sebab ia tahu Hasna anaknya sudah bisa menentukan jalannya sendiri. Ia tahu Hasna telah dewasa dan bisa memilih jodoh yang tepat baginya dan sesuai dengan kriteria abahnya.
Hasna terlihat sibuk di ruang dapur menyiapkan sarapan untuk abahnya. Tak lama kemudian ia keluar dengan membawa nampang berisi ubi goreng dan segelas kopi.
“Abah, kopi buatan Hasna gimana?” tanyanya penuh manja pada abahnya.
“Kurang manis nak. Dicoba dulu,” Hasna lalu duduk di samping abahnya dan mencoba kopi buatannya. Ia mengerutkan keningnya.
“Manis kok bah,” protesnya
“Hehehe...” kiai Hasan tertawa melihat tingkah lucu Hasna.
“Abah, insya Allah Hasna sudah memilih.”
“Memilih apa Na?” tanya kiai Hasan sambil memperbaiki peci hitam yang ada di kepalanya.
“Hasna sudah memilih calon suami abah. Calon bapak buat anak-anak Hasna kelak. Calon ustad dalam bahtera rumah tangga Hasna. Insya Allah ia sholeh dan sesuai dengan kriteria abah.” Papar Hasna yang tersimpuh malu kepada abahnya.
“Abah percaya dengan pilihan Hasna. Abah tidak akan memberatkan selagi agamanya baik sebab itulah yang harus Hasna lihat. Suami yang mengerti agama akan mengarahkan istri menuju Allah. Akan mengarahkan istrinya mendapatkan keberkahan dan memproleh Ridho dari-Nya. Siapa laki-laki yang membuat hati Hasna terpaut?”
“Iya bukan asli di sini abah. Ia seorang musafir dari kota sebelah. Ia salah satu jamaah pengajian di pesantren kita.”
“Siapa Na?” tanya kiai Hasan dengan penuh penasaran sebab hampir semua jamaah yang ikut pengajian di pesantrennya ia tahu betul. Apalagi yang masih mudah.
“Namanya Abdullah Yakub bah,” jawab Hasna pendek
“Subhanallah....”
“Abah sangat kenal ia Na. Insya Allah abah ridho. Abah ridho Nak.” Hasna menitihkan air mata mendengar penuturan abahnya. Mendengarkan ridho dari abahnya. Ia memohon pada Tuhan semoga ia dimudahkan  dalam penyempurnaan agamanya.
“Kapan Abdullah Yakub datang mengkhitbah nak?” tanya kiai Hasan penuh semangat.
“Insya Allah secepatnya. Insya Allah minggu ini abah.” Jawab Hasna tak kalah semangat dengan ayahnya. Senandung cinta telah memenuhi ruang hatinya. Ia bahagia. Sangat bahagia.
“Bersegeralah nak. Kebaikan jika terlalu lama menunggu hasilnya tidak baik. Akan abah bicarangan dengan umimu dan adikmu Khaira. Seandainya abah bisa berandai-andai abah ingin adikmu Khaira juga menikah bersamaan denganmu. Abah rasa Khaira juga sudah tiba waktunya menikah,” terang kiai Hasan penuh harapan. Tak lupa kiai Hasan menyempatkan memohon doa kepada Allah semoga keinginannya diijabah oleh Allah.
Abah doakan saja semoga jodoh adik Khaira segera datang dan kami bisa menjadi pengantin bersama. Insya Allah adik Khaira pasti mendapatkan laki-laki yang istimewa dari-Nya sebab ia sholehah lagi cantik,”
“Insya Allah.” pagi ini Hasna merasakan kidung cinta terdengar syahdu memenuhi seantero langit. Nyiur kelapa tak terdengar memainkan musiknya seperti biasanya namun ia memainkan musik cinta yang paling indah mengundang burung-burung bertengger bahagia di atasnya. Burung-burung berterbangan membentuk formasi penuh cinta beserta dengan kapas raksasa yang tergantung di petala langit. Semua bahagia. Bahagia sebab cinta.
***
 BERSAMBUNG ......

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia