Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Melukis Warna Senja (Part 6)
Siskaee
November 28, 2017
Menyulam
Mimpi
Setahun sudah Afnan dalam perantauannya. Ia sudah memiliki
pekerjaan dan bisa mengirimkan uang kepada ibunya di kampung. Ada rasa syukur
yang selalu ia hanturkan kepada Pemberi Nikmat atas semua yang Afnan terima. Ia
sangat bekerja keras dan bersungguh-sungguh. Begitupun dengan kebersamaannya
dengan Yakub semakin hari mereka semakin dekat seperti kakak beradik. Mereka
saling menyayangi dan mencintai satu sama lain sebab dasar dari Allah.
Sedekit demi sedikit ia meraih mimpi yang ia sulam sendiri dengan
azzam yang kuat. Ia menata dan belajar cara menyulam mimpi dari sosok laki-laki
yang sangat ia kagumi; Abdullah Yakub. Afnan hidup bersama dengan Yakub di
sebuah kompleks sederhana di samping masjid Taqwa. Ia bahkan sering ikut
pengajian di pesantren modern Amirul Mukmini yang di asuh oleh kiai yang penuh
tawadhu. Kiai Lutfi Hasan.
Selepas sholat Duha Afnan memandangi coretan mimpi yang tertempel
di dinding kamarnya yang ukuran 3X3. Ia memperhatikan secara saksama mulai dari
awal ia menggerakkan jemarinya menyulam mimpi di atas kertas putih. Menyulam
mimpi dengan penuh kesungguhan yang diiringi dengan doa yang paling tulus dari
relung hatinya yang paling dalam. Sesekali seulas senyum bahagia tergambar pada
raut wajahnya. Ia tak percaya akan coretan keberhasilan yang ia terlihat pada
kertas mimpinya.
“Terima kasih ya Allah.... Terima kasih ya Allah.” Gumamnya dengan
tulus.
Afnan terus memandangi sulaman mimpinya sambil mengingat wajah
teduh dan tabah dari ibunya yang kian hari kian dimamah usia. Ia meraih mushaf
kecil berwarna hitam dan membacanya penuh tartil sambil terisak tangis penuh
haru.
Fabiayyi aalaai robbikuma tukazziban.
Khalaqal insana min shalshalin kalfakkhar.
Wa khalaqal jinna min mmarijin min nar.
Fabiayyi aalaai robbikuma tukazziban.
“Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?
Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar.
Dan Dia menciptakan jin dari nyala api tanpa asab.
Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?”[QS. Ar- Rahman: 13-16].
Afnan menghentikan bacaannya, ia menafakkuri ayat tersebut dengan
mata yang sembah. Ia sadar bahwa ia hanya mahkluk Allah yang sangat kecil yang
tidak ada kekuatan tanpa kemurahan-Nya dan Tuhan telah memberikannya nikmat
yang senantiasa mengalir dalam kehidupannya. Maka nikmat Tuhan-mu yang
manakah yang kamu dustakan? Terjemahan ayat tersebut terus-menerus
terngiang di telinganya. Ia menelesuri perjalanannya dan mencoba menghitung
nikmat yang Tuhan berikan namun Afnan sama sekali tidak sanggup menghitung
nikmat tersebut.
“Fabiayyi aalaai robbikuma tukazziban.” Gumamnya. Ia
bertasbih memuji kepada Yang Maha Terpuji dan Maha Mulia. Afnan meraih lembaran
mimpinya dan kembali memainkan jemarinya dengan lihai penuh semangat. Semangat
menyulam mimpi sebab ia yakin dan sangat sadar semua kesuksesan berawal dari
mimpi. Orang yang tak punya mimpi sama dengan tak punya harapan. Tak ada
sesuatu pun yang membatasi seseorang untuk bermimpi. Bermimpi sesuai dengan
kehendak hatinya, maka bermimpilah sebab bermimpi itu mudah tanpa ada bayaran.
Bermimpilah dan iringi dengan ikhtiar sebab mimpi tanpa usah hanya hiasan tak
bermakna. Ia seperti halnya fatamorgana yang hanya menjanjikan sesuatu yang tak
pasti. Yang tak kunjung datang.
Dengan mimik yang serius Afnan menyulam mimpinya sebanyak dua
lembar kertas.
“Insya Allah, kelak semua akan tinggal coretan keberhasilan.
Kabulkan ya Rabb.”
