Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Melukis Warna Senja (Part 7)
Siskaee
Desember 14, 2017
Ada Namamu
Dalam Istikharaku
Hari yang dinantikan oleh kiai Hasan akhirnya tiba. Begitupun
dengan Hasna. Kini laki-laki pilihan Hasna menemui abah dan uminya. Ia
menemuinya dengan maksud baik. Maksud yang menjadikan ia menempuh hidup baru
dan menyelami suka dan dukanya hidup. Yakub bertandang ke rumah Hasna bersama
dengan Afnan. Mereka hanya berdua tak ada orangtua Yakub. Meski mereka tidak
ada namun keduanya telah tahu bahwa anaknya Yakub akan melamar seorang anak
kiai pengasuh pesantren. Namun kedua orangtuanya hanya bersikap apatis dan
tidak menanggapinya dengan serius.
“Ayah, Yakub akan melamar seorang gadis, putri dari seorang kiai
pengasuh pesantren. Pesantern modern Amirul Mukmini di kota ini,” paparnya
takkalah ia menelpon ayahnya dua hari yang lalu.
“Silahkan. Silahkan engkau lakukan apa pilihanmu. Silahkan
melakukan apa yang ingin kamu lakukan sesuai dengan kehendakmu.” Responya
sambil menutup telpon secara sepihak.
Mereka terus berjalan hingga berada di ambang rumah Hasna. Lalu
lalang santriwati terlihat sambil membawa sebuah kitab tebal di tangan mereka
masing-masing. Anggunan busana dan wajah penuh cahaya terpancar dari mereka
sebagai indikasi wanita yang penuh dengan martabak dan mengjaga harga diri
mereka.
“Sungguh anggun mereka ya Allah.” Bisik Afnan pada dirinya. Yakub
merasakan kakinya keluh tak mampu melanjutkan langkahnya. Afnan mengetahui
perasaan Yakub dengan refleks ia memegang pundak Yakub untuk mengalirkan rasa
optimis dalam dirinya.
“Besarkan hati mas. Insya Allah ini adalah kebaikan dan diridhoi
oleh Allah.” Lirih Afnan untuk menghilangkan rasa gugup yang didera oleh Yakub.
Ia hanya tersenyum dengan tindakan yang dilakukan oleh Afnan.
“Syukran akhi.”
“Orangtua mas Yakub sudah tahu?” pertanyaan Afnan menghentikan
langkah Yakub. Ia memandangi Afnan dan memaksakan melempar senyum kepada Afnan.
“Na’am. Sudah akhi. Dua hari yang lalu sudah aku kabari namun
mereka tidak bisa hadir dan menyerahkan sepenuhnya kepada ku.” Ia tidak
menjelaskan secara detail kepada Afnan bahwa kedua orangtuanya sebenarnya tidak
peduli lagi dengannya. Tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Yakub. Ia benar-benar tak dianggap lagi oleh
orangtuanya. Ia bagaikan sebuah burung dalam sangkar emas yang telah lepas dan
tuanya tak lagi memperdulikan burung tersebut. Ia telah melupakannya. Dan
seperti itulah nasib Yakub sama halnya dengan burung tersebut dan menjadi
bagian dari orang-orang yang terlupakan.
“Silahkan masuk nak.” Sambut kiai Hasan kepada mereka berdua dengan
penuh kehangatan. Mereka memulai perbincangan tanpa banyak berbasa-basi. Kiai
Hasan sangat kagum dengan sikap Yakub yang sangat pemberani. Berani untuk
memutuskan sesuatu. Kiai Hasan baru sadar bahwa Yakub mengenal anaknya; Hasna
dari temannya dan hanya melihatnya secara langsung hanya satu kali. Namun
pertemuan pertama tersebut meninggalkan bekas penuh makna hingga ia mengambil
keputusan untuk mengkhitbahnya untuk menjaga dirinya dan menjaga Hasna. Menjaga
kesucian mereka berdua dari hal yang bisa mengakibatkan keduanya terjatuh pada
sesuatu yang membuat Tuhan murka kepada mereka berdua dan itu bisa berdampak
pada kedua keluarga besar mereka.
