Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Melukis Warna Senja (Part 9)
Siskaee
Desember 20, 2017
Kelahiran Membawa Berkah
Dua tahun kini telah berlalu. Dua tahun pula Afnan dan Khaira hidup
bersama. Ia kini dikaruniakan amanah oleh Allah berupa janin yang telah
berbentuk manusia dalam rahim Khaira sebagai bukti cinta mereka. Kelahiran anak
pertama mereka tinggal menghitung waktu. Khaira kini berada di rumah sakit.
Sedari tadi Afnan terlihat mondar-mandir menunggu kelahiran anak pertamanya
sementara Khaira tengah berjuang untuk kelahiran buah hatinya.
“Allah mudahkan Khaira dalam melahirkan. Mudahkan kelahiran anak
pertama kami ya Allah.” Ibanya dalam hati. Ini adalah pengalaman pertama buat
Afnan begitupun dengan Khairan. Afnan berada di depan ruangan bersalin menunggu
anak pertamanya dan menunggu kedatangan kiai Hasan beserta keluarga besarnya;
Umi, Yakub dan Hasna. Ia terus berdoa kepada Allah untuk kelancaran bersalin
Khaira. Ada raut kekhawatiran mendalam pada Afnan, ia menerka-nerka kemungkinan
yang bisa terjadi diluar kuasa mereka namun ia tepis dengan membayangkan rona
kebahagiaan yang akan ia rasakan beserta dengan istri tercintanya. Serta tak
kalah bahagianya kiai Hasan yang akan menggendong cucu pertamanya sebagaimana
harapannya dua tahun yang lalu sebelum ijab kabul terjadi.
Selang beberapa saat kemudian kiai Hasan beserta yang lainnya datang.
Afnan mencium tangan abah dan uminya kemudian berangkulan dengan Yakub.
“Doakan bah, semoga Khaira diberikan kemudahan.” Lirihnya pada kiai
Hasan. Kiai Hasan tersenyum mengerti kekhawatiran menantunya.
“Insya Allah nak, anak pertamamu segera lahir. Pasrahkan semua-Nya
pada Pemberi Kehidupan.”
“Amin.”. mereka masih menunggu di tempat yang sama. Sementara
seorang suster keluar dari ruangan di mana istrinya tengah berjuang.
“Bagaimana istri aku sus?” serbunya kala suster itu mengdekat
padanya.
“Siapa di antara kalian yang menjadi suami dari pasien?” tanya
suster muda yang ada di hadapannya.
“Aku sus.” Jawabnya dengan cepat.
“Selamat pak. Selamat anak anda laki-laki.” Afnan menyebut asma
Allah yang diikuti oleh kiai Hasan dan yang lainnya.
“Alhamdulillah. Terima kasih ya Rabb,” ujarnya penuh cinta dan
bahagia. Senyum terkembang di wajahnya tak pernah lepas. Ucap selamat dari kiai
Hasan, umi mertuanya, Yakub dan Hasna ia dapatkan.
“Boleh aku melihatnya sus?” tanyanya tak sabar.
“Sudah bisa pak, namun hanya seeorang saja yang bisa yang lainnya
nanti menyusul saat dokter dan suster selesai mengerjakaan pekerjaan mereka.”
Afnan langsung menuju ruang di mana istri dan buah hatinya yang baru saja
melihat dunia berada. Ia sangat bahagia. Sangat bahagia.
“Terima kasih dok.” Ujarnya. Dokter tersenyum tersenyum seakan ikut
merasakan kebahagiaan yang tengah Afnan rasakan. Khaira memberikan seulas
senyum pada suaminya. Ia berbaring lemas bersama anak pertamanya yang masih
terlihat kemerahan.
“Kak,” lirihnya.
“Iya dek. Selamat ya dek. Semoga kelak anak kita menjadi anak yang
sholeh dan menjadi mujahid Allah dalam memperjuangkan agama-Nya.” Khaira
mengaminkan dalam hati. Afnan mencium kening Khaira sebagai tanda
kebahagiannya.
Kia Hasan, umi, Hasna dan Yakub masuk bersamaan. Mereka mengucapkan
rasa bahagia mereka kepada Khaira. Khaira hanya tersenyum.
“Doakan dek semoga Hasna juga segera menyusul,” ujar Hasna pada
adiknya; Khaira.
“Iya mbak. Insya Allah.”
“Akhi bagi resepnya buat mas Yakub,” canda Hasna pada Afnan.
“Hehehe.. mbak Hasna ada-ada aja. Aku banyak belajar dari mas Yakub
mbak hanya saja Allah lebih duluan mengamanahkan kepada kami.” Jawab Afnan
dengan sipuh malu. Di tengah kebahagiaan mereka tak lupa Afnan memberikan kabar
kepada ibunya di kampung melalui telpon. Ia menelpon tetangganya untuk
menyampaikan kabar gembira ini pada ibunya. Semua larut dalam kebahagiaan
menjemput manusia baru. Menjemput mujahid kecil Allah. Dan kelak ia menjadi
laki-laki tangguh yang akan memperjuangkan agama Allah sehingga tegaknya dakwah.
“Assalamu’alaikum,” salam seorang laki-laki yang seumuran dengan
Yakub. Ia adalah teman kantor Afnan di PT. Usaha Mandiri. Salah satu perusahaan
ternama di kota tersebut. Ia sudah lama bekerja di sana.
“Wa’alaikum salam.” Jawab mereka serempak.
“Mas Irdan. Dengan siapa mas?” tanya Afnan pada teman kantornya.
“Sendiri mas. Selamat ya mas atas kelahiran anak pertamanya,”
“Terima kasih mas.” Ia kemudian memberikan sebuah amplop berisi
surat dari direktur tempat ia bekerja. KEPADA AFNAN MANAF RAHMAN. Demikian tulisan
awal dari surat tersebut. Afnan deg-degan begitupun dengan yang ada dalam
ruangan tersebut. Ia membaca secara saksama tanpa satu katapun yang Afnan
lewati. Ia menangis yang membuat orang-orang yang ada dalam ruangan tersebut
kebingungan.
“Kak Afnan ada apa?” tanya istrinya penuh cemas.
“Sabar mas. Insya Allah ambil ibrahnya,” lanjut Hasna yang saat itu
menganggap bahwa surat itu adalah berita buruk dari temapat ia bekerja. Ya
berita buruk seperti PHK pegawai. Sementara Afnan bergetar hebat dan tersungkur
sujud syukur. Kembali mereka kebingungan dengan atas tindakan Afnan.
“Subhanallah wal hamdulillah, Allahu Akbar.” Iya terus
mengucapkannya berulang kali.
“Terima kasih ya Rabb,” ia bangkit dengan air mata yang terus
berjatuhan.
“Dek, kakak diangkat menjadi sekertaris di perusahaan dan insya
Allah akan di kuliahkan ke Amerika atas tanggung biaya yang ditanggung oleh
perusahaan. Perusahaan juga memberikan hak sepenuhnya pada kakak untuk
membawamu ikut bersama kakak jika dek Khaira mau.” Terangnya pada istrinya.
Afnan terus bertasbih. Begitupun dengan yang lain.
“Jadilah manusia yang amanah nak. Jaga kepercayaan perusahan padamu
dan berikan yang terbaik. Insya Allah kami selalu mendoakanmu semoga engkau
selalu sukses,” ucap kiai Hasan.
“Bersyukurlah akhi atas nikmat yang Allah titipkan padamu. Jangan
pernah menjadi hamba yang kufur atas nikmat yang Allah berikan sebab Dia punya
kuasa untuk mengambilnya darimu kapan pun Dia kehendaki. Kami semua bangga
padamu dan akan senantiasa mendoakankan untuk kesuksesanmu.” Lanjut Yakub.
“Dek Khaira, mauka adek menemani kakak menyelesaikan pendidikan
kakak sampai selesai di negara orang?” tanyanya pada istrinya.
“Iya kak, insya Allah Khaira akan selalu ada di samping kakak. Kita
akan menjalani semuanya kak. Menjalani semuanya penuh cinta dan melewati semua
yang menjadi penghalang kita menuju kesuksesan. Kesuksesan yang sesuia dengan
penilaian dari-Nya, bukan menurut penilaian hamba-Nya.” Jawab Khaira mantap.
“Doakan kami abah, umi semoga Allah memudahkan urusan kami dan Dia
senantiasa menuntun kami agar selalu berada pada Jalan-Nya.” Ujarnya sambil
mencium tanya abah dan umi mertuanya.
“Mas,” lirihnya pada Yakub. Ia tak dapat berkata-kata. Ia dengan
refleks langsung merangkul Yakub dengan erat. Dan kembali tetesan bening itu
muncul di ujung matanya.
“Mas Afnan, kalau begitu aku balik dulu, masih ada urusan kantor
yang harus diselesaikan,” pamit teman kantornya yang bernama Irdan.
“Iya mas, terima kasih sudah datang.”
“Sama-sama mas. Ini adalah kelahiran yang membawa berkah mas.”
Ujarnya sambil berlalu. Afnan kembali menatap buah hati dan istrinya sambil
tersenyum manis.
***
BERSAMBUNG ...

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...