***
Setahun sudah kiai Hasan menunggu pernikahan anaknya; Hasna namun
belum lagi terwujud sebagaimana keinginannya. Pertemuannya dengan keluarga
besar kiai Rais ternyata tidak menjadikan mereka keluarga yang bersatu. Hasna
tidak menerima pinangan dari keponakan kiai Rais. Abahnya tidak memaksakan
kehendaknya sebab ia tahu Hasna anaknya sudah bisa menentukan jalannya sendiri.
Ia tahu Hasna telah dewasa dan bisa memilih jodoh yang tepat baginya dan sesuai
dengan kriteria abahnya.
Hasna terlihat sibuk di ruang dapur menyiapkan sarapan untuk
abahnya. Tak lama kemudian ia keluar dengan membawa nampang berisi ubi goreng
dan segelas kopi.
“Abah, kopi buatan Hasna gimana?” tanyanya penuh manja pada
abahnya.
“Kurang manis nak. Dicoba dulu,” Hasna lalu duduk di samping
abahnya dan mencoba kopi buatannya. Ia mengerutkan keningnya.
“Manis kok bah,” protesnya
“Hehehe...” kiai Hasan tertawa melihat tingkah lucu Hasna.
“Abah, insya Allah Hasna sudah memilih.”
“Memilih apa Na?” tanya kiai Hasan sambil memperbaiki peci hitam
yang ada di kepalanya.
“Hasna sudah memilih calon suami abah. Calon bapak buat anak-anak
Hasna kelak. Calon ustad dalam bahtera rumah tangga Hasna. Insya Allah ia
sholeh dan sesuai dengan kriteria abah.” Papar Hasna yang tersimpuh malu kepada
abahnya.
“Abah percaya dengan pilihan Hasna. Abah tidak akan memberatkan
selagi agamanya baik sebab itulah yang harus Hasna lihat. Suami yang mengerti
agama akan mengarahkan istri menuju Allah. Akan mengarahkan istrinya
mendapatkan keberkahan dan memproleh Ridho dari-Nya. Siapa laki-laki yang
membuat hati Hasna terpaut?”
“Iya bukan asli di sini abah. Ia seorang musafir dari kota sebelah.
Ia salah satu jamaah pengajian di pesantren kita.”
“Siapa Na?” tanya kiai Hasan dengan penuh penasaran sebab hampir
semua jamaah yang ikut pengajian di pesantrennya ia tahu betul. Apalagi yang
masih mudah.
“Namanya Abdullah Yakub bah,” jawab Hasna pendek
“Subhanallah....”
“Abah sangat kenal ia Na. Insya Allah abah ridho. Abah ridho Nak.”
Hasna menitihkan air mata mendengar penuturan abahnya. Mendengarkan ridho dari
abahnya. Ia memohon pada Tuhan semoga ia dimudahkan dalam penyempurnaan agamanya.
“Kapan Abdullah Yakub datang mengkhitbah nak?” tanya kiai Hasan
penuh semangat.
“Insya Allah secepatnya. Insya Allah minggu ini abah.” Jawab Hasna
tak kalah semangat dengan ayahnya. Senandung cinta telah memenuhi ruang
hatinya. Ia bahagia. Sangat bahagia.
“Bersegeralah nak. Kebaikan jika terlalu lama menunggu hasilnya
tidak baik. Akan abah bicarangan dengan umimu dan adikmu Khaira. Seandainya
abah bisa berandai-andai abah ingin adikmu Khaira juga menikah bersamaan
denganmu. Abah rasa Khaira juga sudah tiba waktunya menikah,” terang kiai Hasan
penuh harapan. Tak lupa kiai Hasan menyempatkan memohon doa kepada Allah semoga
keinginannya diijabah oleh Allah.
“ Abah doakan saja semoga
jodoh adik Khaira segera datang dan kami bisa menjadi pengantin bersama. Insya
Allah adik Khaira pasti mendapatkan laki-laki yang istimewa dari-Nya sebab ia
sholehah lagi cantik,”
“Insya Allah.” pagi ini Hasna merasakan kidung cinta terdengar
syahdu memenuhi seantero langit. Nyiur kelapa tak terdengar memainkan musiknya
seperti biasanya namun ia memainkan musik cinta yang paling indah mengundang
burung-burung bertengger bahagia di atasnya. Burung-burung berterbangan
membentuk formasi penuh cinta beserta dengan kapas raksasa yang tergantung di
petala langit. Semua bahagia. Bahagia sebab cinta.
***
BERSAMBUNG ......

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...