Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Melukis Warna Senja (Part 7)




Ada Namamu Dalam Istikharaku
Hari yang dinantikan oleh kiai Hasan akhirnya tiba. Begitupun dengan Hasna. Kini laki-laki pilihan Hasna menemui abah dan uminya. Ia menemuinya dengan maksud baik. Maksud yang menjadikan ia menempuh hidup baru dan menyelami suka dan dukanya hidup. Yakub bertandang ke rumah Hasna bersama dengan Afnan. Mereka hanya berdua tak ada orangtua Yakub. Meski mereka tidak ada namun keduanya telah tahu bahwa anaknya Yakub akan melamar seorang anak kiai pengasuh pesantren. Namun kedua orangtuanya hanya bersikap apatis dan tidak menanggapinya dengan serius.
“Ayah, Yakub akan melamar seorang gadis, putri dari seorang kiai pengasuh pesantren. Pesantern modern Amirul Mukmini di kota ini,” paparnya takkalah ia menelpon ayahnya dua hari yang lalu.
“Silahkan. Silahkan engkau lakukan apa pilihanmu. Silahkan melakukan apa yang ingin kamu lakukan sesuai dengan kehendakmu.” Responya sambil menutup telpon secara sepihak.
Mereka terus berjalan hingga berada di ambang rumah Hasna. Lalu lalang santriwati terlihat sambil membawa sebuah kitab tebal di tangan mereka masing-masing. Anggunan busana dan wajah penuh cahaya terpancar dari mereka sebagai indikasi wanita yang penuh dengan martabak dan mengjaga harga diri mereka.
“Sungguh anggun mereka ya Allah.” Bisik Afnan pada dirinya. Yakub merasakan kakinya keluh tak mampu melanjutkan langkahnya. Afnan mengetahui perasaan Yakub dengan refleks ia memegang pundak Yakub untuk mengalirkan rasa optimis dalam dirinya.
“Besarkan hati mas. Insya Allah ini adalah kebaikan dan diridhoi oleh Allah.” Lirih Afnan untuk menghilangkan rasa gugup yang didera oleh Yakub. Ia hanya tersenyum dengan tindakan yang dilakukan oleh Afnan.
“Syukran akhi.”
“Orangtua mas Yakub sudah tahu?” pertanyaan Afnan menghentikan langkah Yakub. Ia memandangi Afnan dan memaksakan melempar senyum kepada Afnan.
“Na’am. Sudah akhi. Dua hari yang lalu sudah aku kabari namun mereka tidak bisa hadir dan menyerahkan sepenuhnya kepada ku.” Ia tidak menjelaskan secara detail kepada Afnan bahwa kedua orangtuanya sebenarnya tidak peduli lagi dengannya. Tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Yakub.  Ia benar-benar tak dianggap lagi oleh orangtuanya. Ia bagaikan sebuah burung dalam sangkar emas yang telah lepas dan tuanya tak lagi memperdulikan burung tersebut. Ia telah melupakannya. Dan seperti itulah nasib Yakub sama halnya dengan burung tersebut dan menjadi bagian dari orang-orang yang terlupakan.
“Silahkan masuk nak.” Sambut kiai Hasan kepada mereka berdua dengan penuh kehangatan. Mereka memulai perbincangan tanpa banyak berbasa-basi. Kiai Hasan sangat kagum dengan sikap Yakub yang sangat pemberani. Berani untuk memutuskan sesuatu. Kiai Hasan baru sadar bahwa Yakub mengenal anaknya; Hasna dari temannya dan hanya melihatnya secara langsung hanya satu kali. Namun pertemuan pertama tersebut meninggalkan bekas penuh makna hingga ia mengambil keputusan untuk mengkhitbahnya untuk menjaga dirinya dan menjaga Hasna. Menjaga kesucian mereka berdua dari hal yang bisa mengakibatkan keduanya terjatuh pada sesuatu yang membuat Tuhan murka kepada mereka berdua dan itu bisa berdampak pada kedua keluarga besar mereka.