“Aku sangat mencintai anak pak. Kiai dan aku tidak ingin melakukan
hal-hal yang melanggar syariat. Maka dengan mengucapkan basmalah aku Abdullah
Yakub melamar anak pak. Kiai dan aku sangat berharap pak. Kiai memudahkan
tujuan baik yang aku bawa di hadapan kiai.” Akui Yakub dengan penuh kemantapan.
“Apakah kamu benar-benar mencintai Hasna anakku?” tanya kiai Hasan
untuk meyakinkan dirinya. Meskipun kiai Hasan juga berharap Yakub bisa menjadi
menantunya dan membantunya mengelolah pesantren tersebut.
“Aku benar mencintai Hasna anak pak. Kiai. Insya Allah aku berjanji
yang Allah menjadi saksiku bahwa aku akan membahagiakan Hasna dan menjaganya.”
“Kalau begitu kapan nak Yakub akan melangsung pernikahan?” spontan
Yakub kaget dengan kata-kata kiai Hasana begitupun dengan Afnan. Terlihat Afnan
melirik Yakub begitupun dengan sebaliknya Yakub melirik Afnan. Ada gemuruh di
dalam dada Yakub tidak menyangka secepat itu kiai Hasan memintanya untuk
melangsungkan pernikahan.
“Apakah dengan begini kiai setuju dan menerima lamaranku?” tanya
Yakub cari tahu.
“Iya nak. Aku menerima lamaranmu begitu dengan Hasna dan keluarga
besar kami. Aku sudah tahu dirimu. Namun bisakah engkau menceritakan lebih
detail tentang dirimu yang sebenarnya dan bagaimana kamu bisa hijrah ke kota
ini?” sekilas Yakub melihat wajah kiai Hasan yang kian dimamah usia. Ia sudah
lansia namun tetap masih kekar dan tampak kuat. Usianya yang kian berkurang tak
menjadikan ia tampak lemah.
Yakub kembali menceritakan kisah hidupnya untuk yang kedua kalinya.
Pertama ia menceritakannya pada Afnan dan yang kedua dengan kiai Hasan. Ia
memang harus menceritakan kisah hidup kepada calon ayah mertuanya yang kelak ia
juga memanggilnya dengan panggil abah. Ia kembali menerawang kisah silam. Kisah
di mana ia bisa berubah 180 derajat dari kehidupannya yang sebelumnya.
Perjalanannya bersama teman-temannya. Pertemuannya dengan irwansyah hingga
keberadaannya di kota tersebut sebab diusir oleh kedua orangtuannya yang
mempertahankan prinsip hidup. Prinsip yang ia yakini.
Kiai Hasan mendengarkan dengan saksama. Sesekali ia terdengar
berdehem dan menanggapi penuturan Yakub. Kali ini Yakub berharap dengan
menceritakan kisahnya ia bisa mendapatkan jalan keluar dari wajah teduh kiai
Hasan. Ia sudah sangat rindu pada orangtuanya dan segera bersimpuh maaf di
hadapan keduanya tanpa harus menggadaikan prinsipnya. Yakub mengakhiri
penuturannya dengan meminta kepada kiai Hasan sebuah solusi sehingga hubungannya
dengan kedua orangtuanya bisa harmonis seperti sedia kala.
“Insya Allah nak. Kita doakan orangtuamu semoga cepat dibukakan
hatinya dan mendapat ketukan hidayah dari-Nya. Sebab tak ada yang dapat
memberikan hidayat kepada manusia selain atas izinnya. Kita hanya bisa
mengantar dan menuntutnya untuk menemukan hidayat yang Allah sediakan bagi
orang-orang yang bersungguh untuk mencarinya. Aku yakin suatu saat orangtuamu
akan sadar dan bangga dengan dirimu atas prinsip yang engkau pertahankan. Insya
Allah, nak Yakub terus berdoa untuk kebaikan mereka dan mohonlah kepada-Nya
dengan merendahkan diri bahwa kita ini hanyalah makhluk yang hina tanpa
cinta-Nya dan kemulian yang ia berikan kepada kita.” Yakub bersyukur dan tenang
mendengar untaian kalimat kiai Hasan. Ia menemukan secercah keyakinan bahwa
kelak orangtuanya akan bangga pada dirinya atas prinsip yang ia pengang.
***
Pertemuan Yakub dengan kiai Hasan telah berlalu sekitar sebulan.
Kini Yakub sudah menjadi suami Hasna. Sudah menjadi pemimpin di keluarganya
sendiri bersama dengan cintanya. Yakub sekarang tinggal di pesantren mengelolah
pesantren bersama dengan abahnya; kiai Hasan sementara Afnan tinggal sendiri di
rumah tempat di mana Yakub dulu tinggal. Namun Afnan berjanji bahwa ia tidak
akan selamanya tinggal di situ meskipun Yakub dan kiai Hasan memintanya ikut
tinggal di pesantren namun Afnan menolak.
Afnan masih berkatuk pada pemutusan pilihan atas tawaran kiai
Hasan. Tawaran yang membuat ia tercengang dan sebaliknya membuat Yakub senang
bercampur harapan Afnan menerima tawaran tersebut. Tapi tidak semudah itu bagi
Afnan sebab ia memikirkan semuanya. Memikirkan dirinya sendiri dan memimikirkan
ibunya.
“Beristikharah lah nak.” Nasehat kiai Hasan kala itu. Sudah dua
hari Afnan melakukan shalat istikharah namun belum ada jawaban dari-Nya. Ia
tidak menginginkan keputusannya tidak berasal jawaban dari Tuhan sebab ini
menyangkut hidupnya. Menyangkut hidup anak kiai Hasan dan menyangku tentang
mimpi-mimpi. Ia beriskharah sebab Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk
beristikrahah dalam semua perkara agar kita tidak salah dalam memutuskan
perkara dan tidak salah pilih nantinya. Sebab jika seseorang yang tengah
dilanda dilema dan beristikharah ia hendaknya mengambil keputusan yang
diyakininya dengan pasti.
“Ya Allah kalau Khaira memang jodohku dan aku memang pantas
untuknya maka mantapkan hatiku untuk memilihnya yah Allah.” Ibanya penuh
pengharapan.
“Ya Allah hamba memohon agar Tuhan memilihkan mana yang baik
menurut engkau ya Allah. Dan hamba memohon Tuhan memberikan kepastian dengan
ketentuan-Mu dan hamba memohon dengan kemurahan Tuhan yang Besar Agung. Karena
sesungguhnya Tuhan yang berkuasa, sedang hamba tidak tahu dan Tuhan-lah yang
amat mengetahui bahwa persoalan ini baik bagi hamba, dalam agama hamba dan dalam
penghidupan hamba, maka berikanlah perkara ini kepada hamba dan mudahkanlah ia
bagi hamba, kemudaian berikanlah ia bagi hamba, kemudia berikanlah keberkahan
bagi hamba didalamnya. Ya Allah, jika Tuhan mengetahui bahwa sesungguhnya hal
ini tidak baik bagi hamba, dan tidak baik akibatnya bagi hamba, dan jauhkanlah
hamba dari padanya. Dan berikanlah kebaikan di mana saja hamba berada, kemudian
jadikanlah hamba orang yang rela atas anugerah-Mu.” Ia menghentikan doanya
dan memegang dadanya. Berharap sudah ada kepastian ia dapat akan keputusan yang
selayaknya ia ambil. Setelah itu Afnan menyebut apa keinginannya dan mengikut
sertakan nama Khaira di dalam doanya. Ia memantapkan hatinya atas pilihannya
sebab itu tahu semua kemantapan hati yang ia rasakan datang dari Allah atas
jawaban istikharahnya.
Ia melanjutkan dengan melafazkan butiran-butiran tasbih dan secara
mantap ada nama dalam istikharahnya. Nama yang akan menjadi calon ustadzah di
rumah. Nama yang akan menemaninya dalam mengarungi hidup yang bisa menguatkannya
dan bisa juga sebaliknya melemahkannya.
“Ada namamu dalam istikharahku.” Ujarnya penuh kemantapan. Ia
kemudian menelaah hadits Rasulullah
melalui sabdanya. Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara,
yakni karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya. Carilah yang
mempunyai agama niscaya kamu beruntung.”ia kembali memantapkan hatinya
bahwa pilihan memang sangat tepat.
“Insya Allah Khaira memiliki agama yang benar dan ia juga perempuan
sholehah.” Ia tersenyum bahagia. Bahagia atas kemurahan Allah yang senantiasa
mengalirkan nikmat-Nya kepada Afnan.
***
BERSAMBUNG .....

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...