“Aku sangat mencintai anak pak. Kiai dan aku tidak ingin melakukan hal-hal yang melanggar syariat. Maka dengan mengucapkan basmalah aku Abdullah Yakub melamar anak pak. Kiai dan aku sangat berharap pak. Kiai memudahkan tujuan baik yang aku bawa di hadapan kiai.” Akui Yakub dengan penuh kemantapan.
“Apakah kamu benar-benar mencintai Hasna anakku?” tanya kiai Hasan untuk meyakinkan dirinya. Meskipun kiai Hasan juga berharap Yakub bisa menjadi menantunya dan membantunya mengelolah pesantren tersebut.
“Aku benar mencintai Hasna anak pak. Kiai. Insya Allah aku berjanji yang Allah menjadi saksiku bahwa aku akan membahagiakan Hasna dan menjaganya.”
“Kalau begitu kapan nak Yakub akan melangsung pernikahan?” spontan Yakub kaget dengan kata-kata kiai Hasana begitupun dengan Afnan. Terlihat Afnan melirik Yakub begitupun dengan sebaliknya Yakub melirik Afnan. Ada gemuruh di dalam dada Yakub tidak menyangka secepat itu kiai Hasan memintanya untuk melangsungkan pernikahan.
“Apakah dengan begini kiai setuju dan menerima lamaranku?” tanya Yakub cari tahu.
“Iya nak. Aku menerima lamaranmu begitu dengan Hasna dan keluarga besar kami. Aku sudah tahu dirimu. Namun bisakah engkau menceritakan lebih detail tentang dirimu yang sebenarnya dan bagaimana kamu bisa hijrah ke kota ini?” sekilas Yakub melihat wajah kiai Hasan yang kian dimamah usia. Ia sudah lansia namun tetap masih kekar dan tampak kuat. Usianya yang kian berkurang tak menjadikan ia tampak lemah.
Yakub kembali menceritakan kisah hidupnya untuk yang kedua kalinya. Pertama ia menceritakannya pada Afnan dan yang kedua dengan kiai Hasan. Ia memang harus menceritakan kisah hidup kepada calon ayah mertuanya yang kelak ia juga memanggilnya dengan panggil abah. Ia kembali menerawang kisah silam. Kisah di mana ia bisa berubah 180 derajat dari kehidupannya yang sebelumnya. Perjalanannya bersama teman-temannya. Pertemuannya dengan irwansyah hingga keberadaannya di kota tersebut sebab diusir oleh kedua orangtuannya yang mempertahankan prinsip hidup. Prinsip yang ia yakini.
Kiai Hasan mendengarkan dengan saksama. Sesekali ia terdengar berdehem dan menanggapi penuturan Yakub. Kali ini Yakub berharap dengan menceritakan kisahnya ia bisa mendapatkan jalan keluar dari wajah teduh kiai Hasan. Ia sudah sangat rindu pada orangtuanya dan segera bersimpuh maaf di hadapan keduanya tanpa harus menggadaikan prinsipnya. Yakub mengakhiri penuturannya dengan meminta kepada kiai Hasan sebuah solusi sehingga hubungannya dengan kedua orangtuanya bisa harmonis seperti sedia kala.
“Insya Allah nak. Kita doakan orangtuamu semoga cepat dibukakan hatinya dan mendapat ketukan hidayah dari-Nya. Sebab tak ada yang dapat memberikan hidayat kepada manusia selain atas izinnya. Kita hanya bisa mengantar dan menuntutnya untuk menemukan hidayat yang Allah sediakan bagi orang-orang yang bersungguh untuk mencarinya. Aku yakin suatu saat orangtuamu akan sadar dan bangga dengan dirimu atas prinsip yang engkau pertahankan. Insya Allah, nak Yakub terus berdoa untuk kebaikan mereka dan mohonlah kepada-Nya dengan merendahkan diri bahwa kita ini hanyalah makhluk yang hina tanpa cinta-Nya dan kemulian yang ia berikan kepada kita.” Yakub bersyukur dan tenang mendengar untaian kalimat kiai Hasan. Ia menemukan secercah keyakinan bahwa kelak orangtuanya akan bangga pada dirinya atas prinsip yang ia pengang.
***
Pertemuan Yakub dengan kiai Hasan telah berlalu sekitar sebulan. Kini Yakub sudah menjadi suami Hasna. Sudah menjadi pemimpin di keluarganya sendiri bersama dengan cintanya. Yakub sekarang tinggal di pesantren mengelolah pesantren bersama dengan abahnya; kiai Hasan sementara Afnan tinggal sendiri di rumah tempat di mana Yakub dulu tinggal. Namun Afnan berjanji bahwa ia tidak akan selamanya tinggal di situ meskipun Yakub dan kiai Hasan memintanya ikut tinggal di pesantren namun Afnan menolak.
Afnan masih berkatuk pada pemutusan pilihan atas tawaran kiai Hasan. Tawaran yang membuat ia tercengang dan sebaliknya membuat Yakub senang bercampur harapan Afnan menerima tawaran tersebut. Tapi tidak semudah itu bagi Afnan sebab ia memikirkan semuanya. Memikirkan dirinya sendiri dan memimikirkan ibunya.
“Beristikharah lah nak.” Nasehat kiai Hasan kala itu. Sudah dua hari Afnan melakukan shalat istikharah namun belum ada jawaban dari-Nya. Ia tidak menginginkan keputusannya tidak berasal jawaban dari Tuhan sebab ini menyangkut hidupnya. Menyangkut hidup anak kiai Hasan dan menyangku tentang mimpi-mimpi. Ia beriskharah sebab Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk beristikrahah dalam semua perkara agar kita tidak salah dalam memutuskan perkara dan tidak salah pilih nantinya. Sebab jika seseorang yang tengah dilanda dilema dan beristikharah ia hendaknya mengambil keputusan yang diyakininya dengan pasti.
“Ya Allah kalau Khaira memang jodohku dan aku memang pantas untuknya maka mantapkan hatiku untuk memilihnya yah Allah.” Ibanya penuh pengharapan.
Ya Allah hamba memohon agar Tuhan memilihkan mana yang baik menurut engkau ya Allah. Dan hamba memohon Tuhan memberikan kepastian dengan ketentuan-Mu dan hamba memohon dengan kemurahan Tuhan yang Besar Agung. Karena sesungguhnya Tuhan yang berkuasa, sedang hamba tidak tahu dan Tuhan-lah yang amat mengetahui bahwa persoalan ini baik bagi hamba, dalam agama hamba dan dalam penghidupan hamba, maka berikanlah perkara ini kepada hamba dan mudahkanlah ia bagi hamba, kemudaian berikanlah ia bagi hamba, kemudia berikanlah keberkahan bagi hamba didalamnya. Ya Allah, jika Tuhan mengetahui bahwa sesungguhnya hal ini tidak baik bagi hamba, dan tidak baik akibatnya bagi hamba, dan jauhkanlah hamba dari padanya. Dan berikanlah kebaikan di mana saja hamba berada, kemudian jadikanlah hamba orang yang rela atas anugerah-Mu.” Ia menghentikan doanya dan memegang dadanya. Berharap sudah ada kepastian ia dapat akan keputusan yang selayaknya ia ambil. Setelah itu Afnan menyebut apa keinginannya dan mengikut sertakan nama Khaira di dalam doanya. Ia memantapkan hatinya atas pilihannya sebab itu tahu semua kemantapan hati yang ia rasakan datang dari Allah atas jawaban istikharahnya.
Ia melanjutkan dengan melafazkan butiran-butiran tasbih dan secara mantap ada nama dalam istikharahnya. Nama yang akan menjadi calon ustadzah di rumah. Nama yang akan menemaninya dalam mengarungi hidup yang bisa menguatkannya dan bisa juga sebaliknya melemahkannya.
“Ada namamu dalam istikharahku.” Ujarnya penuh kemantapan. Ia kemudian menelaah hadits Rasulullah  melalui sabdanya. Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, yakni karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya. Carilah yang mempunyai agama niscaya kamu beruntung.”ia kembali memantapkan hatinya bahwa pilihan memang sangat tepat.
“Insya Allah Khaira memiliki agama yang benar dan ia juga perempuan sholehah.” Ia tersenyum bahagia. Bahagia atas kemurahan Allah yang senantiasa mengalirkan nikmat-Nya kepada Afnan.
***
BERSAMBUNG .....

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia